The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 16 - Belum pernah memanggil seseorang dengan sebutan ayah



“Ini sangat membingungkan…” Ucap Zchaira.


Gadis itu kemudian tampak kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak tahu harus mengeluarkan ekspresi seperti apa setelah mengatahui kebenaran bahwa pria yang berada di depannya itu merupakan ayah kandungnya.


“Nak, apa kau tidak apa-apa?” Melihat ekspresi kebingungan Zchaira, Hefaistos bertanya.


Akan tetapi, Zchaira tidak menjawab pertanyaan dari Hefaistos, dan lebih memilih meninggalkan tempat tersebut.


Tampak Zchaira masih belum siap menerima kebenaran yang ternyata diluar dari ekspetasinya.


“Zchaira…” Ketika Zchaira pergi, ibunya, Artemis sontak langsung memanggilnya.


“Artemis, biarkan dulu dia sendirian… Dia mungkin sangat terkejut mengetahui bahwa kebenarannya.” Artemis yang mencoba mengejar putrinya tersebut langsung dihalangi oleh Hefaistos.


“Kurasa dia harus menenangkan pikirannya terlebih dahulu…”


***


“Haah… Haah…”


Setelah berlari meninggalkan kedua orang tuanya, Zchaira tiba di perkampungan. Gadis itu tiba-tiba berpapasan dengan Rayvor yang sedang duduk di depannya.


“Eh, Zchaira…” Rayvor seketika berdiri dan mendekati gadis itu.


“Apa yang terjadi? Kemari duduk dulu.” Rayvor langsung menuntun Zchaira untuk duduk bersamanya setelah melihat gadis itu nampak kelelahan.


“Ada apa? Kenapa kau berlarian semalaman begini? Jangan katakan jika kau sebelumnya bertemu dengan seekor beruang lagi?” Tanya Rayvor dengan sedikit bergurau.


“Bukan seekor beruang… Tapi, sesuatu yang lebih besar, karena itu aku pergi menghindarinya,” jawab Zchaira.


“Apa…? Kalau begitu kita harus meminta bantuan segera…” Mendengar ucapan Zchaira, Rayvos sontak terkejut dan langsung berdiri.


Pemuda itu tidak mengerti bahwa sesuatu lebih besar yang dimaksud oleh Zchaira adalah bahwa kini gadis tersebut sudah mengetahui siapa ayah kandungnya.


“Sudahlah, itu tidak akan mengganggu kita semua yang ada disini…” Namun, Zchaira menjelaskan pada pemuda itu untuk tidak perlu khawatir.


Rayvor kembali duduk dan menemani Zchaira di tempat tersebut. Mereka duduk di tempat itu cukup lama tanpa membicarakan sesuatu.


“Jadi yang kudengar kau sebelumnya ditolong oleh paman Hefaistos?” Karena merasa canggung, Rayvor sontak menanyakan sesuatu.


“Iya… Untung saja ada orang itu,” jawab Zchaira.


“Ngomong-ngomong kau mengenal orang itu?” Tanya balik Zchaira.


“Maksudmu paman Hefaistos? Tentu saja aku mengenalnya, karena dia adalah kakak dari ayahku… Terlebih lagi sebenarnya dia…”


Karena merasa nyaman berbicara dengan Zchaira, Rayvor hampir saja mengatakan hubungan Hefaistos dengan gadis itu.


“Sebenarnya apa?” Tanya Zchaira.


“Dia… Dia juga sebenarnya adalah presiden penyihir Lightio, pemimpin negeri ini,” ucap Rayvor, memberikan jawaban yang lain.


“Jadi begitu yah… Ternyata kau ini adalah sepupuku”


Akan tetapi, Zchaira sebelumnya memang telah mengetahui bahwa Hefaistos merupakan ayahnya. Gadis itu bertanya kepada Rayvor hanya untuk mengetahui hubungan pemuda itu dan ayahnya.


“Iya, benar…”


Tanpa Rayvor sadari, dia telah menjawab pertanyaan Zchaira tanpa memperhatikan hal yang diucapkan oleh gadis itu.


“Eh… Apa katamu tadi kita adalah saudara sepupu? Bagaimana kau mengetahuinya, aku bahkan tidak pernah mengatakannya padamu?”


Pemuda itu seketika terkejut setelah akhirnya mengerti dengan ucapan Zchaira sebelumnya.


Zchaira menganggukkan kepalanya merespon pertanyaan Rayvor.


“Kalau begitu, apa mungkin aku harus memanggilmu kakak mulai sekarang? Karena kurasa kau mungkin lebih tua dariku,” Ucap Zchaira sambil gadis itu berdiri.


Zchaira tersenyum mendengar ucapan Rayvor.


“Baiklah kakak, kurasa waktunya untuk masuk sekarang.” Gadis itu kemudian pergi meninggalkan Rayvor sambil menyuruhnya untuk masuk beristirahat.


Ekspresi Rayvor nampak kebingungan setelah melihat gadis itu ternyata sudah mengetahui hal yang disembunyikan kepadanya selama ini.


Pemuda itu bertanya-tanya siapa orang yang memberitahukan hal tersebut kepada Zchaira.


–13 Mei 3024–


Keesokan harinya di pagi hari yang sejuk, Hefaistos datang ke sebuah ladang untuk menemui Zchaira yang sedang bekerja.


“Eh, selamat pagi tuan. Ada apa anda datang kemari?” Zchaira langsung menyapa melihat Hefaistos datang menemuinya.


“Zchaira, bukankah kau mengetahui siapa aku sebenarnya… Kau sebenarnya bisa memanggilku dengan sebutan ayah saja,” ucap Hefaistos, dengan tanpa pemaksaan pria itu sebenarnya ingin mendengar putrinya tersebut memanggilnya dengan sebutan ayah.


“Kau benar, tetapi selama kurang dari enam belas tahun lamanya aku belum pernah memanggil seseorang dengan sebutan ayah… Jadi maaf tuan, aku mungkin harus membutuhkan waktu untuk itu.”


Hefaistos tersenyum mendengar penjelasan dari Zchaira. Pria itu paham putrinya tersebut masih belum terbiasa untuk memanggilnya dengan sebutan ayah.


Disamping itu, saudara Zchaira, Megathirio yang berada di dekat tempat tersebut tampak kurang senang melihat Hefaistos menemui Zchaira.


Lantas pemuda itu datang menghampiri mereka dengan raut wajah yang serius.


“Mohon maaf tuan, aku harus berterima kasih karena sebelumnya kau sudah membantu kami menyelesaikan masalah yang ada disini, namun apakah sebagai pemimpin negeri ini kau tidak memiliki pekerjaan yang lain sehingga harus lebih lama disini,” ucap Megathirio dengan nada suara agak tinggi.


“Kakak, Hentikan itu…” Zchaira pun langsung memarahi Megathirio karena mendengar perkataan langcannya pada Hefaistos.


“Apa kau tidak tahu bahwa dia sebenarnya adalah…”


“Ayah kita kan… Itu kan yang ngin kau katakan?” Baru saja Zchaira akan menjelaskan hal tersebut, tiba-tiba langsung memotong perkataannya.


Zchaira terkejut mendengar saudaranya tersebut ternyata sudah mengetahui bahwa Hefaistos adalah ayah mereka.


Zchaira berpikir sejenak mengapa saudaranya itu bisa mengetahui hal tersebut, apa mungkin sebelumnya ibu mereka pernah mengatakan kepada Megathirio, atau mungkin Megathirio-lah yang sudah tahu sebelum mereka meninggalkan Hefaistos beberapa tahun yang lalu.


“Kau benar nak, aku tidak bisa berlama-lama berada ditempat ini, karena itu aku datang menemui kalian sebenarnya hanya untuk berpamitan…”


“Kuharap kalian berdua baik-baik saja…”


Setelah mengucapkan salam perpisahan Hefaistos pun tersenyum kepada kedua anaknya tersebut. Dia kemudian berbalik membelakangi mereka dan perlahan berjalan menjauh.


Zchaira dengan ekspresi wajah yang datar melihat Hefaistos perlahan pergi menjauh, namun dalam benaknya gadis itu sedikit merasa sedih karena harus kembali berpisah dengan ayahnya yang baru saja ditemuinya itu.


“Tunggu tuan, ada yang kubicarakan…” Tiba-tiba Zchaira memanggil Hefaistos.


“Iya, ada apa nak?” Saat mendengar panggilan tersebut, Hefaistos degan sigap berbalik dan menjawab panggilan putrinya itu.


“Apakah mungkin jika kami ikut bersama denganmu, kami bisa menjadi lebih kuat dan mengetahui lebih banyak tentang dunia luar?”


“Zchaira, apa yang kau katakan? Apa kau bercanda?” Mendengar ucapan saudaranya, Megathirio sontak terkejut.


“Kakak, ini adalah satu-satunya cara untuk bisa mengetahui dunia luar itu seperti apa… Aku tahu bahwa kau juga menginginkannya.”


Dalam benak Megathirio memang benar bahwa tinggal di tempat tersebut tidak bisa membuat berkembang menjadi lebih kuat. Pemuda itu juga sangat ingin untuk mengetahui dunia luar dengan mata kepalanya sendiri seperti yang dikatakan oleh saudarinya.


Setelah memikirkannya lebih panjang lagi, Megathirio nampak diam dan tidak menanggapi kembali ucapan adiknya.


“Tentu saja nak, bahkan kalian bisa ikut sekarang jika kalian mau…” Selain itu, Hefaistos yang mendengar pertanyaan Zchaira terlihat senang karena akhirnya masih bisa memiliki kesempatan untuk bersama dengan anak-anaknya.


Mendengarnya Zchaira pun tersenyum karena kesempatannya tersebut disetujui dengan senang hati oleh ayahnya.


“Tapi yang kukhawatirkan, bagaimana aku mengatakannya kepada ibu?” Ucap Zchaira.