
“Apakah ini takdir? Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan gadis secantik ini…” Gumam anak laki-laki itu, memuji wajah rupawan dari Zchaira.
“Apa kau baik-baik saja?” Namun Zchaira kebingungan melihat anak itu terus menatapnya, bahkan kata yang diucapkan anak tersebut tidak bisa dengan jelas didengar olehnya karena disekitaran tempat itu sedikit berisik.
*
“Ah sial… Megathirio sudah tidak terlihat lagi,” gumam Zchaira dalam hati, menyadari bahwa Megathirio sudah terpisah darinya.
**
“Maaf nona… Sepertinya kau sedang mencari sesuatu. Apa aku bisa membantu?” Tanya anak laki-laki itu dengan nada suara sedikit kuat agar bisa didengar oleh Zchaira.
“Eh, sebenarnya aku sedang mengikuti temanku yang berjalan duluan, tapi lupakan saja dia sudah tidak bisa terlihat lagi,” jawab Zchaira dengan nada suara yang sedikit kuat juga.
“Kalau begitu kau sedang tidak ditemani kan… Bagaimana aku menemanimu?”
“Eh, maaf…” Ucap Zchaira, kurang paham dengan maksud anak laki-laki itu.
“Ngomong-ngomong namaku Haniwa dari clan Bloodshifter, daerah Calfarinai.” Anak laki-laki lantas memperkenalkan dirinya, yang berasal dari clan penyihir dari wilayah barat Lightio.
“Kalau begitu siapa namamu nona?”
“Aku… Namaku Zchaira dari clan Hairowl daerah Wiaminnota… Bisa dibilang juga aku berasal dari clan Silkbar daerah Workyen, tapi aku sekarang tinggal di kota Hawkingson,” ucap Zchaira memperkenalkan dirinya serta asalnya yang sedikit rumit.
“Senang bertemu denganmu nona, aku tidak mengira kau adalah penyihir dari keturunan dua clan sekaligus…” balas anak laki-laki sambil mejabat tangan Zchaira.
“Tunggu dulu… Clan Hairowl dan Silkbar… Kau sekarang tinggal di kota Hawkingson kan?”
Zchaira kemudian merespon dari pertanyaan anak laki-laki dengan langsung menggelengkan kepalanya.
“Takdir macam apa ini? Aku bertemu dengan seorang tuan putri…” Ucap anak itu sambil terkejut menyadari identitas sebenarnya dari Zchaira.
“Tuan putri? Kurasa kau sudah salah paham.”
“Bisa kutebak kau pasti adalah putri dari tuan Hefaistos Silkbar dan nyonya Artemis kan… Jadi, tentu saja kau adalah tuan putri negeri ini, walaupun sebenarnya negeri ini bukanlah sebuah negeri kerajaan,” ucap anak laki-laki bernama Haniwa itu, menjelaskannya pada Zchaira.
Zchaira hanya bisa tersenyum dengan sedikit terpaksa, mendengar penjelasan yang tak berguna dari anak laki-laki itu.
“Nona mungkin sekarang kau terlihat jauh lebih tinggi dariku, tapi tunggulah beberapa tahun lagi…”
Karena merasa tidak penting mendengar apa yang dikatakan oleh anak tersebut, Zchaira lantas pergi meninggalkannya untuk mencari Megathirio diantara kerumunan murid-murid.
“Eh…” Anak itu pun terkjut menyadari bahwa Zchaira sudah tidak berada di depannya lagi.
“Tunggu saja beberapa tahun lagi gadis cantik, pasti aku akan terlihat lebih cocok denganmu,” gumamnya sambil memperhatikan Zchaira menghilang diantara kerumunan orang-orang.
***
Di sisi lain, Lucia yang berusaha lari dari kejaran Megathirio kini tampak kehilangan pemuda itu.
“Haah… Akhirnya dia hilang.” Dengan legah Lucia pun membuang nafasnya sambil berhenti berjalan.
“Mau kemana kau?” Tiba-tiba Megathirio muncul dan langsung mencengkram lengan perempuan itu.
Lucia terkejut melihat Megatirio, yang dikiranya sudah tidak mengejarnya. Perempuan itu dengan kuat mencoba melepas cengkraman tangan Megathirio, namun hal tersebut percuma karena pemuda itu nampak sangat kuat mencengkram lenganya.
*
“Kenapa orang ini kuat sekali?” Gumam Lucia dalam hati, terkejut dirinya tidak bisa melepaskan cengkraman tangan Megathirio, padahal kekuatan fisik perempuan itu jauh lebih kuat sebagai salah satu ras keturunan campuran, walaupun dia sedang berhadapan dengan seorang pria sekalipun.
**
“Tuan, aku mohon lepaskan aku… Aku memiliki alasan mengapa berada disini,” ucap Lucia, memohon agar dia bisa menjelaskan mengapa dirinya bisa masuk ke akademi sihir tersebut.
Akan tetapi, Megathirio tidak mau melepaskan cengkramannya karena tidak peduli dengan permohonan perempuan itu.
Semua murid pun sontak terdiam ketika mendengar arahan dari seseorang yang berbicara tersebut.
Hal itu juga langsung membuat perhatian Megathirio teralihkan hingga cengkraman tangannya pada Lucia menjadi kendur.
Lucia dengan cepat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan langsung menarik kuat lengannya hingga terlepas dari tangan Megathirio.
“Permisi… Permisi…” Tanpa pikir panjang Lucia berjalan diantara para murid sambil sedikit mendorong mereka.
“Hei, apa-apaan kau?” Ucap salah satu murid laki-laki, yang terdorong oleh Lucia.
“Kenapa gadis itu kuat sekali.” Murid itu pun terkejut karena merasakan dorongan dari Lucia sangat kuat walaupun dia merupakan seorang perempuan.
**
“Sial…” Keluh Megathirio, bari menyadari bahwa Lucia sudah melepaskan diri darinya.
***
Lucia berjalan sejauh mungkin diantara para murid-murid sampai Megathirio tidak bisa mengejarnya lagi.
“Mau kemana kau?”
Kesialan Lucia kembali lagi ketika Zchaira tiba-tiba berpapasan dengannya dan langsung mencengkram kedua lengannya.
“Benarkan ternyata kau adalah Vam…”
“Tunggu…” Lucia seketika mendorong Zchaira serta menutup mulut gadis itu karena tidak mau Zchaira mengumbarkan identitasnya diantara para murid.
“Ukh…” Hal itu membuat Zchaira pun kehilangan keseimbangan hingga membuatnya jatuh tersungkur bersama dengan Lucia.
“Apa yang kalian lakukan gadis-gadis,” ucap salah satu murid melihat kelakuan dari dari mereka berdua.
“Maafkan kami…” Zchaira lantas meminta maaf kepada para murid yang terganggu dengan tingkah mereka.
Setelah itu Lucia pun membantu Zchaira berdiri kembali.
“Nona, aku yakin kau mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu karena kita adalah sesama perempuan,” ucap Lucia dengan suara berbisik, memohon kepada Zchaira agar mau mendengarkan penjelasannya.
“Memangnya apa kenapa kau berada di tempat ini?” Tanya Zchaira.
“Aku bisa menjelaskannya, tapi tidak disini… Setelah semuanya selesai aku pasti akan memberitahu kepadamu. Aku janji tidak akan lari kemanapun nanti,” jawab Lucia dengan ekspresi bermohon.
“Baiklah, aku akan mempercayaimu.” Melihat Lucia seperti tidak mau berbohong Zchaira pun langsung mempercayainya dan mau menunggu penjelasan dari perempuan itu.
***
Beberapa saat kemudian ketika para murid baru di akademi tersebut tidak lagi berbincang satu sama lain hingga membuat suasana tidak menjadi bising lagi, tak lama setelahnya pada bangunan panggung yang berada di depan mereka, tujuh Continent Venerate Lightio yang menjabat sebagai para tetua di akademi itu masing-masing muncul dari sebuah diagram-diagram sihir yang berada di atas.
“Salam semua anak-anak baru, perkenalkan aku adalah tetua kepla di akademi ini, namaku Arlias dari clan Atebasto daerah Cohulia,” ucap salah satu tetua kepala tersebut, merupakan tetua yang pernah bertarung melawan Aiver Portner beberapa tahun yang lalu tepatnya di tempat tersebut.
***
Sembari sang tetua kepala memperkenalkan dirinya kepada para murid-murid baru, pada bagian dalam bangunan panggung tersebut tampak Hefaistos dan Artemis sedang duduk.
Artemis yang berdiam tiba-tiba merasakan sesuatu seperti sebuah tekanan kekuatan besar yang berasal dari seorang Venerate tingkatan atas.
“Hefaistos, aku seperti merasakan tekanan kekuatan yang setarah dengan kita,” ucap wanita itu.
“Mungkin kau merasakan tekanan kekuatan dari para tetua. Kan mereka sekarang sedang bersama-sama,” balas Hefaistos, mengambil kesimpulan bahwa tekanan kekuatan tersebut berasal dari para tetua.
***
Di sebuah lorong yang berada di dalam bangunan panggung tersebut, nampak seseorang yang belum diketahui identitasnya sedang berjalan menuju ke ruangan dimana Hefaistos dan Artemis berada.