
“Haah… Sepertinya kalian masih baru, aku juga baru pertama kali memperhatikan kalian bertiga…” Ucap prajurit tersebut.
“Baiklah, silahkan lewat saja… Tapi, pada hari-hari esok kalian harus mengingat bahwa pintu gerbang masuk para pelayan ada di sebelah sana.” Prajurit itu pun langsung mengijinkan Kral dan yang lain masuk sambil mengingatkan tentang jalan yang harus dilewati mereka di kemudian hari, karena berpikir bahwa ketiga orang itu merupakan para pelayan baru.
“Eh… Kami mengerti tuan… Kalau begitu, terima kasih atas pengertiannya,” ucap Kral, kemudian bersama dengan Illios serta Astrapi bergegas masuk ke dalam kediaman itu.
**
Setelah berada di dalam kediaman tersebut, Kral, Illios serta Astrapi terlebih dahulu memperhatikan keadaan sekitar untuk menesilir tempat-tempat yang akan mereka pergi.
“Baiklah… Waktunya kita berpencar untuk mencari tahu mengenai tempat penyimpanan benda-benda antik atau apapun itu di dalam kediaman ini,” ucap Kral dengan suara yang sedikit berbisik kepada Illios dan Astrapi, supaya ucapannya tidak terlalu didengar oleh orang-orang yang kemungkinan lewat di sekitar mereka.
Tanpa pikir panjang, ketiga murid kelas Continent Venerate yang sedang menyamar menjadi pelayan itu langsung berpencar ke arah yang berbeda di dalam kediaman tersebut.
**
Berpindah pada Astrapi yang kini sedang berada di sebuah lorong bangunan, dimana perempuan itu tiba-tiba saja langsung dihampiri oleh seorang pelayan perempuan yang berada di tempat itu.
“Hei, kenapa kau berada disini? Cepat ikut aku sekarang,” ucap pelayan tersebut.
Walaupun kebingungan tiba-tiba dihampri oleh pelayan perempuan itu, namun Astrapi pun langsung saja mengikutinya karena tidak mau jika penyamarannya akan dicurigai.
**
Tak berapa lama, Astrapi bersama dengan pelayan perempuan itu kemudian sampai di sebuah ruangan yang cukup luas, dimana terlihat para pelayan lain sedang menghidangkan makanan dan minuman di atas meja yang panjang.
“Hei, kenapa kau hanya diam saja? Ayo cepat bantu kami,” ucap pelayan perempuan itu, menyuruh Astrapi untuk membantu dia serta pelayan yang lain menghidangkan makanan dan minuman di atas meja.
“Baik…”
Karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik, dengan hanya memperhatikan gerakan para pelayan yang ada, Astrapi pun mampu dengan sempurna menirukan cara menghidangkan makanan dari para pelayan yang berada di ruangan tersebut.
*
“Sial… Untuk apa aku berada disini? Seharusnya aku sudah mencari tempat disimpannya benda itu…” Ucap Astrapi dalam hati.
**
Tanpa pikir panjang, perempuan itu sontak perlahan-lahan mundur ke arah pintu keluar tanpa diperhatikan oleh para pelayanan yang berada di ruangan tersebut.
“Ekh…” Ketika berbalik, Astrapi tiba-tiba terkejut saat seseorang berada di depannya, hingga membuat susunan piring kosong yang dipegang olehnya sontak jatuh berhamburan ke lantai.
“Maaf nona… Kurasa aku mengagetkanmu…” Ucap orang yang sebelumnya membuat Astrapi terkejut.
Ketika menatap orang tersebut, Astrapi pun lantas terkejut karena orang itu tidak lain merupakan Neyndra, perempuan yang sebelumnya pernah bertemu dan mengetahui bahwa Astrapi merupakan Venerate tingkat atas.
Karena takut perempuan itu mengenal wajahnya, Astrapi dengan sigap langsung menghadap kebawah sambil mengumpulkan piring-piring yang berserahkan di lantai.
*
“Sial… Dari sekian banyak orang di kota ini, kenapa aku bertemu dengannya?” Ucap Astrapi dalam hati, nampak khawatir jika penyamarannya akan diketahui.
**
“Tidak nona… Kau tidak boleh membantuku, lebih baik kau biarkan saja aku merapikannya sendiri,” ucap Astrapi kepada Neyndra, menolak perempuan itu untuk membantunya, karena berpikir bahwa perempuan tersebut merupakan salah satu anggota clan Drown dengan melihat penampilannya.
“Nona Neyndra… Tidak apa-apa aku akan membantunya.” Disaat yang bersamaan, pelayan perempuan yang mengajak Astrapi ke ruangan tersebut, lantas datang membantunya.
“Mohon maaf sebelumnya karena sudah mengagetkanmu,” ucap Neyndra.
“Tidak masalah nona Neyndra…” Balas Astrapi, tanpa melihat ke arah Neyndra, serta langsung menyebut nama perempuan itu karena sebelumnya mendengarnya dari pelayan perempuan yang kini sedang membantunya.
Karena telah dibantu oleh pelayan perempuan tersebut, Neyndra pun langsung beranjak meninggalkan mereka.
Setelah piring-piring tersebut telah dirapikan, pelayan perempuan itu menyuruh Astrapi untuk membawanya ke tempat penyimpanan.
***
Setelah disuruh oleh pelayan perempuan tersebut, Astrapi yang sudah meninggalkan ruangan sebelumnya, dan kini berada di sebuah lorong, lantas langsung meletakkan piring-piring tersebut di atas sebuah meja kecil yang berada di dekatnya.
“Haah… Kenapa juga aku harus membawa barang-barang ini? Membuang waktuku saja…” Gumam Astrapi.
“Maaf… Jika kau merasa bahwa piring-piring itu berat… Apakah mungkin aku bisa membantumu membawanya?”
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Astrapi sambil menyarankan sebuah bantuan untuk membawa piring-piring tersebut.
“Tidak apa-apa? Aku tidak berat sama seka… Eh…” Belum selesai menjawab, seketika Astrapi terkejut ketika melihat wajah orang tersebut, yang ternyata merupakan Drakon, pria yang sebelumnya bersama dengan Neyndra.
“Kau…” Seketika pria bernama Drakon itu langsung mengenali Astrapi yang merupakan Venerate tingkat, yang sebelumnya pernah ditemui olehnya.
Karena penyamarannya telah ketahuan, Astrapi pun langsung hendak berjalan untuk meninggalkan Drakon, namun dengan sigap Drakon langsung memegang tangan perempuan itu dengan erat.
Dengan sigap, juga Astrapi pun langsung menepis tangan pria itu hingga terlepas darinya, dan berlari sekencang mungkin untuk meninggalkan pria tersebut.
“Akh…” Akan tetapi, Drakon dengan cepat melompat ke arah Astrapi, hingga membuat perempuan itu pun jatuh tersungkur, ditindih oleh pria tersebut.
“Maaf jika aku terpaksa bertindak kasar pada perempuan sepertimu, tapi jika kubiarkan, kau pasti akan melakukan sesuatu yang berbahaya di tempat ini,” ucap Drakon, sambil dengan kuat menahan Astrapi yang ditindihnya ke lantai.
Tiba-tiba Astrapi langsung mengakses kekuatannya, hingga membuat Drakon seketika terhempas ke atas menerima serangan pancaran proyeksi energi.
Dengan sigap Astrapi kembali berdiri, kemudian langsung meluncurkan salah satu tangannya yang memancarkan proyeksi energi ke arah Drakon, yang terhempas ke atas.
“Uakh…” Seketika teknik yang dilancarkan oleh perempuan itu membuat Drakon pun dalam sekejap langsung tak sadarkan diri, jatuh di sandaran Astrapi.
***
Disaat yang bersamaan, Achilles dan Rox yang berada di sebuah ruangan, sontak langsung merasakan sebuah tekanan kekuatan dari Venerate tingkat atas yang berada di dala kediaman tersebut.
Sejenak kedua Continent Venerate itu saling menatap, kemudian langsung bergerak mencari sumber dari tekanan kekuatan tersebut.
**
Ketika berada di luar ruangan, Rox dan Achilles, tiba-tiba melewati para pelayan, yang dimana terlihat berada diantara mereka Illios. Rox melewati Illios yang tengah dalam sebuah penyamaran, nampak tidak mengetahui bahwa pria yang dilewatinya tersebut merupakan Venerate tingkat atas.
“Eh…” Akan tetapi, berbeda dengan Achilles yang nampak merasakan tekanan kekuatan samar-samar dari para pelayan yang dilewati olehnya.