The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 9 - Mereka datang untuk mengincarmu



“Disini adalah negeri Blueland wilayah paling utara di benua Aizolica,” jawab perempuan itu.


*


“Blueland…?” Kata Artemis dalam hati seketika terkejut mendengar ucapan perempuan itu.


“Karena teknik dari Vampireman itu, aku sampai terwbawah ke tempat ini.”


**


“Kau sepertinya adalah manusia? Bagaimana kau bisa berada di tempat ini?” Tanya perempuan itu.


“Maaf jika aku mengejutkan kalian semua disini… Sebenarnya aku berasal dari Lightio. Aku tiba-tiba berada disini karena teknik dari Vampireman yang kulawan,” jawab Artemis.


“Ngomong-ngomong mereka sebelumnya menyebutmu sebagai Yang mulia… Apakah mungkin anda adalah Lorraine Noroh, ratu negeri ini?” Lanjut Artemis, bertanya.


“Iya, aku adalah dari negeri ini,” jawab perempuan tersebut.


“Yang mulia, jika bisa apa mungkin aku boleh pergi sekarang… Aku tidak bisa berlama-lama berada ditempat ini, putriku sedang diincar oleh para Vampireman.” Artemis kemudian bermohon kepada ratu negeri Blueland itu agar membiarkannya untuk untuk pergi.


“Silahkan, aku tidak bisa menghalangi seorang ibu yang mau melindungi putrinya.” Perempuan bernama Lorraine tersebut sontak memperbolehkan Artemis pergi dari tempat itu.


“Terima kasih atas kebaikan anda Yang mulia.” Artemis pun berterima kasih dan bergegas pergi dari tempat itu.


“Kalau boleh kutahu, siapa namamu?” Baru sempat Artemis berjalan beberapa langkah, perempuan itu sontak bertanya pada wanita itu.


“Artemis Hairowl…”


“Artemis, kuharap kita bisa kembali bertemu lagi dikemudian hari,” ucap perempuan itu.


“Baik Yang mulia, kuharap juga seperti itu,” balas Artemis.


Wanita itu kemudian terbang dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat tersebut.


–12 Mei 3024–


“Kakak…! Dimana kau…?!” Teriak Rayvor memanggil Megathirio.


“Haah… Kemana dia?” Gumam pemuda itu nampak khawatir tidak kunjung menemui Megathirio setelah semalaman menyusuri hutan tersebut.


“Eh…?” Rayvor yang berjalan tanpa arah seketika melihat ayahnya, Lucierence telah tersandar di sebuah pohon dan tak sadarkan diri.


“Ayah…!” Dengan cepat dia menghampiri ayahnya.


“Ayah… Bangun…” Dengan panik Rayvor mencoba menyadarkan ayahnya tersebut, yang tak kunjung-kunjung sadar.


**


“Uh…” Hingga beberapa saat kemudian Lucierence pun akhirnya tersadar.


“Rayvor…” Pria itu nampak terkejut melihat anaknya telah berada di depannya.


“Ayah, bagaimana keadaanmu? Dan mengapa kau bisa seperti ini? Dimana bibi? Bukankah kalian mau menghentikan musuh yang menyerang wilayah ini?” Ucap Rayvor dengan satu tarikkan nafas melontarkan beberapa pertanyaan pada ayahnya tersebut.


“Aku baik-baik saja, jangan khawatir,” jawab Lucierence.


“Baik-baik saja katamu…? Pak tua, walaupun baru saja menemuimu sekarang, tapi aku yakin kau mungkin sudah dari semalaman tidak sadarkan diri. Aku bahkan sebelumnya berencana untuk menyadarkanmu dengan serangan kejut jika kau tidak kunjung-kunjung bangun juga,” ucap Rayvor sedikit membentak ayahnya karena melihat keadaan pria itu yang tidak sesuai dengan yang dia katakan.


“Iya-iya terserah padamu saja,” ucap Lucierence.


“Lalu bagaimana dengan bibi Artemis? Mengapa dia tidak ada disini?” Tanya Rayvor sekali lagi karena beberapa pertanyaannya belum dijawab oleh pria itu.


“Bibi Artemis hilang entah kemana setelah menerima teknik yang dilancarkan oleh Vampireman, yang kami lawan tadi malam… Setelah dia hilang aku terpaksa harus melawan mereka sendirian dan berakhir seperti ini. Aku kalah karena harus melawan dua Continent Venerate sekaligus,” jawab Lucierence menjelaskan mengapa keadaannya seperti sekarang.


Rayvor pun nampak terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar penjelasan dari ayahnya.


“Rayvor, aku ingin kau pergi sekarang ke desa, dan bawah Zchaira menemui orang-orang kita,” ucap Lucierence.


“Bagaimana aku bisa sampai tepat waktu? Para Vampireman itu mungkin akan sampai duluan sebelum aku sampai.”


“Kau harus menggunakan sayap proyeksi agar bisa bergerak lebih cepat dari mereka.”


“Tapi, aku masih belum bisa menguasai teknik itu,” ucap Rayvor tampak merasa ragu untuk melakukan teknik yang dikatakan oleh Lucierence.


“Rayvor, kau bisa melakukannya, berkonsentrasilah untuk memfokuskan energi sihirmu ke bagian belakangmu, dan pikirkanlah bahwa sepupumu itu sedang dalam bahaya sekarang ini… Itu akan membantumu memunculkan sayap proyeksimu.” Lucierence pun sontak meyakinkannya agar tidak ragu untuk melakukan teknik tersebut.


Tak berapa lama energi sihir dari pemuda itu memancar keluar dan berkumpul di belakang punggungnya membentuk sebuah sayap.


“Aku berhasil ayah…” Ucap Rayvor nampak senang akhirnya berhasil menggunakan teknik tersebut.


“Ayah, bagaimana denganmu?” Tanya pemuda itu.


“Jangan khawatirkan aku. Butuh beberapa waktu agar kekuatanku pulih kembali… Aku tetap akan menyusulmu nanti,” jawab Lucierence.


“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu.” Rayvor seketika terbang dengan kecepatan tinggi meninggalkan Lucierence sendiri di tempat itu.


***


Di sebuah gua, terlihat Megathirio tersadar setelah sebelumnya terjatuh dari atas ketinggian.


“Kau…” Pemuda itu seketika terkejut hingga menjaga jaraknya ketika melihat gadis yang ditemuinya semalaman, berada didekatnya.


“Maafkan karena perbuatanku semalam. Aku terkejut tiba-tiba bertemu dengan seseorang di tengah hutan,” kata gadis tersebut.


“Kau pikir aku juga tidak terkejut melihat seorang gadis… Gadis cantik ditengah hutan yang gelap sendirian. Aku berpikir kau sebelumnya adalah roh penunggu hutan, dilihat warna kulitmu saja,” balas Megathirio.


“Tapi tunggu dulu, sepertinya aku tahu ciri-cirimu ini.” Tiba-tiba pemuda itu seperti mengenali penampilan dari gadis tersebut.


Dia perlahan-lahan mendekat dan memegang wajah gadis itu sambil memperhatikannya dengan seksama.


“Kau Vampireman kan?” Tanya Megathirio dengan ekspresi wajah yang serius.


“Apa…?” Gadis itu sontak terkejut mendengar pertanyaan dari Megathirio.


Dia langsung melepaskan tangan pemuda tersebut dari tangannya dan berlari menjauhinya.


“Fulmine sillabare…” Megathirio seketika melancarkan serangan elemen petir melihat gadis itu melarikan diri darinya.


“Akh…!” Serangan tersebut sontak diterimanya hingga membuatnya terkapar dan tak sadarkan diri saat itu juga.


***


Kembali pada Rayvor yang sedang dalam perjalanan menuju desa. Saat terbang meluncur dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba pemuda itu melewati rombongan para Vampireman dan clan Bridgehunts, yang juga memiliki tujuan yang sama dengannya.


“Itu pasti mereka. Sial, aku harus cepat sampai kesana,” ucap Rayvor.


**


“Siapa anak itu?” Tanya Silvan, seketika melihat Rayvor terbang melewati mereka.


“Ayah, aku duluan,” Tanpa pikir panjang, Joker, anak dari Vampireman itu seketika terbang ke langit menyusul Rayvor.


***


Setelah sampai di desa Rayvor kemudian menghampiri Timonar dengan tergesa-gesa.


“Hei nak ada apa dengamu?” Tanya Timonar.


“Ayahku dan bibi Artemis sudah dikalahkan… Para Vampireman juga sudah dekat, aku barusan melihat mereka, sekitar sepuluh kilometer dari tempat ini,” jawab pemuda itu.


“Apa…? Kita harus segera bersiap.” Timonar seketika terkejut mendengar informasi dari pemuda tersebut.


“Hei, kenapa dengamu?” Tiba-tiba Zchaira pun datang menghampiri Rayvor dan bertanya pada pemuda itu.


“Untung kau ada disini. Cepat ikut denganku sekarang.” Rayvor langsung menarik tangan Zchaira membawahnya pergi meninggalkan tempat tersebut.


“Semuanya… Persiapkan diri kalian. Para Vampirman dan clan Bridgehunts telah dekat,” ucap Timonar kepada para warga.


***


“Hei, sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Zchaira nampak kebingungan melihat pemuda itu telah membawanya jauh dari desa.


“Sudah ikut saja denganku,” ucap Rayvor.


“Tunggu dulu… Katakan dulu, sebenarnya kita mau kemana?” Zchaira yang kesal seketika menepis tangan pemuda itu, hingga pegangannya lepas dari gadis tersebut.


“Kau mau tahu yang sebenarnya?” Rayvor pun memegang erat kedua pundak gadis itu dan menatapnya tajam.


“Sebagian dari penyerang itu adalah ras Vampireman… Mereka sebenarnya datang kemari untuk mengincarmu.”