The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 20 - Pandai besi



Artemis berjalan di tengah hutan dengan ekspresi kesal akibat kejadian sebelumnya.


Tak jauh dari belakang perempuan itu, terlihat Hefaistos juga sedang berjalan mengikutinya.


Artemis yang merasakan pemuda itu berada di belakangnya, sontak berhenti dan berbalik menatap kebelakang.


“Hei kau… Berhenti mengikutiku…” Ucap Artemis, membentak Hefastos dengan kesal karena mengira bahwa pemuda itu sedang mengikutinya.


“Siapa yang mengikutimu? Tempat tujuan kita sama… Bagaimana jika aku saja berjalan di depan?”


Artemis menjadi lebih kesal setelah mendengar ucapan Hefaistos. Dia kemudian berlari dengan kencang agar jarak pemuda itu dengannya menjadi lebih jauh.


Akan tetapi, Hefaistos sepertinya mau mencari gara-gara dengan perempuan itu. Dia seketika berlari juga ketika melihat Artemis menjauh darinya.


***


Beberapa saat kemudian setelah berlari cukup lama di tengah hutan, kedua itu akhirnya sampai di perkampungan.


“Haah… Haah…” Artemis yang memaksakan dirinya berlari tampak kelelahan hingga membuatnya berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


Artemis yang sedang kewalahan itu kembali dibuat kesal oleh Hefaistos saat melihat pemuda itu berhenti di dekatnya dengan kondisi yang masih prima walaupun sudah berlari cukup jauh sebelumnya.


Tanpa pikir panjang lagi, perempuan itu mengangkat tanganya hendak memukul pemuda tersebut.


“Eh, apa yang ingin kau lakukan?” Lantas Hefaistos sigap langsung menghalangi wajahnya.


Artemis mengurung niatnya untuk memukul Hefaistos, walaupun nampak kesal dengan pemuda itu. Dia kemudian lebih memilih pergi dari tempat itu karena tidak mau berurusan dengan pemuda tersebut.


Sambil melhat Artemis berjalan meninggalkannya, Hefaistos nampak tersenyum senang.


Ekspresi yang terlihat oleh pemuda itu bukan semata-mata merasa senang akibat sehabis mencari gara-gara dengan Artemis, namun karena kini dia mulai merasakan perasaan yang berbeda pada perempuan itu setelah kejadian sebelumnya.


Hefaistos lalu berjalan memasukki perkampungan dan merasa heran melihat para warga berkumpul.


Setelah dia sadari kembali, fenomena cahaya aurora di langit malam masih tetap berlangsung hingga membuatnya terkejut.


Tak lama kemudian Timonar datang menghampiri pemuda itu.


“Ternyata anda sudah kembali tuan…” Ucap Timonar.


“Entah apa yang terjadi hari ini? Cahaya yang sebenarnya hanya bisa dilihat di kutub utara saja, bahkan bisa dilihat di negeri ini… Leluhur kami pernah mengatakan jika fenomena ini terjadi, maka kemungkinan itu adalah pertanda bahwa seseorang yang kuat telah lahir,” lanjutnya berkata.


Hefaistos juga berpikir bahwa ucapan Timonar ada benarnya. Dia juga percaya bahwa hal tersebut memanglah pertanda lahirnya seseorang yang kuat di dunia ini.


Akan tetapi, daripada memikirkan hal tersebut, pemuda itu lebih memilih masuk dan beristirahat daripada harus terus terkejut melihat fenomena itu bersama dengan para warga.


–5 September 2999–


Keesokan harinya Artemis pergi ke toko senjata untuk membeli amunisi panahnya.


“Feros berikan apa yang ku perlukan…”


Penjaga toko tersebut langsung mengtahui maksud Artemis dan memberikan selusin anak panah.


Disaat Artemis mengambil anak-anak panah yang dimintanya, perhatiannya pun kemudian tertuju pada sebuah suara dentuman besi yang biasa dilakukan oleh para pandai besi saat mereka membuat sebuah senjata.


“Siapa yang berada di dalam?” Artemis tampak bingung mendengar suara tersebut, karena setahunya seorang pandai besi yang berada di desa mereka hanyalah penjaga toko tersebut.


“Eh, sebenarnya yang sedang bekarja di dalam itu adalah…”


“Hai nona, sepertinya kau mau berburu di hutan lagi…”


Baru saja mengatakan seseorang yang berada di dalam, tiba-tiba Hefaistos keluar dan menyapa Artemis.


“Sedang apa kau disini?” Tanya Artemis, terkejut melihat Hefaistos berada di tempat itu.


“Tapi tuan, aku sangat berterima kasih padamu… Aku tidak menyangka bahwa kau sangat ahli dalam membuat sebuah senjata... Kalau boleh kutahu, darimana kau mempelajari keahlian memuat senjata?” Ucap si penjaga toko, mengpresiasi kemampuan Hefaistos, dan kemudian bertanya pada pemuda itu.


“Aku mempelajarinya saat berada di negeri Asimir… Salah satu Dwarfman disana yang menjadi guruku,” jawab Hefaistos, menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan keahlian dari salah satu ras campuran.


“Negeri Asimir…? Dwarfman?” Penjaga toko itu sontak terkejut mendengar pernyataan dari Hefaistos yang ternyata jauh dari ekspetasinya.


***


Beberapa saat kemudian waktu pun berlalu, Artemis kembali ke hutan untuk berburu.


Berbeda dengan sebelumnya, Hefaistos pada hari kemarin ikut secara diam-diam kini berjalan bersama perempuan itu.


“Apa kau tahu? Saat aku masih berusia sepuluh tahun, kami pernah berkunjung ke negeri Asimir… Tiba-tiba saja aku diculik oleh kawanan ras Goblinman…”


“Mereka membawaku ke tempat mereka di tengah-tengah padang pasir… Saat itu aku sangat ketakutan karena mereka bertujuan ingin memakanku…”


“Untung saja aku diselamatkan oleh Dwarfman… Dia membawaku ke tempatnya, sekitar tiga tahun lamanya aku tinggal bersamanya, dan saat itu juga aku selalu diajarinya memandai besi…”


“Dan kau tahu yang lebih mengejutkan lagi? Ternyata Dwarfman yang menyelamatkanku itu sebenarnya adalah pemimpin negeri Asimir yang sementara mengasingkan diri.”


Hefaistos menceritakan pengalamannya saat berada di negeri ras campuran yang berada di bagian selatan benua, tanpa memperdulikan jika Artemis mendengarnya ataupun tidak.


Dari sisi Artemis, memang tidak terlalu memperdulikan cerita dari Hefaistos karena perempuan itu malah merasa heran melihat tiingkah pemuda tersebut yang tampak lebih bersahabat saat pertemuan mereka.


Artemis tidak menyadari bahwa yang sebenarnya Hefaistos mulai bersikap baik seperti itu kepadanya karena telah menyukai perempuan itu.


Disaat perjalanan mereka di tengah hutan, tiba-tiba kedua orang itu berpapasan dengan segerombolan pemburu yang lain.


“Wah… Wah… Ada apa bocah-bocah ini ada di tengah hutan?”


“Hei, apa kalian tidak takut tersesat?” Tanya salah satu pria dari gerombolan tersebut.


Artemis tampak bersiaga karena seperti orang-orang tersebut, bukanlah orang-orang yang datang untuk bermaksud baik.


“Kalian pasti bukan berasal dari daerah ini kan?” Tanya Hefaistos.


“Ini kali pertama kami berada disini… Karena negeri seberang sudah tidak menyenangkan untuk ditinggali.”


Ternyata orang-orang yang berpapasan dengan mereka tersebut merupakan para imigran gelap yang memasukki negeri Lightio secara sembarangan.


“Mereka dari Fuegonia…” Ucap Hefaistos dengan wajah serius.


“Beraninya kau menatapku seperti itu.”


Merasa kesal dengan tatapan Hefaistos, salah satu pria dari gerombolan itu langsung mengangkat senapan yang dipegangnya.


Dia menarik pelatuk senapannya sehingga peluru pun meluncur dengan cepat meluncur ke arah Hefaistos.


Melihat hal tersebut, Artemis dengan sigap bergerak sambil mendorong Hefaistos menghindari tembakan tersebut.


“Apa yang kau lakukan? Aku bisa menanganinya…”


“Maaf, aku lupa bahwa kau adalah seorang prajurit.”


Belum menyerah, kini semua orang-orang itu dengan cepat menarik pelatuk senapan mereka masing-masing hingga beberapa serbuan peluru meluncur ke arah Hefaistos dan Artemis.


“Ventus sillabare…” Hefaistos pun langsung melancarkan serangan elemen angin menghempaskan peluru-peluru yang mengarah ke arahnya.


“Ternyata kau adalah Venerate…”


Salah satu pria dari gerombolan itu yang juga merupakan Venerate tiba-tiba mengaktifkan kekuatannya, hingga kedua tangannya memancarkan kobaran api.