The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 212 - Benda yang dicari akhirnya ditemukan



Setelah berhasil merapikan pola tersebut, tiba-tiba satu per satu lingkaran pola mulai turun ke permukaan membentuk sebuah tangga lingkaran, dimana tepat di tengah tangga lingkaran tersebut terdapat sebuah pintu rahasia.


Kral menuruni tangga tersebut, memasuki pintu rahasia yang di dalamnya tampak sangat gelap. Untuk bisa melihat sesuatu yang berada di dalam ruangan rahasia tersebut, Kral pun memunculkan pedang senjata suci miliknya, yang dapat memancarkan cahaya terang pada bilahnya.


Pria itu mengacungkan pedangnya ke depan, melihat sebuah lorong yang cukup panjang, membuatnya lantas berjalan ke depan menyusuri lorong gelap tersebut.


***


Beberapa saat kemudian, Kral sampai di depan sebuah pintu, dimana setelah dicek olehnya, pintu tersebut tampak terkunci dengan rapat.


Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mengayunkan pedangnya, melancarkan serangan proyeksi tebasan elemen cahaya hingga pintu tersebut hancur berkeping-keping.


Kral yang lebih mementingkan mengenai isi dibalik pintu tersebut, memilih untuk melakukan cara kasar dibandingkan cara yang dilakukan oleh Illios ketika memasuki ruangan penyimpanan rahasia yang terkunci di dalam museum sebelumnya.


Pria itu pun memasang ekspresi tersenyum, nampak merasa senang ketika melihat ruangan yang terang, dimana pada salah satu sisinya, tepat berhadapan dengannya dari arah depan, berada sebuah altar yang diatasnya terdapat sebuah batu kristal dengan memancarkan pijaran cahaya berwarna ungu.


“Akhirnya...” Gumam Kral, akhirnya bisa menemukan benda yang mereka cari selama ini untuk menjadi tawaran agar para Venerate Machora Tira tidak perlu mengincar kekuatan dari adik bungsunya.


Kral berjalan mendekati altar tersebut, mengakses kekuatan sihirnya, hingga salah satu tangannya memancarkan sebuah pancaran energi, yang bertujuan untuk dapat menetralisir apapun macam kekuatan serta serangan kejut yang bisa terjadi ketika pria itu memegang batu kristal yang berada di depannya.


Namun, hal yang disiagakan olehnya tidaklah terjadi, dimana dengan mudah memegang batu kristal tersebut, kemudian mengangkatnya, sambil memperhatikannya. Entah apa mungkin hal tersebut tidaklah terjadi kemungkinan bahwa batu kristal tersebut tidak akan menciptakan sebuah serangan kejut, atau mungkin Kral yang sudah terlebih dahulu menetralisirnya dengan kekuatan yang sebelumnya diakses.


Setelah batu kristal tersebut digenggam olehnya, Kral pun mengakses kekuatannya kembali menghilangkan batu kristal tersebut, yang sebenarnya telah disimpannya ke dalam sebuah ruang spasial yang dapat diakses.


Kral pun keluar dari yang terang tersebut menuju ke dalam lorong yang gelap, sambil terus bersiaga dengan mengacungkan pedangnya ke depan, karena sedikit merasa bahwa kemungkinan di dalam lorong yang gelap tersebut terdapat sebuah jebakan.


***


Ternyata hal yang disiagakan oleh Kral tidak terjadi, dimana pria itu dengan mudah bisa keluar dari ruangan rahasia yang berada di dalam pola lantai yang menurun menjadi tangga tersebut.


Tidak mau lebih lama terus berada di tempat itu karena telah menemukan apa yang dia cari, Kral pun beranjak dari tempat tersebut dengan terbang ke langit.


***


Akan tetapi, tiba-tiba seseorang yang tidak lain merupakan Achilles muncul dari balik pintu masuk kastil yang dibuka oleh Kral sebelumnya.


Achilles tampak memperhatikan Kral terbang menuju ke kota Novacurve kembali dengan memasang kecurigaan serta pertanyaan mengapa pria tersebut datang ke bangunan tua peninggalan negeri Blueland itu.


Disamping itu, Achilles yang sudah mengetahui dengan pasti mengenai penyusup yang selama ini dicurigai oleh para clan Drown, masih enggan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Rox maupun Venerate Fuegonia lain.


Entah apakah mungkin pria Elfman tersebut masih merasa ragu untuk mengatakan kepada Rox, jika hal tersebut hendak membuat sang ketua clan besar di daerah tersebut akan mengambil tindakan yang akan berujung pada kekalahan mereka, mengingat salah satu penyusup dari negeri Lightio adalah salah satu World Venerate, yang tidak lain merupakan Artemis.


***


Berpindah pada kediaman clan Drown, dimana Dierill datang menemui Rox yang sedang berada di dalam sebuah ruangan.


“Apa itu Dierill?” Rox pun nampak penasaran mendengar ucapan Dierill tersebut, dimana pria itu nampak merasa bahwa salah satu putranya tersebut hendak mengatakan sesuatu yang penting.


“Aku ingin sebuah senjata suci…” Ucap Dierill, membuat Rox lantas sedikit terkejut karena tidak mengira bahwa putranya tersebut hendak meminta sebuah senjata suci.


“Apa kau yakin ingin menggunakan senjata suci?” Tanya Rox, ingin memastikan bahwa ucapan putranya tersebut tidaklah setengah-setengah.


“Tentu saja ayah… Aku ingin mendapatkan senjata suci, menguasainya agar bisa membuatku sedikit lebih kuat…” Jawab Dierill, sambil menjelaskan tujuannya yang hendak memiliki sebuah senjata suci.


“Hmph, baiklah… Ayah memiliki beberapa senjata suci yang dipegang…”


Rox kemudian mengakses kekuatannya, memunculkan sebuah senjata suci berbentuk bola besi yang dihubungkan oleh sebuah rantai.



“Senjata ini memiliki kemampuan elemen api, dan ayah yakin jika kau berhasil menguasai kekuatan pelepasan kedua saat menjadi Land Venerate, kecepatan gerakanmu pasti akan meningkat karena ayah yakin bahwa kekuatan senjata ini berasal dari makhluk suci berwujud seekor kuda,” ucap Rox, menjelaskan kepada Dierill, mengenai senjata yang dipegangnya.


“Eh… Apa tidak ada yang lain? Aku rasa senjata itu cukup brutal…” Respon Dierill, melihat senjata tersebut sepertinya kurang cocok baginya.


“Baiklah…”


Mendengar permintaan putranya tersebut, Rox menaruh bola rantai tersebut ke lantai, kemudian memunculkan sebuah busur panah.


“Bagaimana dengan ini?” Tanya Rox, sambil memperagakan kuda-kuda memanah.


“Ayah... Kau tahu caranya memanah?” Tanya balik Dierill, melihat ayahnya memunculkan sebuah busur panah.


“Tentu saja... Ayah memiliki banyak kemampuan dalam berbagai macam senjata... Jadi, apakah kau menginginkan senjata ini?” Jawab Rox, kemudian bertanya kepada putranya, apakah mungkin anak laki-laki itu tertarik dengan busur panah miliknya.


“Apakah tidak ada senjata lain lagi?” Tanya Dierill masih tetap tidak tertarik dengan senjata kedua yang telah diperlihatkan oleh Rox.


Secara diam-diam, ternyata Dierill sebenarnya memiliki sebuah tujuan untuk membantu para Venerate Lightio menemukan batu kristal yang bahkan telah ditemukan oleh Kral sebelumnya. Dierill meminta sebuah senjata suci, kemudian menolak satu per satu, hingga Rox pun hendak memperlihatkan semua benda yang disimpan ke dalam ruang spasial milik ayahnya tersebut, yang diyakini oleh Dierill salah satunya merupakan batu kristal tersebut.


Karena merasa bahwa putranya menginginkan sebuah senjata suci untuk berusaha menjadi lebih kuat, Rox pun tetap merasa senang walaupun kini sudah dua senjata yang diperlihatkannya, sontak ditolak oleh putranya tersebut.


Rox kemudian memunculkan sebuah benda berukuran kecil yang bahkan tidak terlihat memiliki bilah atau bagian yang tajam.


“Apakah itu termasuk senjata suci?” Tanya Dierill dengan ekspresi wajah kebingungan.


“Tentu saja... Ini adalah kipas lipat...” Jawab Rox, lantas mengepakkan benda tersebut hingga menjadi sebuah kipas.


“Sungguh tak terduga... Tapi, aku masih merasa bahwa senjata itu tidak akan cocok kepadaku...” Ucap Dierill, kembali menolak senjata ketiga yang diperlihatkan oleh ayahnya.