
Beberapa saat kemudian, Zchaira mulai berlatih mengaktifkan kekuatan kesuburan abadi sesuai dengan arahan yang diberikan oleh sang naga merak Shydhie.
“Zchaira cobalah untuk berkonsentrasi memikirkan kekuatan yang berada di dalam dirimu itu… Dalam tingkatan kekuatanmu saat ini, kau masih tetap akan sedikit kesulitan untuk bisa mengaktifkannya, namun setidaknya kau harus mencoba secara perlahan-lahan…” Ucap Shydhie, memberi arahan kepada gadis itu.
“Jika kau nantinya berhasil menguasai mode kekuatan kesuburan abadi, maka secara bertahap kekuatanmu akan bertambah lebih kuat, dan tidak menutup kemungkinan bahwa dirimu akan bisa naik ke tingkatan yang selanjutnya,” lanjut sang naga merak menjelaskan.
“Baik Shydhie… Tapi setidaknya simpan dulu penjelasan itu, karena aku sedang berusaha berkonsentrasi sekarang,” balas Zchaira, nampak merasa terganggu mendengar penjelasan dari naga merak tersebut.
“Baiklah… Sepertinya kau memang sangat bersemangat untuk hal ini.” Shydhie pun menyutujui ucapan Zchaira, dan lebih memilih untuk diam terlebih dahulu sembari gadis itu sedang berkonsentrasi mengaktifkan kekuatannya sendiri.
***
Berpindah pada Artemis dan Astrapi, yang kini tampak sedang duduk dipinggiran sebuah tebing di pegunungan tersebut, sambil menunggu Zchaira selesai berlatih.
“Ibu… Apa kau memang sudah menyetujui kakak Kral dengan kakak Aphrodia?” Tanya Astrapi, penasaran karena masih belum yakin dengan pernyataan dari Artemis ketika berada di dalam penginapan.
“Tentu saja, kenapa tidak? Walaupun sebenarnya hal yang menghalangi itu adalah Kral kini telah menjadi Venerate di wilayah barat, sedangkan Aphrodia adalah Venerate dari wilayah timur,” jawab Artemis sambil menjelaskan hal yang kemungkinan akan menghalangi hubungan antara Kral dan Aphrodia.
“Iya… Kau memang benar, aku juga memikirkan hal seperti itu,” respon Astrapi.
“Apa kau bertanya karena memikirkan hal itu Astrapi?” Tanya Artemis, penasaran.
“Sebenarnya bukan karena itu…”
“Lalu… Apakah mungkin kau yang sebenarnya tidak menyetujui kakakmu bersama dengan Aphrodia?” Tanya Artemis lagi.
“Eh… Kenapa harus begitu? Tentu saja aku tidak mungkin memiliki pemikiran seperti itu…” Ucap Astrapi, sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Artemis.
“Sebenarnya aku berpikir apakah mungkin ibu, serta ayah akan melakukan hal yang sama jika kakak Illios dan aku dekat dengan seseorang?” Astrapi pun langsung menjelaskan kepada Artemis, mengapa dia bertanya mengenai persetujuan Artemis atas hubungan Kral serta Aphrodia.
“Ternyata seperti itu… Ibu pikir adik Kral ini tidak akan setuju mengenai pasangan kakaknya sendiri,” respon Artemis sambil menepuk pundak putrinya tersebut.
Namun, setelah memikirkan mengenai pernyataan dari Astrapi, Artemis tiba-tiba terkejut karena kemungkinan putrinya tersebut memiliki seseorang yang disukai.
“Astrapi, apa mungkin kau memiliki orang kau sukai?” Tanya Artemis.
Mendengar pertanyaan Artemis, Astrapi pun langsung terkejut, tidak menyangka bahwa ibunya bisa mengetahui bahwa dia sedang menyukai seseorang.
“Eh… Itu… Sebenarnya…” Astrapi pun lantas menjadi terbata-bata saat berbicara, merasa canggung saat Artemis mengetahui hal tersebut.
“Astrapi, ayo jujurlah… Jangan takut, setidaknya ibu hanya ingin mengetahui siapa laki-laki yang disukai oleh putri ibu ini…” Ucap Artemis, nampak sedikit memaksa agar Astrapi mengatakan orang yang disukainya.
“Dia dari clan Dirkcourt… Namanya Joker…” Karena memang ingin jujur, Astrapi pun lantas mengatakan laki-laki yang disukainya kepada Artemis, yang tidak merupakan Vampireman bernama Joker.
“Hmph… Joker dari clan Dirkcourt… Siapa yah? Mungkin ibu belum pernah bertemu dengannya.” Artemis sejenak merasa asing mendengar nama tersebut, dan langsung menyatakan bahwa belum pernah menemui laki-laki yang disebut oleh putrinya tersebut.
“Ibu pernah bertemu dengannya saat berada di daerah Xetas yang lalu… Dia bahkan adalah kakak dari salah satu murid bernama Lucia… Bukankah ibu serta ayah tahu siapa Lucia?”
Akan tetapi, setelah Astrapi mengatakan bahwa laki-laki tersebut merupakan saudara dari Lucia, yang secara terang-terang diketahui oleh Artemis merupakan salah satu ras Vampireman, wanita itu pun lantas terkejut.
“Joker… Apa benar kau menyukainya?” Tanya Artemis dengan ekspresi wajah terkejut.
“Iya ibu…” jawab Astrapi, sedikit merasa canggung, serta nampak heran melihat ekspresi terkejut dari Artemis.
“Ah, tidak… Bukan seperti itu, Joker adalah anak yang baik… Ibu mengetahuinya dari tuan Gahaelix,” jawab Artemis.
Namun, dalam benak Artemis nampak merasa ragu jika nantinya Astrapi mengetahui kebenaran dari Vampireman yang disukai olehnya, apa mungkin perasaan putrinya tersebut akan sama seperti sebelumnya.
“Memang benar Joker adalah laki-laki yang baik… Tapi, setidaknya kau harus mencoba lebih mengenalnya dulu, karena kemungkinan kau bisa berubah pikiran nantinya,” ucap Artemis, memberi pesan kepada Astrapi.
“Tidak ibu… Aku sudah sangat yakin bahwa dialah orang yang kusukai sekarang…” Balas Astrapi, mengatakannya dengan percaya diri sambil berdiri di pinggiran tebing tersebut.
“Eh… Baik, ibu akan mendukungmu nak…” Artemis pun hanya bisa terdiam mendengar ucapan percaya diri dari putrinya tersebut.
**
Disamping Artemis dan Astrapi berbincang, dari kejauhan nampak Lethis sedang memperhatikan mereka berdua.
Dari raut wajah Lethis, wanita itu nampak senang bisa melihat kembali putri satu-satunya, yang belum pernah dilihatnya setelah kurang lebih dua puluh lima tahu lamanya.
“Artemis… Ternyata kau tidak berubah sedikitpun…” Gumam Lethis, memperhatikan putrinya, yang memang tidak terlihat menua sama seperti dirinya.
**
“Eh…” Tiba-tiba Artemis, merasakan bahwa seseorang seperti sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Dengan ekspresi bingung, wanita itu pun memperhatikan ke sekitaran pegunungan tersebut sambil mengaktifkan kekuatan observasinya untuk mencari orang yang sedang memperhatikan mereka.
“Ibu… Ada apa?” Astrapi pun menjadi ikut kebingungan ketika melihat ibunya tersebut seperti keheranan memperhatikan ke sekitaran tempat itu.
“Ada seseorang yang sedang memperhatikan kita…” Jawab Artemis.
Mendengar hal tersebut, Astrapi dengan sigap juga mengaktifkan kekuatan observasi miliknya, dan langsung mengetahui keberadaan dari orang yang memperhatikan mereka.
“Disana… Aku merasakan aura seseorang dari balik hutan itu,” ucap Astrapi menunjuk arah orang yang sedang memperhatikan mereka di dalam hutan yang berada di pegunungan tersebut.
Tanpa pikir panjang, wakil presiden penyihir Lightio itu pin langsung meluncur sesuai dengan arahan Astrapi.
“Ibu tunggu…”
**
Melihat Artemis dan Astrapi menuju ke arahnya, Lethis dengan sigap bergerak meninggalkan tempat tersebut.
**
Tak berapa lama, setelah arahan dari Astrapi, mereka berdua pun akhirnya mampu mengejar, hingga dengan jelas melihat bahwa orang yang sebelumnya memperhatikan mereka merupakan Lethis.
“Ibu…!” Teriak Artemis ketika dengan jelas melihat Lethis berada di depannya.
Mendengar panggilan tersebut, Lethis pun langsung berhenti kemudian menoleh ke arah Artemis dan Astrapi.
“Ibu… Apakah itu kau?” Betapa senang Artemis bisa kembali melihat ibunya Lethis.
Akan tetapi, tiba-tiba Vampireman bernama Zenef muncul dan langsung memegang Lethis menghilang secara bersamaan di depan Artemis dan Astrapi.