The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 138 - Bekerja lebih keras



“Kakak, Kenapa kau mengambilnya?” Tanya Megathirio, terkejut melihat Astrapi merebut minuman yang akan diminumnya tersebut.


“Tentu saja aku tidak akan


membiarkanmu meminum minuman keras ini… Setidaknya usiamu harus mencapai dua puluh tahun terlebih dahulu,” jawab Astrapi, tidak mengijinkan Megathirio meminum minuman keras seperti dua kakak pertama mereka, karena mengetahui bahwa adiknya tersebut belum mencapai usia dua puluh tahun.


“Haah… Kau benar-benar tidak seru…” Walaupun mengeluh, namun Megathirio tidak bisa melawan perintah dari kakak tersebut.


“Ngomong-ngomong Lucia, apakah kau merasa senang bisa ikut dengan kami keluar akademi sihir?”


Tiba-tiba Megathirio bertanya kepada Lucia, dan lantas membuat Zchaira, Rayvor, Flogaz, bahkan Vampireman perempuan itu sendiri menjadi terkejut.


“Eh… Tentu saja, kenapa tidak? Terima kasih karena sudah mengajakku kemari…” Walau terkejut dengan pertanyaan dari pemuda itu, namun Lucia tetap menjawabnya karena memang nampak merasa senang ketika diajak pergi ke kota Xemico sembari terus berada di dalam akademi sihir.


“Aku lupa belum memberikanmu selamat sebelumnya… Selamat Megathirio, karena sudah berhasil mencapai tingkatan Land Venerate.” Karena tidak tahu harus berbicara apa kepada Megathirio, Lucia pun mengucapkan salam pada pemuda itu karena telah mancapai tingkatan Land Venerate.


Hal tersebut lantas membuat Megathirio langsung terkejut, hingga membuat wajah tiba-tiba memerah, tidak meyangka bahwa perempuan itu akan memberikan selamat kepadanya.


“Terima kasih…” Respon Megathirio, hanya bisa mengatakan terima kasih karena nampak tersipu malu mendengarkan ucapan selamat Lucia kepadanya.


Zchaira, Rayvor dan Flogaz pun kebingungan melihat interaksi mereka yang seperti itu. Rayvor dan Flogaz pun saling menatap, dimana Flogaz mengangkat keningnya untuk mengisyaratkan apa yang sebebnarnya terjadi, namun Rayvor lantas menggelengkan kepalanya, merespon bahwa dia juga tidak paham dengan apa yang sedang terjadi.


Walaupun suasana diantara para murid-murid akademi selain ketiga murid kelas Contient Venerate, tampak canggung akibat interaksi dari Megathirio dan Lucia, namun Zchaira, Rayvor serta Flogaz merasa senang mengetahui bahwa Megathirio kini tidak lagi akan bersikap kasar kepada Vempireman perempuan tersebut.


**


“Ngomong-ngomong Lucia… Apakah kau tahu kabar kakakmu Joker sekarang?” Tak berapa lama kemudian, Astrapi yang duduk disamping Lucia tiba-tiba menanyakan mengenai kabar dari kakak dari Vampireman perempuan tersebut.


“Eh, kakakku… Aku belum mengetahui kabarnya setelah kita meninggalkan daerah Xetas sebelumnya… Tapi, jangan khawatir kakak Astrapi, aku yakij keadaan dari kakak Joker sudah baik-baik saja setelah keadaannya dipulihkan olehmu,” jawab Lucia, menjelaskannya kepada Astrapi.


*


Dalam benak Lucia, Vampireman perempuan itu berpikir megenai pertanyaan dari perempuan bernama Astrapi tersebut yang kemungkinan tidak hanya ingin mengetahui mengenai keadaan dari Joker setelah dari daerah Xetas sebelumnya.


Lucia nampak menerka-nerka bahwa Astrapi sebenarnya mulai memiliki perasaan kepada kakaknya tersebut, karena sebelumnya Astrapi sempat memperhatikan keadaan dari Joker akibat mengorbankan dirinya menerima serangan dari Aiver yang sebenarnya akan ditujukan kepada Astrapi.


“Ini bahaya… Bagaimana jika mereka mengetahui siapa kami sebenarnya.” Gumam Lucia dalam hati, khawatir jika nantinya Astrapi beserta dua kakaknya mengetahui Joker sebenarnya merupakan salah satu ras Vampireman.


Lucia tidak bisa memperkirakan hal apa yang akan terjadi kedepannya, apakah mungkin perasaan Astrapi pada kakaknya tersebut akan berubah ataupun tidak.


Begitu juga dengan Megathirio dan lain, yang nampak merasa khawatir jika Astrapi, Kral serta Illios nantinya mengetahui bahwa Lucia dan Joker sebenarnya merupakan para ras Vampireman.


***


“Kakak, tambah lagi…” Ucap Illios sambil menuangkan minuman keras ke dalam gelas yang dipegang oleh Kral.


Berbeda dengan para murid-murid akademi yang lain, Kral maupun Illios sedari tadi hanya saling bertarung meminum minuman keras, dan bahkan telah menghabiskan beberapa botol yang terus dibawah oleh para pelayan kedai.


Sembari Kral yang nampak telah mabuk, Illios yang bertarung dengan pria itu ternyata sedari menggunakan teknik sihirnya untuk mampu membuatnya bisa sadar walaupun sudah menghabiskan beberapa botol minuman keras yang dibawah oleh pelayan kedai.


“Kakak, kau bermain curang…” Ucap Astrapi kepada Illios, karena meliihat kakak pertamanya dijebak oleh kakak keduanya tersebut.


Layaknya sedang dalam kompetisi babak kedua setelah perlombaan mereka menuju kota Xemico, Kral dan Illios ternyata sebelumnya sudah saling berjanji untuk bertarung siapa yang akan bertahan lama meminum lebih banyak minuman keras tanpa menggunakan sihir mereka yang mampu membuat kesadaran dari mereka tetap terjaga.


Akan tetapi, Illios bermain curang dengan memanfaatkan sifat Kral yang jujur, sementara dirinya diam-diam serta perlahan-lahan mengakses kekuatan sihirnya agar bisa membuat kesadarannya tetap terjaga.


“Di dalam sebuah pertarungan kita sebenarnya harus bekerja lebih cedas, bukannya lebih keras, karena itu kita tidak boleh meremehkan musuh walaupun sebelumnya sudah saling berjanji akan bertarung secara sehat,” ucap Illios, menjelaskannya kepada Astrapi.


“Ternyata kau menganggap persaingan recehan ini sebagai pertarungan yang sebenarnya.”


Astrapi serta para murid-murid yang lain tidak menyangka bahwa Illios bisa menggunakan cara yang licik walaupun dirinya hanya bersaing dengan saudaranya sendiri.


Karena sudah tidak kuat lagi setelah menghabiskan banyak minuman keras, Kral akhirnya tersandar di atas meja kemudian langsung tidak sadarkan diri.


“Aphrodia maafkan aku…” Ketika sedang tidak sadarkan diri, tiba-tiba Kral mengigau menyebut Aphrodia sambil meminta maaf kepada perempuan itu, membuat Illios serta yang lain pun nampak terkejut mendengat hal tersebut.


“Maafkan aku Aphrodia… Karena selama ini tidak jujur kepadamu… Bahwa aku sebenarnya memang menyukaimu,” lanjut Kral, bergumam sambil mengatakan perasaannya pada perempuan bernama Aphrodia tersebut.


Zchaira dan yang lain pun nampak terkejut mendengar pernyataan dari Kral tersebut, yang bisa dipercayai oleh mereka merupakan hal yang benar.


“Walaupun dia memiliki sifat yang jujur, tapi aku tidak pernah mendengar bahwa dia bisa sejujur ini,” ucap Illios.


“Kakak, kurasa kita harus kembali lagi ke akademi sihir,” balas Astrapi menyarankan mereka untuk kembali, karena melihat keadaan Kral yang memang sudah mabuk berat.


“Kurasa kau benar…” Illios pun langsung menyetujui usulan Astrapi.


Illios kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu merangkul tangan Kral kepundaknya, membantu pria yang sudah tidak sadarkan itu untuk berdiri.


“Megathirio, ayo bantu aku…”


Ketika mendengar ucapan Illios, Megathirio pun langsung membantu merangkul tangan sebelah Kral kepundaknya kemudian bersamaan dengan Illios membawa kakak pertama mereka itu keluar dari ruangan kedai tersebut.


***


“Aphrodia…!” Ketika akan meninggalkan kedai tersebut, tiba-tiba Kral yang tidak sadarkan diri itu berteriak memanggil Aphrodia, hingga membuat para murid-murid akademi sihir berserta orang-orang yang berada di dalamnya sontak terkejut.