The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 50 - Zchaira mendapatkan senjata suci



“Bagaimana kau melakukannya? Kau sepertinya tidak menggunakan mantra sihir…” Tanya Hefaistos, merasa penasaran dengan teknik elemen es yang dilakukan oleh Zchaira.


“Dia bisa melakukannya karena menggunakan kalung itu,” sambung Megathirio, menunjuk kalung bunga salju yang dipakai Zchaira.


*


“Apa itu senjata suci? Mungkin tidak, itu hanya terlihat seperti sebuah alat bantu saja,” ucap Hefaistos dalam hati.


Pria itu penasaran melihat kalung yang digunakan oleh Zchaira. Dia bertanya-tanya apa mungkin benda tersebut merupakan sebuah alat bantuan untuk memproyeksikan energi sihir bagi para Venerate yang di tingkatan bawah, ditambah juga Hefaistos nampak bingung karena tidak pernah melihat benda seperti itu.


**


“Kalung itu membantu Zchaira bisa memproyeksikan elemen es… Aku tahu karena beberapa kali memperhatikannya,” ucap Artemis, menjelaskannya pada Hefaistos.


“Zchaira, siapa orang yang pernah menolongmu waktu itu?” Lanjut Artemis, bertanya kepada Zchaira.


“Ibu, kau tahu yang sebenarnya?” Mendengar pertanyaan dari ibunya, Zchaira pun terkejut dan sontak bertanya balik,


“Tentu saja ibu tahu waktu itu ada seseorang yang menolongmu, walupun kau memberi alasan memungut kalung itu di dalam hutan… Ditambah setelah kau kembali, ibu merasakan aura dari seseorang yang setarah dengan tingkatan Continent Venerate bahkan lebih,” jawab Artemis.


“Memang benar waktu itu, ada seseorang yang menolongku dengan memberikan kalung ini… Dia seorang pemuda berambut putih.” Zchaira pun mengakui kepada ibu serta orang-orang yang bersamanya bahwa kalung itu sebenarnya didapatinya oleh seseorang.


“Tidak salah lagi… Orang yang menolong Zchaira waktu itu adalah salah satu ras Elfman… Pantas saja sebelumnya kau menemui para Elfman Itu,” ucap Artemis.


“Baik-baik, entah itu Elfman, Vampireman, bahkan Giantman pun… Tapi, sekarang sudah larut malam. Lebih baik masuk, lanjutkan pembicaraannya besok hari saja.” Hefaistos langsung memotong pembicaraan mereka, lalu merangkul tiga keluarganya masuk ke dalam untuk beristirahat.


–17 Mei 3024–


Keesokan harinya kini giliran Lucierence, Flophia, Rayvor bersama dengan Kenrow untuk meninggalkan kota Hawkingson kembali ke kediaman clan Slikbar di kota Workyen.


Di sebuah lapangan tempat pesawat berada, Hefaistos bersama yang lain telah berkumpul untuk menghantar Lucierence dan yang lain untuk berangkat.


“Tuan presiden, kali kau tidak boleh cemberut lagi… Setidaknya nyonya wakil presiden, partnermu telah kembali…” Ucap Lucierence pada Hefaistos.


“Kau tahu… Setelah kalian bersama lagi, kurasa kau harus menambahnya lagi… Lima itu sebenarnya masih belum cukup,” lanjut Lucierence, mengatakan hal tersebut dengan berbisik.


“Apa kau bilang, pak tua… Sudah pergi saja sana, jangan membuatku lebih kesal lagi.” Hefaistos lantas terkejut hingga mukanya memerah ketika mendengar ucapan dari saudaranya tu.


“Hahaha…” Lucierence sontak tertawa melihat ekspresi dari kakaknya tersebut.


“Kakak, baik-baik disini. Jangan ada lagi masalah dengan kakak Hefaistos,” ucap Flophia pada Artemis.


“Tenang saja, itu tidak akan terjadi,” balas Artemis.


Kemudian Kenrow datang menghampiri Hefaistos dan Artemis sambil memegang pundak mereka masing-masing.


“Tolong pimpin negeri ini dengan baik-baik,” ucap Kenrow, memberikan pesan sebagai orangtua dari mereka.


Hefaistos dan Artemis pun merespon pesan dari Kenrow dengan menganggukan kepala mereka.


Tak lama kemudian, saat Lucierence dan yang lain akan segera berangkat, tiba-tiba Rayvor kembali untuk menghampiri Zchaira.


“Aku dengar kau akan segera masuk ke akademi sihir…”


“Iya…”


“Masih ada sekitar dua bulan lagi sebelum penerimaan murid baru. Kuharap selama itu kau bisa menyiapkan diri…”


“Kalau begitu sampai nanti… Kita akan bertemu disana,” ucap Rayvor sambil tersenyum kepada Zchaira.


Zchaira pun merespon senyuman Rayvor dengan senyuman juga.


–Mei sampai Juli 3024–


Artemis kembali pada tugasnya sebagai salah satu pemimpin dari negeri Lightio. Karena sudah mulai kurang cakap sejak meninggalkan jabatannya sekitar enam belas tahun yang lalu, Hefaistos pun sedikit demi sedikit membantunya agar bisa kembali terbiasa.


Sementara itu, selama dua bulan Zchaira sedikit berlatih untuk bisa memproyeksikan kekuatan sihirnya tanpa perlu menggunakan bantuan dari kalng bunga saljunya.


Disamping gadis itu berlatih sendirian, Artemis sebagai orangtua sesekali menyempatkan diri untuk melatih putrinya tersebut.


–12 Juli 3024–


Dua bulan pun berlalu, dimana penerimaan murid-murid di akademi sihir kota Xemico yang datang dari segala penjuru negeri Lightio akan dilaksanakan pada hari tersebut.


Megathirio dan Zchaira telah bersiap bersamaan dengan Hefaistos serta Artemis yang juga akan menghadiri acara penerimaan di akademi tersebut sebagai pemimpin negeri Lightio.


Walaupun masih berada di kota Hawkingson yang jaraknya sekitar seribu sembilan ratus mil dari kota Xemico, namun mereka hanya akan membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai.


***


Pesawat mereka berangkat dengan kecepatan sepuluh kali lebih cepat dari kecepatan suara. Pada salah satu ruangan di dalam pesawat tersebut, Hefaistos tampak memberikan sebuah gelang besi kepada Megathirio.


“Gelang apa tuan Hefaistos?” Tanya Megathirio pada ayahnya.


“Ini adalah gelang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan,” jawab Hefaistos.


Megathirio mengambil gelang itu kemudian langsung memakainya. Pemuda itu nampak sedikit bingung memperhatikan gelang yang diberikan oleh ayahnya itu, memangnya sesuatu seperti apa yang harus disimpan ke dalam gelang tersebut.


“Apa yang harus kusimpan di dalam gelang ini?” Tanya Megathirio.


“Karena kau masih belum menjadi Venerate tingkat atas maka kau harus menggunakan itu, setidaknya untuk menyimpan benda ini.” Hefaistos tiba-tiba memunculkan sebuah pedang dengan bilah berwarna toska.


“Ini… Apakah senjata suci?” Tanya Megathirio, terkejut melihat pedang tersebut.


Hefaistos menganggukan kepalanya merespon bahwa pedang tersebut memang benar merupakan sebuah senjata suci.


“Pedang Aquamarine… Hefaistos, apakah kau yakin mau memberikan pedang itu?” Melihat pedang tersebut, Artemis pun sontak terkejut karena mengetahui senjata tersebut merupakan salah satu senjata kesayangan dari pria itu.


“Tentu saja, lagipula aku memberikannya pada salah satu anakku,” ucap Hefaistos sambil tersenyum.


“Ambil dan coba simpan ke dalam gelang itu…” Lanjut Hefaistos, memberikan pedangnya tersebut.


Megathirio mengambil senjata suci itu kemudian berkonsentrasi mengaktifkan kekuatannya.


“Vocare sillabare…” Dalam sekejap pedang tersebut berubah menjadi cahaya lalu masuk ke dalam gelang yang dipakai oleh Megathirio.


“Haah… Padahal dulu aku menginginkan pedang itu, tapi kau tidak mau memberikannya,” ucap Artemis, nampak sedikit iri Hefaistos memberikan senjata suci yang sebenarnya juga diinginkan oleh Artemis.


“Tuan Hefaistos… Bagaimana denganku?” Setelah Megathirio mendapatkan senjata suci, kini Zchaira pun juga menginginkannya.


“Zchaira, Biar kali ini ibu yang memberikannya kepadamu sebuah senjata suci.” Lantas Artemis langsung memotong sebelum Hefaistos berbicara.


Artemis dalam sekejap memunculkan sebuah seruling besi dengan panjang setengah meter lengkap dengan sebuah rantai pisau yang berada diujungnya.


“Artemis… Kau yakin akan memberikan seruling itu…” Hefaistos sontak terkejut melihat senjata suci yang diberikan oleh Artemis.


“Tentu saja, mengapa tidak? Lagipula Zchaira itu hebat memainkan seruling,” ucap Artemis sambil memberikannya pada Zchaira.


“Aku tidak menyangka bahwa ibu mempunyai seruling juga… Kalau begitu dengarlah melodi indah yang akan kumainkan ini.”


“Jangan ditiup!” Teriak Artemis dan Hefaistos bersamaan, memperingatkan Zchaira.