
“Apa yang ingin kau katakan?” Tanya Zchaira penasaran.
Mendengar Zchaira bertanya, Flogaz pun lantas menjadi tegang untuk mengatakannya, pemuda itu nampak merasa khawatir bahwa hal yang hendak dikatakannya kemungkinan akan menciptakan sebuah masalah.
“Aku ingin mengatakan padamu bahwa…” Namun, Flogaz pun tetap memberanikan diri untuk mengatakannya, entah apapun respon dari gadis tersebut, serta apapun yang akan terjadi nantinya.
“Flogaz… Kau disini…” Tiba-tiba Rayvor datang menghampiri mereka di lantai atap tersebut, membuat hal yang ingin dikatakan oleh pemuda tersebut kepada Zchaira sontak terhenti.
“Zchaira… Kau juga ada disini…” Ucap Rayvor kepada Zchaira.
“Aku sebenarnya baru saja sampai dari pegunungan itu…” Balas Zchaira.
“Kalau begitu ayo kita turun saja sekarang…” Ucap Rayvor kembali.
“Tunggu… Maaf Flogaz, aku belum mendengar apa yang ingin dikatakan olehmu…” Zchaira sontak menunda ajakan Rayvor untuk turun karena masih merasa penasaran dengan hal yang hendak dikatakan oleh Flogaz.
*
“Sial… Kenapa juga Rayvor sampai datang kemari…” Ucap Flogaz dalam hati, merasa ragu untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya pada Zchaira karena saudara juga berada di tempat itu.
**
“Aku ingin mengatakan padamu dan yang lain bahwa aku akan memenangkan pertandingan hari ini…” Ucap Flogaz, terpaksa harus mengatakan alasan lain karena dalam keadaan tersebut bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan perasaannya pada gadis tersebut.
Mendengar hal tersebut Zchaira pun meresponnya dengan memperlihatkan ekspresi tersenyum, karena merasa bahwa Flogaz menjadi lebih bersemangat setelah kemarin hari dirinya melihat pemuda itu nampak merasa kurang percaya diri ketika saudaranya dikalahkan.
“Kau benar Flogaz… Walaupun merasa kecewa dengan pertandinganku kemarin, namun kalian jangan patah semangat… Aku juga akan berusaha dalam putaran kedua,” ucap Rayvor, memberikan semangat kepada saudaranya bahwa dia harus memenangkan pertandingan yang kemungkinan akan menjadi gilirannya pada malam hari ini.
“Baiklah… Kalau begitu, ayo kita turun sekarang…” Lanjut Rayvor mengajak Flogaz serta Zchaira untuk turun masuk ke penginapan mereka.
***
Beberapa saat kemudian, Artemis tiba dengan ekspresi wajah datar di dalam penginapan para murid akademi sihir.
“Ibu… Darimana saja kau?” Tanya Zchaira.
“Maaf Zchaira… Ibu sebenarnya memiliki sedikit urusan jadi terpaksa harus meninggalkanmu,” jawab Artemis.
Disamping itu, ketiga anak dari wanita itu memperhatikan Artemis yang sepertinya menyimpan sesuatu ketika dirinya datang sendirian ke dalam penginapan tersebut.
“Ada yang ingin ibu bicarakan kepada kalian bertiga…”
Mendegar hal tersebut, Kral, Illios serta Astrapi yang sedang duduk lantas berdiri dan kemudian mengikuti ibunya tersebut pergi ke tempat lain.
Walaupun sedikit penasaran, para murid akademi sihir yang menjadi anggota tim Lightio dalam turnamen Venerate hanya bisa menduga bahwa hal yang hendak dibicarakan oleh Artemis pada ketiga murid akademi sihir kelas Continent Venerate tersebut berhubungan dengan tujuan mereka datang ke kota Novacurve.
***
Tak berapa lama, Artemis beserta ketiga anaknya tersebut sampai di suatu tempat yang cukup sunyi untuk membicarakan sesuatu yang kemungkinan memanglah penting.
“Ada apa ibu?” Tanya Kral dengan ekspresi wajah serius.
“Sebelumnya ibu cukup khawatir dengan apa yang akan kalian lakukan di kediaman clan Drown itu… Namun, setelah kejadian yang baru saja terjadi ibu merasa bahwa kalian memang harus meneruskan mencari batu kristal yang kemungkinan disimpan oleh Ros Drown…” Jawab Artemis, sontak langsung mengijinkan ketiga anaknya untuk tetap melanjutkan pencarian mereka di dalam kediaman clan Drown.
“Apa…?” Mendengar pernyataan tersebut, Kral, Illios serta Astrapi lantas terkejut secara bersamaan.
“Tujuan mereka sebenarnya ingin mengincar kekuatan dari sang naga merak, namun setelah mengetahui bahwa Zchaira yang merupakan Venerate pemegang dari kekuatan naga itu berada disini, kemungkinan tujuan mereka akan berubah...”
“Jika kita berhasil mendapatkan batu kristal itu dan memberikannya pada Venerate Machora tira, ibu yakin mereka pasti akan berhenti mengincar Zchaira,” ucap Artemis.
“Tenang saja ibu… Kami pasti akan berusaha mencari batu kristal itu… Setidaknya kita harus membagi tugas, dimana selama turnamen masih berlangsung kau harus berada disekitar Zchaira dan yang lain,” Balas Kral.
“Terima kasih… Tapi, kalian bertiga juga harus berhati-hati ketika berusaha mencari benda itu,” respon Artemis.
**
Disamping Artemis serta tiga anaknya sedang berbincang menangani rencana mereka, tak jauh dari tempat itu tampak Zchaira mendengar hal yang dibicarakan oleh mereka. Dengan menggunakan kekuatan sihirnya, gadis itu bisa mendengar apa saja yang dibicarakan oleh Artemis dan yang lain, serta mampu menyamarkan tekanan kekuatannya agar mereka tidak bisa mengetahui keberadaannya.
Akan tetapi, setelah mendengar hal tersebut, Zchaira pun merasa bahwa dirinya sebenarnya telah membebani ibunya serta para saudaranya yang mau melindunginya dari incaran para Venerate negeri Machora Tira.
Walaupun merasa membebani mereka, namun gadis itu juga mengerti bahwa usaha yang dilakukan oleh ibu serta para saudaranya untuk kebaikannya sendiri.
***
Waktu pun berlalu, pada malam harinya akhirnya turnamen Venerate dihari yang ketiga akan segera dimulai, dimana para penonton telah memenuhi arena turnamen tersebut.
Di tribun khusus para peserta turnamen, terlihat Zchaira dengan ekspresi wajah cemas setelah sebelumnya mendengar perbincangan dari ibu dan para saudaranya.
“Zchaira… Bukankah sebelumnya kau memberikanku semangat agar tidak menjadi ragu… Kenapa sekarang kau malah menjadi cemas?” Ucap Flogaz ketika melihat ekspresi wajah cemas dari Zchaira.
“Benar juga… Kenapa aku yang malah menjadi cemas, padahal kau sudah sangat siap menunggu giliranmu?” Respon Zchaira, sebenarnya mencari alasan lain mengapa dirinya terlihat cemas.
“Tenang saja… Aku pasti akan memenangkan pertarunganku,” ucap Flogaz dengan percaya diri.
Zchaira pun kembali merespon ucapan Flogaz dengan kini memperlihatkan senyumannya kepada pemuda itu, yang lantas membuat Flogaz pun langsung meresponnya dengan tersenyum balik.
***
Beberapa saat kemudian, tampak sang pembawa acara dalam turnamen Venerate tersebut datang memasuki tengah arena.
“Selamat malam para hadirin sekalian… Aku yakin kalian sudah tidak sabar lagi untuk melihat pertandingan yang dilaksanakan pada malam ketiga ini…”
“Kalau begitu, langsung saja kita lanjutkan pertandingan dalam turnamrn Venerate ini… Bagi nama peserta yang tertera di dalam layar, dimohon untuk segera bersiap untuk menuju ke tengah arena.”
Setelah sang pembawa acara mengumumkan dimulainya kembali turnamen Venerate pada malam tersebut, layar yang berada di dalam arena tersebut langsung mengacak nama-nama peserta yang ada, dan tak lama kemudian nama dari lima peserta yang akan saling berhadapan sontak terlihat.
Fuegonia, Neyndra Drown, 21 tahun, 165 cm, Human, Regional Venerate.
Machora Tira, Morn Yarbil, 30 tahun, 190 cm, Orcman, Regional Venerate.
Neodela, Brock Greydust, 17 tahun, 178 cm, Fairyman, Regional Venerate.
Cielas, Chiera Vister, 25 tahun, 169 cm, Human, Regional Venerate.