
Megathirio kemudian merasa bingung melihat Astrapi hanya diam tidak mengucapkan selamat kepadanya atau mengatakan sesuatu karena dirinya telah berhasil mencapai Land Venerate.
Karena megharapkan ucapan selamat dari kakak perempuannya itu, Megathirio pun datang menghampiri Astrapi, lalu merangkul pundak perempuan tersebut sambil memperlihatkan ekspresi tersenyum.
“Ekh…” Karena tiba-tiba dirangkul oleh adik yang selalu menggodanya tersebut, Astrapi pun langsung kembali merasa canggung kepada adiknya itu.
“Hei cantik… Apa kau tidak mau memberiku selamat karena sudah berhasil mencapai tingkatan Land Venerate?” Tanya Megathirio.
“Selamat karena sudah berhasil naik tingkatan,” jawab Astrapi, mengatakan seadanya pada adiknya tersebut, karena masih merasa canggung.
**
“Apa kalian tidak merasa bahwa kakak Megathirio menggoda kakak Astrapi terlalu berlebihan? Bahkan jika kuperhatikan kakak Astrapi sepertinya tidak merasa nyaman dengan hal itu,” Tanya Zchaira pada Rayvor dan Flogaz, mulai merasa curiga karena selalu melihat Megathirio menggoda Astrapia hampir setiap kali mereka bertemu.
“Kurasa kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, karena mungkin kakak Megathirio ingin mencoba akrab kepada kakak Astrapi karena walaupun mereka bersaudara, baru akhir-akhir ini mereka kembali bertemu,” jawab Rayvor, merasa bahwa hal tersebut masihlah sesuatu yang biasa-biasa saja.
*
“Dasar Rayvor bodoh… Aku yakin kalau kakak Megathirio itu kemungkinan sempat menyukai kakak Astrapi… Dan aku yakin dia selalu menggodanya karena melihat kakaknya itu sebagai perempuan.” Namun, Flogaz memiliki pendapat yang berbeda mengenai Megathirio, karena sempat mendengar pernyataan dari pemuda itu yang sebenarnya menyukai Astrapi.
“Walaupun sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama,” ucap Flogaz dalam hati sambil memperhatikan Zchaira.
**
“Kakak… Apa hanya begitu saja ucapan selamat darimu?” Tanya Megathirio, mengharapkan hal yang lebih.
“Apa lagi yang harus kukatakan? Aku kan sudah memberikan selamat kepadamu,” ucap Astrapi, mulai merasa kesal karena adiknya laki-lakinya itu selalu membuatnya tidak nyaman.
“Jadi kau menginginkan sesuatu yang lebih… Kalau begitu bagaimana jika kita pergi ke kota Xemico untuk merayakan keberhasilanmu itu.”
“Apa mungkin kita bisa keluar lagi?”
Untung saja disaat bersamaan, Illios menawarkan kepada Megathirio untuk merayakan kesuksesan dari Megathririo, yang membuat pemuda itu lantas merasa bersemangat hingga tanpa disadari langsung melepas rangkulan tangannya dari Astrapi.
“Apa benar kita akan melakukannya kakak?” Tanya Megathirio kepada Illios.
“Tentu saja…” Jawab Illios.
“Illios, apa-apaan kau? Mereka tidak bisa diijinkan keluar walaupun bersama kita sekalipun.” Mendengar hal tersebut, Kral pun langsung memperingati Illios bahwa hal tersebut tidaklah diijinkan oleh para tetua maupun guru-guru akademi sihir.
“Kakak, karena selalu taat pada peraturan akademi sihir ini, kau bahkan tidak pernah merasakan kesenangan satu kali pun untuk mencoba kabur…” Namun, Illios pun tidak memperdulikan peringatan dari Kral, dan lantas mengungkit hal-hal yang selalu dijalani pria itu sewaktu masih berada di kelas yang rendah dibandingkan kelas Continent Venerate.
“Kau tidak usah takut… Ayo kita berangkat sekarang… Semuanya ayo ikut kami…” Ucap Illios, menyuruh para saudaranya untuk mengikutinya sambil mendorong kakaknya Kral.
“Hei… Apa benar kita bisa melakukan hal ini?” Tanya Kral, karena merasa ragu dengan hal yang akan mereka lakukan.
“Sudah tenang saja kakak… Kau tidak perlu khawatir,” jawab Illios, meyakinkan kakaknya tersebut.
***
Beberapa saat kemudian, setelah keluar dari ruangan aula yang luas sebelumnya, Astrapi tiba-tiba melihat Lucia nampak sedang sendirian.
“Kau Lucia kan, adiknya Joker?” Tanya Astrapi.
“Iya… Ada apa? Kakak Astrapi kan?” Jawab Lucia, kemudian bertanya balik kepada Astrapi.
“Ikutlah dengan kami sekarang… Setidaknya kau juga harus melihat-lihat kota Xemico…” Tanpa pikir panjang Astrapi langsung menarik Lucia untuk ikut bersama dengan mereka pergi ke kota Xemico.
“Kota Xemico… Berarti maksudmu kita akan keluar dari akademi sihir ini?” Lucia pun nampak terkejut ketika mendengar bahwa Astrapi akan mengajaknya ke kota Xemico.
“Tenang saja, karena bersama dengan para murid-murid Continent Venerate, kau dan yang lain tidak akan terkena masalah.”
“Jadi sebenarnya kita akan melakukan apa sampai-sampai harus pergi ke kota Xemico?”
“Untuk merayakan atas keberhasilan Megathirio telah mencapai tingkatan Land Venerate.”
“Apa?” Mendengar hal tersebut, Lucia pun lantas terkejut serta langsung merasa tidak nyaman karena dirinya bersama dengan pemuda itu sempat mengalami masalah berulang kali.
Setelah Astrapi datang membawa Lucia bergabung dengan mereka, Megathirio-lah yang menjadi orang pertama yang nampak terkejut melihat Vampireman perempuan itu.
“Kakak kenapa kau membawanya?” Tanya Megathirio.
“Aku bermaksud untuk menambah jumlah perempuan yang ada… Tidak akan seru jika hanya aku dan Zchaira saja yang ikut,” jawab Astrapi.
“Tidak apa-apa jika kau tidak mau aku untuk ikut…” Ucap Lucia, hendak pergi karena mendengar Megathirio nampak tidak merasa senang ketika melihat dirinya.
Ketika Lucia hendak pergi untuk tidak mau mengikuti mereka ke kota Xemico, tiba-tiba Megathirio langsung menahan tangannya.
“Siapa bilang kau tidak boleh ikut bersamaku?” Ucap Megathirio.
“Maksudku, kakak Astrapi benar bahwa tidak akan seru karena hanya dirinya serta Zchaira sebagai perempuan diantara kami,” lanjut Megathirio berkata, menjelaskan mengenai pernyataan dari Astrapi sebelumnya.
Karena Megathirio tidak merasa kurang senang karena kehadirannya, Lucia pun langsung mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk mengikuti perkataan dari pemuda itu.
Akan tetapi, disamping itu Lucia nampak merasa bingung karena ini kedua kalinya Megathirio nampak bersikap baik kepadanya, berbeda dengan yang sebelumnya, dimana pemuda itu tampak sangat membencinya walau hanya melihat wajah dari Vampireman perempuan itu.
Tanpa disadari oleh Lucia, Megathirio sebenarnya telah menyimpan perasaan kepada Vampireman perempuan itu saat mereka menjalankan misi bersama-sama di daerah Xetas sebelumnya.
**
Kedelapan murid tersebut akhirnya sampai ke tempat yang pernah mereka datangi sebelumnya, dimana terdapat beberapa kendaraan di dalamnya.
“Illios… Apa kau yakin kita benar-benar bisa melakukannya?” Tanya Kral sekali lagi, ingin memastikan hal tersebut karena masih tetap merasa ragu jika para tetua mengetahuinya.
“Tenang saja kakak… Aku bahkan saat masih menjadi murid kelas Land Venerate pernah keluar bersama dengan tuan Arlias dan…” Tiba-tiba ucapan Illios terhenti ketika akan menyebut seseorang yang pernah ikut bersamanya dengan tetua kepala keluar dari akademi sihir.
“Illios, ada apa? Memangnya siapa lagi selain tuan Arlias?” Taya Kral, penasaran melihat adiknya tersebut tiba-tiba berhenti berbicara.
“Orang yang ikut bersama kami itu adalah tuan Anmaguel,” jawab Illios, mengatakan bahwa yang ikut bersamanya juga waktu itu merupakan Anmaguel yang kini sudah tidak lagi menjadi tetua akademi sihir.
Karena mengingat hal tersebut, ekspresi dari Illios nampak murung, tidak menyangka bahwa mantan tetua akademi itu sudah menjadi tahanan negeri Lightio.