
Karena urusannya untuk menyelamatkan ketiga peserta yang telah mengalami kekalahan telah selesai, Achilles pun pergi meninggalkan tengah arena, bergantian dengan sang wasit yang datang memasuki tempat tersebut.
Wasit pertama-tama mengecek keadaan dari ketiga peserta, dan kemudian memberikan kose isyarat kepada semua penonton bahwa ketiga peserta tersebut ternyata masih berada dalam keadaan baik-baik saja, walaupun telah tak sadarkan diri.
“Pemenang dalam pertandingan kali ini adalah Flogaz Silkbar…” Ucap wasit, mengumumkan kemenangan dari Flogaz.
**
Mendengar pernyataan tersebut, para anggota tim Lightio pun lantas merasa senang, walaupun rekan mereka yang mengikuti pertandingan tersebut sempat menggunakan cara yang sedikit curang dengan berpura-pura kalah pada awalnya.
**
Setelah pengumuman kemenangan dari Flogaz, layar yang berada di arena turnamen tersebut langsung menampilkan perolehan poin dari seluruh tim yang ada.
Lightio (9), Mormist (6), Fuegonia (5), Vielass (5), Machora Tira (4), Cielas (3), Neodela (2), Asimir (2).
**
“Jadi tim kita kini yang memiliki perolehan poin paling tinggi dibandingkan tim yang lain…” Ucap Aphrodia.
Disaat bersamaan, Aphrodia pun nampak telah bersiap untuk menunggu gilirannya, dimana perempuan tersebut kini menjadi satu-satunya anggota dalam tim Lightio yang belum mendapatkan giliran untuk bertarung pada ronde pertama turnamen tersebut.
**
“Pantas saja mereka sering disebut sebagai clan penyihir terkuat di negeri Lightio… Alasannya terjatuh bukan karena salah satu anggotanya merupakan presiden penyihir,” ucap salah satu anggota tim bernama Rourke.
“Aku juga pernah mendengar bahwa jika negeri Fuegonia serta Lightio sering disandingkan, clan Silkbar dari negeri itu sering dibandingkan dengan clan Bluntill dari negeri kita… Bukankah begitu tuan Narest?” Sambung Neyndra sambil bertanya mengenai pendapat dari rekannya bernama Narest, yang memang merupakan salah satu dari clan Bluntill, negeri Fuegonia.
“Mungkin hal itu cukup benar, ditambah bahwa daerah Raioton yang dipimpin oleh clan Bluntill sering berseteru dengan daerah Workyen dari clan Silkbar karena saling berbatasan,” respon Narest.
**
“Senjata suci yang cukup hebat… Aku yakin senjata pria itu kemungkinan berasal dari penyihir pandai besi, Hefaistos Silkbar… Walaupun begitu, setidaknya Hefaistos Silkbar pernah menjadi murid dari kakekku,” ucap salah satu anggota yang merupakan ras Dwarfman bernama Dossur.
Setelah kemenangan Flogaz, beberapa peserta turnamen tersebut nampak sedikit membicarakan mengenai clan dari Flogaz, dimana mereka nampak membahas mengenai perbandingan clan tersebut dengan clan yang berasal dari negeri lain, serta mengenai senjata suci dari Flogaz yang memang diberikan oleh Hefaistos, bahkan membahas mengenai Hefaistos yang pernah menjadi salah satu murid dari ras Dwarfman, yang juga pernah diceritakan oleh Hefaistos sebelumnya.
***
Setelah pertandingan sebelumnya selesai, sang pembawa acara akhirnya datang memasuki tengah arena untuk memberitahukan informasi berikutnya.
“Baiklah, para hadirin sekalian… Sekali lagi mohon maaf karena pertandingan sebelumnya yang baru saja berakhir merupakan pertandingan terakhir pada malam hari ini…”
“Kita akan melanjutkan pertandingan dalam turnamen ini pada besok hari… Dan bahwa mulai esok hari pertandingan yang akan dilaksanakan akan menjadi lebih seru lagi, karena para peserta yang akan saling berhadapan merupakan para peserta dalam tingkatan Land Venerate…”
“Kalau begitu, saya pamit… Sampai berjumpa esok hari lagi…”
Setelah sang pembawa acara selesai mengumumkan bahwa turnamen tersebut akan dilanjutkan pada esok hari, dimana para peserta tingkatan Land Venerate hendak saling berhadapan, serta menutup turnamen pada malam hari tersebut, tak berapa lama kemudian, para penonton serta para peserta, satu per satu mulai meninggalkan arena turnamen.
***
**
Dari kejauhan, tampak seseorang misterius sedang memperhatikan serta mengikuti langkah para murid akademi sihir menuju ke tempat penginapan mereka.
**
Merasakan sebuah tekanan kekuatan yang samar-samar, serta hawa keberadaan orang tak jauh dari tempat mereka berada, Rayvor seketika langsung menghentikan langkahnya.
Rayvor kemudian melihat ke sekitaran tempat tersebut, yang tampak tidak terlihat satupun orang lalu-lalang, membuat pemuda itu lantas merasa curiga bahwa mereka semua memang sedang diikuti oleh orang misterius.
Ketika empat murid akademi sihir telah berjalan jauh di depan, tiba-tiba Flogaz yang berada paling belakang diantara mereka langsung menghentikan langkahnya.
“Kakak… Kau sedang apa?” Tanya Flogaz pada saudaranya tersebut.
“Flogaz sepertinya aku mau pergi ke suatu tempat sebelum kembali ke penginapan,” jawab Rayvor.
“Eh… Kau mau pergi kemana? Setidaknya aku ikut.” Mendengar hal tersebut, Flogaz lantas ingin mengikuti Rayvor, karena walaupun mereka merupakan seorang Venerate, namun dirinya merasa sedikit khawatir membiarkan saudaranya pergi sendirian.
“Tidak apa-apa Flogaz… Aku akan segera kembali ke penginapan setelah selesai… Lagipula kota ini masih sangat ramai di malam hari…”
“Lagipula kau sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang penting pada Zchaira… Setidaknya katakan saja jika kau ingin mengungkapkannya.”
“Eh… Kakak… Apa kau tahu bahwa aku…” Flogaz pun terkejut mendengar pernyataan Rayvor, yang sepertinya mengetahui bahwa dirinya menyukai Zchaira.
“Aku tahu bagaimana caramu melihat Zchaira selama ini… Aku sebenarnya tidak menginginkan hal itu, namun sepertinya kau harus mengatakan hal tersebut dan harus menerima apa yang akan direspon olehnya…” Ucap Rayvor, menjelaskan kepada Flogaz saudaranya.
“Kalau begitu, cepatlah susul mereka sana…” Rayvor kemudian mendorong Flogaz agar menyusul Zchaira dan lain yang sudah jauh berada di depan mereka.
Sambil berjalan menyusul Zchaira dan yang lain, Flogaz sesekali menatap ke arah Rayvor dengan ekspresi wajah khawatir, dimana dirinya entah haris berekspresi seperti apa ketika tahu bahwa Rayvor mengetahui dirinya menyukai Zchaira.
**
Tak berapa lama kemudian, setelah Flogaz menyusul yang lain dan tidak terlihat lagi, Rayvor kemudian berbalik ke arah belakang untuk melihat siapa orang misterius yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi.
Dengan mengakses kekuatan sihir observasi miliknya, pemuda itu dapat mengetahui persembunyian orang misterius yang mengikutinya, serta rekan-rekannya sedari tadi.
Rayvor kemudian berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam sebuah lorong diantara bangunan-bangunan kota Novacurve sambil menatap ke arah depan, dimana dirinya dapat merasakan tekanan kekuatan dari orang misterius yang sedang bersembunyi tepat di depan lorong yang gelap tersebut.
“Siapa kau?” Tanya Rayvor dengan ekspresi serius melihat sesosok misterius yang di tengah kegelapan, tepat di depannya.
“Wah… Wah… Ternyata bocah dari clan Silkbar… Sepertinya kau adalah kerabat ayah dari gadis berambut hitam itu yah…”
Walaupun mendengar suara seorang perempuan berbicara, serta membahas mengenai Zchaira, Rayvor tanpa pikir panjang mengakses kekuatan sihirnya, memunculkan tombak senjata sucinya.
Sontak Rayvor mengakses kekuatan dari tombaknya hingga memancarkan proyeksi elemen petir. Seketika pemuda itu pun meluncur dengan kecepatan tinggi sambil mengacungkan tombaknya ke arah sosok misterius itu.
Akan tetapi, sosok misterius itu dengan sigap menghindari serangan Rayvor, hingga pemuda itu meluncur melewatinya.