
Setelah Megathirio mengalahkan semua murid-murid yang berusaha melawannya, terlihat keadaan para murid-murid Regional yang berada di dalam ruangan itu nampak basah kuyup akibat menerima efek serangan elemen air yang beberapa kali dilancarkan oleh Megathirio sebelumnya.
Lucia yang sedang duduk diantara Rayvor dan Flogaz tampak tekesima melihat serangan serentak yang diluncurkan oleh Megathirio, membuat murid-murid tersebut dalam sekejap dikalahkan olehnya.
“Sepertinya kita memiliki raja kelas Regional Venerate yang baru,” ucap Rayvor, melihat Megathirio mampu mengalahkan beberapa murid yang memiliki tingkatan setarah dengannya, hanya dalam beberapa serangan saja.
“Raja kelas? Apa maksudmu?” Tanya Lucia, merasa asing mendegar istilah tersebut.
“Setidaknya diantara murid-murid dalam kelas yang sama harus memiliki satu murid yang paling kuat diantaranya… Dan aku memilih kakak Megathirio-lah yang pantas menjadi murid tersebut, walaupun dia masih bisa dibilang sebagai murid baru,” jawab Rayvor, menjelaskan hal tersebut kepada Lucia.
Vampireman perempuan itu lantas menganggukan kepalanya, mengerti dengan penjelasan yang dikatakan oleh Rayvor, dan setelah dipikir-pikir olehnya, Lucia juga nampak merasakan bahwa pemuda yang kini sedang berdiri di tengah ruangan tersebut.
**
“Sial… Kenapa malah laki-laki itu yang memberi pelajaran kepada mereka?”
Di sisi seberang dalam ruangan itu nampak dua bersaudara dari clan Raynote daerah New Xemico, dimana terlihat bahwa Andras memasang ekspresi kesal di wajahnya ketika melihat Megathirio mengalahkan para murid-murid tersebut.
Rasa kesal yang ditunjukan oleh Andras kepada Megathirio sebenarnya bukan karena merasa iri melihat kemampuan dari pemuda itu, namun dirinya merasa tidak berguna dan hanya berdiam ketika sebelumnya melihat Lucia digoda oleh murid-murid yang dikalahkan oleh Megathrio.
–November sampai Desember 3024–
Waktu pun berlalu, setelah berhasil mengalahkan tiga murid yang merundung para murid baru, Zchaira pun dianggap menjadi murid terkuat serta disegani oleh murid-murid kelas Division Venerate, walaupun gadis itu sebenarnya hanya ingin merasakan kehidupan di dalam akademi tersebut layaknya seperti para murid-murid biasa.
Zchaira terus mengembangkan kemampuannya menjadi lebih baik lagi, dimana gadis teknik sihir yang dominan dikuasai oleh gadis tersebut adalah sihir elemen angin serta sebuah teknik sihir persepsi yang mampu menciptakan sebuah efek visual yang dapat menipu mata orang-orang yang melihatnya.
Akan tetapi, karena hal tersebut Zchaira menjadi lebih disegani oleh murid-murid di kelas yang sama sepertinya.
–10 Desember 3024–
Pada suatu hari, pergerakan dari para Venerate yang memberontak di salah satu daerah Lightio yang bernama Xetas kembali terjadi, dimana sekelompok Venerate yang memberontak tersebut menyerang beberapa kota yang berada di daerah Xetas dengan tujuan mengambil alih wilayah tersebut yang sebelumnya pernah direbut kembali dari tangan mereka.
Para Venerate itu dengan mudah mengalahkan para prajurit yang berada di kota Xetas dengan menggunakan teknik sihir yang sangat berbeda dengan teknik-teknik sihir para Venerate Lightio pada umumnya.
Hal tersebut terdengar sampai ke telinga seorang perempuan bernama Roselix dari clan Syndiotactic yang merupakan gubernur atau pemimpin dari daerah Xetas.
Karena masalah tersebut sudah menjadi sangat serius, maka perempuan tersebut berencana turun tangan untuk menangani masalah tersebut.
***
Di sebuah kota kecil yang berada di tengah padang pasir cukup gersang, tampak beberapa Venerate menemui pemimpin dari pergerakan tersebut yang tidak lain merupakan Aiver Portner.
“Salam tuan Aiver… Kami baru saja mendapatkan informasi bahwa Roselix Syndiotactic bersama para Venerate lain sedang menuju ke kota ini untuk menyerang kita,” ucap salah Venerate yang menjadi bawahan dari pria itu.
“Kalau begitu waktunya kalian pergi bersembunyi…” Balas Aiver, menanggapi ucapan dari Venerate tersebut.
“Tetapi tuan, kami bisa menahan mereka sembari anda dan yang lain meninggalkan tempat ini.”
“Lagipula kita akan semakin dimudahkan jika berhasil mengalahkan pemimpin daerah ini,” lanjut Aiver.
Para Venerate tersebut pun sontak mengerti dan percaya bahwa mereka yang sebenarnya harus pergi meninggalkan kota tersebut karena percaya bahwa Aiver yang sebagai Continent Venerate dapat menghentikan gubernur daerah Xetas tersebut bersama dengan para pasukannya.
Setelah mendnegar perintah dari Aiver para Venerate itu pun langsung bergegas keluar untuk memberikan informasi kepada para Venerate lainnya, untuk meninggalkan kota itu secepatnya.
“Perlex… Winscarlo… Apakah kalian bisa menyambut kedatangan para penyerang itu terlebih dahulu?” Ucap Aiver, meminta tolong kepada dua Venerate yang merupakan teman terdekatnya sewaktu masih berada di akademi sihir, untuk melawan terlebih dahulu gubernur daerah Xetas bersama dengan para pasukannya.
Tanpa menjawab pun kedua Venerate itu langsung mengerti dan bergegas pergi meninggalkan Aiver sendiri.
***
Beberapa saat kemudian ketika dua Venerate bernama Perlex serta Winscarlo itu sedang berdiri di depan kota, tiba-tiba dari kejauhan para pasukan dari ibukota daerah Xetas datang mendekati kota tersebut.
“Haah… Padahal zaman sudah canggih, kenapa juga mereka harus menggunakan kuda sebagai alat transportasi mereka?” Ucap Venerate bernama Perlex, melihat para pasukan Venerate tersebut datang menuju ke kota tersebut dengan menunggangi masing-masing seekor kuda.
“Mungkin saja itu hanyalah gaya khusus para Venerate yang berada di daerah ini…” sambung Venerate bernama Winscarlo.
**
Dari sudut pandang para Venerate yang datang menyerang, mereka pun langsung melihat bahwa terdapat dua Venerate musuh sedang berdiri dengan santainya di depan kota yang sedang mereka dekati.
“Fulmine sillabare…” Tanpa pikir panjang gubernur Xetas yang bernama Roselix langsung melancarkan serangan elemen petir ke arah Perlex dan Winscarlo sembari masih berada di atas kuda.
**
“Difesa sillabare…” Dengan sigap Perlex pun begerak menangkis serangan elemen petir tersebut menggunakan perisai proyeksinya.
“Fiamma sillabare…” Selanjutnya, Winscarlo pun melancarkan serangan elemen api dalam skala yang besar ke arah para pasukan Venerate tersebut.
**
“Semuanya menghindar…” Roselix pun langsung memerintahkan para Venerate bawahannya untuk menghindar dari serangan elemen api berskala besar yang diluncurkan oleh Winscarlo.
Dengan sigap para Venerate pun memacuh kuda mereka masing-masing ke arah samping serta samping kanan, meninggalkan Roselix sendiri yang berada di tengah.
Perempuan itu pun langsung mengakses energi sihirnya menciptakan sebuah serangan proyeksi tebasan hingga serangan elemen api itu terbelah menjadi dua dan lenyap setelahnya.
Selanjutnya, para Venerate yang bergerak ke samping kiri serta samping kanan dengan sigap langsung melancarkan serangan mereka masing-masing, yang terdiri dari berbagai macam elemen alam serta energi proyeksi ke arah Perlex dan Winscarlo.
**
Melihat bebagai macam serangan yang meluncur ke arah mereka, Perlex serta Winscarlo pun lantas mengakses Mana mereka lebih besar lagi untuk berusaha membalas serangan-serangan tersebut.
Akan tetapi, tiba-tiba Aiver muncul di depan mereka berdua sambil memasang ekspresi menyeringai.