
Tiba-tiba Vertorn Nomos, ras Giantman yang kini menjadi satu-satunya World Venerate Lightio yang ada, muncul membantu Hefaistos dan Artemis.
“Eh, sial… Imigran Lightio sudah datang rupanya…” Ucap Hanzfilge melihat pria itu.
“Vertorn Nomos… Ada apa kau kemari?” Tanya Hefaistos.
“Kau tidak tahu berterima kasih bocah… Padahal aku kemari untuk membantu kalian,” respon Giantman bernama Vertorn.
“Kalau begitu, bagaimana jika aku yang melanjutkan pertarungan ini… Kau tidak keberatan kan Hanzfilge?”
Giantman itu kemudian datang mendekati Hanzfilge dan menantangnya untuk bertarung. Terlihat perbedaan tinggi badan yang sangat jelas diantara kedua ras campuran itu, ketika saling menatap dengan tatapan yang tajam.
***
“Heh… Cuma ini kemampuan kalian?”
Disaat yang bersamaan, perempuan Machora Tira yang bernama Aelacia telah menyelesaikan pertarungannya dengan lima Venerate Lightio.
Para Venerate itu telah terkapar dalam keadaan yang lemah di depan Aelacia. Mereka tidak mampu lagi melakukan serangan pada perempuan itu ataupun bergerak sekalipun.
“Eh…” Tiba-tiba sebuah serangan elemen api yang entah darimana datangnya, menuju ke arah Aelacia.
Sontak perempuan itu langsung melompat untuk menghindari serangan yang tertuju padanya itu.
Munculah tiga Venerate Lightio dengan penampilan pria berumur lebih dari lima puluh tahun di depan perempuan bernama Aelacia itu.
“Ternyata kalian pak-pak tua…” Ucap Aelacia.
“Jangan katakan seperti itu… Padahal umur kita sepantaran denganmu, nenek tua…” Balas salah satu diantara tiga Venerate itu, yang menyatakan bahwa umur mereka dengan perempuan itu tidak jauh berbeda.
Memang faktanya bahwa Venerate yang memiliki tingkatan diatas Land Venerate mampu mempertahankan penampilan mereka agar tidak dapat menua.
Walaupun memiliki penampilan layaknya seperti seorang gadis berumur dua puluh tahun ataupun lebih, namun perempuan itu sebenarnya telah berusia tujuh puluh tahunan, usia yang hampir saja dengan tiga pria tua yang berada di depannya tersebut.
“Bersiaplah…” Ucap salah satu Venerate Lightio, memberikan aba-aba.
Mereka kemudian membentuk sebuah formasi segitiga, dimana salah satu Venerate berada di depan. Energi sihir dari ketiga Venerate tersebut memancar keluar bergabung menjadi satu lalu berubah menjadi kobaran api yang besar.
“Fiamma sillabare…” Mereka langsung meluncurkan kobaran api tersebut ke arah Aelacia.
Dengan sigap Aelacia pun membalas serangan elemen api itu dengan mengeluarkan proyeksi energi berwarna yang tidak kalah besar.
Kedua serangan itu saling bertabrakan dan dalam waktu bertahan dalam waktu yang lama.
Hingga tak berapa lama, kedua tabrakan serangan tersebut pun meledak sambil memancarkan tekanan kekuatan yang besar hingga kemudian lenyap tak bersisa.
Serangan elemen api yang diluncurkan oleh tiga Venerate Lightio itu tampak setarah dengan serangan yang dilancarkan oleh Aelacia.
“Menarik juga…”
Aelacia memasang ekspresi senyuman menyeringai, mengagumi kombinasi serangan dari tiga pria tua itu. Dia merasa bahwa mereka ternyata lebih kuat dibandingkan dengan lima Venerate Lightio yang dia hadapi sebelumnya.
Aelacia sejenak berkonsentrasi sambil mengeluarkan pancaran energi merah, tiba-tiba perempuan itu berubah menjadi wujud manusia ular.
Ternyata selama ini, perempuan tersebut merupakan salah satu dari ras Lamiaman yang telah mengubah penampilannya layaknya menjadi wujud manusia biasa.
Tiga pria tua itu merespon perubahan wujud dari perempuan tersebut dengan memasang ekspresi wajah yang datar, namun melihat hal tersebut membuat kewaspadaan mereka lebih bertambah lagi.
“Haah… Cepat kita selesaikan pertarungan ini, karena aku merasa alergi terus-terusan dekat denagn seekor ular…” Ucap salah satu dari pria-pria tua itu.
Aelacia kemudian bergerak dengan sangat cepat yang bahkan sangat sulit untuk bisa dilihat oleh manusia biasa.
Mereka kemudian mengubah energi sihir mereka menjadi bentuk perisai, lalu menambah fokus mereka.
Tiba-tiba Aelacia muncul di depan salah satu pria tua itu sambil mengibaskan cakar tajamnya.
Untung saja dengan refleks pria tua itu langsung menangkis serangan tersebut dengan perisai proyeksinya.
Aelacia pun kembali bergerak dengan kecepatan tinggi lagi, menunggu kesempatan agar bisa menyerang mereka.
Kini salah satu diantara mereka berniat untuk menyerang balik perempuan Lamiaman itu. Dalam sudut pandang yang melambat, salah satu pria itu datang menghampiri Aelacia yang bergerak dengan cepat. Dia dalam sekejap mengubah perisai proyeksinya menjadi berbentuk pedang, kemudian hendak melancarkan serangan.
Akan tetapi, Aelacia yang sudah menunggu kesempatan tersebut langsung mempercepat pergerakannya, mengincar bagian belakang pria itu.
“Incantesimo segreto… Coup de pousser…” Untung saja pria yang satunya dengan sigap bergerak melompat ke atas perempuan Lamiaman tersebut dan langsung meluncurkan perisai proyeksinya.
“Ukh…” Aelacia pun terhentak dengan keras membentur tanah.
Perempuan itu langsung bergerak kembali dan berhenti di tempat yang jauh dari jangkauan tiga pria Lightio tersebut.
Dengan ekspresi terkejut dia tidak percaya bahwa mereka dapat mengimbangi bahkan bisa melayangkan serangan yang cukup efektif kepadanya.
Aelacia tidak menyerah, dia bergerak kembali untuk berusaha melancarkan serangan balasan kepada mereka.
Layaknya masih berada pada usia muda, ketiga pria tua itu dengan lincah bergerak menghindari setiap serangan yang dialancarkan Aelacia kepada mereka.
“Ternyata pengalaman bisa mengimbangi tingkatan kekuatan juga…” Gumam salah satu pria tua itu sambil menghindari serta menepis serangan dari Aelacia.
“Aku ingat dengan jelas seberapa lincahnya kau saat masih berusia muda, pak tua…” Balas pria yang satunya, membahas tentang masa lalu pria yang sedang bergumam tersebut.
***
Kembali pada Hanzfilge dan Giantman bernama Vertorn, yang sedari tadi masih saling membalas tatapan tajam mereka.
Layaknya seperti dua ekor anjing yang selalu menggonggong tanpa berani untuk menggigit, dua ras keturunan campuran tetap diam tidak memulai serangan mereka.
“Haah… Baiklah kalian menang kali ini… Aku tidak mau berhadapan denganmu,” ucap Hanzfilge, yang tiba-tiba menyerah pada Giantman itu.
“Kalian bisa mengambil kota serta daerah ini… Lagipula ini adalah daerah paling terlantar di negeri kami,” lanjut Orcman itu berkata sambil meninggalkan semua yang berada ditempat itu.
Hanzfilge seperti menghindari konflik degan Giantman bernama Vertorn tersebut dikarenakan sudah mulai kelelahan setelah berhadapan dengan Hefaistos sebelumnya.
***
“Haah… Haah…”
Lalu, tiga pria tua yang sedang bertarung melawan Aelacia pun sudah mulai kelelahan setelah terus menghindari pergerakan dari Lamiaman itu.
Begitu juga dengan Aelacia, yang tampak kesal tidak bisa melancarkan satupun serangan karena kelincahan ketiga Venerate Lightio itu.
“Sial…” Umpat Aelacia kemudian meninggalkan mereka bertiga.
***
Di sisi lain, pertarungan antara Silvan bersama dua ras campuran lainnya melawan tiga Continent Venerate Furgonia berakhir dengan seimbang.
Silvan dan dua rekannya tersebut lebih memilih untuk pergi meniggalkan kota milik mereka daripada harus melanjutkan pertarungan yang pastinya akan memakan waktu serta energi yang cukup banyak.
***
Pertarungan antara salah satu Orcman melawan anggota tim Hefaistos termasuk Lucierence juga telah berakhir. Orcman yang dilawan mereka lebih memilih pergi dibanding harus terus bertarung di tempat itu lebih lama lagi.
***
“Lalu bagaimana dengan kalian? Apa kalian tidak mau pergi juga?” Tanya Vertorn pada Lethis dan Vampireman bernama Calevan, yang masih tetap tinggal setelah semua rekan mereka pergi meniggalkan kota tersebut.
“Tunggu…” Mendengar pertanyaan dari Giantman itu, Artemis sontak menghampiri ibunya.
“Ibu, jangan pergi… Kembalilah…” Ucap Artemis, memohon kepada ibunya tersebut.