The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 37 - Berharap bertemu dengannya lagi



Artemis meluncur dengan cepat ke arah pemuda itu untuk melihat siapa sebenarnya Venerate misterius yang sedang memantau tersebut.


“Sial…”


“Lieferung zauberspruch…” Dengan sigap pemuda itu menciptakan sebuah diagram sihir tepat dibawahnya dan tiba-tiba menghilang entah kemana.


Artemis sedikit terlambat menyergap karena pemuda tersebut sudah tidak berada di tempat itu lagi.


“Orang itu sudah kabur…” Ucap Artemis kemudian melihat tanda sebuah diagram sihir yang masih membekas di tanah.


“Sepertinya dia adalah penyihir… Tapi, diagram sihir ini berbeda dengan diagram yang sering digunakan oleh Venerate-Venerate Lightio…” Gumam wanita itu, langsung mengambil kesimpulan bahwa Venerate misterius bukan berasal dari negeri Lightio.


“Entahlah… Yang pasti itu tidak terlalu penting.” Artemis tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut dan lebih memilih meninggalkan tempat itu untuk kembali melihat putrinya telah kembali.


–Tahun 3016 sampai 3024–


Beberapa tahun pun berlalu, Zchaira yang telah terbiasa memasuki hutan di daerah Wiaminnota tanpa harus tersesat lagi.


Selama itu juga gadis tersebut terus mencari keberadaan dari pemuda misterius berambut itu, namun tidak berhasil mendapatkan keberadaannya.


Sebenarnya Zchaira telah mengerti bahwa pemuda misterius itu adalah seorang Venerate dan bukanlah peri penghuni hutan tersebut.


Akan tetapi, gadis itu merasa penasaran mengapa pemuda misterius itu berada di dalam hutan itu, apakah dia saat itu sedang tersesat juga, atau mungkin memiliki kepentingan datang ke daerah tersebut.


–15 Mei 3024–


Kembali ke masa sekarang, Zchaira yang telah memakai kalung bunga salju itu tampak tersenyum sendiri sambil mengingat pertemuannya dengan pemuda misterius itu.


Gadis itu berharap jika takdir berkenan dia ingin bertemu dengan pemuda tersebut untuk mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya waktu itu.


“Zchaira, kenapa kau tersenyum sendiri?” Melihat gadis itu tersenyum, saudara perempuanya lantas bertanya.


Namun, gadis itu hanya merespon pertanyaan saudaranya dengan menggelengkan kepalanya, menyatakan bahwa tidak ada alasan khusus dirinya tiba-tiba tersenyum.


“Daripada kau senyum-senyum sendiri, lebih cepatlah beristirahat karena ini sudah sangat larut… Semua barangmu sudah kurapikan,” ucap Astrapi, menyuruh adiknya itu untuk segera beristirahat.


“Terima kasih sudah membantuku…” Balas Zchaira, berterima kasih pada saudara perempuannya itu.


“Coba sebut siapa aku?”


“Maaf aku lupa… Terima kasih kakak cantik,” ucap Zchaira, lalu memeluk Astrapi.


“Baiklah aku pergi dulu…” Setelah itu Astrapi kemudian meninggalkan Zchaira sendiri di ruangan itu.


***


Astrapi berjalan di sebuah lorong dalam kediaman itu kemudian berpapasan dengan Hefaistos.


“Astrapi, kau sudah selesai membantu Zchaira?” Tanya Hefaistos.


Astrapi hanya merespon Hefaistos dengan menganggukan kepalanya lalu sejenak tersenyum. Dia lalu terus berjalan melewati ayahnya tersebut, layaknya sedang bertemu dengan orang asing.


“Astrapi, tunggu dulu…” Panggil Hefaistos.


“Ada apa?” Astrapi pun berhenti dan menjawab panggilan Hefaistos dengan ekspresi sedikit kesal.


“Apa kau baik-baik saja? Saat berada di dalam pesawat ayah merasakan tekanan kekuatanmu… Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Hefaistos.


“Kau tidak perlu khawatir, itu bukan urusanmu,” jawab Astrapi.


“Bagaimana itu bukan urusanku, aku adalah ayahmu Astrapi… Aku tidak bisa diam saja jika putriku memiliki sebuah masalah.” Hefaistos mendekati dan memegang kedua pundak putrinya itu.


“Tidak bisa diam saja… Jadi seperti itu yah Yang mulia, kau tidak bisa diam saja kalau anak-anakmu memiliki sebuah masalah… Lalu bagaimana dengan kejadian waktu itu, apa kau sudah membuat orang itu mengakui kesalahannya? Apa benar kau tidak diam saja waktu itu?” Astrapi merasa kesal dan langsung melontarkan beberapa pertanyaan, membentak pria yang merupakan ayahnya tersebut.


Hefaistos pun terdiam mendengar hal tersebut, dia tidak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh putrinya tersebut.


Melihat sikap putrinya tersebut, Hefaistos pun merasa kecewa.


**


Dari balik ruangan tempat Zchaira berada, ternyata gadis tersebut masih belum beristirahat dan sebenarnya telah mendengar apa yang telah dibicarakan oleh Hefaistos dan Astrapi.


**


“Tuan Hefaistos.” Ingin mengetahui fakta dibalik pembicaraan dua orang itu, Zchaira lantas datang menghampiri Hefaistos.


Pemimpin negeri Lightio itu sontak terkejut ketika putri yang satunya tersebut datang menghampirinya.


“Zchaira, kau belum tidur… Apa kau mende…”


“Iya, aku mendengar pembicaraan kalian sebelumnya, tuan Hefaistos.” Zchaira langsung mengatakan yang sebenarnya tanpa menunggu Hefaistos menyelesaikan ucapannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kalian terlihat seperti sedang bertengkar,” Tanya Zchaira.


Hefaistos diam enggan menjawab pertanyaan dari putrinya itu.


“Tuan Hefaistos…”


“Baiklah, ikuti aku… Kita bicara di tempat lain.”


Hefaistos mengajak Zchaira ke suatu tempat untuk membicarakan tentang hal yang disembunyikannya selama Artemis tinggal di daerah Winaminnota.


***


“Pertama aku ingin kau mengetahui bahwa Kral, Illios dan Astrapi sudah tidak bersama denganku beberapa tahun yang lalu…” Mereka sampai di sebuah taman yang berada di kediaman tersebut, lalu Hefaistos mulai berbicara tentang kebenaran bahwa tiga saudara Zchaira itu sebenarnya sudah tidak tinggal bersama ayahnya tersebut.


“Aku juga terkejut ketika mereka muncul di kota Workyen kemarin hari.”


Zchaira pun terkejut mendengar fakta tersebut. Pantas saja gadis itu merasakan sesuatu yang aneh diantara ayahnya serta tiga saudaranya itu.


“Tapi, kenapa mereka sudah tidak tinggal di kota ini lagi? Dimana sebenarnya mereka tinggal?” Tanya Zchaira, penasaran.


Hefaistos awalnya menjelaskan tentang tiga saudara Zchaira, yang mana sekarang telah tinggal di daerah Calfarinai, wilayah bagian barat negeri tersebut.


Mereka lebih memilih untuk berada di pihak para Venerate wilayah barat dan menentang wilayah timur akibat merasa kecewa kepada Hefaistos karena suatu alasan.


Hefaistos tidak menjelaskan alasan mengapa tiga orang itu menentang ayah mereka sendiri, yang pasti pria itu sudah memberitahukan kepada Zchaira bahwa tiga saudaranya selama ini juga sudah berpisah dengan ayah mereka.


Zchaira terdiam, tidak percaya dengan fakta yang dikatakan oleh ayahnya tersebut, namun dia tidak mau bertanya kembali alasan mengapa tiga saudaranya merasa kecewa pada ayah mereka sendiri.


“Zchaira, karena kau sudah mengetahuinya… Aku mohon jangan dulu mengatakan hal ini pada ibumu… Biarkan saja mereka yang mengatakannya sendiri,” ucap Hefaistos, memohon kepada anak termudanya tersebut.


“Tenang saja, tuan Hefaistos… Aku tidak akan mengatakannya,” ucap Zchaira sambil tersenyum pada ayahnya itu, berjanji untuk memegang perkataannya.


Hefaistos pun membalas senyuman Zchaira dan merasa legah bahwa putrinya tersebut bisa paham.


“Karena ini sudah larut… Lebih baik kita masuk kembali.”


Hefaistos dan Zchaira kemudian pergi meninggalkan taman tersebut untuk masuk ke dalam beristirahat.


**


Ternyata pembicaraan itu juga didengar oleh seseorang yang tidak lain adalah Megathirio, yang sedang berada di balik pohon tanpa diketahui oleh Hefaistos ataupun Zchaira.


“Pantas saja mereka tidak terlihat akrab selama ini,” gumam Megathirio.


Pemuda itu sebelumnya sudah merasakan bahwa Hefaistos maupun tiga saudaranya tersebut tampak tidak terlihat berbicara satu sama lain, saat mereka bersama.


Ditambah Megathirio sebelumnya juga melihat ekspresi terkejut ketika Hefaistos dan Lucierence melihat mereka di kediaman clan Slikbar. Begitu juga Kenrow, yang memasang ekspresi sama ketika menyambut mereka di kota ini tadi siang.