
Proses pemulihan yang digunakan oleh kedua Venerate Pavonas tersebut tampak membuat para Venerate daerah Xetas tersebut sedikit keheranan, pasalnya teknik penyembuhan atau pemulihan yang digunakan mereka dengan cara mengucapakan kalimat panjang yang sulit dimengerti.
“Hanya ini yang bisa kami lakukan… Kami tidak mahir menyembuhkan sebuah luka fisik, tapi setidaknya kami sudah berusaha memulihkan keadaan jiwa agar penyembuhan luka fisik kalian bisa berjalan lebih cepat,” ucap salah satu Venerate Pavonas.
“Memulihkan keadaan raga kami? Kau pikir kami sedang tidak waras…” Salah satu Venerate daerah Xetas pun lantas sedikit kesal mendengar penjalasan dari Venerate Pavonas tersebut.
***
“Dengarkan aku tuan… Walaupun kau beserta pasukanmu datang kemari, tapi aku tidak terlalu mempercayai kalian, karena aku juga tahu bagaimana hubungan kalian dengan negeri-negeri di benua Greune yang berada di pihak negeri kami,” ucap Roselix, sedikit memperingati Venerate negeri Pavonas itu dengan ekspresi wajah serius.
“Aku paham nyonya… Lagipula kami membantu kalian untuk mengalahkan para pemberontak di daerah ini agar nantinya mendapatkan tujuan kami,” balas Venerate Pavonas tersebut.
“Ngomong-ngomong apakah Venerate yang melancarkan serangan proyeksi energi berwarna hitam sebelumnya adalah salah satu Venerate dari Lightio juga?” Tanya Venerate bernama Vahal itu.
“Iya, dia adalah salah satu Continent Venerate wilayah timur Lightio yang memiliki banyak masalah,” jawab Roselix.
“Hmph… Sesuai informasi, walaupun merupakan negeri yang luas dan memiliki banyak daerah di dalamnya, ternyata Lightio juga sebuah konflik internal,” respon Venerate Pavonas tersebut.
***
Berpindah ke akademi sihir, dimana terlihat Raumian berjalan pada sebuah lorong yang terletak di dalam bangunan khusus para tetua akademi.
Dia kemudian sampai di depan sebuah ruangan yang bertuliskan nama Anmaguel Manzareja, yang merupakan salah tetua di akademi sihir tersebut, dan merupakan tetua yang pernah bertemu dengan Aiver sebelumnya di sebuah kedai kota Xemico.
“Eh… Kemana pak tua itu?” Raumian nampak heran ketika masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat bahwa tetua yang dicarinya sedang tidak berada di tempat.
“Akhir-akhir ini dia sering tidak berada di tempat,” gumam Raumian kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
Kembali di daerah Xetas, dimana Aiver berserta dua temannya kini sedang berada di sebuah gua bersama dengan orang misterius yang menolong mereka.
“Apakah aku boleh tahu siapa kau sebenarnya?” Tanya Aiver mengenai identitas dari orang misterius itu.
Mendengar pertanyaan dari Aiver, orang misterius itu lantas membuka topeng, yang ternyata merupakan Anmaguel, tetua akademi sihir yang ditemuinya di kota Xemico.
“Sudah kuduga ternyata kau akan datang pak tua…” Aiver pun tersenyum tidak menyangka bahwa tetua itu akan benar-benar datang untuk membantu mereka.
“Hei bocah, kenapa kau sebelumnya kesulitan melawan para Venerate Pavonas itu?” Tanya Anmaguel.
“Entahlah, baru kali ini aku menyadari bahwa kemampuan sihirku tidak berguna di hadapan mereka…” Jawab Aiver.
“Bangsa Slivan atau bisa disebut juga sebagai para pembasmi… Mereka memiliki kemampuan khusus dimana dapat merasakan tekanan kekuatan yang bahkan dipancarkan oleh makhluk astral sekalipun…”
“Karena itu keseharian dari para Venerate itu selalu berkecimpung serta mempercayai dunia astral,” ucap Anmaguel, menjelaskan tentang para Venerate yang berasal dari negeri Pavonas itu.
“Para pembasmi yah… Bukankah sebagian besar dari mereka merupakan para Venerate sok suci yang berkedok menolong orang-orang yang sedang kerasukan kekuatan negatif?” Tanya Aiver.
“Benar sekali… Sebagian besar diantara mereka berprofesi sebagai pengusir setan. Hal tersebut mereka lakukan bertujuan utama mendapatkan energi dari makhluk-makhluk astral yang mereka usir,” jawab Anmaguel.
**
“Bocah… Ngomong-ngomong, sihir yang kau gunakan itu berasal dari mana?” Tanya Anmaguel, sebenarnya melihat pertarungan yang dilakukan Aiver bersama para Venerate daerah Xetas bersama Venerate dari negeri Pavonas sebelumnya.
“Sekitar sepuluh tahun yang lalu, aku merasa penasaran dengan sebuah pintu yang berada di dalam bangunan tua di kota Erestmanch.”
Aiver kemudian menjelaskan bahwa sebenarnya saat itu dirinya mengurungkan niatnya untuk mengetahui lebih lanjut tentang pintu yang dia ceritakan serta sebuah ruangan yang terdapat di dalamnya karena tidak memiliki sebuah kunci untuk membuka pintu tersebut.
Akan tetapi, saat tidak sengaja membaca sebuah buku yang berada di dalam akademi sihir, Aiver tiba-tiba melihat sebuah halaman yang berisikan tentang empat batu yang memiliki sebuah kekuatan yang besar di dalamnya, serta jika keempat batu tersebut digabungkan, maka hal tersebut dengan mudah akan mematahkan sebuah sihir ataupun sebuah pengunci.
Dari hal tersebut, Aiver pun langsung menyimpulkan bahwa keempat kunci yang mampu membuka pintu rahasia tersebut merupakan keempat batu tersebut.
Di mulai pada batu pertama, Aiver dengan mudah memperoleh sebuah batu bernama kuarsa biru yang berasal dari pulau utama negeri Blueland dari para pedagang gelap yang menjualnya.
Kemudian Aiver pun langsung memperoleh batu zamrud kuning yang berasal dari hutan Moanaz wilayah selatan benua Aizolica serta batu rodokrosit kuning yang berasal dari gurun Terragonia, negeri Asimir dari pedagang gelap yang lain.
Akan tetapi, Aiver kesulitan menemukan batu keempat, dimana batu tersebut tidak pernah didapat oleh para pedagang gelap akibat tempat batu beradanya batu tersebut di wilayah Akalsa negeri Fuegonia selalu tertutup oleh orang-orang yang berasal dari luar.
Disaat mengalami putus asa tidak bisa menemukan batu tersebut, Aiver teringat salah satu artefak di dalam akademi sihir, dimana merupakan batu langkah bernama giok merah yang berasal dari negeri Fuegonia. Tanpa pikir panjang, Aiver pun langsung mencuri batu tersebut tanpa diketahui oleh siapapun.
Aiver memoles ketiga batu tersebut agar dapat muat ke dalam lubang yang berada pada pintu rahasia tersebut, sedangkan untuk batu yang keempat dengan beruntungnya pria itu tidak perlu memolesnya karena secara otomatis telah muat ke dalam salah satu lubang di dalam pintu tersebut.
Setelah berhasil membuka pintu tersebut, pria itu terkejut bahwa ruangan yang berada di dalamnya ternyata menyimpan buku-buku yang memuat tentang sihir-sihir kuno saat negeri Lightio masih berbentuk sebuah kerajaan, yang telah hilang selama berabad-abad.
Aiver lantas membaca buku-buku yang berada di dalam ruangan tersebut serta mempelajari sihir yang tertulis di dalamnya tanpa sepengetahuan dari orang lain.
Dalam waktu singkat, pria itu pun langsung menguasai teknik-teknik sihir yang tertulis di dalam buku tersebut.
“Ternyata pencuri dari batu kristal berpijar yang dijadikan sebagai artefak itu adalah kau?” Tanya Anmaguel.
“Tentu saja… Mohon maaf pak tua, tapi daripada terus memajangnya seperti itu, lebih baik aku mengambilnya untuk membuat batu itu bisa menjadi berguna,” jawab Aiver.