The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 140 - Sebuah janji



–2 Januari 3025–


Pagi harinya, tiba-tiba Illios terkejut ketika terbangun melihat Kral, kakaknya berada disampingnya.


“Sialan kau… Cepat minggir dari hadapanku…” Tanpa pikir panjang, Illios pun langsung mendorong Kral hingga terjatuh dari tempat tidur dan menghantam lantai dengan keras.


“Kenapa aku sudah berada disini? Dimana sebenarnya ini?” Ucap Kral, ketika terbangun mengetahui bahwa di sebuah kamar, padahal setahunya dirinya sedang berada di dalam kedai kota Xemico sebelumnya.


“Eh, Illios… Kenapa kau juga disini?” Tanya Kral, terkejut melihat Illios berada di kamar tersebut.


“Seharusnya aku yang menanyakan hal itu… Padahal kemarin malam aku sudah mengantarmu yang sudah mabuk berat di kamar sebelah,” ucap Illios.


“Jadi karena mabuk berat kemarin… Aku sampai tidak mengetahui apa yang terjadi setelahnya,” gumam Kral.


“Iya… Bahkan kau saat sedang mabuk kau sering kali bergumam memanggil kakak Aphrodia.”


“Apa katamu?” Mendengar pernyataan dari Illios, Kral pun seketika terkejut hingga membuat wajahnya memerah, tidak menyangka bahwa dirinya bisa mengigau tentang Aphrodia saat sedang mabuk berat.


“Terus… Apa yang terjadi selanjutnya?” Tanya Kral.


“Kami lebih memilih untuk kembali ke akademi sihir, karena melihat kau sudah tidak kuat lagi untuk minum,” jawab Illios.


“Maksudku… Apa mungkin saat masuk ke akademi sihir, aku sempat menyebut nama Aphrodia?” Tanya Kral sekali lagi.


“Untungnya saja tidak… Karena waktu itu kau sudah tidak sadar lagi.”


“Haah… Untung saja…” Kral pun nampak legah setelah mendengar penjelasan dari Illios.


“Ngomong-ngomong kita berada dimana sekarang?” Tanya Kral sambil melihat lihat ke sekitaran ruangan tersebut.


“Ini adalah kamarku pribadiku di asrama murid kelas Venerate atas,” jawab Illios.


“Pantas saja aku merasa asing dengan tempat ini…” Respon.


Kral kemudian berdiri dan langsung pergi meniggalkan Illios di dalam ruangan tersebut sendirian.


***


Berpindah ke Megathirio yang nampak terlihat senang karena pertama kalinya menuju ke bangunan dari para murid-murid kelas Land Venerate, karena telah menjadi salah satu diantara mereka.


Ketika berada di depan bangunan tersebut, Megathirio menghentikan langkahnya terlebih dahulu untuk sejenak memikirkan apa yang akan dikatakan olehnya untuk menyapa saat hendak bertemu dengan para murid-murid kelas Land Venerate.


Megathirio kemudian masuk ke dalam bangunan para murid kelas Land Venerate. Tak berapa lama kemudian, pemuda itu berjalan di dalam sebuah lorong bangunan tersebut, dan seketika mendengar sebuah suara sedikit bising di dalam sebuah ruangan yang berada di depan.


Mengetahui bahwa kemungkinan suara tersebut merupakan para murid-murid Land Venerate yang sedang berlatih, Megathirio pun sejenak menghentikan langkahnya untuk kembali mengingat apa yang dikatakan olehnya ketika akan menyapa para murid-murid tersebut.


Saat sampai di depan pintu masuk ruangan tersebut, pemuda itu lantas membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada murid-murid Land Venerate yang berada di dalam ruangan tersebut.


“Salam kenal wahai para kakak-kakak, serta para rekan-rekan murid Land Venerate… Perkenalkan namaku adalah Meagthirio dari clan Hairowl daerah Wiaminnota… Aku mohon bimbingannya untuk ke depan karena hari ini aku telah resmi menjadi salah satu bagian diantara kalian,” ucap Megathirio, menyapa para murid-murid Land Venerate yang berada di dalam ruangan tersebut.


“Eh…” Ketika mengangkat wajahnya yang sebelumnya sementara membungkuk, pemuda itu tiba-tiba terkejut dan kebingungan, mengetahui bahwa di dalam ruangan tersebut hanya terdapat satu murid Land Venerate saja, yang padahal dirinya sebelumnya mendengar suara bising teknik sihir dari beberapa murid.


Mendengar perkenalan dari Megathirio yang merupakan murid Land Venerate baru tersebut, Aphrodia pun langsung meresponnya dengan tersenyum.


“Selamat bergabung menjadi murid Land Venerate, Megathirio…” Ucap Aphrodia.


“Perkenalkan juga… Aku adalah Aphrodia dari clan Piercethorn daerah Rofidal,” lanjut Aphrodia, memperkenalkan diriya juga.


*


“Aphrodia… Jadi dia perempuan yang kakak Kral gumamkan kemarin saat sedang mabuk berat… Ternyata dia cantik juga…” Ucap Megathirio dalam hati, mengetahui bahwa perempuan itu merupakan orang yang disebut oleh Kral kemarin hari, serta nampak sedikit terpesona melihat kecantikan perempuan tersebut.


“Ekh… Kenapa aku malah memikirkan hal itu?” Megathirio pun langsung mengesampingkan apresiasinya pada perempuan itu, karena hal tersebut bukanlah hal yang cukup penting baginya sekarang.


**


“Apa tidak ada murid lain yang melakuka pelatihan hari ini?” Tanya Megathirio, penasaran sambil melihat ke dalam ruangan tersebut serta lorong tempatnya berdiri.


“Sembilan murid Land Venerate yang lain menjalankan sebuah misi ke tempat lain, setelah penentuan tingkatan kekuatan kemarin hari… Karena itu hari ini hanya ada aku, serta kau yang baru saja menjadi murid Land Venerate,” jawab Aphrodia, menjelaskan kepada pemuda itu mengenai murid-murid kelas Land Venerate yang lain.


Megathirio pun mengerti dengan penjelasan dari permepuan tersebut, dan sontak langsung merespon dengan menganggukkan kepalanya.


“Ngomong-ngomong, karena kau sudah berada di tempat ini, ada suatu hal yang akan kubicarakan denganmu,” ucap Aphrodia.


“Apa itu?” Mendengar hal tersebut, Megathirio pun lantas langsung bertanya.


*


“Apa ini mengenai kakak Kral?” Disamping bertanya pada Aphrodia, pemuda itu bergumam di dalam hati, bertanya-tanya tentang hal yang akan dikatakan oleh perempuan itu kemungkinan mengenai Kral saudaranya.


**


Aphrodia pun menjelaskan bahwa sebelumnya dirinya sempat mendapatkan sebuah misi dari salah satu tetua akademi untuk mengikuti sebuah turnamen Venerate yang akan dilaksanakan di negeri Fuegonia, dimana syarat untuk mengikuti turnamen tersebut harus memiliki anggota tim berjumlah lima orang dan tidak diperkenankan bagi para anggota yang merupakan Venrate tingkat atas.


Dikerenkan para murid-murid Land Venerate terlebih dahulu menjalankan sebuah misi lain, maka hanya Megathirio-lah yang tersisa, selain perempuan tersebut.


Aphrodia bertujuan ingin membentuk tim yang cukup kuat hingga mampu mendapatkan kemenangan pada turnamen Venerate yang akan dilaksanakan di negeri Fuegonia tersebut.


“Jadi, apakah ingin bergabung menjadi salah satu anggota timku?” Tanya Aphrodia.


Mendengar hal tersebut, Megathirio pun nampak senang serta langsung bersemanngat, tetapi pemuda itu tiba-tiba mengingat mengenai janjinya kepada Lucia kemarin malam, dimana dia akan berjanji kepada perempuan itu untuk membantunya berlatih mengenai teknik sihir tingkat lanjut.


“Mohon maaf kakak Aphrodia… Walaupun hal itu cukup menarik, tapi aku harus menolaknya,” jawab Megathirio.


“Eh… Kenapa? Apakah kau memiliki sesuatu lain yang harus dilakukan?” Tanya Aphrodia, penasaran.


“Sebenarnya aku sudah berjanji dengan seseorang untuk membantunya berlatih teknik sihir sebelumnya… Karena itu, aku terpaksa harus menolak tawaranmu kakak,” jawab Megathirio.


Walaupun sedikit kecewa mengetahui bahwa Megathirio tidak bisa ikut bergabung ke dalam timnya, namun Aphrodia pun mengerti dengan penjelasan pemuda tersebut yang menolak tawarannya.