The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 180 - Rayvor terdesak



Rayvor serta dua peserta yang lain tampak terkejut, tidak menyangka bahwa serangan elemen api yang dilancarkan bisa diubah oleh Pixieman tersebut menjadi hempasan elemen angin.


Rayvor kemudian mengakses kekuatan sihir miliknya, memproyeksikan energi sihir, dan membentuknya menjadi sepasang sayap, agar dirinya mampu terbang menghampiri peserta Pixieman yang kini berada di udara.


“Fiamma sillabare…” Saat menghampiri Pixieman bernama Messen tersebut, dengan sigap Rayvor langsung melancarkan serangan proyeksi elemen api.


Akan tetapi, serangan tersebut dengan mudah diubah oleh Pixieman bernama Messen itu menjadi debu.


Messen memainkan kedua tangannya, yang seketika memunculkan kobaran api dalam skala besar di sekitar Rayvor.


Melihat kobaran api tiba-tiba muncul di sekitarnya, membuat Rayvor pun seketika terkejut sambil bertanya-tanya apa sebenarnya teknik yang digunakan oleh Pixieman yang dilawannya tersebut.


“Difesa sillabare… Holy eldritch barrier…” Dengan refleks, Rayvor pun megakses kekuatan sihir miliknya, menciptakan sebuah penghalang proyeksi agar kobaran api yang diciptakan oleh Messen tidak mengenainya.


**


“Bukannya Pixieman itu hanya bisa menggunakan kemampuan transmutasi?” Tanya Astrapi, nampak sedkit kebungungan melihat Pixieman tersebut memunculkan sebuah kobaran apai di sekitar Rayvor.


“Sebenarnya dia masih menggunakan kemampuan transmutasi miliknya… Jika kau bisa jelih, sebenarnya Pixieman itu mengubah udara di sekitar Rayvor menjadi kobaran api…” Jawab Artemis, menjelaskan hal tersebut kepada Astrapi.


“Walaupun ibu hanya pernah mendengarnya, para ras Pixieman yang berada di tingkatan atas, sebenarnya memiliki kemampuan untuk bisa mengubah udara yang berada di sekitar mereka, bahkan dalam jarak yang luas menjadi apapun yang mereka inginkan,” lanjut Artemis berkata, menjelaskan mengenai kemampuan lanjut dari para ras Pixieman dalam tingkatan Venerate atas.


**


Ketika penghalang proyeksi yang diciptakan oleh Rayvor menghilang, pemuda itu sektika memainkan kedua tangannya, mengakses kekuatan sihir miliknya hingga membuat kobaran api yang berada di sekitarnya berubah menjadi pusaran elemen angin.


Rayvor meluncurkan pusaran elemen angin tersebut ke arah Messen, yang membuat Pixieman itu seketika mengakses kekuatannya, mengubahnya menjadi dedaunan.


“Incantesimo segreto… Coup de pousser…” Ketika Messen masih fokus mengubah pusaran elemen angin tersebut, Rayvor dengan cepat telah berada tepat di depannya sambil melancarkan sebuah serangan teknik sihir tingkat lanjut.


“Uwaah…” Akan tetapi, Messen dengan refleks menghindari serangan dari Rayvor, walaupun sempat terkejut.


“Fiamma sillabare…”


Ketika Rayvor melancarkan serangan elemen api, Pixieman itu dengann sigap menghindar, kemudian terbang ke jarak yang lebih jauh.


**


“Apa kakak Rayvor menggunakan teknik sihir pembentukan?” Tanya Zchaira, penasaran.


“Sepertinya begitu… Tapi, walaupun dia berusaha untuk meniru teknik transmutasi dari Pixieman itu, Rayvor akan kehilangan banyak Mana miliknya, karena untuk teknik sihir pembentukan memelukan energi yang cukup lebih banyak,” jawab Aphrodia sambil menjelaskannya kepada Zchaira dan yang lain.


**


Benar saja dengan apa yang dikatakan oleh Aprodia, semakin Rayvor menandingi kemampuan transmutasi dari Pixieman tersebut, pemuda itu perlahan-lahan menjadi kewalahan karena energi Mana miliknya terkuras lebih banyak dari biasanya.


**


Sementara itu, di permukaan tengah arena, pertarungan dari peserta ras Goblinman negeri Asimir melawan peserta ras Tritonman negeri Mormist, menjadi sengit, dimana mereka berdua saling melancarkan serangan elemen api serta elemen air, yang membuat permukaan tengah arena tersebut ditutupi oleh kabut yang tebal.


Karena hal tersebut, baik Goblinman bernama Stix, maupun Tritonman bernama Relnis harus meningkatkan fokus mereka untuk mengantisipasi serangan satu sama lain, akibat pandangan yang terbatas di dalam kepungan kabut yang tebal tersebut.


**


Rayvor pun terpaksa harus kembali melancarkan serangan proyeksi elemen dengan resiko bahwa serangan yang dilancarkan olehnya tersebut tetap akan diubah oleh Pixieman yang dilawan olehnya.


Beberapa kali Rayvor melancarkan serangan proyeksi elemen, namun hal tersebut selalu saja mampu diubah oleh Messen. Karena energi Mana miliknya telah terkuras lebih banyak dari sebelumnya, Rayvor pun mengakses kekuatan spasial miliknya, memunculkan tombak senjata suci yang tersimpan pada ruang spasial di dalam gelang yang dipakainya.


Pemuda itu mengakses kekuatan dari tombak senjata sucinya, yang seketika membuat pergerakannya menjadi lebih cepat dari biasa.


Sambil memancarkan proyeksi elemen petir, Rayvor dengan sigap meluncur ke arah Messen, mengayunkan tombak yang dipegangnya.


Walaupun dapat menghindari serangan dari Rayvor, namun Messen yang memiliki pergerakan jauh lebih lambat dari pemuda tersebut, kini menjadi lebih terantisipasi.


Beberapa kali Rayvor meluncur dengan kecepatan tinggi, menganyunkan serta mengacungkan tombaknya ke arah Messen. Bebebrapa kali pun juga, Messen dapat menghindari serangan tersebut, namun perlahan-lahan mulai kewalahan.


“Ukh…” Akibat hal tersebut, Messen sontak mendapatkan serangan tebasan dari Rayvor, membuatnya seketika tehempas, walau masih bisa bertahan agar tidak terjatuh ke permukaan.


Setelahnya Messen pun kembali memfokuskan dirinya untuk melihat pergerakan dari Rayvor dengan kecepatan tinggi.


“Aqua sillabare…” Tiba-tiba Rayvor muncul tepat di depan Messen sambil melancarkan serangan proyeksi elemen air.


Hal tersebut langsung membuat Messen mengakses kekuatannya, mengubah serangan elemen air tersebut menjadi kabut yang tebal.


“Sial…” Messen pun mengumpat karena dalam sepersekian detik ketika Rayvor melancarkan serangan proyeksi elemen air tersebut, dirinya hanya bisa memikirkan hal yang masih berhubungan dengan air, dan akhirnya secara tidak sengaja mengubah serangan tersebut menjadi kabut.


**


Rayvor yang tengah bergerak dengan kecepatan tinggi, sontak merasa mendapatkan sebuah kesempatan ketika serangan proyeksi elemen air yang diubah oleh Messen menjadi kabut yang tebal.


Dengan sigap Rayvor mengakses kekuatan sihirnya untuk meningkatkan visualisasi agar mampu melihat posisi Messen dibalik kabut yang tebal tersebut.


Dengan cepat, pemuda itu pun langsung meluncur memasuki kabut yang tebal tersebut sambil memproyeksikan pancaran elemen petir pada tombak senjata sucinya.


“Incantesimo segreto… Coup de foudre poignarder…”


“Uakh…” Rayvor pun melancarkan serangan acungan tombak yang memancarkan proyeksi elemen petir pada Messen, hingga Pixieman tersebut terhempas meluncur, dan menghantam permukaan dengan keras.


Di dalam kabut yang tebal akibat efek pertarungan dari Stix maupun Relnis, Messen tampak terkapar kemudian langsung tak sadarkan diri, dan membuatnya menjadi peserta pertama yang tumbang dalam pertandingan tersebut.


**


Ketika Rayvor turun ke permukaan tengah arena yang ditutupi oleh kabut yang tebal, tiba-tiba teknik sihir peningkatan visualisasinya berakhir.


Hal tersebut, membuat Rayvor pun harus menggunakan teknik sihir observasi miliknya untuk mengetahui keberadaan dari dua peserta yang masih harus dilawan olehnya.


“Ukh…” Ketika baru saja mengatifkan teknik sihirnya tersebut, tiba-tiba Goblinman bernama Stix meluncur dan melancarkan serangan tebasan kepada Rayvor hingga terluka.


“Akh…” Stix kembali meluncur beberapa kali menyerang Rayvor dengan menggunakan cakar tajamnya, hingga Rayvor pun harus menerima luka goresan di beberapa bagian tubuhnya.