
“Kakak, hentikan itu… Kenapa kau begitu kasar.” Lucierence lantas memperingati Hefaistos karena ucapannya pada Artemis.
“Maafkan dia nona, kakakku ini sebenarnya tidak tahu caranya bersikap baik pada orang-orang…” Lucerence pun kemudian meminta maaf kepada Artemis mewakili Hefaistos.
“Ngomong-ngomong kedatangan kami kemari adalah untuk merekrut seorang Venerate tingkat atas yang tinggal di daerah ini…” ucap Hefaistos, menjelaskan tujuan mereka datang ke perkampungan tersebut.
“Aku mendengar bahwa dia memiliki kemampuan akurasi menembak, serta refleks yang sangat hebat.”
*
“Ah, sial… Apa mungkin mereka sebenarnya mencariku?” Mendengar penjelasan dari Lucierence, Artemis langsung menyadari bahwa Venerate yang dicari mereka merupakan dirinya.
Artemis tidak pernah mengira bahwa eksistensinya dapat didengar oleh orang-orang yang berada di luar wilayah utara Lightio. Kemampuan Artemis sebenarnya kini sudah berada di tingkatan Continent Venerate sehingga membuatnya bisa dilirik kapan saja oleh para Venerate yang ingin merekrutnya menjadi prajurit Lightio.
**
“Hei kau… Sepertinya ada yang aneh darimu…” Disaat yang bersamaan Hefaistos merasakan tekanan kekuatan yang kuat dari perempuan itu.
Dengan cepat pemuda itu langsung mengganggam erat lengan Artemis dan menariknya masuk ke dalam tempat tetua desa.
“Hei, apa-apaan kau?” Tanya Artemis tiba-tiba ditarik oleh pemuda itu.
“Kakak, apa yang kau lakukan?” Melihat hal tersebut Lucierence pun langsung membantu Artemis melepaskan genggaman tangan Hefaistos.
Akan tetapi, karena genggaman tangan Hefaistos begitu kuat, keduanya tidak bisa melepaskannya.
**
Hefaistos membawa Artemis ke ruangan tetua desa, yang tidak lain merupakan Timonar.
Di tempat itu juga terlihat prajurit Lightio yang datang bersama Hefaistos dan Lucierence, untuk bertemu tetua desa.
“Ada apa ini Hefaistos?” Tanyanya.
“Ayah… Maksudku komandan… Orang yang kita cari adalah gadis ini. Aku merasakan tekanan kekuatan yang kuat berasal darinya,” ucap Hefaistos, menjelaskan tentang Artemis dengan menyebut prajurit itu sebagai ayahnya.
“Kurasa kau salah nak…” Ucap ayah dari Hefaistos.
“Bagaimana mungkin? Kau pasti juga bisa merasakan bahwa tekanan kekuatan gadis ini lebih kuat dari tingkatan Land Venerate…”
“Aku juga tahu… Akan tetapi, orang yang kita cari bukanlah seorang perempuan…”
“Dia bernama Apollion Hairowl, namun saying sekali dia tidak bisa pergi bersama kita.”
“Kalian mencari ayahku?” Artemis sontak terkejut mendengar prajurit Lightio itu menyebut nama ayahnya.
“Memangnya kenapa dengan orang itu?” Tanya Hefaistos.
***
Beberapa saat kemudian, Hefaistos, Lucierence serta ayah mereka pergi menemui ayah Artemis di rumah mereka.
Mereka menyaksikan ayah dari perempuan itu telah terbaring lemah dan tidak sadarkan diri akibat sebuah penyakit kelainan yang dideritanya sejak lahir.
Penyakit tersebut merupakan penyakit yang sama seperti Zchaira, namun dalam tingkat yang lebih parah, dimana kesadaran pria itu sudah sepenuhnya hilang. Rambutnya yang sebelumnya berwarna hitam telah berubah menjadi putih.
“Semakin tinggi tingkatan dari seorang Venerate tersebut, maka semakin parah efek gelaja yang akan didapat olehnya…” Ucap ayah dari Hefaistos dan Lucierence.
“Namun, tuan Apollion merupakan orang yang hebat… Dia bahkan bisa menahan penyakitnya sampai ke tingkatan Continent Venerate.”
**
“Tuan Timonar, apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka mencari ayahku?” Tanya Artemis.
“Aku yakin mereka membutuhkan Venerate tingkat atas untuk menambah kekuatan tempur mereka…”
“Peperangan yang terjadi antara pihak utara yaitu Lightio dan Fuegonia, serta pihak selatan, Machora Tira dan Mormist, sekarang didominasi oleh negeri-negeri ras campuran itu…”
“Ayahmu memiliki catatan prestasi dalam menangatasi kecepatan dari kemampuan berteportasi ras Vampireman dan kecepatan gerakan ras Ogreman dengan kemampuan refleksnya...”
**
“Tuan Apollion sudah tidak bisa melakukan tugasnya lagi… Kurasa ini harus dilimpahkan pada putrinya saja,” ucap Hefaistos, memberikan sebuah saran.
“Hentikan Hefaistos… Berbeda dengan ayahnya, gadis itu sepertinya masih belum siap… Ditambah lagi dia harus menjaga ayahnya, jadi kita lupakan saja.” Namun ayahnya tidak mau menerima saran dari anaknya tersebut.
“Tapi apa salahnya kita mengajak gadis itu…”
Ayah Hefaistos tidak menanggapi ucapan anaknya itu dan lebih memilih meninggalkan ruangan dari ayah Artemis karena tidak mau berdebat dengan pemuda itu.
Hefaistos tampak kesal melihat sikap ayahnya yang tidak mau mengerti dengan ucapannya.
–4 September 2999–
Waktu pun berlalu, setelah hari kedatangan Hefaistos bersama saudara dan ayah pemuda itu, Artemis kembali pada aktivitasnya yaitu berburu.
Di tengah padang rumput yang cukup luas, disaat matahari hampir sepenuhnya tenggelam dan penghalatan manusia saat itu telah terhalang oleh kegelapan, Artemis pun mengaktifkan kekuatan observasinya hingga membuatnya dapat mengetahui sesuatu yang berada jauh di sekitarnya.
Artemis mengambil satu per satu anak panah yang langsung diluncurkannya ke beberapa arah.
Dengan sekejap anak-anak panah yang diluncurkannya menancap ke beberapa burung elang berkepala putih yang sedang terbang dengan kecepatan tinggi.
Artemis kembali mengambil satu anak panahnya dan dengan cepat meluncurkannya ke belakang tanpa melihat arah tersebut ketika dia merasakan sesuatu yang mendekat.
Sasaran perempuan itu tidak lain adalah Hefaistos yang diam-diam mendekatinya dari belakang. Untung saja pemuda itu dengan tanggap menangkap anak panah yang meluncur ke arahnya.
Ternyata setelah tiga hari, Hefaistos masih belum pergi dari daerah tersebut. Maksud dari pemuda itu belum hendak meninggalkan daerah Wiaminnota karena ingin meyakinkan Artemis untuk ikut bersama mereka ke peperangan yang sebelumnya dibahas oleh Timonar.
Hefaistos kemudian mendekati satu burung elang yang jatuh tidak jauh didekatnya dan memperhatikan bangkai hewan tersebut.
“Hei gadis bodoh… Apa kau terlalu primitif sehingga tidak mengetahui bahwa hewan yang kau buru ini dilindungi oleh hukum?” Ucap Hefaistos.
“Memangnya hukuman apa yang akan diberikan karena memburu hewan itu?” Tanya Artemis.
Hefaistos berjalan sedikit lebih cepat menghampiri perempuan itu lalu menggenggam tangannya dengan kuat seperti saat pertemuan pertama mereka.
“Hukumannya yaitu ikut menjadi prajurit dalam peperangan…” Ucap Hefaistos dengan ekspresi wajah yang serius.
“Lepaskan…” Artemis meronta, berusaha keras mencoba melepaskan cengkraman tangan pemuda itu yang terasa sangat kuat.
Pemuda itu tiba-tiba melepaskan cengkraman pada tangan Artemis, membuat perempuan itu kehilangan keseimbangannya.
Dengan cepat Hefaistos merangkul Artemis, hingga perempuan itu tidak jadi terjatuh.
Kini mata kedua orang itu pun bertemu, Artemis dengan tatapan terkejut dan tak bisa berkata-kata menatap wajah Hefaistos yang nampak berlagak keren di depan seorang perempuan.
Momen tersebut juga menjadi tampak romantic ketika cahaya aurora tiba-tiba menerangi langit malam.
“Eh, kenapa dengan langitnya?” Namun, Artemis malah terheran-heran ketika melihat cahaya di langit malam tersebut, yang sebenarnya tidak pernah dilihatnya sejak berada ditempat itu.
“Bagaimana mungkin cahaya ini bisa dilihat di negeri ini? Tempat di benua ini hanya negeri Fuegonia dan Blueland yang dapat dilihat.” Begitu juga dengan Hefaistos yang terheran-heran menyaksikan cahaya tersebut, yang sebenarnya hanya bisa disaksikan di belahan dunia utara saja.
Tidak mau terhanyut dalam fenomena tersebut, Artemis tiba-tiba sadar bahwa Hefaistos masih merangkulnya.
“Hei, sampai kapan kau mau seperti ini?” Artemis lantas tersipu malu karena terus dirangkul oleh pria itu.
“Lepaskan… Sial, kau kuat sekali… Kubilang lepaskan!”
“Ukh…”
Artemis meronta mencoba melepaskan rangkulan tangan Hefaistos yang sungguh kuat hingga membuat salah satu tangannya tiba-tiba meninju wajah pemuda itu.
“Ah…!” Akibatnya rangkulan Hefaistos terlepas sampai membuat Artemis akhirnya terjatuh.
Setelah perempuan itu terjatuh, Hefaistos memberikan tangannya untuk membantunya berdiri.
Akan tetapi, Artemis yang kesal berdiri sendiri dan kemudian pergi lebih dulu meninggalkan pemuda itu sendirian.