The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 110 - Terlalu meremehkan lawan



Masih mampu bertahan menerima serangan dari Astrapi, keempat Venerate tersebut lantas kembali meluncur ke arah perempuan itu.


Melihat hal tersebut, Astrapi dengan cepat kembali berdiri lalu melancarkan serangan pukulan api ke arah Venerate bernama Zeidonas.


“God aura… Superior punch…” Dengan sigap, Venerate tersebut langsung melancarkan serangan proyeksi energi berwarna emas untuk menahan serangan elemen api yang dilancarkan oleh Astrapi.


Tabrakan dari kedua serangan mereka pun langsung menciptakan sebuah hempasan angin yang cukup kuat, hingga dua dari Venerate yang meluncur ke arah Astrapi dan Zeidonas pun langsung terhempas.


Akan tetapi, salah satu Venerate yang merupakan seorang perempuan lantas terus bertahan hingga dapat mendekati Astrapi dari arah belakang.


“God aura… Superior punch…” Perempuan itu pun langsung melancarkan serangan proyeksi energi emas disaat Astrapi tengah beradu serangan dengan Venerate bernama Zeidonas.


“Difesa sillabare…” Namun, Astrapi dengan sigap langsung menciptakan sebuah perisai proyeksi dari kakinya untuk menahan serangan dari perempuan itu.


Disaat serangan dari kedua Venerate itu dapat diatasi dengan mudah oleh Astrapi, perempuan itu dengan lincah langsung menarik rambut dari Zeidonas sembari menaruh kakinya pada Venerate perempuan yang berada di belakangnya.


Dalam sekejap, Astrapi pun melompat ke atas dengan tingginya, membuat kedua Venerate itu lantas memiliki sebuah kesempatan untuk menyerangnya.


“God aura… Superior punch…” Mereka berdua pun kembali melancarkan serangan proyeksi energi emas secara bersamaan ke arah Astrapi yang berada di atas.


“Ventus sillabare… Swirling wind…” Dengan lincah, Astrapi memutar-mutar tubunya yang sedang melayang di udara, hingga menciptakan sebuah pusaran angin yang kuat.


Serangan proyeksi yang dilancarkan oleh dua Venerate tersebut lantas seketika lenyap diterjang oleh pusaran angin yang diciptakan oleh Astrapi.


“Akh…!” Hal tersebut juga langsung membuat dua Venerate itu pun terhempas ke jarak yang jauh, karena tidak mampu menahan hempasan angin yang kuat tersebut.


Astrapi kemudian dengan sedikit berpose mendarat dengan mulus ke permukaan.


“Uwah…!” Seketika perempuan langsung terkejut hampir saja menerima serangan dari salah satu Venerate perempuan yang sebelumnya terhempas saat dirinya sedang beradu serangan dengan Venerate bernama Zeidonas.


Venerate perempuan itu dengan lincah melancarkan serangan pukulan secara beruntun ke arah Astrapi, namun dengan mudah langsung dihindari oleh perempuan itu.


“Akh…” Ketika Astrapi melancarkan serangan dengan membenturkan kepalanya pada kepala dari Venerate perempuan itu, dirinya malah merasa kesakitan oleh hal tersebut.


“Kenapa kepalamu keras sekali?” Tanya Astrapi sambil memegang kepalanya, yang langsung memar saat membenturkan kepala sebelumnya.


Venerate tersebut lantas tidak menjawab pertanyaan dari Astrapi, dan terus berusaha melancarkan sebuah pukulan walaupun terus dihindari oleh perempuan itu.


“Ventus sillabare…” Merasa percuma dengan usaha Venerate itu, Astrapi sontak melancarkan serangan hempasan elemen angin hingga Venerate perempuan itu pun langsung terhempas ke jarak yang jauh.


“Ah…!” Tiba-tiba salah satu Venerate pria yang terhempas sebelumnya, meluncur dan langsung memukul wajah Astrapi dengan kuat, hingga perempuan itu jatuh terduduk di tanah.


“Hei… Beraninya kau memukul wajah perempuan seperti ini dasar bajingan... Sial, wajah cantikku menjadi memar seperti ini,” ucap Astrapi, membentak Venerate yang memukulnya tersebut sambil memegang pipinya yang kini mendapatkan luka memar kembali.


**


“Astrapi, jangan bertingkah berlebihan, kau pikir ini sebuah pertandingan… Jika saja aku menjadi musuhmu, aku bahkan akan memukulmu tanpa ampun, walaupun kau seorang perempuan sekalipun.” Sementara itu, Illios yang sedang beradu serangan dengan Joker, tampak memperingati adiknya tersebut untuk tidak perlu bertingkah berlebihan karena hanya mendapatkan sebuah serangan.


**


“Kakak, ternyata kau lebih kejam dari mereka rupanya,” respon Astrapi pada ucapan dari Illios.


“Maaf nona, tapi sudah terlalu lama memalingkan pandanganmu… Kau pikir kami tidak bisa mengalahkanmu walaupun kau adalah Venerate tingkat atas.” Venerate yang memukul Astrapi sebelumnya, lantas hendak melancarkan serangan proyeksi energi emas, karena merasa muak saat Astrapi memalingkan fokus pada pertarungannya sendiri.


“God aura… Superior punch…”


Melihat serangan tersebut, Astrapi dengan sigap langsung melompat ke belakang hingga perempuan itu pun akhirnya bisa berdiri kembali.


Disaat yang bersamaan, semua Venerate yang berhadapan dengan Astrapi kembali mendatanginya, dan bersiap untuk menyerang perempuan itu lagi.


“Maaf jika kalian merasa kecewa… Aku secara tidak langsung bertingkah anggun walau tidak sadar sedang ditengah sebuah pertarungan…” Ucap Astrapi.


“Kalau begitu, aku akan mulai serius dari sekarang… Untuk kali ini, aku yakin kalian pasti tidak akan bisa menandingiku,” lanjut perempuan itu berbicara dengan percaya diri, sambil kini memperlihatkan ekspresi yang serius.


Seketika Astrapi pun mengeluarkan tekanan kekuatannya, yang sontak membuat Venerate yang berada dihadapannya terkejut hingga sedikit merasa gemetaran.


“Kalian mundurlah… Biar aku yang mencoba melawan perempuan itu,” ucap Zeidonas, menyuruh rekan-rekannya untuk mundur sembari dirinya akan menangani Astrapi, walaupun tidak yakin bisa bertahan berapa lama.


Zeidonas kemudian memasang kuda-kuda kemudian berkonsentrasi untuk melancarkan serangan yang lebih kuat dari sebelumnya.


Tampak pancaran proyeksi energi berwarna emas memusat pada salah satu sarung tangan besi yang dipakai oleh pria itu.


“God aura... Deadly superior punch…” Zeidonas kemudian meluncur ke arah Astrapi, kemudian melancarkan serangan proyeksi energi emas dalam skala besar pada perempuan itu.


“Difesa sillabare… Holy eldritch shield…” Dengan mudah Astrapi menahan serangan berskala besar tersebut dengan menciptakan sebuah perisai proyeksi yang lebih besar dari sebelumnya.


Serangan proyeksi energi emas itu seketika lenyap tak bersisa bersamaan dengan perisai proyeksi yang diciptakan oleh Astrapi.


“Sial…” Zeidonas pun lantas mengumpat karena serangan pamungkasnya tersebut dengan mudah mampu diatasi oleh perempuan itu.


“Baiklah, waktunya giliranku… Bagaimana cara kau bisa menahan serangan ini,” ucap Astrapi sambil memasang ekspresi tersenyum di wajahnya.


Astrapi seketika mengangkat salah satu tangannya ke samping, yang sontak langsung memancarkan sebuah kobaran api, layaknya berbentuk seperti sebuah pedang.


“Fiamma sillabare… Holy flame saber…” Astrapi seketika mengayunkan kobaran api yang berbentuk sebuah pedang berkurun sangat panjang tersebut mengarah pada Zeidonas.


Melihat serangan tersebut, Zeidonas dengan sigap langsung memproyeksikan energi berwarna emas dari sarung tangan besinya pada tubuhnya hingga menjadi layaknya sebuah zirah.


Akan tetapi, usaha dari pria itu percuma, karena serangan dari Astrapi tampak tidak bisa ditahan olehnya.


“Uakh…!” Zeidonas pun langsung terhempas di dekat ketiga rekannya hingga seketika langsung tak sadarkan diri.


Ketiga rekannya tersebut nampak tidak percaya bahwa pria itu seketika dikalahkan hanya dengan menerima satu serangan saja dari Astrapi.