
“Ukh...” Saat Vegrunn hendal melancarkan serangan kepada Zurbag yang sedang terkapar, tiba-tiba Rourke datang dengan mengayunkan senjata khususnya secara berulang-ulang kali sambil memancarkan proyeksi elemen api, serta dalam kecepatan serta kelincahan yang tinggi, sampai membuat Beastman itu pun terhentak ke belakang.
“Flame martial... Sanjiegun’s blow...”
“Akh...” Vegrunn menerima serangan tongkat api yang diayunkan secara kuat oleh Rourke, hingga membuatnya terhempas ke jarak yang cukup jauh.
Dalam kesempatan tersebut, Rourke pun langsung meluncur hendak melakukan serangan lanjutan, akan tetapi Vegrunn dengan sigap, kembali berdiri, lalu dengan cepat menangkap ayunan tongkat rantai milik Rourke, kemudian menariknya dengan kuat, membuat pemuda itu pun langsung tertarik mengarah pada Beastman tersebut.
“Akh...” Dengan satu pukulan kepalan tangan yang besar, Rourke seketika terhempas menabrak penghalang proyeksi yang diciptakan oleh Achilles.
**
Sementara itu, Vegrunn terlihat bersiap untuk berhadapan dengan Zurbag yang kini telah menciptakan dua buah pedang dari kekuatan elemen es miliknya.
“Hei bocah... Lihat bagaimana caraku memburu beruang liar itu...” Ucap Zurbag pada Rourke yang tengah berdiam karena kesulitan untuk mencari cara mengalahkan Beastman yang memiliki kekuatan fisik jauh diatasnya.
Zurbag pun dengan sigap meluncur dalam kecepatan tinggi, walaupun memiliki tubuh yang besar dengan tinggi lebih dari dua meter. Orcman itu mengayunkan salah satu pedang esnya ke arah Vegrunn, namun dengan sigap langsung ditangkis oleh Beastman dengan tangan kosong, dan bahkan tidak sedikitpun dapat melukainya.
Zurbag terus menyerang Vegrunn dengan terus mengayunkan dua pedang esnya secara berulang kali kepada Vegrunn, namun masih kurang untuk membuat Beastman itu terluka.
Vegrunn yang mendapat kesempatan dalam jeda serangan Zurbag, dengan sigap mengibaskan cakar tajamnya, namun dengan sigap juga Zurbag pun menghindari serangan tersebut dengan melompat ke belakang.
Karena sulit melukai Beastman tersebut dengan hanya mengandalkan senjata yang dibentuknya, Zurbag pun mengakses kekuatannya, melapisi dua pedang esnya dengan pancaran proyeksi energi.
Dalam kecepatan tinggi, Orcman itu kembali meluncur ke arah Vegrunn. Ketika Vegrunn mengetahui pergerakan Zurbag yang berhenti tepat di depannya, dengan sigap Zurbag pun bergerak ke sisi yang berbeda, kemudian langsung mengayunkan salah satu pedang es yang terlapis oleh pancaran proyeksi energinya.
Walaupun sempat menghindari serangan tersebut, namun Vergrunn tetap saja menerima efeknya dan bahkan hal tersebut membuatnya terluka.
Dalam sepersekian detik, Zurbag pun menyadari serangannya nampak efektif, dan dengan sigap langsung bergerak dalam kecepatan tinggi, berpindah-pindah ke sisi lain Vegrunn sambil mengayunkan kedua pedang esnya.
Ketika memiliki sebuah kesempatan yang besar, Zurbag bergerak dalam kecepatan tinggi, muncul di depan Vegrunn, lalu mengibaskan kedua pedang esnya dengan kuat, membuat Vegrunn langsung terhempas.
“Ice strike...”
“Akh...!” Belum puas, Zurbag pun mengakses kekuatannya, mengorbankan kedua pedang esnya menjadi sebuah serangan pusaran elemen es dalam skala yang besar, hingga membuat Vegrunn terus terhempas sampai menabrak penghalang proyeksi di pinggir tengah arena.
Zurbag yang sedikit senang melihat Vegrunn terkapar setelah menerima serangannya, tiba-tiba langsung mengubah ekspresinya menjadi terkejut karena tidak menyangka bahwa Beastman itu akan kembali berdiri lagi.
“Ice strike...” Orcman itu pun kembali melancarkan serangan pusaran elemen esnya ke arah Vegrunn, namun hasilnya kini tampak berbeda.
Vegrunn dalam waktu singkat mengakses kekuatannya, membuat tubuh Beastman tersebut langsung memancarkan proyeksi energi yang besar, kemudian meluncur ke arah serangan pusaran elemen es dari Zurbag yang dapat dilewatinya dengan mudah.
“Uakh...!” Vegrunn meninju wajah Zurbag dengan keras, hingga sejenak memunculkan pancaran proyeksi energi yang meluas di sekitar tengah arena tersebut.
Setelah mengalahkan Zurbag, kini perhatian Vegrunn tertuju pada Rourke yang tengah bersiap untuk melawannya, dan menjadi peserta terakhir yang kemungkinan bisa mengalami hal yang sama seperti Zurbag serta Phoruta.
Vegrunn berdiam diri menunggu Rourke mengakses kekuatannya, yang bagaimanapun juga dipercayai oleh Beastman tersebut bahwa pemuda itu tetap saja tidak akan mampu mengimbangi ataupun mengungguli kekuatan fisiknya.
“Baiklah... Kau telah memaksaku untuk serius sekarang tuan beruang...”
“Kau akan menyesal jika aku menggunakan kekuatan dari senjata ini yang kukuasai hampir satu dekade lamanya,” ucap Rourke mengakses kekuatan dari senjata suci tersebut, hingga memancarkan proyeksi kobaran api dengan warna emas.
Dalam sekejap, Rourke pun meluncur mendekati Vegrunn, dengan santai dinanti oleh Beastman tersebut dengan gaya hendak menangkap ayunan senjata dari pemuda itu.
“Akh...” Tanpa dikira oleh Vegrunn, ayunan senjata suci dari Rourke berayun ke wajah Beastman tersebut, hingga membuatnya terhempas menabrak penghalang proyeksi.
“Sialan...!” Teriak Vegrunn, mengumpat, kemudian berdiri kembali dan meluncur ke arah Rourke.
Dengan sigap, pemuda Fuegonia itu langsung melompat, mengibaskan senjata sucinya dengan kuat, membuat Vegrunn yang sulit menghindari serangan tersebut sontak terhentak ke tanah dengan keras.
**
“Senjata itu bukankah berasal dari negeri Tianlong?” Tanya Narest, memperhatikan senjata yang cukup unik dari Rourke yang memang kurang dikenal oleh para Venerate dari benua tempat mereka berada.
“Iya... Ayah kami yang memberikannya pada Rourke ketika kembali dari benua Antikara beberapa tahun yang lalu...”
“Rourke bahkan harus berlatih menguasai senjata tersebut dengan pergerakan khusus sedari menerima senjata itu,” jawab Neyndra.
**
Kembali pada pertarungan di tengah arena, dimana Rourke dalam kecepatan serta kelincahan tinggi, berulang kali melancarkan serangan yang kuat dari senjata sucinya, membuat Vegrunn perlahan-lahan mulai kewalahan.
Rourke mengibaskan senjata sucinya ke arah atas, hingga Vegrunn pun langsung terhenpas ke udara. Dalam kesempatan tersebut, pemuda itu berkonsentrasi memproyeksikan kobaran api tepat di atasnya, hingga kemudian berbentuk layaknya sebuah burung api raksasa.
“Massive flame projection… Colossal flame bird…” Rourke mengendalikan burung api raksasa ciptaannya tersebut, menerjang Vegrunn yang terhempas ke udara.
Burung api raksasa tersebut terus membawa Vegrunn hinga pada ketinggian di atas tiga ribu kaki, kemudian lenyap tak bersisa.
Ketika melihat Vegrunn jatuh meluncur dengan kecepatan tinggi, pemuda itu pun melakukan gaya khusus, menciptakan sebuah pusaran angin, hingga membuat Vegrunn yang sudah tidak sadarkan diri, perlahan turun ke bawah dan akhirnya terkapar di tanah.
Disaat bersamaan, para penonton yang sebagian besar merupakan warga kota Novacurve langsung menyoraki Rourke yang berhasil keluar menjadi pemenang setelah mengalahkan Beastman tersebut.
Dan tak berapa lama setelah kekalahan dari Vegrunn serta sorakan para penonton bagi Rourke, sang wasit pun memasuki tengah arena ketika penghalang proyeksi yang diciptakan oleh Achilles menghilang.
“Pemenang dalam pertandingan ini adalah Rourke Drown... Dari tim Fuegonia,” ucap sang wasit, mengumumkan kemenangan Rourke.