
“Aku adalah…”
“Perkenalkan nyonya Artemis… Namaku adalah Haniwa dari clan Bloodshifter daerah Calfarinai… Sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu dengan salah satu pemimpin negeri Lightio, serta orang tua dari kakak Zchaira,” ucap Haniwa memperkenalkan dirinya kepada Artemis.
“Oh, kau dari clan Bloodshifter rupanya…” Respon Artemis, nampak senang melihat Haniwa tersebut, dan tidak mementingkan bahwa anak laki-laki tersebut berasal dari wilayah barat negeri Lightio.
Disamping itu, Flogaz terlihat nampak kesal karena sebenarnya dirinya hendak memperkenalkan diri terlebih dahulu, namun sempat dipotong oleh Haniwa, akan tetapi pemuda itu tetap bersikap tenang di depan Artemis.
“Bibi… Maksudku, nyonya Artemis… Perkenalkan namaku adalah Flogaz dari clan Silkbar daerah Workyen… Aku sebenarnya adalah adik dari Rayvor,” ucap Flogaz memperkenalkan dirinya juga kepada Artemis.
“Ternyata kau Flogaz… Pantas saja wajahmu tampak tidak asing. Jika dilihat-lihat kau memang mirip dengan ibumu, namun warna rambutmu mirip dengan ayahmu,” respon Artemis, tersenyum sambil membahas kemiripan Flogaz dengan Lucierence dan Flophia, ayah serta ibu dari pemuda tersebut.
“Terima kasih nyonya Artemis… Banyak orang yang mengenal ayah dan ibuku mengatakan hal yang sama sepertimu,” balas Flogaz.
“Kurasa kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan formal Flogaz…”
“Ini juga berlaku untuk kalian Haniwa serta Aphrodia…”
Mendengar hal tersebut, Aphrodia pun lantas terkejut karena tidak mungkin untuknya harus memanggil Artemis yang merupakan salah satu pemimpin negeri Lightio tanpa sebutan formal.
“Baik bibi…”
Aphrodia pun sontak menjadi lebih terkejut lagi ketika mendengar Haniwa menyebut Artemis tanpa sebutan formal.
Tak berapa lama, Artemis pun menatap perempuan itu dengan tatapan wajah yang terlihat serius.
“Maaf nyonya Artemis… Apa ada yang salah denganku?” Tanya Aphrodia, nampak tegang ketika Artemis menatapnya.
“Aphrodia… Sudah kubilang sebelumnya bahwa tidak perlu memanggilku dengan sebutan formal… Sekarang aku mau mendengarmu menyebutku dengan sebutan bibi,” ucap Artemis, nampak sedikit memaksa pada perempuan itu.
“Baik… Bibi…” Karena merasa tegang Aphrodia pun lantas mengikuti perkataan Artemis, memanggil wanita itu dengan sebutan bibi.
“Bagus sekali sayang… Kau sebenarnya bisa memanggil dengan sebutan ibu jika kau mau,” respon Artemis nampak senang mendengar hal tersebut sampai membuatnya mendekati Aphrodia, lalu mengelus-elus kepada perempuan itu.
Aphrodia pun hanya bisa terdiam sambil wajahnya perlahan-lahan memerah, tidak sanggup lagi menahan rasa canggung di depan ibu dari pria yang disukai olehnya.
Begitu juga dengan Kral yang nampak canggung dengan suasana tersebut, karena melihat kelakuan dari ibunya tersebut.
*
“Ibu sepertinya menyetujui kakak Kral memiliki sebuah hubungan dengan kakak Aphrodia… Apa mungkin hal itu bisa berlaku untukku juga?”
Saat melihat Artemis nampak menyukai Aphrodia, di dalam benak Astrapi terbesit bahwa kemungkinan orang yang disukai oleh perempuan itu bisa juga disukai oleh ibunya tersebut.
**
“Maaf mengganggu momen bahagia kalian… Tapi aku ingin permisi dulu, karena ingin pergi ke suatu tempat,” ucap Zchaira, tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
“Aku ingin pergi ke pegunungan yang berada disana untuk menemui naga Shydhie,” jawab Zchaira.
“Apa?” Mendengar jawaban tersebut, Artemis pun langsung terkejut, hingga membuatnya berdiri dari tempat duduknya.
“Kalau begitu, ibu ikut denganmu.” Sontak Artemis pun langsung menunjuk dirinya untuk ikut bersama dengan putrinya tersebut pergi ke pegunungan tempat sang naga merak tinggal.
“Baik…” Zchaira pun hanya bisa menyetujui hal tersebut, dan tidak bisa menolak ucapan dari ibunya yang ingin ikut.
“Astrapi ayo ikut…” Ucap Artemis, menyuruh putrinya yang satunya untuk ikut.
“Kalian berdua tetap disini untuk menjaga yang lain…” Lanjut wanita itu berkata, menyuruh kedua putra sulungnya untuk menjaga keempat murid akademi sebelum pergi meninggalkan penginapan tersebut.
“Baik nyonya Artemis… Kami pasti akan menjaga mereka dengan baik,” respon Illios, menyetujui perintah dari ibunya dengan senang hati.
***
Beberapa saat kemudian, Zchaira bersama dengan Artemis dan Astrapi tiba di pegunungan tersebut, dan sontak langsung menemui naga merak yang memang sudah siap untuk melatih Zchaira, sesuai dengan janjinya pada kemarin malam.
Ketika melihat naga merak tersebut, Astrapi lantas menjadi tegang, berbeda dengan Zchaira yang nampak merasa senang melihat naga tersebut, serta Artemis yang nampak menunjukan ekspresi wajah serius, tidak merasa takut oleh intimidasi tekanan kekuatan dari naga merak itu.
“Hmph… Sepertinya aku pernah melihatmu anak perempuan,” ucap Shydhie, merasa tidak asing saat melihat Artemis datang bersama dengan Zchaira dan Astrapi, menemuinya.
“Lama tidak berjumpa tuan naga merak… aku adalah ibu dari Zchaira, yang sekitar enam belas tahun yang lalu pernah meminta kekuatanmu untuk diberikan kepada Zchaira,” ucap Artemis, mengingatkan naga merak tersebut tentang siapa dirinya.
“Jadi kau yah… Dimana si anak laki-laki itu?” Sang naga merak pun langsung mengenali Artemis, sambil bertanya mengenai seorang anak laki-laki, yang dimaksudnya merupakan Hefaistos.
“Maksud anda ayah dari Zchaira… Dia sekarang sedang berada di ibukota Lightio, dan kurasa dia sekarang sedang kebingungan mencariku yang tiba-tiba saja menghilang pergi kemari,” jawab Artemis.
“Begitu yah… Ngomong-ngomong senang berjumpa lagi denganmu anak perempuan,” respon Shydhie, nampak senang melihat Artemis datang menemuinya.
“Senang juga bertemu dengan anda tuan Shydhie… Aku merasa sedikit aneh kau memanggilku dengan sebutan anak perempuan di usiaku yang sudah hampir menyentuh lima puluh tahun,” balas Artemis sambil membahas sebutan Shydhie kepadanya, walau dalam penampilan Artemis masih bisa disebut seperti itu oleh naga tersebut.
“Shydhie… Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau ajarkan padaku saat ini?” Tanya Zchaira, setelah Artemis dan naga tersebut saling menyapa.
“Benar juga… Aku ingin kau berlatih agar bisa mengaktifkan sebuah mode dari kekuatan kesuburan abadi yang kuberikan kepadamu,” jawab Shydhie.
Naga merak itu kemudian menjelaskan bahwa ketika Zchaira mampu mengaktifkan mode kekuatan kesuburan abadi, maka efek samping saat kekuatan tersebut aktif tidak akan menguras energinya lagi, karena dalam mode tersebut secara otomatis kekuatan kesuburan abadi dari Zchaira akan menyerap energi alam, atau yang disebut sebagai Mana bagi para Venerate penyihir, dan membuat gadis tersebut bisa menggunakan kekuatannya lebih bebas lagi.
“Benarkah seperti itu?” Mendengar hal tersebut, Zchaira pun nampak bersemangat karena tidak menyangka bahwa hal tersebut bisa membuatnya menjadi bertambah lebih kuat lagi.
“Tentu saja nak…” Ucap Shydhie, menyatakan bahwa hal tersebut memang benar adanya.
“Tapi sebelum itu, aku ingin kalian menunggu di tempat lain, karena aku tidak mau diganggu saat sedang melatih Zchaira,” lanjut sang naga merak berkata, meminta agar Artemis serta Astrapi menunggu di tempat lain.
“Baik tuan Shydhie… Kalau begitu, aku mohon bombing putriku dengan baik.” Artemis pun mengerti dengan ucapan naga tersebut.