
“Eh sial… Orang ini bikin malu saja… Hentikan Aphrodia-mu itu. Berapa kali pun kau memanggilnya dia tidak akan mendengar teriakanmu,” ucap Illios kepada kakaknya tersebut.
Astrapi pun langsung membungkukkan tubuhnya ke arah orang-orang yang berada di dalam kedai tersebut untuk meminta maaf karena kakak pertamanya tersebut sempat membuat terkejut mereka semua.
Setelah meminta maaf, para murid-murid akademi sihir kemudian langsung pergi meninggalkan kedai tersebut.
***
Beberapa saat kemudian, setelah mereka sampai di tempat parkir kendaraan yang mereka naiki untuk menuju ke kota itu, Illios dan Megathirio pun langsung memasukkan Kral ke bagian belakang salah satu kendaraan.
Setelah memasukkan kakak pertama mereka, Astrapi pun masuk ke dalam kendaraan tersebut, yang sebelumnya dikemudikan oleh Illios, sementara untuk Illios sendiri akan mengemudikan kendaraan yang sebelumnya dibawah oleh Kral.
Zchaira masuk ke dalam kendaraan yang akan dikemudikan oleh Astrapi untuk menemani Kral yang duduk di bagian belakang, sementara Lucia masuk ke dalam kendaraan tersebut, dan duduk disamping kursi pengemudi.
Setelah semua orang yang berada di dalam kendaraan itu telah naik, Astrapi kemudian menjalankan kendaraan tersebut meninggalkan Illios dan yang lain menuju ke akademi sihir.
“Ayo kita juga naik…” Illios kemudian menyuruh Megathirio, Rayvor dan Flogaz untuk naik ke kendaraan yang satunya untuk segera menyusul Astrapi dan yang lain.
Mendengar hal tersebut, Megathirio pun naik ke bagian belakang kendaran bersama dengan Rayvor, sementara Flogaz naik ke bagian depan disamping Illios yang akan mengemudikan kendaraan tersebut.
Setelah semuanya telah naik ke dalam kendaraan, Illios pun langsung menjalankan kendaraan tersebut menyusul Astrapi dan lain yang sudah terlebih dahulu menuju ke akademi sihir.
***
Berpindah ke kendaraan yang dikemudikan oleh Astrapi, dimana ketika kendaraan tersebut berbelok, Kral yang sedang tidur ke sandaran Zchaira yang berada di sampingnya.
Sejenak Zchaira terkejut hingga merasa canggung ketika Kral tiba-tiba tersandar ke pundaknya, namun gadis itu perlahan-lahan mulai merasa biasa saja dan tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
“Aphrodia…” Sontak Kral pun kembali mengigau menyebut nama Aphrodia lagi.
“Aku Zchaira kakak…”
“Aphrodia…” Gumam Kral sekali lagi.
Karena merasa risih dengan hal tersebut, Zchaira pun merasa kesal hingga langsung mendorong kakak pertamanya itu sampai tersandar kepintu yang berada di dekatnya.
Setelah itu Zchaira pun tidak peduli lagi entah apa pria itu akan kembali mengigau menyebut Aphrodia kembali sambil merasakan bahwa dia sedang dalam sandaran perempuan yang disukainya itu, yang padahal sebenarnya dirinya kini sedang bersandar di pintu kendaraan.
***
Waktu pun berlalu, dimana kedua kendaraan yang masing-masing dikemudikan oleh Illios dan Astrapi telah sampai di tempat parkir di dalam akademi sihir.
Setelah sampai, Illios dan Megathirio langsung turun dari kendaraan mereka kemudian mengeluarkan Kral dari kendaraan yang sebelumnya di kendarai oleh Astrapi.
Mereka semua kemudian masuk berjalan ke dalam akademi sihir sembari Illios dan Megathirio sedang membawa Kral.
**
“Terima kasih semua untuk hari ini… Klau begitu, aku pamit terlebih dahulu.” Saat akan berpisah menuju ke asrama mereka masing-masing, Lucia menyempatkan diri untuk berterima kasih, kemudian berpamitan pergi meninggalkan mereka semua.
“Kakak, tolong gantikan aku… Akum au mengatakan sesuatu kepada Lucia.” Ketika melihat Lucia perlahan-lahan meninggalkan mereka, Megathirio pun lantas menyuruh Astrapi untuk menggantikannya memegang Kral.
Zchaira, Rayvor serta Flogaz kembali terkejut melihat Megathirio hendak menemui Lucia, namun tetap percaya bahwa kali ini kakak mereka tersebut tidak akan bersikap kasar kepada Vampireman perempuan itu.
Karena tidak mau mengganggu Megathirio yang ingin berbicara bersama dengan Lucia, Zchaira, Rayvor serta Flogaz pun mendorong Illios dan Astrapi yang sedang membawa Kral meninggalkan tempat tersebut.
**
“Lucia…” Panggil Megathirio.
Saat mendengar seseorang memanggilnya dari belakang, Lucia pun lantas menoleh, dan langsung terkejut mengetahui bahwa orang yang memanggil tersebut, tidak lain merupakan Megathirio.
“Megathirio… Ada apa?” Ucap Lucia sambil bertanya mengapa pemuda itu datang menemuinya.
“Begini, eh…” Ketika akan berbicara dengan Lucia, Megathirio menyempatkan diri memperhatikan sekitaran tempat tersebut, yang ternyata tidak ada orang berada di sekitar.
“Untuk apa aku memperhatikan sekitaran… Lagipula aku hanya mau berbicara saja dengannya,” gumam Megathirio.
“Lucia, sebenarnya aku ingin meminta maaf karena selama ini aku selalu bersikap kasar kepadamu… Karena mengetahui bahwa kau adalah ras keturunan campuran…” Ucap Megathirio, ternyata ingin meminta maaf kepada Lucia mengenai perlakuan kasarnya yang selama ini dibuatnya pada Vampireman perempuan tersebut.
“Ternyata aku sadar bahwa walaupun kau kalian sempat menyerang untuk mengincar Zchaira sebelumnya… Namun, setelah itu ternyata kalian sudah diberi kepercayaan oleh beberapa Venerate Lightio menjadi bagian dari kami… Jika saja para petinggi bisa menerima hal itu, kenapa aku juga tidak…”
“Setidaknya aku ingin meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal yang buruk lagi kepadamu… Tenang saja Lucia, aku tidak akan pernah memberitahukan identitasmu sebenarnya kepada yang lain, karena sekarang aku telah menganggapmu sebagai penyihir negeri Lightio,” ucap Megathirio secara panjang lebar, menjelaskannya kepada Vampireman perempuan itu.
Mendengar hal tersebut, Lucia pun hanya bisa terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Vampireman perempuan itu tidak menyangka bahwa pemuda yang berada di depannya tersebut ternyata bisa mengubah sikap kasarnya yang selama ini ditunjukkan olehnya.
“Tapi, aku tidak mau menerima setelah kau melakukan satu hal ini,” ucap Lucia, tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Megathirio pun lantas terkejut.
“Eh… Apa itu? Katakan saja apa yang harus kulakukan?” Tanya Megathirio, penasaran dengan syarat yang akan diberikan oleh perempuan itu.
“Karena kau sudah berada di kelas Land Venerate, maka kau harus mengajarkanku bagaimana menguasai teknik sihir lanjutan… Aku pernah melihatmu saat sedang berlatih teknik tersebut, dan merasa ingin sekali menguasainya juga,” jawab Lucia.
“Ekh… Apa memang hanya itu syaratnya?” Tanya Megathirio sekali lagi, karena hal tersebut seperti dirasanya belum sebanding dengan permintaan maaf darinya.
Lucia pun langsung menganggukkan kepalanya, merespon pertanyaan dari Megathirio sambil memasang ekspresi tersenyum diwajahnya.
Melihat senyuman perempuan itu, Megathirio pun lantas merespon balik dengan menunjukkan ekspresi tersenyum juga.
“Baiklah… Mulai besok kita aku akan membantumu menguasai teknik sihir itu…” Ucap Megathirio.
“Kalau begitu sampai jumpa lagi…” Lanjut Megathirio, pergi meninggalkan Lucia sambil melambaikan tangan ke arah perempuan tersebut.
Lucia pun lantas merespon balik lambaian tangan pemuda tersebut sambil tetap memasang ekspresi senyuman di wajahnya.
***
Beberapa saat kemudian, Megathirio sampai di depan asrama murid laki-laki kelas Regional Venerate.
Sebelum masuk, dirinya menyempatkan diri untuk memikirkan kembali senyuman Lucia yang nampak tidak bisa dilupakan olehnya.