The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 21 - Kematian ayah dari Artemis



“Flame martial…” Pria itu melompat dan meganyunkan tendangan apinya ke arah Hefaistos.


Serangan tersebut langsung ditahan oleh Hefaistos dengan menggenggam erat-erat kaki pria itu.


“Ventus sillabare…”


“Akh…!” Dengan melancarkan serangan dorongan elemen anginnya, pria itu seketika terhempas.


Para gerombolan pemburu tampak terkejut melihat rekan terkuat mereka dengan mudah dikalahkan oleh Hefaistos, namun hal tersebut tidak membuat mereka takut, para pemburu sontak mengaktifkan kekuatan mereka, yang juga membuat tangan-tangan mereka memancarkan kobaran api.


Dengan serentak dan secara bergantian, para pemburu itu melayangkan serangan mereka ke arah Hefaistos.


Entah sebuah kesialan telah bertemu dengan lawan yang salah, berbagaai serangan dari para pemburu dengan mudahnya dihindari oleh Hefaistos.


Pemuda itu satu per satu mulai melancarkan serangan yang cukup keras hingga membuat para pemburu itu akhirnya bertekuk lutut dihadapannya.


“Sial, siapa sebenarnya kau?” Tanya salah satu pemburu.


“Aku bukan siapa-siapa… Hanya seseorang yang tiba-tiba berpapasan dengan kalian,” jawab Hefaistos, tidak mau mengungkapkan identitasnya.


“Sangat memalukan, padahal kalian berasal dari Fuegonia, tapi kemampuan kalian dalam menggunakan elemen api hanya seperti itu…”


Hefaistos memunculkan sebuah palu bergagang panjang dari salah satu tangannya. Tiba-tiba kobaran api muncul dan seketika membakar ujung palu tersebut.


Para pemburu pun terkejut melihat Hefaistos memunculkan sebuah senjata. Mereka akhirnya sadar bahwa Venerate yang mereka lawan tersebut memiliki kemampuan jauh diatas mereka.


“Biar kuperlihatkan bagaimana cara bermain dengan api…” Hefaistos mengibaskan palu yang dipegangnya hingga memunculkan kobaran api yang sangat besar.


Kobaran api tersebut seketika membakar pepohonan yang berada disekitar mereka hingga hangus.


Para pemburu menjadi lebih terkejut dan ketakutan menyaksikan hal tersebut, bahkan salah satu diantara pun pingsan akibat saking ketakutannya.


“Cepat tinggalkan tempat ini sekarang juga atau kalian terpaksa kubakar menjadi abu…” ucap Hefaistos, mengancam para pemburu dengan menodongkan palunya.


“Baik…”


Tanpa pikir panjang, para pemburu yang masih tersisa mengangkat dua rekannya yang telah tidak sadarkan diri, kemudian pergi melarikan diri dari tempat tersebut ke arah negeri Fuegonia.


Setelah memastikan bahwa para pemburu itu telah benar-benar melarikan diri, pemuda itu lantas berbalik ke arah Artemis. Dia meresa kebingungan melihat ekspresi terkejut Artemis.


Hefaistos tersenyum pada Artemis karena mengetahui bahwa perempuan itu terkejut akibat baru pertama kali melihat seorang Venerate melancarkan serangan yang besar seperti sebelumnya.


“Senjata apa yang kau pegang itu?” Tanya Artemis, penasaran.


“Ini adalah senjata suci… Sebuah wadah yang telah tersegel sebuah kekuatan di dalamnya…”


“Palu yang kupegang ini bernama Vulcan… kemampuan utamanya yaitu memproyeksikan elemen api dalam skala yang besar,” jawab Hefaistos, menjelaskannya pada Artemis.


Walaupun telah menjadi Venerate tingkat atas, namun ini baru kali pertamanya perempuan itu melihat langsung kekuatan dari senjata suci. Maklum saja karena Artemis selama ini hanya tidak pernah keluar daerah yang setidaknya paling aman di negeri tersebut.


Dia juga belum pernah sekalipun berhadapan dengan Venerate yang memiliki tingkatan setarah dengan tingkatannya saat ini, karena itu senjata suci masih tidak diperlukan untuk menunjang kekuatannya.


“Kalau begitu ayo melanjutkan perjalanan kita…” Ucap Hefaistos.


Pemuda itu menghilangkan senjata sucinya dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka.


***


Hefaistos setelahnya menemani Artemis berburu. Pemuda itu tampak terkesima melihat langsung bagaimana cara berburu.


Disamping memperhatikan Artemis berburu, Hefaistos sedang memikirkan tentang perasaannya pada perempuan itu. Dia ingin untuk mengatakan perasaanya pada Artemis, namun secara bersamaan merasa bingung memikirkan waktu yang tepat serta cara bagaimana mengatakannya.


***


Waktu pun berlalu, tanpa sadar mereka kembali ke perkampungan lebih lama dari hari-hari sebelumnya.


“Artemis, ada yang ingin aku katakan padamu?” Disaat mereka akan memasuki perkampungan, Hefaistos menghentikan Artemis untuk dengan maksud ingin mengatakan sesuatu.


“Maaf, karena kita kembali lebih lama dari sebelumnya, aku harus segera kembali ke rumahku untuk merawat ayahku…” Akan tetapi, Artemis tidak bisa menunggu lebih lama dengan alasan ingin segera merawat ayahnya.


Hefaistos dengan pasrah membiarkan Artemis pergi meninggalkannya sendiri di depan perkampungan. Dia sebenarnya ingin mengatakan tentang perasaannya pada perempuan itu saat itu juga.


“Mungkin lain kali…”


Hefaistos percaya bahwa masih hari berikut untuk mengatakan hal tersebut. Dia tidak akan menyerah untuk mengatakan perasaannya pada Artemis, entah apapun jawaban yang akan diberikan oleh perempuan itu.


***


“Aku pulang ayah…” Ucap Artemis, memberi salam pada ayahnya, walaupun tahu bahwa ayahnya tidak bisa menjawab salamnya tersebut.


Artemis mulai merawat ayahnya, namun perempuan itu seperti merasa yang ada yang berbeda dari ayahnya tersebut.


“Ayah…”


Artemis merapatkan telinganya ke dada ayahnya untuk mencoba mendengar detak jantungnya.


Akan tetapi, dia tidak bisa mendengar detak jantung dari ayahnya.


Artemis menjadi panik, perempuan itu memegang pergelangan tangan ayahnya dan kini mencoba merasakan denyut nadi pria itu.


***


“Tuan Timonar!” Setelah tidak bisa juga merasakan denyut nadi ayahnya, Artemis dengan sangat panik berlari menuju tempat Timonar sambil berteriak memanggil tetua desa itu.


“Artemis, ada apa?” Tanya Timonar dengan ekspresi kebingungan melihat perempuan itu tampak panik setengah mati.


Teriakannya pun membuat para warga yang berada di dalam rumah mereka seketika keluar.


“Ayahku… Aku mengapa aku tidak bisa merasakan detak jantungnya ataupun denyut nadinya…”


“Apa yang terjadi padanya?”


Mendengar pernyataan Artemis semua yang mendengar tampak terkejut. Mereka secara bersamaan pergi ke rumah Artemis untuk memastikan hal tersebut.


***


Setelah memanggil tabit desa dan mencoba menyelematkan ayah Artemis, ternyata hal tersebut sia-sia saja. Ayah perempuan tidak bisa bertahan lagi akibat seluruh organ di tubuhnya sudah berfungsi akibat penyakit yang dideritanya.


Mendengar hal tersebut, Artemis hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa keluarga satu-satunya telah pergi meninggalkannya.


Perempuan itu terduduk di lantai, tampak sangat sedih melihat ayahnya telah terbujur kaku dihadapannya


–10 September 2999–


Dua hari kemudian setelah kepergian ayahnya, Artemis hanya bisa duduk terdiam sambil menatap langit. Dia tidak percaya bahwa ayahnya harus pergi secepat itu meninggalkan dirinya sendirian.


Tak jauh dari tempat itu, terlihat Hefaistos sedang menatap Artemis. Dia menjadi ragu untuk mendekati Artemis kini karena menyadari bahwa dirinya tidak tahu cara untuk menghibur seseorang yang sedang berduka.


Tiba-tiba sebuah alat komunikasi yang berada di kantong pemuda itu berbunyi.


“Iya, ada apa?” Dia mengambil alat komunikasi itu dan kemudian menjawabnya.


“Kakak, kau harus kembali secepatnya… Pasukan musuh telah berhasil mengambil alih kota Xemico.”


“Apa…?”


Ternyata yang menghubungi Hefaistos adalah Lucierence. Adik pemuda itu menginformasikan bahwa kini pasukan musuh yang sedang dilawan mereka telah berhasil mengambil alih salah satu kota di negeri mereka.


“Kapal dari prajurit Lightio sedang menuju kesana untuk menjemputmu… Mereka sebentar lagi akan sampai dipinggir danau Superior…”


“Baiklah, aku mengerti… Aku akan segera berada disana…”


Hefaistos menutup sambungan komunikasinya dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


**


Sedangkan Artemis yang sedang merenung tiba-tiba mengingat saat Hefaistos selalu memintanya untuk ikut dalam perang.


Artemis berdiri dari tempatnya duduk lalu berlari menuju ke rumahnya.


**


Di dalam rumahnya, Artemis membuka sebuah pintu rahasia, yang dibaliknya terdapat sebuah tangga ke ruang bawah tanah.


Artemis menuruni tangga tersebut dan sampai di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku.


Pandangan Artemis tertuju pada sebuah busur panah emas yang digantung pada dinding ruangan tersebut.