
Disaat Venerate itu menghindari serangan Megathirio, ternyata Toner telah bersiap untuk menyerang Venerate tersebut.
“Uakh…!” Toner dalam sekejap melancarkan serangan tebasan proyeksi energi bernwarna emas dari tongkat sabitnya, hingga Venerate tersebut seketika menerimanya dan terhempas menjebol dinding, keluar dari dalam kedai tersebut.
**
Di sisi lain, Lucia, Andras dan Shaevanjoe berusaha melancarkan serangan proyeksi dari senjata suci mereka masing-masing, namun hal tersebut tetap percuma dikarenakan Venerate yang dihadapi oleh mereka seketika melancarkan serangan proyeksi energi berwarna hitam, yang membuat serangan dari ketiga murid tersebut seketika lenyap.
Ketika serangan proyeksi energi hitam itu dengan ceppat meluncur ke arah Lucia dan yang lain, tiba-tiba Flogaz maju dan langsung mengacungkan tombak senjata sucinya ke depan, memunculkan sebuah serangan proyeksi elemen api berwarna hitam, yang sontak melenyapkan serangan proyeksi dari Venerate tersebut.
Melihat serangan tersebut mampu mengungguli serangan dari Venerate tersebut, Flogaz pun sambil memfokuskan kekuatan elemen api hitam dari senjata sucinya ke bagian ujung tombak tersebut.
Dengan lincah Flogaz mengayunkan tombaknya dengan kobaran api hitam tersebut, hingga Venerate yang berhadapan dengannya tidak lagi melancarkan serangan proyeksi energi hitam yang mampu menyerap serangan proyeksi dari yang lain.
Akan tetapi, dikarenakan kemampuan bertarung Flogaz masih lemah dibandingkan dengan Venerate tersebut, pemuda itu pun lantas mulai tidak bisa mengimbangi kemampuan dari Venerate yang berhadapan dengannya.
Hal itu pun langsung membuat Lucia, Andras dan Shaevanjoe maju secara bersamaan, dan secara bergantian melancarkan serangan proyeksi mereka masing-masing, sambil berharap Venerate yang berhadapan dengan mereka tidak akan melancarkan serangan proyeksi energi hitamnya karena Flogaz mampu menangani hal tersebut.
Mereka berempat pun mengeroyok Venerate itu hingga perlahan-lahan Venerate tersebut mulai kewalahan.
Melihat sebuah kesempatan, Andras pun sejenak mundur untuk menyerap energi yang berada di alam masuk ke dalam tongkat sabit miliknya hingga seketika memancarkan pancaran proyeksi energi berwarna merah.
“Semuanya menyingkir…!” Teriak Andras, menyuruh Lucia, Flogaz dan Shaevanjoe yang masih berusaha menyerang Venerate itu untuk menyingkir.
Ketika ketiga murid akademi itu pun menyingkir, Andras dengan cepat langsung mengibaskan tongkat sabitnya, meluncurkan sebuah serangan tebasan proyeksi energi berwarna merah.
“Akh!” Tidak menyadari serangan dari pemuda itu, Venerate tersebut lantas menerimanya dan langsung membuat terhempas kemudian terkapar di dekat rekannya yang barusan diserang oleh Toner dan yang lain.
“Grovenzo, ayo berdiri…” Venerate yang menggunakan senapan gentel kemudian membantu rekannya yang dalam keadaan lemah untuk berdiri kembali, walaupun dirinya juga tampak dalam keadaan lemah untuk berusaha berdiri.
Setelah kembali berdiri mereka kemudian bersiaga dari serangan yang akan dilancarkan oleh para murid-murid akademi itu.
Pandangan mereka sontak menjadi lebih fokus lagi, memperhatikan Toner, Megathirio dan Rayvor yang berada di sebelah kiri, serta Lucia, Andras, Shaevanjoe dan Flogaz yang berada di sebelah kanan.
“Ini memalukan… Tapi, aku akui bahwa kemampuan bocah-bocah ini memang hebat, walaupun mereka suka mengeroyok,” ucap Venerate bernama Grovenzo, yang menggunakan dua pistol di tangannya.
“Apa kita kau mau menggunakan kekuatan yang lebih besar untuk melawan mereka?” Tanya rekan Venerate-nya, yang menggunakan sebuah senapan gentel.
“Tentu saja… Kita tidak boleh meremehkan mereka, walau berada di tingkatan yang lebih tinggi,” jawab Venerate bernama Grovenzo.
Setelah menjawab pertanyaan dari rekannya, Venerate bernama Grovenzo itu lantas berkonsentrasi untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua dari dua pistol yang merupakan senjata suci miliknya.
Begitu juga dengan Venerate yang satunnya, dimana dia juga kemudian berkonsentrasi untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua dari senjata sucinya yang merupakan senapan gentel, yang kini dipegangnya.
**
“Ini gawat… Mereka akan mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua,” ucap Toner, nampak khawatir melihat hal yang akan dilakukan oleh kedua Venerate pemberontak itu.
Toner pun langsung meluncur bersama dengan Megathirio dan Rayvor untuk berusaha menghentikan kedua Venerate tersebut.
**
Melihat Toner dan yang lain, Lucia, Andras, Shaevanjoe bahkan Flogaz pun langsung mengikuti mereka meluncur untuk membantu berusaha menghentikan kedua Venerate itu.
“I defteri ekdosi… Libenuz the light breaking…”
“I defteri ekdosi… Escaroble the scarlet oaken…”
Megathirio dan enam murid lainnya seketika terhempas ketika proyeksi energi dari senjata suci dari kedua Venerate itu seketika memancar keluar dan menyelimuti tubuh kedua Venerate tersebut.
Setelah proyeksi energi dari masing-masing Venerate itu mulai lenyap, kedua Venerate tersebut lantas mengalami perubahan wujud, dimana pria bernama Grovenzo yang sebelumnya memegang dua buah pistol, kini mengenakan sebuah baju zirah dengan sebuah kain syal panjang yang melingkari lehernya. Venerate tersebut juga mengenakan sebuah penutup mulut besi sambil memegang dua buah pistol yang memiliki ukuran lebih besar dari sebelumnya.
Sedangkan untuk Venerate bernama Olirvine, kini mengenakan sebuah jubah panjang dan topi bertepi berwarna merah sambil memegang sebuah senapan yang lebih panjang dilengkapi oleh sebuah pisau di ujung larasnya.
**
“Sial… Kita mati sekarang,” ucap Toner, tampak tidak percaya harus melawan dua Venerate yang telah mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua mereka masing-masing.
Pemuda itu pun kini menjadi putus asa karena mustahil untuk mengimbangi kekuatan dari Venerate walaupun jumlah mereka tampak lebih banyak dibandingkan dengan mereka. Hal lain yang membuat Toner putus asa dikarenakan hanya dirinyalah yang merupakan murid Land Venerate dan satu-satnya murid yang bisa menggunakan kekuatan pelepasan kedua.
**
Dalam sekejap dua Venerate itu bergerak dengan cepat mendekati para murid-murid akademi sambil mengacungkan senjata api mereka.
“Cepat kalian lari… Biar aku yang menahannya.” Dengan cepat Toner pun langsung menepis acungan senjata api mereka sambil menyuruh murid yang lain untuk pergi melarikan diri.
Sejenak semuanya terdiam, merasa khawatir jika pemuda tersebut harus menangani dua Venerate itu sendirian.
“Ayo cepat… Daripada kita harus mati disini.” Akan tetapi, Megathirio langsung meyakinkan murid yang lain untuk pergi dari tempat itu sembari Toner menghalangi musuh mereka.
“Ekh…” Megathirio pun langsung berlari lebih dulu sambil menarik tangan Lucia pergi bersama dengannya.
Para murid yang lain pun tidak memiliki pilihan selain membiarkan Toner menangani dua Venerate tersebut.
***
Di sisi lain, Zchaira, Wenra dan Dorolia menunutun para warga untuk sementara meninggalkan kota tersebut untuk mengamankan mereka terlebih dahulu.
Mereka semua dengan mulus berlari keluar dari dalam kota akibat semua Venerate pemberontak telah dikalahkan satu per satu oleh Toner dan yang lain sebelumnya. Hanya tersisa dua Venerate yang sedang dilawan oleh Toner sekarang, namun hal tersebut nampak sulit karena kemampuan mereka jauh berbeda dengan para Venerate pemberontak lain.
***
Beberapa kilometer dari arah selatan, tampak dua teman Toner, Eliadryn dan Pedrobal sedang berjalan mendekati kota.