The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 60 - Hari sial Megathirio



Waktu pun berlalu, dimana tidak terasa matahari kini sudah mulai tenggelam dan berganti ke malam hari.


Zchaira tidak menyangka, pelajaran pertama yang didapatnya serta para murid-murid baru di akademi itu bisa memakan waktu hampir setengah hari lamanya hingga bisa selesai. Disamping itu, gadis tersebut tampak khawatir karena ketika semua murid-murid baru telah sampai di depan akademi sihir, hanya satu murid saja yang belum kunjung sampai, dimana satu murid itu tidak lain merupakan Megathirio, saudaranya.


“Tuan… Bagaimana dengan murid laki-laki yang sebelumnya disambar petir itu… Apakah sebenarnya dia baik-baik saja?” Tanya Zchaira pada guru bernama Raumian itu, nampak khawatir kakaknya masih belum sampai hingga kini.


“Hmph… Benar juga... Padahal aku sebelumnya sudah menyembuhkannya. Aku bahkan melihat dia berlari setelah kupaksa,” jawab sang guru dengan ekspresi santai, menyatakan bahwa Megathirio sebenarnya baik-baik saat terakhir kali dia melihat pemuda itu.


“Tuan… Bagaimana jika dia tersesat. Murid laki-laki itu sebenarnya adalah saudaraku. Bagamanapun juga, aku khawatir dia tidak kunjung sampai,” ucap Zchaira, sebenarnya ingin memohon agar guru itu melihat kembali Megathirio yang mungkin masih tersesat di dalam hutan.


Mendengar pernyataan gadis itu, sang guru nampak memasang ekspresi menyeringai, membuat Zchaira langsung merasa kesal, karena merasa guru tersebut seperti mempermainkan Megathirio.


“Coba dilihat disana…” Akan tetapi, maksud dari guru tersebut menunjukan ekspresi seperti itu adalah karena untuk memperlihatkan bahwa Megathirio kini terlihat dari kejauhan telah berhasil keluar dari dalam hutan.


Melihat guru itu menunjuk Megathirio keluar dari dalam hutan, Zchaira dengan cepat berdiri dan langsung menghampiri kakanya tersebut.


“Akh…” Disaat bersamaan, anak laki-laki bernama Haniwa, yang sedang membaringkan kepalanya di atas kedua kaki Zchaira, tiba-tiba terbentur cukup keras ke tanah akibat gadis itu dalam sekejap berdiri.


“Kakak…” Zchaira datang menghampiri Megathirio sambil merangkul tangan pemuda itu ke pundaknya untuk membantu berjalan karena pemuda tersebut sudah sangat untuk berjalan.


**


“Megathirio… Di urutan keseribu tiga ratus tujuh puluh enam…” Ucap si guru, mengumumkan Megathirio sebagai murid terakhir yang sampai di depan akademi sihir.


“Hei bocah… Padahal kau memiliki usia paling tua dan sebagai salah satu Venerate terkuat diantara para murid baru, namun kau harus dibantu berjalan hingga sampai kemari,” lanjut si guru berkata, sedikit merendahkan pemuda itu.


“Hei guru sialan, kalau saja bukan karena perbuatanmu sebelumnya, pasti akulah yang akan sampai disini pertama kali,” balas Megathirio, merasa kesal mendengar pernyataan dari guru itu.


“Maaf sekali, tapi hal yang kau lakukan itu sangat dilarang… Kau tetap akan berada di posisi terakhir walaupun pertama sampai disini… sudah bagus aku melakukan hal sebelumnya, karena kau kan memang akhirnya akan sampai di urutan yang terakhir.” Tidak mau kalah berargumen, guru itu pun lantas kembali membalas ucapan Megathirio.


Saking kesalnya melihat sikap guru itu, Megathirio tiba-tiba mendekatinya hendak ingin memukul pria tersebut.


“Megathirio hentikan, apa yang kau lakukan? Dia itu adalah guru disini… Setidaknya tunjukan rasa hormatmu.” Zchaira pun lantas menahan kakaknya tersebut yang ingin melakukan tindakan kekerasan pada guru tersebut.


Sang guru lantas hanya bisa memasang ekspresi menyeringai, merespon ekspresi kesal dari pemuda itu.


Walaupun masih memiliki stamina yang penuh, tetapi Zchaira yang merupakan seorang perempuan tidak mampu menahan Megathirio lebih lama, yang terus bersikeras ingin memukul guru tersebut.


Saking bersikerasnya Megathirio, membuat Lucia yang sedang merentangkan kakinya tiba-tiba berdiri menghampiri pemuda itu.


“Uakh…!” Lucia dengan mudah mengangkat Megathirio ke pundaknya, layaknya seorang anak kecil kemudian langsung membantingnya, hingga pemuda dalam sekejap tak sadarkan diri.


Melihat hal tersebut semuanya nampak terkejut melihat perempuan itu dengan mudahnya mengangkat serta membanting Megathirio.


“Tenagamu boleh juga ternyata,” ucap si guru, tidak menyangka bahwa Lucia bisa sekuat itu, yang bahkan guru itu sendiri sepertinya tidak bisa melakukan hal tersebut tanpa menggunakan kekuatan Venarate-nya.


“Baiklah… Pelajaran hari ini sudah selesai… Kalian bisa kembali ke asmara sekarang juga.”


Mendengar arahan dari guru tersebut, para murid baru satu per satu mulai bubar, kembali masuk ke dalam akademi sihir.


***


Malam harinya, Megathirio yang telah berada di dalam kamar asramanya, kini sedang berbaring di atas tempat tidur.


“Guru sialan… Awas saja, aku pasti akan membuat perhitungan padanya… Aku juga tidak akan memaafkan gadis sialan itu” Walaupun energinya telah kembali pulih, namun Megathirio tidak bisa melupakan apa yang dilakukan oleh guru serta Vampirman perempuan itu di depan para murid-murid baru sebelumnya.


“Apa mungkin guru yang kau maksud adalah tuan Raumian, kakak?” Tiba-tiba seseorang merespon ucapan dari pemuda itu, yang tidak lain merupakan Rayvor, yang ternyata merupakan teman sekamarnya di dalam asrama tersebut.


“Aku juga ingat bagaimana dia memperlakukan kami saat pertama kali mendapatkan pelajaran tentang pelatihan fisik,” ucap Rayvor.


“Tapi, siapa perempuan yang kau maksud?” Lanjut Rayvor, bertanya pada Megathirio karena merasa penasaran.


“Siapa lagi kalau bukan Vampireman itu,” jawab Megathirio.


“Kakak Lucia… Memangnya kenapa dengannya?” Tanya Rayvor lagi.


“Perempuan itu, walaupun sedang menyamar menjadi salah satu dari kita, tapi dia selalu memperlihatkan bahwa dia adalah ras keturunan campuran…”


“Bahkan tadi saja, dia dengan mudah mengangkat lalu membantingku dengan kuat ke tanah hingga aku tak sadarkan diri depan para murid baru,” jawab Megathirio.


“Aku tidak menyangka bahwa ras keturunan campuran memiliki kekuatan fisik sekuat itu,” respon Rayvor.


“Sial… Aku merasa dipermalukan di depan para murid-murid, bahkan yang melakukan hal itu padaku adalah seorang perempuan…”


“Yah sudah, aku mau tidur dulu… Entah bencana yang akan terjadi padaku besok hari.” Megathirio pun berhenti merasa kesal dan sontak beristirahat tidur.


–14 Juli 3024–


Keesokan harinya, pelajaran pelatihan kekuatan fisik dari para murid-murid baru pun kembali berlanjut, dimana mereka masih tetap harus berlari menuju ke akademi sihir dalam jarak puluhan kilometer jauhnya.


Namun, tempat serta keadaan yang ada kini berbeda dengan yang ada pada kemarin hari, dimana para murid-murid baru harus berlari di sebuah padang pasir yang luas serta memiliki suhu yang cukup tinggi.


Hal lain yang berbeda dengan hari kemarin juga nampak bahwa Megathirio yang sebelumnya berada di urutan terakhir kini terlihat sedang memimpin sebagai murid yang berada paling depan diantara para murid-murid yang lain.


Pemuda itu tampak berlari dengan bersemangat tanpa beristirahat sekalipun menuju ke akademi sihir yang bahkan masih belum terlihat di depan.


**


Jauh dibelakang Megathirio nampak Zchaira berlari bersama Lucia dengan tenaga yang masih terlihat penuh.