
“Yah, ada apa?” Tanya pria Giantman bernama Vertorn.
“Kita baru saja mendapat sebuah informasi bahwa Hefaistos Silkbar sudah mengetahui kedatangan para Vampireman ke wilayah utara…” jawab perempuan yang menemuinya.
“Dan juga pria itu tiba-tiba saja pergi ke wilayah sana setelah mengetahui hal tersebut,” lanjut perempuan itu berkata.
“Hmph… Jadi begitu yah…” Ucap Giantman tersebut, yang terlihat santai mendengarkannya.
“Sepertinya Hefaistos kini sudah mengalahkan mereka… Ditambah Artemis yang juga berada disana, tidak mungkin bagi para Vampireman itu bisa memiliki kesempatan untuk menang ataupun lari...”
“Aku rasa orang itu tidak akan tinggal diam jika mengetahui kebenarannya dari para Vampireman.” Vertorn merasa khawatir jika Hefaistos tidak akan tinggal diam setelah mengetahui kebenaran dari Silvan sebelumnya, dimana Giantman tersebut yang telah mengijinkan para Vampireman masuk ke negeri Lightio dan pergi ke wilayah pedalam utara.
“Leagerenza, kita harus mengumpulkan para Venerate tingkat atas segera mungkin… Aku merasa akan ada sebuah peperangan dengan orang-orang yang berada di timur.” Setelah mengatakan hal tersebut, Giantman itu berbalik berjalan menuruni bukit tersebut.
Perempuan bernama Leagerenza itu sontak terkejut mendengar ucapan dari Vertorn, namun tidak bisa berkata-kata dan hanya hanya mengikuti pria tersebut menuruni perbukitan.
***
Kembali di desa yang berada di wilayah pedalaman utara negeri Lightio. Terlihat Hefaistos, Artemis, Lucierence serta Timonar sedang duduk di dalam suatu ruang pertemuan untuk membahas kejadian yang terjadi sebelumnya.
“Aku tidak percaya bahwa keputusan untuk beraliansi dengan negeri Machora Tira membuat mereka memanfaatkan keadaan agar aku terlihat buruk lagi dimata para warga Lightio,” ucap Hefiastos.
“Jelas saja keputusanmu itu memang salah, sehingga membuat orang-orang barat itu memanfaatkan keadaan… Jika saja kau tidak kemari ataupun para Vampireman itu tidak mengatakan yang sebenarnya, aku pasti sudah datang menemuimu dan membuat perhitungan padamu setelah kejadian ini,” ucap Artemis.
“Bagaimana mungkin keputusanku salah? Aku menyetujui negeri Lightio beraliansi dengan negeri Machora Tira sebenarnya untuk melindungi Zchaira… Mereka tidak akan mengincar kekuatan makhluk suci yang berada di dalam Zchaira karena sebuah penjanjian yang aku katakan.”
Mendengar pernyataan dari Hefaistos, Artemis seketika berdiri dan menarik kerah pemimpin negeri Lightio itu.
“Kau lihat sendiri apa yang terjadi sebelumnya. Para ras Machora Tira itu bahkan kemari dengan satu tujuan, ingin mengambil alih kekuatan yang berada di dalam putriku… Memangnya perjanjian yang kau buat dengan mereka?” Dengan ekspresi serius dan nada suara tinggi, Artemis membentak pria tersebut karena berbicara tidak sesuai dengan kenyataan yang telah terjadi.
Melihat ekspresi wajah Artemis yang serius sambil mencengkram kerah Hefaistos, Lucierence serta Timonar menjadi khawatir jika nantinya wanita tersebut akan bertindak berlebihan dengan mengeluarkan kekuatannya yang kemungkinan akan membuat desa tersebut hancur seketika.
Tidak mau hal yang mereka pikirkan tersebut terjadi, Lucierence seketika berdiri dan mencoba untuk memisahkan Artemis dan Hefaistos.
“Kakak tolong tenang dulu, biar aku yang menjelaskannya. Aku juga baru ingat setelah kak Hefaistos mengatakan tentang perjanjian dengan para ras Machora Tira,” Pria dari clan Silkbar tersebut mencoba menenangkan Artemis dengan mengatakan akan menjelaskan tentang perjanjian antar negeri Lightio dan Machora Tira sebelum beraliansi.
***
Setelah beberapa saat, Artemis pun kembali duduk setelah amarahnya telah redah.
“Lucierence, sekarang bicaralah tentang hal yang ingin kau katakan,” ucap Artemis, menyuruh Lucierence untuk menjelaskan tentang perjanjian antara negeri Lightio dan negeri Machora Tira.
“Sudah sekitar lima belas tahun lebih kau tinggal di tempat ini setelah meninggalkan kota Hawkingson…”
“Kau pasti tidak terlalu tahu apa yang selama ini terjadi antara Lightio dan Machora Tira?” Ucap Lucierence.
Pria itu pun menjelaskan bahwa dimulai dari sekitar sepuluh tahun kebelakang hingga hampir setahun yang lalu, negeri Lightio serta negeri Machora Tira sering berseteruh dan sering terjadi konflik peperangan.
Tujuan dari Machora Tira memulai perseteruhan tersebut yaitu karena ingin mengincar kekuatan kesuburan abadi dari seekor naga yang mendiami wilayah barat laut Lightio. Kekuatan tersebutlah yang juga telah diberikan kepada Zchaira.
Karena selama hampir sepuluh tahun terus-terusan berkonflik, Lightio memutuskan untuk mempertemukan para petinggi kedua negeri tersebut dengan berunding menawarkan sesuatu yang tidak kalah dengan kekuatan yang mereka incar.
Para petinggi Machora Tira menyutujui hal tersebut dan akhirnya menjalin aliansi sebagai bukti kesepakatan mereka.
“Jadi apa yang ingin kalian berikan pada mereka?” Tanya Artemis.
“Batu kristal yang menyimpan kekuatan penuh dari makhluk suci,” jawab Hefaistos.
“Apa…? Tapi, bukannya benda itu sudah tidak dimiliki oleh clan Silkbar lagi?” Ucap Artemis, seketika terkejut mendengar jawaban dari Hefaistos.
“Iya, untuk sekarang kita tidak memilikinya, namun aku sudah mengetahui lokasi benda tersebut berada dimana. Tinggal menunggu waktu yang tepat agar kami bisa mengambilnya.”
Sebagai clan yang diklaim menjadi yang terkuat diantara para clan-clan penyihir Lightio lainnya, clan Silkbar tentu memiliki kemampuan khusus yang lebih kuat, yang membedakan mereka dari lain.
Clan Silkbar sejak dulu memiliki kemampuan lebih dalam menggunakan sihir penyegelan mereka untuk memasukkan kekuatan besar ke dalam suatu benda mati.
Dari semua kekuatan besar yang telah mereka segel ke dalam wadah mati, terdapat sebuah kekuatan penuh dari makhluk suci tingkatan World Venerate yang tersegel di dalam sebongkah batu kristal.
Saat peperangan benua Aizolica di perbatasan negeri Lightio dan Machora Tira sekitar tiga puluh tahun yang lalu, benda tersebut berhasil diambil oleh pasukan Machora Tira.
Sejak negeri Machora Tira dikalahkan, benda tersebut tidak pernah terlihat lagi. Machora Tira serta negeri aliansinya mereka mengatakan bahwa benda tersebut telah diambil kembali oleh pihak negeri Lightio.
“Siapa yang memiliki batu itu?” Tanya Artemis lagi.
“Aku yakin yang mengambilnya waktu itu adalah pasukan Fuegonia…” Kini Lucierence pun yang menjawab pertanyaan dari Artemis.
“Setelah mengalahkan pasukan Machora Tira yang terakhir waktu itu, mereka mengambilnya tanpa memberitahu kami,” lanjut pria itu berkata.
“Aku yakin jika benda itu diambil oleh mereka, maka yang akan menyimpannya adalah Rox Drown…” Ucap Lucierence, menyebut salah satu Venerate dari negeri Fuegonia.
***
Berpindah di luar ruangan, Lucia gadis Vampireman yang merupakan putri dari Silvan akhirnya tersadar dari pingsannya.
Disaat gadis itu membuka mata, dia seketika bangun dan langsung menyadari bahwa para Vampireman kini terkumpul di satu tempat dengan dikelilingi oleh sebuah aksara-aksara rune yang menyala-nyala disekeliling mereka.
“Ada apa ini?” Tanya gadis itu nampak kebingungan.
“Kita terkurung di tempat ini dan tidak bisa kabur sekalipun menggunakan teknik teleportasi,” ucap Joker.
Tidak percaya dengan ucapan dari saudaranya tersebut, Lucia mencoba menggunakan teknik teleportasinya dan seketika menghilang.
Seperti yang dikatakan oleh Joker bahwa mereka tidak bisa keluar, gadis itu pun muncul kembali dengan menabrak sebuah dinding tak kasat mata dari aksara rune tersebut.
“Hahaha… Lihat dia…” Tiba-tiba terdengar tawa dari seseorang ketika Lucia gagal keluar dari penghalang tersebut.
Ternyata bukan hanya terkurung oleh sebuah teknik penghalang tak kasat mata, para Vampireman juga kini dijaga oleh para warga yang berada didekat mereka.