
Astrapi meluncur ke depan, serta kemudian melompat ke atas ketika hampir mendekati Vahal. Sambil meluncur ke bawah menuju ke arah Vahal, perempuan itu dengan sigap mengayunkan pedang senjata sucinya, hendak melancarkan sebuah serangan kembali.
“Tekhnika ekzortsista… Poltergeist…” Karena tidak sempat untuk menghindar, Vahal sontak menggunakan sebuah teknik yang seketika membuat Astrapi seketika berhenti di udara ketika akan menyerang pria itu.
“Ekh…” Hal tersebut langsung membuat Astrapi kebingungan karena tiba-tiba terhenti di udara tanpa bantuan apapun, serta tidak bisa menggerakan tubuhnya.
“Tekhnika ekzortsista… Evil exterminator light…” Melihat kesempatan itu, Vahal dengan sigap kembali berdiri dan dengan cepat melancarkan serangan proyeksi cahaya ke arah Astrapi.
“Akh…” Karena tidak bisa bergerak, Astrapi pun langsung menerima serangan pria Pavonas itu, hingga membuatnya terhempas ke jarak yang cukup jauh.
“Tekhnika ekzortsista… Poltergeist…” Ketika Astrapi hendak kembali berdiri untuk membalas serangan Vahal yang dilancarkan kepadanya, tiba-tiba Venerate Pavonas itu kembali menggunakan tekniknya, yang membuat Astrapi pun kembali tidak bisa menggerakan tubuhnya.
“Sial…” Astrapi pun mengumpat dengan kesalnya, ketika teknik pria itu kembali berpengaruuh kepadanya.
**
Karena Astrapi tidak bisa menggerakan tubuhnya, Vahal pun kembali mengambil kesempatan tersebut dengan seketika menciptakan sebuah bola cahaya yang cukup besar ketika salah satu tangannya diangkat ke atas.
**
“Apa-apaan itu?” Astrapi pun langsung memiliki fisarat buruk melihat serangan yang hendak dilancarkan oleh pria Pavonas itu kepadanya.
**
“Kakak…! Cepat menghindar dari sana!” Teriak Zchaira memperingati saudaranya untuk segera menghindar.
*
“Benar juga… Teknik itu sama seperti yang tadi… Astrapi saat ini tidak bisa menggerakan tubuhnya.” Zchaira pun langsung mengetahui bahwa Astrapi tidak bisa menggerakan tubuhnya akibat menerima teknik aneh yang digunakan oleh Venerate Pavonas itu.
“Bagaimana ini? Apa tidak ada jalan keluar yang lain?” Gumam Zchaira dalam hati, mencari solusi akan hal tersebut sambil memejamkan kedua matanya.
“Kalau saja aku bisa menggunakan kekuatanku itu kembali… Shydhie… Aku mohon, tolong pinjamkan kekuatanmu lagi…” Zchaira pun berharap agar dirinya mampu membangkitkan kekuatan makhluk suci miliknya, sambil memanggil nama naga merak yang pernah bertemu di dalam alam bawah sadarnya sebelumnya.
****
“Eh…” Ketika Zchaira membuka matanya, tiba-tiba gadis itu terkejut seketika sudah berada di sebuah padang rumput yang luas membentang.
“Dimana ini?” Gumam Zchaira, nampak bertanya-tanya dengan kebingungan dimana sebenarnya dirinya berada kini.
Saat berjalan di tengah rerumputan hijau, gadis itu tiba-tiba kembali mengingat bahwa padang rumput tersebut sebenarnya merupakan tempat dimana dirinya bertemu dengan naga merak bernama Shydhie, ketika dirinya sempat sekrat sebelumnya.
“Shydhie…” Zchaira pun langsung meneriakan nama dari naga merak tersebut, berharap agar makhluk suci tersebut mau datang menemuinya.
“Ada apa?” Tiba-tiba terdengar suara bertanya dari belakangnya, yang membuat Zchaira langsung menoleh.
Saat Zchaira menoleh, ternyata naga merak yang bernama Shydhie itu memang sudah berada tepat di belakangnya.
“Shydhie…”
“Kenapa aku berada ditempat ini?” Tanya Zchaira, nampak penasaran.
“Aku mendengar kau memanggil namaku… Jadi, aku berinisiatif untuk datang menemuimu walaupun hanya melewati alam bawah sadarmu,” jawab naga merak tersebut.
“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” Shydhie pun kemudian bertanya mengapa gadis itu memanggilnya sebelumnya.
“Aku hanya bergumam memanggil namamu saja, karena tidak punya harapan untuk bisa menolong kakakku… Jika kau berkenan, apakah kau bisa meminjamkan kekuatanmu padaku,” ucap Zchaira, memohon kepada naga tersebut.
“Untuk apa aku meminjamkan kekuatanku padamu, padahal aku memang sudah memberikannya padamu dulu sekali,” ucap naga tersebut.
“Maksudmu kekuatan yang sebelumnya aktif itu memang sudah menjadi kekuatanku sendiri?” Tanya Zchaira.
“Kalau begitu, bagaimana caranya aku bisa mengaktifkan kekuatanku itu… Aku mohon Shydhie, jika kau mengetahui sesuatu, tolong beritahukan kepadaku…”
“Hmph… Kau harus berkonsentrasi membayangkan kekuatan tersebut… Dan jangan lupa bahwa hal yang paling utama yaitu kau harus memiliki sebuah keinginan yang kuat agar bisa mengaktifkan kekuatanmu.”
“Apa hanya seperti itu?” Tanya Zchaira.
“Tentu saja itu cukup sulit untuk Venerate setingkatmu…” Jawab Shydhie.
“Tapi, jangan khawatir… Aku akan membantumu untuk mengaktifkan kekuatan kesuburan abadi milikmu sendiri…”
“Sekarang tutup matamu dan berkonsentrasilah… Setelah kau membuka mata, kau akan kembali ke dunia nyata.”
Zchaira pun mengikuti perkataan dari naga merak tersebut, dan seketika memejamkan kedua matanya sambil berkonsentrasi membayangkan kekuatan makhluk suci yang berada di dalam dirinya.
****
Di dunia nyata, Wenra dan Dorolia sontak terkejut melihat Zchaira tiba-tiba memancarkan pancaran proyeksi energi berwarna biru.
“Kakak, apa yang terjadi kepadamu?” Tanya Wenra, nampak penasaran.
Namun, kedua anak perempuan itu seketika mengingat bahwa hal tersebut pernah dilihat oleh mereka sebelumnya, ketika berada di dalam akademi sihir, dimana saat itu Zchaira melawan Toner dan membuat pemuda tersebut tersudut serta hampir dikalahkan olehnya.
**
“Tekhnika ekzortsista… Light of purge…” Kembali pada Vahal, dimana Venerate Pavonas tersebut seketika meluncurkan bola cahaya yang diciptakan olehnya dengan cepat ke arah Astrapi yang tidak bisa menggerakan tubuhnya.
**
“Kalian tunggu disini,” ucap Zchaira kepada Wenra dan Dorolia.
Dalam sekejap gadis itu pun meluncur mendahului serangan bola cahaya yang diluncurkan oleh Vahal pergi ke depan Astrapi.
Zchaira kemudian megangkat salah satu tangannya ke arah bola cahaya tersebut, memproyeksi energi berwarna biru yang memancar dari tubuhnya, hingga langsung melapisi serangan dari Venerate Pavonas itu.
Dengan hal tersebut, Zchaira pun mampu untuk mengendalikan serangan bola cahaya tersebut, dan langsung meluncurkannya kembali ke arah Vahal.
Tidak mengira serangan tersebut, Vahal pun seketika menerima serangannya sendiri dan membuat dirinya terhempas ke jarak yang jauh, dibawah oleh bola cahaya yang dilapisi oleh proyeksi energi biru milik Zchaira.
“Uakh…!” Dalam sekejap, serangan yang diterima oleh Vahal sendiri menciptakan sebuah ledakan yang besar.
“Sial…” Vahal pun hanya bisa terkapar dengan keadaan yang lemah, tidak menyangka bahwa gadis tersebut mampu mengendalikan serangannya, kembali ke arahnya sendiri.
**
Zchaira memegang Astrapi, yang seketika membuat saudaranya tersebut tiba-tiba bisa kembali bergerak.
“Zchaira, bagaimana kau melakukannya?” Tanya Astrapi, nampak penasaran bagaimana adiknya tersebut mampu mengendalikan serangan dari Vahal, serta membuatnya bisa kembali bergerak.
“Aku rasa kekuatan kesuburan abadi milikku sudah bisa kukendalikan dengan mudah,” jawab Zchaira.
“Kekuatan kesuburan abadi...” Astrapi pun menjadi kebigungan mendengar jawaban dari adiknya tersebut, karena tidak mengetahui kekuatan macam apa itu.
“Yang pasti jika aku mampu mengendalikannya dengan sempurna, maka aku bisa menjadi Venerate yang lebih kuat…”
“Daripada memikirkan hal itu, lebih baik kita fokus mengalahkan pria itu,” ucap Zchaira, menyuruh Astrapi agar bekerja sama dengannya untuk mengalahkan Vahal.
“Baiklah kalau begitu,” respon Astrapi, seketika meningkatkan kekuatannya hingga bilah pedang senjata sucinya memancarkan kobaran api biru.