The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 214 - Harta berharga negeri Fuegonia



“Pedang ini, sepertinya aku pernah melihatnya…” Ucap anak laki-laki tersebut dengan yakin nampak mengetahui pedang yang sementara diacungkan oleh Illios.


Mendengar hal tersebut, Illios dengan cepat menyembunyikan pedang tersebut ke belakangnya, karena merasa khawatir jika anak laki-laki itu mengetahui bahwa pedang tersebut telah diambilnya di dalam museum kemarin malam.


“Tuan Illios… Bisakah kau memperlihatkan pedang itu kepadaku?” Tanya Dierill.


“Eh… Ini hanya pedang biasa… Memangnya kenapa kau mau melihatnya?” Tanya balik Illios dengan ekspresi khawatir.


“Aku tahu bahwa pedang itu adalah pedang yang disimpan di dalam museum utama, bahkan ditempat penyimpanan rahasia, karena sempat sekali melihat pedang itu,” ucap Dierill, ternyata memang mengetahui pedang tersebut walaupun sedikit dibodohi oleh Illios.


“Kau benar Dierill… Dia telah mengambil pedang itu di tempat penyimpanan rahasia kemarin malam,” sambung Astrapi, memberitahukan kepada Dierill, yang lantas membuat Illios pun langsung terkejut.


“Tuan Illios… Sebaiknya kau mengembalikannya lagi, karena itu benda berharga dari negeri Fuegonia yang hanya dititipkan kepada clan Drown saja,” ucap Dierill.


“Benarkah ini adalah har berharga negeri Fuegonia… Aku merasa pedang ini tampak biasa saja…” Ucap Illios, mencari alasan agar anak laki-laki memikirkan bahwa dirinya telah salah mengira pedang tersebut.


“Tentu saja… Aku mengetahui secara betul senjata suci itu… Aku mohon tuan Illios, kau harus mengembalikan pedang itu ditempatnya kembali, sebelum ayahku menyadari bahwa pedang itu telah menghilang,” ucap Dierill, tetap tidak bisa dibodohi oleh Illios.


Tidak tahu harus beralasan apa lagi, Illios pun memperlihatkan pedang tersebut kepada Dierill.


“Benarkah aku harus mengembalikan pedang seindah ini…” Ucap Illios dengan ekspresi ragu, sebenarnya tidak mau mengembalikan pedang tersebut.


“Baiklah… Aku pasti akan mengembalikannya ke meseum itu malam ini…” Karena merasa bahwa hal tersebut akan berdampak pada kehadiran mereka yang memang tidak boleh diketahui oleh para Venerate Fuegonia, Illios pun menyetujui saran yang diberikan oleh Dierill.


“Tapi sebelum itu kami harus melakukan suatu hal pada batu kristal yang sudah kami temukan ini…” Ucap Illios, hendak mengembalikan pedang tersebut setelah menyelesaikan misi mereka yang harus melakukan persetujuan dengan para Venerate negeri Machora Tira di kota tersebut.


Illios kemudian mengakses kekuatannya, menyimpan pedang yang tengah digenggamnya ke dalam ruang spasial miliknya.


“Tenang saja… Aku akan memegang janjiku untuk mengembalikan pedang itu.” Dia kemudian meyakinkan Dierill agar anak laki-laki tersebut bisa mempercayainya.


“Ayo kakak… Astrapi… Kita pergi menemui Venerate Machora Tira sekarang,” ucap Illios mengajak kedua saudaranya pergi untuk menemui Venerate Machora Tira yang kemungkinan berada di pelabuhan kota Novacurve.


Mendengar hal tersebut, Kral pun mengambil batu kristal yang diletakkan di meja, kemudian menyimpannya ke dalam ruang spasial miliknya.


“Tunggu kakak…” Ketika Astrapi hendak beranjak dari ruangan tersebut, tiba-tiba Dierill menahan tangan perempuan itu.


“Ada apa Dierill? Kau bisa kembali sendiri kan…” Tanya Astrapi, merasa bingung mengapa anak laki-laki itu menahan tangannya.


“Iya, aku bisa kembali sendiri… Aku hanya ingin mengatakan padamu untuk berhati-hati saja,” jawab Dierill, sambil tersenyum.


Merasa bahwa ucapan dari anak laki-laki itu nampak terlihat tulus, Astrapi pun langsung tersenyum, lalu mengelus kelapanya.


Setelah ketiga murid kelas Continent Venerate itu pergi, terlihat Dierill yang masih berada di dalam penginapan mereka memasang ekspresi canggung dengan wajah memerah akibat Astrapi sejenak mengelus kepalanya.


Karena ditempat itu hanya tersisa Aphrodia, anak laki-laki itu lantas menatap perempuan itu untuk hendak berpamitan.


Akan tetapi, saat Dierill menoleh, Aphrodia tampak memperhatikannya dengan ekspresi senyuman tipis, membuat Dierill pun seketika menjadi canggung melihat perempuan tersebut.


*


“Ada apa dengan nona itu?” Ucap Dierill dalam hati, tidak mengerti dengan ekspresi dari Aphrodia kepadanya.


**


“Namamu Dieril kan… Apakah kau menyukai Astrapi?” Tanya balik Aphrodia, menyadari bahwa anak laki-laki itu nampak menyukai Astrapi karena melihat tingkah lakunya.


“Aku… Kenapa?” Respon Dierill, sontak tersipu sambil mencari alasan bahwa hal tersebut tidak benar.


“Aku bisa melihatnya… Setidaknya kau bisa jujur saja kepadaku,” ucap Aphrodia.


“Kau mungkin sudah salah sangka nona… Kalau begitu aku pergi dulu…” Karena tidak mengatakan yang sebenarnya, Dierill pun lantas berpamitan kepada Aphrodia dengan terlebih dahulu membungkukkan badannya sebelum pergi.


“Ekh…” Aphrodia pun sedikit merasa bersalah ketika melihat anak laki-laki tersebut nampak tersipu malu hingga membuatnya langsung meninggalkan tempat tersebut.


***


Beberapa saat kemudian, Kral bersama dengan dua saudaranya akhirnya telah sampai di pelabuhan kota Novacurve, dan tepat berada di depan kapal negeri Machora Tira yang berlabuh pada salah satu bagian pelabuhan tersebut.


“Ibu… Apakah kau bisa mendengarku?” Ucap Kral, berkomunikasi dengan Artemis ibunya melalui kemampuan telepati.


***


“Ibu bisa mendengarmu, bahkan melihat kalian dari sini…”


Tepat di pegunungan tempat sang naga merak tinggal, terlihat Artemis yang sedang membidik menggunakan busur panah miliknya dapat dengan mudah melihat ketiga anaknya yang berada di depan kapal Machora Tira, yang berada beberapa kilometer dari pegunungan tersebut.


***


“Baiklah ibu… Kami akan segera menemui mereka,” ucap Kral, kemudian bersama dengan Illios serta Astrapi lantas menaiki kapal tersebut untuk melakukan persetujuan dengan para Venerate tingkat atas Machora Tira.


Ketika mereka sampai ke atas kapal, tampak para Venerate Machora Tira, yang merupakan kelima anggota tim dari negeri tersebut datang menghampiri mereka.


“Kalian Venerate Lightio kan?” Tanya anggota tim Machora Tira bernama Ascelin.


“Kami memiliki urusan dengan atasan kalian… Cepat panggil mereka,” Ucap Kral, lantas menyuruh para Venerate Machora Tira tersebut.


“Apa-apaan kau? Beraninya memerintahku… Kau pikir aku tidak akan takut jika kau merupakan Continent Venerate,” balas Ascelin, sontak merasa risih mendengar ucapan Kral, hingga membuatnya langsung mencengkram kerah baju pria Lightio itu.


“Tuan Ascelin… Jangan seperti itu… Mereka datang memang memiliki urusan dengan kita.”


Tiba-tiba Vampireman bernama Zenef, yang merupakan putra dari Lethis datang menghampiri mereka, kemudian melepaskan cengkraman tangan Ascelin dari Kral.


“Kami sudah mendapatkan benda yang membuat kalian tidak akan mengincar adik kami,” ucap Kral.


“Batu kristal itu yah… Kalau begitu, World Venerate kami mau melihatnya,” ucap Zenef, kemudian menunjuk ke arah depan Kral, memperlihatkan Aelacia dan Lethis datang mendekat.


“Nyonya Aelacia, mereka sudah mendapatkan batu kristal itu,” lanjut Zenef, memberitahukan kepada Aelacia tujuan Kral dan yang lain datang menemui mereka.


“Benarkah… Kalau begitu perlihatkan batu kristal itu,” ucap Aelacia.


Kral pun mengangkat salah satu tangannya ke depan, mengakses kekuatannya, hingga batu kristal yang dibahas muncul pada tangannya tersebut.


“Hei… Ada apa ini?” Aelacia seketika bertanya ketika hendak mengambil batu kristal itu, namun sontak dihalangi oleh Kral.