
“Karena terlalu memikirkan nasib salah satu putriku, aku sampai harus mengabaikan nasib putriku yang satunya,” ucap Artemis, nampak menyesal karena sudah meninggalkan Astrapi sewaktu dulu.
“Artemis, hal yang sudah terjadi tidak perlu kita sesali lagi… Kita lakukan saja apa yang terbaik untuk ke depannya.” Lantas Hefaistos pun langsung menyemangati Artemis agar wanita itu tidak kembali merasa menyasal lagi.
Hefaistos berdiri dari kursi tempatnya duduk lalu menatap Kral, Illios serta Astrapi dengan ekspresi serius.
“Kral… Illios… Astrapi… Aku ingin mendengar jawaban kalian sekarang… Apakah kalian akan kembali ke wilayah timur atau tetap berpihak ke wilayah barat?” Tanya Hefaistos.
Mendengar pertanyaan tersebut, ketiga bersaudara itu pun sontak terkejut.
“Ayah… Setelah mendengar penjelasan darimu, aku paham bahwa kau mengkhawatirkan kami… Aku juga sudah memaafkanmu tentang keputusanmu pada Astrapi serta ketidakpercayaanmu tentang Aiver dulu, tapi itu sudah terlanjur terjadi. Sekarang aku adalah bagian dari para Venerate wilayah barat. Aku tidak bisa kembali, begitu juga dengan Illios dan Astrapi, kecuali wilayah timur dan barat berdamai,” ucap Kral dengan tegas.
Hefaistos pun paham dengan keadaan mereka yang terlanjur menjadi bagian dari wilayah barat. Pria itu menerima pernyataan dari Kral bahwa keluarganya masih belum bisa kembali bersama sebelum dirinya menyelesaikan masalah di dalam negeri yang dipimpinnya tersebut.
Begitu pun dengan Artemis, memikirkan hal yang sama dengan Hefaistos bahwa ketiga anaknya masih belum bisa kembali bersamanya, khususnya Astrapi yang sebenarnya akan lebih aman dari pengaruh Aiver jika menetap di wilayah barat.
***
Beberapa saat kemudian, Hefaistos dan Artemis bersama kedua anak mereka, Megathirio dan Zchaira berada di luar kediaman untuk melepaskan Kral, Illios serta Astrapi kembali ke wilayah barat.
“Kalau begitu kami pergi dulu ibu, ayah,” ucap Kral, hendak berpamitan kepada kedua orangtuanya.
Artemis pun langsung mendekat lalu memeluk tiga anak secara bersamaan, merasa sedih ketiga anaknya itu harus pergi meninggalkannya.
Setelah Artemis melepaskan Kral dan yang lainnya, kini giliran Zchaira untuk mengucapkan salam perpisahan kepada kakak-kakak mereka.
“Kakak, apa tidak bisa kau tinggal disini?” Tanya Zchaira.
“Maaf Zchaira, aku sebenarnya tidak mau meninggalkan adikku yang cantik ini, tapi aku tidak memiliki pilihan lain,” jawab Astrapi, walaupun sebenarnya perempuan itu tidak tega harus meninggalkan keluarganya.
Zchaira dan Astrapi kemudian berpelukan sebagai salam perpisahan mereka. Selanjutnya Zchaira menghampiri Illios lalu memeluk saudaranya tersebut.
Ketika Zchaira datang menghampiri Kral untuk memeluknya, pria itu lantas langsung menahan kepala Zchaira, karena sifatnya yang sedikit canggung jika berhadapan dengan seorang perempuan walaupun itu adalah saudaranya sendiri.
“Baiklah…” Melihat ekspresi sedih Zchaira, Kral pun membuka tangannya untuk dipeluk oleh adik perempuannya tersebut.
Kemudian selanjutnya Megathirio datang mendekati Astrapi untuk untuk mengucapkan salam perpisahan.
“Apa kau juga memiliki sifat canggung jika berhadapan dengan perempuan?” Tanya Astrapi.
“Jangan bodoh gadis cantik… Cepatlah kemari.” Mendengar ucapan Astrapi, Megathirio langsung menarik kemudian memeluk kakaknya tersebut.
“Eh…” Astrapi sontak dibuat canggung oleh Megathirio karena tiba-tiba memeluknya seperti itu.
Setelah selesai pada Astrapi, Megathirio pun menghampiri Illios dengan langsung memberikan tangannya untuk bersalaman.
“Aku tidak mau memeluk laki-laki,” ucap Megathirio, menolak memeluk Illios.
“Kau pikir aku juga mau,” balas Illios, juga tidak mau melakukan hal tersebut.
“Megathirio, kau harus berjanji untuk menjadi lebih kuat dibandingkan Zchaira agar kau bisa melindunginya.” Sambil bersalaman dengan adiknya, Illios pun memberikan pesan agar menjaga adik termuda mereka.
Megathirio tersenyum sambil menganggukan kepalanya mendengar pesan dari kakaknya tersebut.
Setelahnya, pemuda itu menghampiri Kral, namun tidak memberikan tangannya pada kakak tertuanya itu untuk bersalaman.
Melihat hal tersebut Kral lantas lebih dulu memberikan tangannya untuk dijabat oleh Megathirio sambil tersenyum.
“Akh…” Akan tetapi, Megathirio tiba-tiba menendang kaki Kral dengan kuat hingga pria itu merasa kesakitan.
“Hahaha… Aku tidak menyangka kau akan melakukan itu adik. Lihat kau kakak, jika seperti itu terus kau akan dirundung oleh adik-adikmu.” Illios pun tertawa melihat kelakuan yang dapat diperkirakannya pada Kral.
Ketika Artemis, Zchaira serta Megathirio selesai memberikan salam perpisahan, kini tinggalah ayah mereka Hefaistos.
“Kalian baik-baik disana…” ucap Hefaistos dengan ekspresi cuek tanpa mendekati tigs anaknya.
Akan tetapi di dalam benaknya, pria itu sebenarnya sangat sedih harus melihat kembali tiga anaknya tersebut pergi meninggalkannya.
“Cepat atau lambat wilayah timur serta wilayah barat akan berdamai. Aku akan terus berusaha untuk membuat kalian kembali lagi serta membuat negeri kembali damai,” lanjut Hefaistos berkata, berjanji akan membawa mereka kembali bersamanya.
Kral, Illios dan Astrapi pun tersenyum mendengar janji yang diucapkan oleh ayah mereka.
“Kalau begitu kami pamit dulu…” Diwakili oleh Kral, ketiga orang itu pun kemudian terbang ke langit dengan kecepatan penuh menuju ke wilayah barat.
Hefaistos, Artemis, Megathirio serta Zchaira terus memperhatikan mereka pergi sampai akhirnya tidak terlihat lagi.
“Aku mendengar dengan jelas pesan yang disampaikan Illios, bahwa kau harus menjadi lebih kuat agar bisa melindungi adikmu…”
“Kalau begitu sudah waktunya kalian masuk kesana,” ucap Hefaistos.
“Masuk kemana tuan Hefaistos?” Tanya Zchaira, penasaran.
“Akademi sihir di kota Xemico,” jawab Hefaistos.
Mendengar hal tersebut, Megathirio dan Zchaira pun terkejut. Kedua saudara itu menjadi bersemangat kini akan segera melihat tempat yang baru, dimana kemampuan mereka yang masih kurang itu akan diasah.
“Megathirio, apa kau tahu kau sudah berada di tingkatan mana?” Tanya Hefaistos.
“Setahuku, aku sudah berada di tingkatan Regional Venerate,” jawab Megathirio.
“Benarkah…? Itu sangat luar biasa… Bagaimana bisa?” Hefaistos pun terkejut, tidak menyangka bahwa anaknya tersebut sudah mencapai tingkatan tersebut.
“Hari-harinya selalu diisi dengan membaca buku yang aku miliki… Dan asal kau tahu, dia bahkan sudah bisa menggunakan mantra rahasia,” ucap Artemis, menjelaskan kemampuan Megathirio kepada Hefaistos.
Hefaistos menjadi lebih terkejut lagi setelah mendengar bahwa kemampuan Megathirio sudah bisa mengakses mantra sihir pamungkas.
“Tapi, walaupun begitu kau masih perlu banyak belajar lagi…” Ucap Hefaistos.
“Lalu, bagaimana denganmu gadis cantik? Apakah kau mengetahui kau telah berada di tingkatan mana?” Lanjut Hefaistos, kini bertanya pada Zchaira.
“Tentu saja tingkatanku kini adalah Continent Venerate… Aku bahkan pernah mengalahkan Continent Venerate sebelumnya,” ucap Zchaira, sedikit bergurau sambil membahas tentang kekuatan makhluk suci yang bangkit dan mengalahkan Vampireman bernama Joker sebelumnya.
Akan tetapi, ucapan gurauan dari Zchaira itu tidak membuat semuanya tertawa ataupun tidak meyakinkan.
“Sebenarnya aku tidak tahu,” ucap Zchaira, mengakui kebenarannya.
“Baiklah, kalau begitu mari kita lihat.” Hefaistos kemudian mengaktifkan kekuatannya untuk mendeteksi tekanan kekuatan Zchaira.
“Bisa dibilang tekanan kekuatanmu sudah melebihi tingkat Tribe Venerate… Selamat kau sekarang adalah Division Venerate.”
“Aku tidak menyangka bahwa tingkatan kekuatanku bisa mengingkat. Padahal aku sebelumnya tidak terlalu tertarik membaca buku-buku sihir seperti kakak Megathirio,” ucap Zchaira.
“Tapi, selain kekuatan makhluk suci yang baru saja bangkit, aku memiliki kekuatan yang lain.”
Zchaira memperlihatkan kemampuannya memunculkan sebuah butiran-butiran es dari tangannya yang tiba-tiba berubah bentuk menjadi bunga salju.