
Beberapa saat kemudian, tampak Toner kembali ke bangunan para murid Land Venerate dan kemudian masuk ke sebuah ruangan menemui kedua temannya.
“Toner…” Ucap salah satu teman ketika melihat pemuda itu datang.
“Kudengar kau dipanggil tetua sebelumnya?” Tanya salah satu temannya tersebut.
“Sebenarnya aku tidak akan kalau bukan Shaevanjoe, murid Regional Venerate tiba-tiba menemuiku dan mengatakan bahwa di tempatnya ada sebuah pertarungan,” jawab Toner.
“Jadi, kau kali ini akan dikirim kemana untuk menjalakan misi?” Respon salah satu temannya tersebut, yang juga nampak mengetahui bahwa jika para siswa mendapatkan masalah, mereka akan dihukum untuk menjalankan sebuah misi.
“Kami akan pergi ke Xetas besok hari,” ucap Toner.
“Xetas…” Kedua teman pemuda itu lantas terkejut mendengar ucapannya.
“Tetua mengatakan bahwa daerah Xetas sekarang mengalami sebuah pemberontakan… Kami yang dihukum harus menjalankan misi untuk menyelamatkan para warga yang ditangkap oleh kelompok Venerate yang memberontak tersebut…”
“Aku yakin bahwa mereka menangkap para warga bukan hanya untuk membuat sebuah ancaman, tapi ada alasan lain mengapa mereka melakukan itu...” Ucap Toner, menjelaskan kepada dua temannya tersebut.
“Karena berada di akademi sihir, aku sampai tidak mengatahui bahwa di daerah sedang terjadi sebuah masalah,” lanjut Toner berkata, nampak merasa khawatir mengenai daerah asalnya itu.
“Pedrobal… Eliadryn… Kurasa aku akan memerlukan bantuan kalian nanti… Kalian tahu kan cara keluar dari akademi ini secara diam-diam?”
Kedua teman Toner yang bernama Pedrobal serta Eliadryn itu pun lantas menganggukan kepala mereka, merespon bahwa mereka mengetahui cara untuk pergi dari akademi sihir secara diam-diam tanpa harus diketahui.
“Alasannya karena hanya aku satu-satunya murid Land Venerate yang akan pergi ke daerah Xetas… Karena itu aku membutuhkan batuan kalian nantinya untuk menambah kekuatan kami,” ucap Toner, menjelaskan hal tersebut kepada dua temannya.
“Jangan khawatir kawan… Kami pasti akan segera menyusul kau dan murid-murid yang lain,” respon salah satu teman pemuda itu yang bernama Eliadryn.
***
Dari luar ruangan tempat Toner dan kedua temannya berada, nampak dua orang murid Land Venerate yang tidak lain merupakan Charlett dan Auphia sedang menguping pembicaraan mereka.
“Sesuai yang dikatakan oleh Astrapi bahwa daerah Xetas sekarang sedang berada dalam konflik,” ucap Auphia dengan sedikit berbisik.
“Benar juga… Aku juga khawatir jika masalah itu tidak dapat diselesaikan, pemberontak akan sampai ke daerah New Xemico juga,” sambung Charlett, nampak khawatir jika hal tersebut bisa meluas sampai ke daerah asalnya juga.
“Kalau begitu, kita juga harus pergi kesana… Jangan pernah hilangkan pandanganmu pada Eliadryn dan Pedrobal itu, agar kita juga bisa diam-diam keluar dari akademi sihir ini,” ucap Auphia, memiliki rencana untuk mengikuti dua teman Toner untuk keluar dari akademi sihir juga.
***
Di kota Thouson, yang merupakan pusat pemerintahan dari daerah Xetas, tampak di sebuah ruangan para Venerate dari daerah tersebut sedang melakukan pertemuan bersama dengan para Venerate dari negeri Pavonas untuk membahas tentang sesuatu.
“Walaupun menjadi satu kesatuan, tetapi para Venerate tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok dan membagi tugas mereka menguasai beberapa kota di daerah ini,” ucap Roselix, menjelaskan tentang para Venerate pemberontak yang dipimpin oleh Aiver tersebut.
Roselix pun mengangguk, merespon bahwa pertanyaan dari Venerate tersebut benar adanya.
“Aku rasa para warga yang mereka tangkap itu akan diberikan kepada pemimpin dari mereka yang menggunakan sihir aneh tersebut,” ucap Vahal.
“Apa maksudmu tuan?” Tanya Roselix, kurang memahami penjelasan Venerate Pavonas itu.
“Teknik sihir yang digunakan oleh Venerate pemimpin itu sepertinya memerlukan banyak menguras energi… Disaat menggunakan teknik tersebut kurasa dia juga harus memulihkan diri dalam waktu yang cukup lama…”
Venerate Pavonas bernama Vahal itu kemudian menjelaskan bahwa para Venerate yang berasal dari negerinya sebagian besar banyak memperoleh energi dari makhluk astral yang coba mereka usir. Selain memperoleh energi alam atau Mana, atau juga khusus disebut bagi mereka sebagai Spirit, dari makhluk-makhluk astral, mereka juga mampu memperoleh Spirit dari para Venerate lain serta manusia biasa yang bukanlah seorang Venerate.
Maka dari itu, Vahal mengambil kesimpulan bahwa Venerate pemimpin dari para pemberontak, yang merupakan Aiver, mampu untuk memulihkan dirinya dalam waktu cepat dengan berusaha menyerap Spirit atau Mana yang berada pada para warga yang ditangkapnya.
Hal itu bahkan lebih muda dibandingkan harus menyerap banyak Spirit atau Mana pada makhluk-makhluk astral, karena selain para Venerate Pavonas serta bangsa Slivan, para Venerate yang lain sulit untuk merasakan hawa keberadaan dari para makhluk astral.
Hal itu juga lebih mudah dibandingkan harus menyerap energi yang berada di alam, karena jika setiap kali memaksakan menyerap energi alam dalam jumlah yang besar, maka hal itu akan berdampak buruk bagi tubuh Venerate tersebut.
“Aku tidak menyangka ternyata kalian para Venerate bangsa Slivan sering melakukan hal tersebut… Tapi dengan mendengarnya, itu membuatku nampak lebih tidak percaya lagi kepada kalian, karena kemungkinan kalian juga akan melakukan hal yang sama seperti Venerate pemimpin dari para pemberontak itu,” ucap Roselix, merasa lebih ragu kepada para Venerate Pavonas setelah mendengar penjelasan dari pria bernama Vahal itu.
“Haah… Kurasa aku sudah salah menjelaskannya padamu… Itu bahkan hanya membuat kami lebih terlihat berniat buruk juga kepada kalian…” Respon Vahal.
“Yang pasti aku sudah menjelaskan kemungkinan yang akan dilakukan Venerate pemimpin itu… Untuk mau percaya atau tidak dengan niat kami yang ingin membantu, itu terserah kepada anda, nyonya Roselix,” lanjut pria itu berkata.
***
Tak berapa lama setelah pertemuan dengan para Venerate Pavonas selesai, Roselix pun terlihat berada sendirian di dalam ruangan tersebut sambil memikirkan tentang niat sebenarnya dari para Venerate Pavonas yang masih belum dipercayainya sampai sekarang.
“Eh…” Saat sedang melamun, Roselix sontak terkejut tiba-tiba mendengar sebuah alat komunikasi yang berada di atas meja berbunyi.
Perempuan itu mengambil alat tersebut, kemudian membukanya untuk menjawab panggilan dari orang yang masih belum diketahui tersebut.
“Ini dengan Roselix…” Ucap perempuan itu.
“Ibu…” Tiba-tiba pemanggil itu menyebut, Roselix sebagai ibunya.
“Toner… Ada apa kau memanggil?” Ternyata pemanggil tersebut merupakan Toner, yang sebenarnya merupakan putra dari perempuan itu.
“Apa disana baik-baik saja?”
Mendengar hal yang ditanya oleh Toner, Roselix pun nampak sedikit terkejut, mengira bahwa putranya tersebut telah mengetahui masalah yang berada di daerah Xetas.
“Apa maksudmu nak? Disini baik-baik saja…” Namun, Roselix pun nampak berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa di daerah tersebut.