The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 157 - Drakon tertangkap



Achilles sempat menengok ke arah para pelayan ketika melewati mereka, namun karena masih ragu dengan hal tersebut, serta bukan priotasnya saat ini, pria Elfman itu pun tidak memperdulikan hal tersebut, dan terus menuju ke sumber tekanan kekuatan yang dirasakan olehnya dan Rox.


***


Berpindah pada Astrapi, yang tampak masih memegang Drakon yang sudah tak sadarkan diri akibat menermi teknik serangan darinya.


Ketika mengetahui bahwa efek serangannya tersebut pasti memancarkan sebuah tekanan kekuatan yang besar, Astrapi pun langsung mengakses kekuatan sihirnya, menunculkan sebuah diagram sihir, tepat dibawahnya untuk pergi dari kediaman itu dalam waktu singkat.


“Libera sillabare…” Dalam sekejap, Astrapi seketika menghilang di tempat itu bersama dengan Drakon yang tidak sadarkan diri.


**


Tak berapa lama kemudian, Rox dan Achilles sampai di lorong tersebut, namun tidak menemukan siapa-siapa berada di tempat itu karena sudah terlambat akibat Astrapi telah terlebih dahulu menggunakan teknik perpindahan ruang.


“Siapa yang sebelumnya memancarkan tekanan kekuatan? Aku merasa bahwa asalnya berada di sekitar sini,” ucap Rox.


Pemimpin clan Drown kemudian bersama dengan Achilles sedikit memeriksa dengan menengok berapa ruangan pada lorong tersebut, tetapi mereka tetap tidak menemukan siapapun di dalam ruangan-ruangan tersebut.


Tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiri Rox dan Achilles di tempat itu, sambil menunjukan ekspresi kebingungan.


“Apa mungkin ada Venerate tingkat atas yang berada di tempat ini?” Ucap Rox, bertanya-tanya mengenai tekanan kekuatan yang dirasakan olehnya serta Achilles sebelumnya.


“Ngomong-ngomong tuan Rox… Apa selain kau ada Venerate tingkat atas yang berada di kota ini?” Tanya Achilles.


“Tidak ada… Hanya aku satu-satunya Continent Venerate yang berada di kota, bahkan daerah ini,” ucap Rox.


*


“Aneh sekali… Apa mungkin sebelumnya diantara para pelayan itu ada seseorang yang menyusup?” Ucap Achilles dalam hati, nampak mencurigai mengenai tekanan kekuatan yang samar-samar dirasakannya ketika melewati para pelayan sebelumnya.


**


“Aku yakin ada penyusup di dalam kediaman ini… Bahkan tadi aku sempat merasakan adanya tekanan kekuatan lain, namun terasa begitu samar-samar,” ucap Achilles.


“Apa kau yakin?” Tanya Rox.


“Iya… Walaupun ada Venerate yang menyamarkan tekanan kekuatannya, tapi aku tetap bisa merasakannya walau hanya sedikit,” jawab Achilles.


“Kalau begitu, aku mau menginformasikan ini kepada semua Venerate yang ada untuk meningkatkan keamanan yang ada,” ucap Rox, kemudian pergi beranjak dari tempat itu bersama dengan Achilles.


***


Beberapa saat kemudian, setelah informasi mengenai penyusup tersebar pada semua orang yang berada di kediaman itu, Kral dan Illios pun lantas langsung bersiaga dengan langsung meninggalkan kediaman dari clan Drown tersebut.


Ketika mereka berdua sudah berada sedikit jauh di depan kediaman tersebut, Kral dan Illios pun nampak khawatir karena Astrapi belum kunjung keluar untuk menemui mereka di tempat itu.


“Illios… Apa sebelumnya kau sempat melihat Astrapi?” Tanya Kral.


“Tidak… Karena memenuhi totalitas menjadi seorang pelayan, aku bahkan tidak sempat melihatmu juga di dalam tempat itu,” jawab Illios.


“Haah… Kemana dia?” Gumam Kral, nampak khawatir memikirkan adik perempuannya yang tidak kunjung-kunjung keluar dari kediaman tersebut, yang padahal tanpa diketahui olehnya serta Illios, Astrapi sebenarnya sudah terlebih dahulu kabur dengan membawa Drakon sebelumnya.


“Illios… Tunggu disini…”


“Eh… Kakak, memangnya kau mau kemana?” Melihat Kral yang mau beranjak dari tempat itu, Illios pun lantas bertanya kepada saudaranya itu.


“Aku mau kembali masuk ke dalam kediaman itu untuk mencari Astrapi,” jawab Kral.


Ketika Kral pun setuju, kemudian hendak beranjak untuk memasuki kediaman clan Drown kembali bersama dengan Illios, tiba-tiba Astrapi muncul di depan mereka berdua.


“Uwah… Kupikir kau adalah hantu…” Ucap Illios, terkejut melihat Astrapi tiba-tiba berada di depannya dan Kral.


“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, tapi sebenarnya aku sedari tadi sudah keluar dari kediaman itu… Aku kembali kemari karena malah mengkhawatirkan kalian berdua… Kupikir kalian sebelumnya sudah ditangkap,” ucap Astrapi.


“Jadi kau sudah keluar sejak tadi… Apa mungkin tekanan kekuatan sebelumnya itu berasal darimu?” Tanya Kral.


“Maaf jika aku terpaksa menggunakan kekuatanku, karena secara tidak sengaja ada seseorang yang sebelumnya pernah bertemu denganku, dan langsung mengenali wajahku…”


“Aku sebelumnya hampir menangkapku, namun aku menyerang balik hingga membuatnya tidak sadarkan diri,” ucap Astrapi, menjelaskan kepada Kral dan Illios mengapa dirinya telah lebih dulu keluar dari kediaman clan Drown tersebut.


“Kalau begitu, bagaimana dengan orang yang dikalahkan olehmu?” Tanya Illios, penasaran.


“Karena tidak mau dia mengatakan tentangku, aku terpaksa membawanya kabur dari tempat itu,” jawab Astrapi.


“Dimana kau membawanya?” Tanya Kral.


“Dia ada di suatu tempat…”


“Tunjukan tempatnya…” Ucap Kral.


Mendengar hal tersebut, Astrapi kemudian mengakses kekuatan sihirnya, memunculkan sebuah diagram sihir tepat dibawah mereka.


“Libera sillabare…” Dalam sekejap, Astrapi bersama dengan Kral dan Illios seketika menghilang dari tempat tersebut.


***


Mereka bertiga tak berapa lama kemudian muncul disebuah bangunan tua, yang ternyata berada di wilayah pedalaman utara negeri Lightio, yang berbatasan langsung dengan negeri Fuegonia.


Ketika mereka muncul, Kral dan Illios pun langsung melihat Drakon yang tampak masih belum sadarkan diri tengah berada di dalam sebuah penghalang proyeksi yang diciptakan oleh Astrapi.


“Apa yang harus kita lakukan kepadanya?” Tanya Astrapi.


“Setidaknya kita harus mengurungnya di tempat ini sebelum kita berhasil mendapatkan benda itu,” ucap Astrapi.


***


Berpindah pada Zchaira dan para murid akademi sihir lain, dimana mereka semua kini sedang berada di dalam penginapan mewah yang sebelumnya didatangi oleh mereka.


“Kakak, apa mungkin kakakku akan baik-baik saja jika mereka ketahuan menylinap ke dalam kediaman itu?” Tanya Zchaira pada Aphrodia, penasaran serta merasa khawatir dengan keadaan dari ketiga saudaranya.


“Walaupun aku juga mengkhawatirkannya, namun setidaknya kita harus merasa tenang, karena bagaimanapun mereka adalah para Venerate terkuat dari negeri kita…” jawab Aphrodia.


“Jika mereka ketahuan, kurasa para Venerate di kota ini akan membiarkan mereka pergi lebih dahulu, karena satu-satunya Continent Venerate yang berada di kota ini adalah pemimpin clan dari kediaman itu,” lanjut Aphrodia berkata.


“Benarkah seperti itu… Berarti para Venerate negeri Fuegonia pasti akan lebih membenci lagi para Venerate kita,” respon Zchaira.


“Ngomong-ngomong, kakak Aphrodia… Apakah mungkin kita tidak memerlukan latihan untuk mengikuti turnamen besok?” Tanya Rayvor.


“Latihan… Apa mungkin kalian ingin memenangkan turnamen ini?” Tanya Aphrodia kepada Rayvor serta ketiga murid akademi sihir yang lain.


Mereka pun lantas menjawab pertanyaan perempuan itu dengan secara bersamaan menganggukkan kepala mereka masing-masing.