
“Pavonas katamu…?” Anmaguel tidak bisa berhenti terkejut mendengar setiap pernyataan yang dikatakan oleh Aiver, dimana tetua akademi sihir itu kini merasa terkejut mendengar bahwa Venerate Pavonas datang ke negeri tersebut, yang bahkan sangat diketahui olehnya merupakan Venerate yang berasal dari negeri yang bertentangan dengan Lightio.
“Ini harus dilaporkan kepada presiden penyihir…”
“Tidak… Jika kita melaporkannya, presiden penyihir bukan hanya akan berusaha mengusir Venerate Pavonas itu, bahkan dia akan berusaha untuk menangani para pembenrontak… Aku tidak mau recana yang telah kubuat matang-matang akan berakhir dengan sia-sia,” ucap Aiver, menyangga ucapan dari Anmaguel.
“Tuan Amaguel… Sudah kubilang bahwa aku membutuhkan bantuanmu karena hanya kau Venerate tingkat atas Lightio yang selalu mempercayaiku,” lanjut Aiver berbicara.
“Aku tidak bisa menjamin, jika kita ketahuan nantinya,” ucap Anmaguel, merasa kurang yakin membantu Aiver dalam masalah tersebut.
“Tenang saja tuan Anmaguel… Tidak ada Venerate lain yang akan mengetahui hal ini.” Aiver pun lantas meyakinkan tetua tersebut agar mau membantunya.
“Untuk saat ini, para pemberontak akan bersembunyi terlebih dahulu selama beberapa minggu… Jika kami telah melakukan pergerakan kembali, maka saat itu kau juga harus datang untuk membantu kami,” ucap Aiver kepada tetua tersebut, kemudian pergi meninggalkan kedai itu.
**
“Astrapi, ayo… Kita ikuti orang itu,” ucap Illios.
“Charlett… Auphia… Tolong jaga mereka,” ucap Astrapi, menyuruh temannya untuk tetap bersama Zchaira dan yang lain.
Perlahan-lahan Illios dan Astrapi mulai berdiri kemudian berjalan melewati Anmaguel yang sedang duduk menghadap ke belakang.
***
Aiver yang masih belum diketahui penyamarannya berjalan di sebuah lorong perkotaan yang nampak sunyi tanpa ada satupun orang-orang yang berlalu-lalang.
**
Dari atas gedung tampak Illios dan Astrapi mengikuti pria yang belum mereka ketahui identitasnya yang merupakan Aiver tersebut. Mereka berjalan perlahan-lahan mengikuti langkah Aiver yang sedang berjalan dibawah, tanpa harus diketahui oleh pria itu.
**
Tiba-tiba Aiver memasang ekspresi senyuman menyiringai di wajahnya karena mengetahui keberadaan Illios dan Astrapi yang sedang membuntutinya. Aiver kemudian mengambil sebuah topeng dari balik jubahnya kemudian memakainya.
Walaupun sebelumnya Illios bersama dengan Astrapi telah mengunakan sihir yang mampu membuat tekanan kekuatan mereka tidak dapat terdeteksi oleh Venerate lain, namun kali berbeda, dimana Aiver dengan mudah dapat mengetahui bahwa dirinya sedang diikuti dengan hanya mendengar suara langkah kaki Illios dan Astrapi yang sedang berada di atas gedung.
Tiba-tiba Aiver dalam sekejap melancarkan serangan proyeksi energi sihirnya ke arah Illios dan Astrapi.
“Akh…” Illios dengan mudah menghindar, namun Astrapi yang tidak mengira serangan tersebut sontak diterima oleh perempuan itu hingga membuatnya terjatuh dari atas gedung yang tinggi.
“Astrapi…” Dengan sigap Illios pun melompat untuk menolong saudaranya yang sedang terjatuh.
Illios menggapai Astrapi hingga saudara perempuannya itu bisa mendarat ke permukaan dengan baik. Disaat menurunkan Astrapi, tiba-tiba Aiver meluncur ke arah mereka berdua sambil melancarkan serangan proyeksi energi sihir berwarna hitam.
“Difesa sillabare…” Dengan sigap Illios menciptakan sebuah perisai dari proyeksi energi sihirnya untuk menahan serangan dari Aiver.
Illios pun terkejut ketika perisai proyeksinya terserap oleh serangan proyeksi milik Aiver. Dengan sigap Illios melompat sambil memegang Astrapi untuk menghindar dari serangan yang dilancarkan oleh Aiver.
“Apa-apaan serangan itu?” Ucap Illios masih terkejut dengan serangan yang dilancarkan oleh Aiver.
Tiba-tiba Aiver melancarkan serangan proyeksi energi berwarna hitam itu kembali ke arah Illios.
“Difesa sillabare… Holy eldritch shield…” Dengan refleks, Astrapi langsung meciptakan sebuah perisai proyeksi yang lebih kuat hingga serangan tersebut mampu tertahan hingga seketika lenyap.
Melihat hal tersebut, Illios pun langsung menarik kesimpulan bahwa serangan proyeksi energi hitam dari orang misterius itu bisa ditahan menggunakan teknik sihir lanjutan mereka.
Masih belum puas, orang misterius yang merupakan Aiver tersebut kembali melancarkan serangan proyeksi energi berwarna hitamnya ke arah Illios dan Astrapi.
“Incantesimo segreto… Coup de poignard…” Dengan cepat Illios meluncur ke arah serangan tersebut dengan mengacungkan salah satu tangannya ke depan.
Dalam sekejap proyeksi energi sihir melapisi tubuh Illios dengan berfokus pada tangan yang diacungkannya ke depan.
Serangan proyeksi energi hitam itu seketika lenyap ketika Illios melewatinya.
“Difesa sillbare…”
“Akh…” Dengan refleks Aiver menciptakan sebuah perisai proyeksi untuk menahan serangan Illios, namun hal tersebut percuma karena serangan Illios dengan mudah dapat menghancurkan perisai proyeksinya hingga Aiver pun terhempas ke jarak yang cukup jauh.
“Incantesimo segreto… Coup de sabrer…”
Belum puas, kini Illios meluncur mendekati Aiver dan langsung melancarkan serangan tebasan proyeksi, namun dengan sigap Aiver langsung menghindari serangan tersebut. Aiver mengangkat salah satu tangannya ke arah Illios, menciptakan sebuah pancaran energi sihir berwarna hitam hingga Illios pun tiba-tiba tidak bisa menggerakan tubuhnya.
Illios tampak kebingungan ketika tubuhnya tidak bisa bergerak. Seberapa kuat pun pria itu berusaha keras, namun dirinya tetap tidak bisa menggerakan tubuhnya tersebut.
Saat Astrapi meluncur ke arah Aiver untuk menyerangnya, tiba-tiba Aiver langsung mengangkat salah satu tangannya ke arah Astrapi, mengeluarkan sebuah pancaran energi berwarna hitam dari tangannya, yang membuat Astrapi saat itu juga seketika tidak bisa menggerakan tubuhnya.
“Ekh… Teknik macam apa ini?” Ucap Astrapi, bertanya-tanya tentang teknik yang digunakan oleh orang misterius yang merupakan Aiver itu.
“Maaf, tapi kalian belum bisa mengetahui siapa aku sebenarnya,” ucap Aiver dari balik topeng yang dipakainya.
“Libera sillabare…” Aiver mengakses sihir ruangnya hingga membuat pria itu dalam sekejap menghilang dari tempat itu.
Ketika pria tersebut menghilang, Illios dan Astrapi seketika kembali dapat menggerakan tubuh mereka.
Walaupun kesal harus kehilangan orang misterius itu, namun kedua bersaudara itu merasa legah bisa selamat kali ini.
Karena gagal mengetahui identitas sebenarnya dari orang misterius yang memakai topeng itu, Illios serta Astrapi pun kemudian kembali.
***
Illios bersama Astrapi sampai ke dalam kedai dan langsung menghampiri Zchaira dan yang lain.
“Bagaimana dengan tuan Anmaguel?” Tanya Illios.
“Dia sudah pergi dari tadi sejak kalian pergi menyusul orang misterius tadi,” jawab Auphia.
“Baiklah, ayo sekarang kita juga kembali ke akademi sihir,” ucap Illios, mengajak semuanya untuk beranjak.
***
Dalam perjalanan menuju akademi sihir, Illios terus memikirkan tentang orang misterius yang tidak sempat dia ketahui identitasnya tersebut, ditambah dengan kemampuan aneh yang digunakan oleh orang misterius tersebut. Illios yakin bahwa orang misterius itu merupakan Venerate Lightio karena melihatnya beberapa kali menggunakan teknik sihir yang biasa digunakan oleh para Venerate Lightio.