
“Namun, yang membuatku penasaran, Toner sebelumnya hampir dikalahkan oleh Zchaira?” Tanya Raumian, nampak penasaran.
“Iya tuan Raumian… Walaupun aku juga masih tidak yakin jika nyonya Anelsa tidak datang menghentikan hal tersebut,” jawab Rayvor.
Semua murid yang berada di dalam ruangan itu, begitu juga dengan Toner, namun selain Megathirio karena sebelumnya tidak sadar, seketika langsung menganggukan kepala mereka, merespon bahwa hal tersebut memang benar.
“Tapi, setahuku kau adalah murid yang berada dibawah tingkatan Land Venerate kan?” Tanya Raumian pada Zchaira.
“Aku masih berada di kelas Division Venerate, tuan,” jawab Zchaira.
Raumian, Brynzel serta Anelsa pun lantas terkejut mendengar jawaban dari gadis itu. mereka tampak bertanya-tanya dalam benak masing-masing tentang macam apa yang digunakan oleh Zchaira hingga dapat membuat Toner tersudut.
“Daripada memikirkan hal itu lagi… Lebih baik kita sudahi saja masalahnya dengan berdamai satu sama lain…” ucap Anelsa, menyuruh beberapa murid yang terlibat pertarungan untuk segera berdamai.
“Dimulai dari kau Megathirio,” lanjut Anelsa, menyuruh pemuda itu untuk meminta maaf karena memulai masalah itu paling awal.
“Haah…” Tidak memiliki pilihan lain, Megathirio pun lantas datang mendekati Lucia untuk mencoba meminta maaf kepada Vampireman perempuan itu.
“Maafkan aku karena sudah menganggumu sebelumnya,” ucap Megathirio, walaupun sedikit tidak rela ingin meminta maaf kepada Vampireman perempuan itu.
“Aku terima permintaan maafmu kali ini,” respon Lucia, tidak mau memperpanjang masalah tersebut.
Megathirio kemudian langsung pergi mendekati Andras untuk juga meminta maaf kepada pemuda itu karena sebelumnya sempat menantang pemuda itu juga.
“Hei, aku juga mau meminta maaf padamu soal yang tadi,” ucap Megathirio.
“Asalkan perempuan itu sudah tidak mempermasalahkan masalah ini, aku tidak peduli jika kau mau meminta maaf kepadaku,” balas Andras.
Ketika Megathirio mau menghampiri Toner untuk meminta maaf juga kepada pemuda itu, tiba-tiba Zchaira langsung mendahuluinya mendekati Toner.
“Kakak, mohon maaf karena aku sudah mencoba melawanmu tadi tanpa mengetahui dengan jelas permasalahan yang terjadi… Aku hanya dengan sponton merasa emosi ketika mengetahui bahwa kau menyerang saudaraku,” ucap Zchaira sambil membungkukan badannya, meminta maaf di depan pemuda bernama Toner itu.
“Eh… Tidak masalah, yang pasti untuk selanjutnya kau harus mengetahui dulu tentang masalah yang terjadi,” balas Toner, sedikit berpesan kepada gadis itu.
“Megathirio, ayo sekarang kau yang meminta maaf…” Zchaira lantas menarik kakaknya tersebut dan langsung membuat pemuda itu berlutut dihadapannya.
“Hei, apakah harus seperti ini?”
“Sudah, lakukan saja…” Ucap Zchaira sambil menahan Meagthirio untuk terus berlutut.
“Maafkan aku, karena menyerangmu juga,” ucap Megathirio pada Toner.
“Iya, aku menerima permintaan maafmu,” balas Toner, menerima permintaan maaf dari pemuda itu.
Ketika masalah tersebut telah diselesaikan dengan perdamaian, para murid-murid lantas hendak untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Tunggu dulu… Kita belum selesai.” Akan tetapi, Anelsa langsung menahan mereka agar tidak pergi kemana-mana lebih dulu.
“Eh… Ada apa lagi nyonya, kukira semuanya sudah selesai?” Tanya Megathirio, nampak bingung.
“Masalah ini sudah selesai, tapi kalian tetap harus mendapatkan hukuman,” ucap Anelsa.
“Kalian semua akan mendapatkan hukuman,” ucap Anelsa, menyatakan bahwa beberapa murid yang sebenarnya hanya menjadi saksi dalam permasalahan sebelumnya juga akhirnya akan mendapatkan hukuman yang sama seperti Megathrio, Zchaira, Lucia, Andras dan Toner.
“Apa? Kenapa kami harus mendapatkan hukuman juga?” Tanya Shaevanjoe, terkejut mendengar hal tersebut.
“Iya nyonya, padahal aku dan temanku Dorolia sebelumnya hanya lewat saja bersama Zchaira,” sambung Wenra, yang juga merasa tidak terima dengan hal tersebut.
“Justru itu yang membuat kalian akan mendapatkan hukuman juga… Kalian hanya berusaha melihat pertarungan sebelumnya tanpa berusaha memisahan mereka,” jawab Anelsa.
Walaupun merasa kesal, Shaevanjoe, Wenra, Dorolia, bahkan Rayvor dan Flogaz pun tidak bisa berkomentar apa-apa dan terpaksa harus menerima bahwa mereka juga akan mendapatkan sebuah hukuman.
“Tenang saja, aku tidak akan memberikan hukuman kepada kalian untuk berlari memutari akademi sihir ini, ataupun berlari menyusuri hutan serta padang stepa sampai ke akademi sihir, layaknya pelajaran pelatihan fisik kalian pada awal masuk,” ucap Anelsa.
“Kalian akan mendapatkan hukuman yaitu dikirim untuk menjalankan sebuah misi,” lanjut Anelsa.
“Sebuah misi?” Ucap semua murid yang ada secara bersamaan, selain Toner.
“Iya, kalau begitu apa misi yang akan kau berikan pada kami nyonya?” Tanya Toner.
Anelsa kemudian menjelaskan bahwa baru-baru ini para tetua mendapatkan sebuah informasi tentang pergerakan dari kelompok-kelompok yang memberontak dan menguasai beberapa kota yang berada di daerah Xetas.
Tetua akademi sihir itu ingin mengirim mereka pergi ke daerah Xetas untuk membantu para Venerate yang berada disana menyelamatkan para warga yang sedang ditangkap oleh para Venerate-Venerate yang sedang memberontak tersebut.
Anelsa menyimpulkan bahwa para warga yang ditangkap oleh para Venerate tersebut sedang dalam bahaya karena seperti mereka ingin melakukan sesuatu kepada para warga yang ditangkap oleh mereka itu.
“Daerah Xetas… Kenapa aku tidak mendapatkan informasi itu?” Ucap Toner, sontak terkejut karena daerah tersebut merupakan daerah tempatnya berasal.
“Informasi ini masih terbilang rahasia… Bahkan Para Venerate wilayah timur, termasuk tuan presiden penyihir dan nyonya wakil presiden penyihir masih belum mengatahui hal ini,” Ucap Anelsa.
“Persiapkanlah diri kalian karena esok hari kalian semua akan pergi ke kota Thouson di daerah Xetas,” lanjut Anelsa.
***
Beberapa saat kemudian, setelah Anelsa menjelaskan tentang misi yang akan dijalani, para murid kemudian satu per satu mulai meninggalkan ruangan tersebut.
Terlihat Zchaira yang berada di luar ruangan bersama dengan Wenra dan Dorolia, tampak memperlihatkan ekspresi wajah yang murung, membuat kedua temannya tersebut lantas kebingungan.
“Kakak, kenapa denganmu?” Tanya Wenra.
“Maafkan aku, Wenra… Dorolia… Karena tiba-tiba menyerang murid Land Venerate itu, kalian terpaksa harus berakhir mendapatkan hukuman juga,” ucap Zchaira, nampak merasa bersalah kepada dua anak perempuan itu.
“Jangan permasalahkan hal itu kakak… Lagipula jika aku juga melihat saudaraku seperti itu, secara tidak sengaja aku juga akan bertindak seperti itu tanpa harus mendengar kejadian yang sebenarnya terjadi… Walaupun jika aku melawan, aku tetap akan dikalahkan,” ucap Wenra, meyakinkan gadis itu agar tidak perlu merasa bersalah.
“Ngomong-ngomong kakak, aku penasaran tentang kekuatan yang kau gunakan, yang bahkan bisa mengalahkan murid Land Venerate bernama Toner itu,” ucap Dorolia.
“Eh… Aku akan menjelaskan kepada kalian tentang kekuatan tersebut nanti, yang penting kita kembali dulu ke asrama.”
Zchaira pun lantas mendorong kedua temannya tanpa menjelaskan tentang kekuatan yang digunakannya tersebut.