
“Aqua sillabare… Shooting star…”
“Akh…” Disaat Venerate tersebut akan menembak Lucia, tiba-tiba Megathirio muncul dan langsung melancarkan serangan tembakan elemen air bertekanan tinggi, hingga Venerate tersebut langsung terhempas menjebol dinding, keluar dari kedai tersebut.
Venerate yang memegang dua pistol dengan sigap langsung melancarkan tembakan beruntun, namun Megathirio dengan mudah menepis setiap luncuran peluru dari tembakan Venerate tersebut menggunakan teknik tembakan elemen air bertekanan tinggi.
“Ukh…” Tiba-tiba Toner datang dan langsung menambakan peluru yang mampu membuat menidurkan seorang Venerate.
“Sialan kau…” Akan tetapi, hal tersebut ternyata tidak berpengaruh kepada Venerate yang bernama Grovenzo tersebut.
Dia kemudian menggunakan kekuatan sihirnya untuk membuatnya kembali tersadar akibat sebelumnya telah mabuk berat.
Perhatian dari Venerate itu kemudian tertuju kepada Toner sambil menodongkan kedua pistolnya ke arah pemuda tersebut.
Dalam sekejap, Venerate tersebut langsung melancarkan tembakan beruntun ke arah Toner tanpa henti. Toner pun dengan sigap langsung menghindari setiap tembakan peluru dari Venerate tersebut sambil menghabiskan peluru dari pistolnya untuk ditembakan ke arah Venerate tersebut.
Namun, layaknya telah kebal peluru-peluru yang diterima oleh Venerate tersebut tetap tidak bisa membuatnya tertidur. Dia pun terus melanjutkan tembakannya ke arah Toner.
Dengan sigap Toner meluncur ke depan sambil menghindari tembakan-tembakan yang dilancarkan oleh Venerate tersebut. Toner mangakses kekuatan sihirnya untuk memunculkan sebuah senjata suci berbentuk tongkat sabit yang tersimpan di dalam gelang yang dipakai olehnya.
Venerate yang memegang dua pistol itu seketika terkejut melihat ayunan tongkat sabit dari pemuda itu. Dengan sigap dia langsung menghindari sambil merasa legah tidak menerima ayunan serangan tongkat sabit dari pemua itu.
Toner pun lantas kembali mengayunkan tongkat sabitnya berkali-kali, berharap agar serangannnya dapat mengenai Venerate tersebut.
**
“Kau tidak apa-apa?” Di sisi lain, Megathirio datang menghampiri Lucia sambil bertanya tentang keadaan Vampireman perempuan itu.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Lucia, nampak heran mendengar pemuda itu menanyakan tentang keadaannya.
“Jangan bohong…”
“Ekh…” Mendengar jawaban Lucia yang berbanding terbalik dengan keadaannya, Megathirio pun langsung membalikan badan Lucia yang terkapar untuk melihat luka yang diterima oleh Vampireman perempuan itu.
Megathirio pun langsung menggunakan kekuatan sihirnya untuk menyembuhkan luka yang diterima oleh Lucia, dimana saat bersamaan perempuan itu nampak merasa heran dengan sikap pemuda tersebut hingga membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
**
Kembali pada pertarungan dari Toner dan Venerate bernama Grovenzo tersebut, dimana Toner masih berusaha menyerang Venerate tersebut sambil mengayunkan tongkat sabitnya berulang-ulang kali.
Venerate tersebut kemudian mengambil celah antara serangan beruntun Toner dengan langsung melancarkan sebuah tembakan, namun walaupun memegang senjata yang cukup besar serta berat, Toner dengan lincah mampu menepis tembakan dari Venerate tersebut.
“Uakh…” Hal tersebut lantas memberikan kesempatan kepada Toner, yang membuatnya mampu melancarkan serangan proyeksi energi berwarna merah, hingga dapat diterima oleh Venerate tersebut sampai terhempas.
“Akh…” Tiba-tiba Venerate yang dihempaskan oleh Megathirio kembali dan langsung menghantamkan senapan gentelnya dengan kuat, hingga membuat Toner pun tersungkur.
Venerate itu langsung menginjak Toner agar pemuda itu tidak bisa berdiri. Dia kemudian mengarahkan senapannya sambil hendak menarik pelatuk untuk menambak pemuda itu.
“Fulmine sillabare… Flash stab…”
Disaat yang tepat, Rayvor pun datang mmeluncur sambil mengacungkan tombak memancarkan pancaran elemen petir yang dipegangnya ke arah Venerate yang akan menembak Toner.
Walaupun sempat menahan menggunakan senapan miliknya, namun serangan dari Rayvor tetap membuat Venerate tersebut tehempas akibat tekanan kekuatan yang kuat.
**
Di sisi lain, Flogaz, Andras dan Shaevanjoe datang melawan Venerate yang menggunakan dua pistol. Sambil menggunkan senjata suci mereka masing-masing, Flogaz dan Shaevanjoe yang menggunakan sebuah tombak, serta Andras yang menggunakan sebuah tongkat sabit dengan lincah melancarkan serangan proyeksi energi ke arah Venerate tersebut secara bergantian.
**
**
“Tunggu disini, biar kami yang menangani mereka… Kau istirahat dulu,” ucap Megathirio, sambil membantu Lucia berdandar di sebuah dinding dalam kedai tersebut.
Pemuda itu kemudian memunculkan pedang senjata sucinya dan pergi ke arah Rayvor serta Toner untuk membantu melawan Venerate yang berhadapan dengan mereka.
*
“Apa-apaan laki-laki itu?” Gumam Lucia dalam hati, nampak kebingungan melihat perubahan sikap dari pemuda itu yang menjadi lebih baik kepadanya.
**
Megathirio meluncur dan langsung mengayunkan pedangnya, hingga Venerate tersebut terluka menerima serangan pemuda tersebut.
“Uakh…” Rayvor dan Toner pun dengan sigap melancarkan serangan secara bergantian, hingga Venerate itu pun langsung jatuh terkapar menerima serangan beruntun dari kedua pemuda tersebut.
***
Berpindah kepada Zchaira, Wenra dan Dorolia, dimana mereka kini sedang menyelinap untuk mencapai bangunan dimana para warga sedang disekap.
Ketiga murid Division Venerate itu lantas bersembunyi ketika melihat beberapa Venerate datang ke arah mereka.
Namun, para Venerate tersebut ternyata tidak menyadari ketiga murid perempuan tersebut dan hanya terus berlari melewati mereka.
“Apa mungkin yang lain sudah ketahuan?” Ucap Dorolia.
“Jika memang benar begitu, lebih baik kita cepat selamatkan para warga,” sambung Zchaira.
Mereka bertiga kemudian bergegas berlari menuju bangunan dimana para warga sedang disekap.
***
Di dalam bangunan tersebut tampak tiga Venerate datang menemui para warga yang sedang disekap.
“Ayo cepat…” Ucap salah satu Venerate kepada dua rekannya.
Mereka kemudian membentuk sebuah formasi dengan melingkari para warga, lalu berkonsentrasi mengakses kekuatan sihir mereka untuk berpindah tempat dari kota tersebut.
Tiba-tiba Zchaira mengendap-ngendap masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung memegang kepala dari salah satu Venerate tersebut hingga jatuh terkapar tak sadarkan diri.
Karena salah satu dari mereka telah dikalahkan, maka mereka secara otomatis tidak bisa melakukan sihir ruang untuk berpindah tempat.
“Sialan… Siapa kau?” Ucap salah satu Venerate melihat Zchaira datang ke ruangan tersebut.
“Ventus sillabare…” Zchaira langsung melancarkan serangan hempasan elemen angin hingga membuat salah satu Venerate tersebut terhempas.
Beruntungnya Venerate yang terhempas itu membentur sesuatu yang keras hingga seketika membuat langsung tak sadarkan diri.
Kini tinggal tersisa satu Venerate yang harus dilawan oleh Gadis itu. Zchaira kemudian meningkatkan fokusnya untuk bisa membaca pergerakan dari Venerate tersebut.
“Ventus sillabare…” Disaat Venerate itu hendak bergerak, dengan cepat Zchaira kembali melancarkan serangan hempasan elemen angin, namun dengan lincah Venerate itu mampu menghindari serangan gadis tersebut.
“Aqua sillabare…” Venerate tersebut melompat ke arah Zchaira, yang membuat gadis itu dengan sigap langsung melancarkan serangan elemen air, akan tetapi hal tersebut masih percuma karena degan lincah Venerate itu dengan mudah menghindarinya.