
“Fulmine sillabare…”
“Uakh…!” Disaat Venerate itu hendak menyerang Zchaira, Wenra dengan sigap datang dan melancarkan serangan pukulan elemen petir, membuat Venerate tersebut terhentak ke lantai dengan keras hingga seketika tak sadarkan diri.
“Kau baik-baik saja kakak?” Tanya Wenra mengenai keadaan dari gadis itu.
Zchaira pun langsung menganggukan kepalanya, merespon bahwa dia tidak apa-apa, karena Venerate tersebut belum sempat melancarkan serangan kepadanya.
“Baik semua, kalian jangan takut. Kami kemari untuk menolong kalian…” Ucap Zchaira kepada para warga yang sedang disekap.
Zchaira bersama Wenra dan Dorolia kemudian mulai membuka satu per satu tali yang membelenggu tangan serta kaki para warga. Ketika beberapa warga telah dilepaskan, mereka kemudian membantu ketiga murid perempuan itu untuk melepaskan ikatan yang masih membelenggu dari para warga yang lain.
“Ayo ikut kami sekarang…” Setelah semua ikatan para warga telah dilepaskan, Zchaira kemudian menyuruh mereka mengikutinya untuk keluar dari tempat itu.
***
“Mau kemana kalian?”
Setelah berada di luar bangunan tempat para warga disekap sebelumnya, tiba-tiba beberapa Venerate pemberontak langsung menyergap mereka yang akan kabur.
Zchaira, Wenra dan Dorolia pun langsung maju untuk menghalangi beberapa Venerate tersebut yang ingin menangkap kembali para warga.
Wenra dan Dorolia maju terlebih dahulu dan berusaha keras melawan beberapa Venerate pemberontak itu dengan kemampuan mereka yang masih belum seberapa.
“Akh…” Wenra dan Dorolia seketika terhempas ke arah Zchaira karena tidak mampu menahan kekuatan dari para Venerate pemberontak tersebut.
“Biar aku yang melawan mereka…” Tidak mempunyai pilihan, Zchaira dengan terpaksa maju sendirian untuk melawan beberapa Venerate tersebut.
“Ukh…” Karena tidak memiliki cukup pengalaman pada pertarungan jarak dekat, Zchaira pun tidak bisa mengimbangi kemampuan dari para Venerate tersebut dan sontak terhempas ke arah Wenra, Dorolia serta para warga ketika menerima serangan dari salah satu Venerate pemberontak tersebut.
Salah satu dari Venerate tersebut dengan cepat meluncur ke arah Zchaira dan yang lain sambil hendak melancarkan serangan proyeksi energi.
“Uakh!” Dalam sekejap kalung bunga es yang dipakai oleh Zchaira sejenak memancarkan cahaya, hingga seketika memunculkan sebuah pasak-pasak es disekitar gadis itu, dan dengan cepat meluncur ke arah Venerate yang akan menyerang tersebut hingga terhempas.
“Akh…” Pasak-pasak yang masih tersisa dengan cepat juga meluncur menyerang para Venerate yang lain, hingga membuat mereka pun juga terhempas.
Melihat sebuah kesempatan Zchaira dengan cepat maju mendekati para Venerate pemberontak yang sedang terhempas itu.
“Incantesimo segreto… Coup de amoreux…” Zchaira dengan sigap melancarkan sebuah teknik sihir rahasia yang pernah dilancarkannya kepada Megathrio ke arah para Venerate tersebut.
Akibat serangan yang dilancarkan oleh Zchaira, para Venerate pemberontak itu sontak kembali terhempas hingga menghantam dinding bangunan hingga menjebolnya. Mereka semua hanya bisa terkapar dengan keadaan lemah hingga seketika langsung tak sadarkan diri.
Zchaira pun merasa legah akhirnya bisa mengalahkan para Venerate tersebut dengan bantuan dari kekuatan yang berada di dalam kalung bunga yang dipakai olehnya. Jika saja kekuatan yang berada di dalam kalungnya tidak bereaksi, maka kemungkinan para warga akan kembali ditangkap oleh para Venerate pemberontak itu.
“Ayo jalan lagi…” Zchaira pun kembali mengajak para warga untuk terus melanjutkan perjalanan mereka sampai mendapatkan tempat yang lebih aman.
Mereka pun kemudian berjalan untuk keluar dari kota tersebut sambil melewati para Venerate pemberontak yang sudah dilumpuhkan oleh Toner, Megathirio dan yang lain.
***
Di sisi Megathirio, Rayvor dan Toner, ketiga pemuda tersebut dengan sigap bekerja sama melancarkan serangan secara bergantian hingga Venerate yang dilawan mereka pun lantas mulai kewalahan.
Sedangkan di sisi Flogaz, Andras dan Shaevanjoe, ketiga murid tersebut tampak kesulitan menghadapi Venerate yang dilawan oleh mereka, karena yang sebenarnya kemampuan serta tingkatan mereka masih berada di bawah Venerate tersebut.
Disaat Venerate yang dilawan oleh mereka hampir saja melancarkan sebuah tembakan, tiba-tiba Lucia dalam sekejap muncul menggunakan kemampuan teleportasinya dan langsung melancarkan serangan proyeksi elemen api berwarna biru.
Tidak mengira kemunculan dari Lucia, Venerate itu lantas menerima serangan elemen api biru tersebut hingga membuatnya terhentak ke belakang.
Belum puas, Lucia dengan sigap mengakses kekuatan sihirnya untuk memunculkan sebuah pedang senjata suci yang tersimpan di dalam gelang yang dipakainya. Vampireman perempuan itu kemudian langsung mengayunkan pedangnya hingga memunculkan serangan tebasan elemen api berwarna emas.
Akan tetapi, Venerate tersebut dengan cepat mengeluarkan sebuah serangan proyeksi energi berwarna hitam, yang sama seperti teknik yang digunakan oleh Aiver.
Serangan proyeksi energi berwarna hitam tersebut langsung menyerap serangan elemen api dari Lucia dan terus meluncur dengan cepat ke arah Vampireman perempuan itu.
Melihat hal tersebut, Andras dengan cepat melompat, menangkap Lucia untuk menghindar dari serangan yang akan menerjang Vampireman perempuan itu.
Mereka langsung jatuh tersungkur ke tanah, membuat Andras berada di atas Lucia, serta kedua wajah mereka pun langsung saling bertatapan.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Andras, masih sempat menanyakan keadaan dari Vampireman perempuan itu dalam situasi tersebut.
“Iya…” Jawab Lucia.
“Hei kalian, cepat bangun… Lawan yang sedang kita hadapi adalah Land Venerate.”
Momen saling bertatapan wajah antara Andras dan Lucia pun langsung diganggu oleh Flogaz, karena harus memperingatikan tentang situasi yang sedang mereka hadapkan.
Andras pun dengan cepat berdiri dan kemudian membantu Lucia juga kembali berdiri juga.
Melihat Flogaz dan Shaevanjoe terus berusaha melawan Venerate tersebut, namun kesusahan, Andras dan Lucia pun langsung meluncur untuk membantu kedua pemuda itu.
***
Kembali ke sisi Megathirio, Toner serta Rayvor, dimana mereka bertiga dengan lincah saling bergantian melancarkan serangan hingga Venerate yang dilawan oleh mereka pun menjadi sangat kewalahan.
Diantara ketiga pemuda tersebut, Rayvor-lah yang sering melancarkan serangan paling banyak ke arah Venerate tersebut dikarenakan kemampuan dari senjata sucinya yang mampu meningkatkan kecepatan pergerakan dari penggunanya.
Setelah melancarkan serangan secara beruntun ke arah Venerate yang dilawannya, Rayvor kemudian dengan cepat melompat ke belakang untuk menjaga jaraknya.
“Kakak Megathirio, gunakan kekuatan senjata sucimu,” ucap Rayvor, menyuruh Megathirio melancarkan serangan ke arah Venerate tersebut.
Setelah mendengar hal tersebut dari Rayvor, Megathirio dengan cepat mengayunkan pedangnya hingga sebuah pasak-pasak kristal pun tercipta di sekitarnya.
Dengan sekejap, Megathirio mengendalikan pasak-pasak kristal tersebut meluncur ke arah Venerate yang berada di depannya.
Walaupun sempat mengenai beberapa dari pasak kristal tersebut, namun Venerate tersebut dengan sigap mampu menghindari luncuran serangan tersebut, dan dalam sekejap meluncur mendekati Megathirio sambil hendak melancarkan sebuah serangan balik.