
“Lagipula aku yakin kalau kalian juga akan sama seperti para murid Land Venerate…” Ucap Arlias.
**
“Siapa yang tahu hal itu? Cepatlah pak tua, panggil nama kami sekarang, atau aku yang pergi sendirian.” Namun, Illios tetap bersikeras memaksa tetua kepala itu untuk namanya serta dua saudaranya, karena saat ini merupakan giliran dari mereka menentukan tingkatan kekuatan.
**
“Haah… Baiklah jika kau memaksa… Illios dari clan Silkbar daerah Workyen, majulah ke depan.” Karena bersikeras, Arlias pun lantas memanggil Illios.
**
Illios pun langsung terbang melayang menuju ke tengah aula tanpa harus menggunakan sayap proyeksi seperti para murid-murid di tingkatan yang lebih rendah dibandingkan dengannya.
Hal tersebut lantas membuat sebagian besar dari para murid-murid akademi sedikit terkejut karena kemungkinan baru pertama kali melihat murid akademi sihir yang mampu menggunakan kemampuan tersebut.
Setelah berada di tengah aula dan menginjak tepat di atas diagram sihir berwarna putih, Illios seketika mengaktifkan tekanan kekuatannya yang langsung mengubah warna dari diagram sihir tersebut menjadi warna jingga, tanpa harus terlebih dahulu berubah warna menjadi ungu.
Tekanan kekuatan yang diaktifkan oleh pria itu berlangsung lama dan perlahan-lahan mulai membuat semua murid-murid akademi, serta para guru-guru akademi sihir yang berada di dalam aula tersebut menjadi tegang merasakannya.
Karena belum puas, Illios tiba-tiba memunculkan pedang senjata sucinya kemudian berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya.
**
Melihat hal yang dilakukan oleh pria itu membuat Arlias serta para tetua yang lain pun menjadi panik.
“Illios Silkbar… Continent Venerate…” Tanpa pikir panjang, Arlias pun langsung mengumumkan tingkatan kekuatan dari Illios, agar membuatnya berhenti mengaktifkan tekanan kekuatannya.
**
Akan tetapi, walaupun telah mendengat hal tersebut, Illios masih tetap mengaktifkan tekanan kekuatanya, sambil mulai berkonsentrasi mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua dari senjata suci yang dipegang olehnya.
**
“Dasar preman… Apa dia mau menghancurkan tempat ini dan membahayakan semua murid-murid?”
“Difesa sillabare… Holy eldritch barrier…” Arlias pun langsung menciptakan sebuah penghalang proyeksi di sekitar Illios untuk menangulangi hal buruk yang akan terjadi dari perbuatan pria itu.
**
Ketika melihat pancaran kobaran api keluar memancar dari pedang senjata suci milik Illios, diagram sihir berwarna jingga yang berada dibawahnya seketika berubah menjadi berwarna merah.
“I defteri ekdosi…”
Kobaran api yang memancar keluar dari pedang senjata suci Illios pun menjadi lebih besar hingga langsung menyelimuti tubuh pria itu.
Saat kobaran api tersebut lenyap, Illios anehnya tidak mengalami sebuah perubahan wujud, yang biasa terjadi pada para Venerate lain yang biasa melakukan hal tersebut. Pria itu pun nampak memasang senyuman menyeringai di wajahnya, yang ternyata dengan secara sengaja tidak melakukan pengaktifan kekuatan pelepasan keduanya dengan sempurna hingga langsung gagal.
Karena sebelumnya, Arlias sudah mengumumkan bahwa dirinya masih tetap berada di kelas Continent Venerate, Illios pun kembali terbang ke tempatnya menghampiri Kral dan Astrapi.
**
“Jadi itu kekuatan dari Continent Venerate…” Ucap Zchaira, nampak terkejut merasakan tekanan kekuatan yang besar dari Illios sebelumnya.
**
“Hei bodoh… Apa kau mau membahayakan semua orang yang berada di tempat ini?” Ucap Astrapi, membentak kakaknya tersebut karena melakukan pengaktifan kekuatan pelepasan kedua di tengah-tengah semua murid akademi sihir.
“Maaf-maaf… Aku hanya sedang bercanda,” balas Illios sambil memasang ekspresi senyuman diwajahnya.
**
**
Setelah namanya dipanggil, Astrapi kemudian terbang menuju ke tengah aula untuk mengetes tingkatan kekuatannya.
Dalam sekejap, perempuan itu langsung mengaktifkan tekanan kekuatannya, yang membuat diagram sihir yang berada di bawahnya seketika berubah-ubah warna, dari warna ungu, biru, biru muda, hijau, kuning dan bertahan di warna jingga.
Karena masih penasaran, Astrapi meningkatkan kekuatannya lebih besar, namun tetap saja diagram sihir yang berada di bawahnya tetap bertahan di warna jingga, dan tidak berubah menjadi warna merah seperti yang dilakukan oleh Illios sebelumnya, walaupun mendapatkan bantuan dari senjata suci miliknya.
Ketika sudah puas dengan hal tersebut, Astrapi pun berhenti mengaktifkan tekanan kekuatannya tersebut.
**
“Astrapi Silkbar… Continent Venerate…” Disaat yang bersamaan, Arlias pun langsung mengumumkan tingkatan kekuatan dari perempuan tersebut, yang masih tetap sama seperti sebelumnya.
**
Setelah mendengar pernyataan dari Arlias, Astrapi pun terbang menuju ke tempat Kral dan Illios tanpa harus merasa kecewa karena baginya berada di tingkatan Continent Venerate sudah lebih cukup untuknya saat ini.
**
“Selanjutnya… Kral dari clan Silkbar daerah Workyen, silahkan maju ke depan untuk menentukan tekanan kekuatan milikmu,” ucap Arlias, memanggil Kral sebagai murid yang terakhir, yang akan menentukan tingkatan kekuatan.
**
Saat mendengar panggilan tersebut, Kral pun langsung berdiri dari tempat duduknya, namun Illios langsung menahan pria itu, hingga membuatnya kebingungan.
“Illios, ada apa ini?” Tanya Kral.
“Kakak… Kau kan adalah murid terakhir yang akan maju, setidaknya kita harus membuat sebuah kejutan,” jawab Illios.
“Kejutan apa maksudmu?” Tanya Kral sekali lagi, karena belum mengerti dengan maksud adiknya tersebut.
“Astrapi, ayo bantu aku…” Tidak menjawab pertanyaan dari Kral, Illios berbicara kepada Astrapi sambil memperlihatkan ekspresi senyuman menyeringai di wajahnya.
Astrapi pun langsung merespon ekspresi Illios dengan menunjukkan ekspresi menyeringai juga karena paham dengan maksud pria itu.
Astrapi pun langsung membantu Illios memegang Kral untuk hendak melakukan rencana isyarat kepada kakak pertama mereka tersebut.
“Hei… Hei… Tunggu dulu… Apa-apaan ini?” Kral pun langsung terkejut ketika dirinya diangkat secara bersamaan oleh Illios dan Astrapi.
“Baiklah… Mari kita lihat apakah putra pertama dari pasangan pemimpin negeri Lightio kali ini akan mencapai World Venerate atau tidak…” Ucap Illios, kemudian bersama dengan Astrapi langsung melempar Kral dari ketinggian menuju ke tengah aula.
“Uwaah…!” Teriak Kral jatuh dari ketinggian.
**
Disaat yang bersamaan, Aphrodia yang melihat Kral jatuh dari atas ketinggian langsung merasa khawatir, dan sontak berdiri dari tempat duduknya.
“Kral…!” Teriak Aphrodia, mengkhawatikan keadaan dari Kral.
**
Ketika berada satu titik di atas permukaan, Kral pun dengan sigap menggunakan kemampuan melayang di udara hingga hampir saja menghantam lantai dengan keras.
Kral pun perlahan mendarat dengan mulus, kemudian menatap tajam Illios dan Astrapi yang melemparnya dari ketinggian, hingga membuatnya merasa malu kepada seluruh murid-murid, para tetua, serta guru-guru yang ada.
“Ayo Kral…! Kakak Aphrodia sedang memperhatikanmu!” Teriak Illios sambil mengatakan bahwa perempuan yang disukai oleh Kral sedang memperhatikannya.