
Berpindah pada Astrapi yang sedang berada di dalam sebuah ruangan tempat penyimpanan benda-benda antik, dimana perempuan yang sedang dalam penampilan sebagai pelayan kediaman clan Drown tampak memperhatikan ruangan tersebut, mencari sebuah pintu lain yang kemungkinan bisa menjadi tempat disembunyikan benda yang mereka cari hampir beberapa hari terakhir.
*
“Astrapi… Kau masih berada di dalam?” Tiba-tiba Illios berbicara melalui kemampuan telepati, bertanya mengenai keberadaan adiknya tersebut.
**
“Kau sudah berada diluar kakak… Kalau begitu aku segera kesana,” ucap Astrapi.
“Ah…!” Saat berbalik ke belakang, tiba-tiba Astrapi pun terkejut hingga berteriak ketika melihat seseorang.
“Eh…” Astrapi mengubah ekspresi terkejutnya menjadi heran ketika melihat orang yang membuatnya terkejut ternyata seorang anak perempuan yang berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahun.
*
“Siapa anak ini? Apakah mungkin mereka anggota clan Drown?” Ucap Astrapi dalam hati, bertanya-tanya mengenai anak perempuan yang berada di depannya tersebut.
**
“Kau… Kenapa ada disini?” Tanya anak perempuan itu pada Astrapi.
“Kau pasti yang sudah mengambil senjata milik ayah kan…” Lanjut anak perempuan itu berkata, tiba-tiba langsung menuduh Astrapi mencuri sesuatu, yang kemungkinan merupakan belati ganda yang sebelumnya pernah diambil oleh Illios ketika dia berada di dalam ruangan tersebut akibat kesal tidak mendapat apa-apa.
“Eh… Aku tidak mengambil apa-apa ditempat… Aku Cuma membersihkan ruangan ini…” Astrapi lantas terkejut mendengar tuduhan yang diarahkan anak perempuan itu kepadanya sambil memberikan alasan mengapa dirinya berada di dalam ruangan tersebut.
“Nizale…!” Disaat yang bersamaan, terdengar suara seseorang memanggil.
Tak berapa lama kemudian, tampak dua anak laki-laki, yang tampak lebih tua dibandingkan anak perempuan yang berada di dalam ruangan tersebut, dimana salah satu anak laki-laki tersebut memiliki tinggi sekitar seratus lima puluh sentimeter, sedangkan yang satunya memiliki tinggi yang sama seperti perempuan tersebut sekitar seratus tujuh puluh sentimeter.
“Ternyata kau berada disini…” Ucap salah satu anak laki-laki yang datang memasuki ruangan tersebut.
“Kenapa ada pelayan yang masuk ke dalam ruangan ini?” Anak laki-laki yang terlihat paling tua diantara anak-anak tersebut, sontak merasa heran melihat Astrapi yang sebagai pelayan tersebut berada di dalam ruangan itu.
“Maaf tuan muda… Aku disini untuk membersihkan ruangan ini…” Ucap Astrapi lantas memberikan alasannya yang menyamar sebagai pelayan di kediaman tersebut.
“Aku sudah selesai… Kalau begitu aku pergi dulu…” Lanjut perempuan itu, seketika mengambil alat-alat pembersih agar tidak dicurigai oleh para anak-anak tersebut bahwa dia sebenarnya bertujuan untuk memeriksa ruangan tersebut.
“Tunggu…” Tiba-tiba anak laki-laki yang paling tua menahan tangan Astrapi.
“Ada apa tuan muda?” Tanya Astrapi sambil merasa tegang bahwa anak laki-laki itu tidak mempercayai ucapannya.
“Walau kau sudah memberikan alasan berada di dalam ruangan ini, tapi aku tahu bahwa kemarin hari ada sebuah benda yang hilang di dalam ruangan ini, karena itu semua pelayan yang berada di kediaman ini diperintahkan untuk tidak masuk ke ruangan ini,” ucap anak laki-laki tersebut, yang lantas membuat Astrapi langsung terdiam karena tidak mengetahui bahwa para pelayan memang dilarang memasuki ruangan tersebut.
“Kakak… Jangan seperti itu… Mungkin saja kakak ini adalah pelayan baru, karena itu dia tidak tahu.” Untung saja anak laki-laki yang satunya mendukung Astrapi, dengan memberikan alasan perempuan tersebut berada di dalam ruangan itu.
Dia kemudian melepaskan cengkraman tangan anak laki-laki yang merupakan kakaknya tersebut dari tangan Astrapi.
“Mohon maaf kakak… Jangan pikirkan ucapannya, dia memang selalu bersikap dingin,” ucap anak laki-laki tersebut.
“Terima kasih tuan muda sudah membelaku…” Ucap Astrapi, berterima kasih sambil membungkukkan kepalanya.
Astrapi lantas merespon ucapan anak laki-laki tersebut dengan tersenyum kemudian meninggalkan ruangan tersebut, sambil sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa anak laki-laki yang jauh lebih muda darinya tersebut bisa menggodanya.
**
“Dasar bocah-bocah… Satunya tiba-tiba menuduhku sebagai pencuri, satunya bertingkah sok keren, bahkan yang satunya lagi menggodaku,” gumam Astrapi sambil berjalan pada lorong bangunan kediaman clan Drown.
***
Beberapa saat kemudian, Astrapi datang menemui Illios tak jauh kediaman clan Drown tempat mereka masuk dan menyelinap menjadi seorang pelayan.
“Kenapa kau lama sekali?” Tanya Illios, nampak bosan telah menunggu saudaranya tersebut keluar dari kediaman clan Drown.
“Maaf kakak, ada sebuah masalah kecil hingga membuat keluar lebih lama.”
“Memangnya masalah seperti apa?” Tanya Illios lagi, ketika mendengar jawaban dari adiknya tersebut.
“Bukan masalah benar… Aku hanya berpapasan dengan beberapa anak, dimana salah satu sempat mencurigaiku ketika berada di dalam ruangan tempat penyimpanan barang antik…”
“Dia bahkan mengatakan bahwa pelayan dilarang masuk karena kemarin salah satu benda yang berada disana telah menghilang,” jawab Astrapi, menjelaskan kepada Illios mengenai masalah kecil sebelumnya.
Mendengar hal tersebut, Illios lantas teringat mengenai belati ganda yang dicurinya dalam ruangan tersebut kemarin hari, Illios tidak menyangka bahwa perbuatan spontan tersebut hampir saja membuat Astrapi dicurigai, jika saja yang menghampiri perempuan itu adalah para pelayan atau anggota clan Drown, mungkin saja masalah yang dialami oleh Astrapi akan lebih buruk.
“Lupakan saja itu… Lebih baik kita kembali sekarang,” ucap Illios, mengajak Astrapi untuk kembali ke penginapan.
“Eh…” Ketika hendak beranjak, tiba-tiba Astrapi merasakan sesuatu dari arah belakang yang sontak membuatnya menoleh.
“Astrapi… Ada apa?” Illios lantas kembali bertanya ketika melihat saudaranya tersebut berhenti.
“Tidak… Bukan apa-apa…” Jawab Astrapi, enggan mengatakan kepada Illios bahwa sebenarnya dirinya merasakan tekanan kekuatan dari seorang Venerate yang berada jauh dari tempat mereka berada.
Tidak terlalu peduli dengan hal tersebut, Astrapi kemudian beranjak bersama dengan Illios pergi meninggalkan tempat tersebut.
**
Setelah kedua Venerate Lightio itu pergi, dari balik muncul seseorang dari balik tembok kediaman clan Drown, yang tidak lain merupakan Achilles.
“Jadi mereka penyusup di dalam kediaman ini dan sempat menculik Drakon sebelumnya,” gumam Achilles, akhirnya kini mengetahui siapa penyusup yang diam-diam masuk ke dalam kediaman tersebut.
***
“Apa? Aelacia, World Venerate Machora Tira…”
Berpindah ke penginapan para murid akademi sihir, dimana Illios seketika terkejut ketika mendengarkan penjelasan dari Artemis bahwa salah satu World Venerate Machora Tira berada di kota tersebut.
“Kenapa disaat bersamaan mereka kemari disaat Zchaira sedang mengikuti turnamen,” gumam Astrapi sambil merasa khawatir karena mengetahui bahwa para Venerate dari negeri itu selama ini mengincar Zchaira sebagai pemegang kekuatan dari sang naga merak.
“Para murid akademi bersikeras tetap ingin mengikuti turnamen ini sampai selesai… Jadi selama itu kita harus menjaga mereka semua…” Ucap Artemis.
“Ada lima Venerate tingkat atas Machora Tira yang berada di kota ini, termasuk nenek kalian Lethis… Ibu bahkan tidak tahu jika dia kali ini akan memihak pada mereka…” Lanjut Artemis.