
–11 Desember 3024–
Keesokan harinya di akademi sihir, di dalam bangunan para murid-murid kelas Division Venerate, Zchaira bersama Wenra serta Dorolia berjalan layaknya seorang murid yang sangat dihormati serta digandrungi diantara para murid-murid lainnya. Disaat mereka bertiga sedang berjalan bersama, beberapa murid-murid yang berpapasan seketika menyikir dan memberikan mereka bertiga ruang yang luas untuk berjalan terlebih dahulu.
Karena sebelumnya mendapatkan julukan sebagai raja kelas karena telah mengalahkan tiga murid-murid yang dianggap terkuat dalam kelas Division Venerate, serta secara terang-terangan menunjukan kemampuan yang bahkan belum dan tidak bisa dikuasai oleh para murid-murid lain, Zchaira akhirnya mendapatkan pengakuan khusus serta disegani oleh murid-murid yang berada di dalam kelas Division Venerate dalam akademi sihir tersebut.
“Padahal aku hanya ingin menjadi murid biasa,” gumam Zchaira, nampak tidak terlalu menyukai pengakuan sebagai raja kelas Division Venerate padanya karena selalu saja disegani oleh murid-murid setingkat dengannya.
“Kakak, suka atau tidak suka kau sekarang sudah diakui oleh yang lain sebagai raja kelas ini… Setidaknya nikmati saja, atau biarkan saja mereka bertingkah seperti itu.” Wenra pun lantas meyakinkannya untuk menerima hal tersebut karena gadis tidak membuat gadis itu merasa canggung dengan keadaannya saat ini.
“Haah… Aku malah menjadi bingung, entah aku harus menikmatinya atau membiarkan hal ini terjadi,” respon Zchaira, menjadi lebih merasa bingung serta dilema setelah mendengar penjelasan dari Wenra.
Ketika sedang melanjutkan berjalan di dalam bangunan tersebut, Zchaira beserta dua temannya tersebut tiba-tiba berpapasan dengan tiga murid yang pernah dikalahkan oleh Zchaira sebelumnya, hingga membuat mereka pun sontak terhenti.
Dalam waktu yang cukup lama, mereka saling menatap dengan ekspresi canggung. Ketika Zchaira dan dua temannya ingin berjalan ke arah kiri, ketiga murid itu lantas mengambil rute, membuat Zchaira, Wenra dan Dorolia pun mengubah rute mereka ke kanan, namun ketiga murid itu lantas ingin hendak mengambil rut eke kanan juga.
“Maaf kakak dan teman-teman… Silahkan berjalan duluan saja.” Ketiga murid itu pun lantas memberikan ruang kepada Zchaira dan dua temannya untuk terlebih berjalan.
Tanpa pikir panjang, Zchaira bersama dua temannya pun langsung berjalan ketika tiga murid itu memberikan jalan bagi mereka.
***
Berpindah pada bangunan dari para murid kelas Regional Venerate, dimana pada salah satu ruangan yang luas tampak Lucia sedang berlatih dengan berkali-kali mencoba memproyeksikan sebuah serangan elemen api berwarna biru.
Lucia memfokuskan Mana pada salah satu tangan yang diangkatnya ke atas, memanipulasikannya hingga seketika menjadi sebuah kobaran api biru yang cukup besar
“Fiammazul sillabare…” Vampireman perempuan itu tiba-tiba berputar-putar membuat kobaran api yang diciptakannya seketika menjadi sebuah pusaran api yang menyala-nyala.
**
Di dalam ruangan tempat Lucia berlatih terlihat juga Rayvor serta Flogaz sedang menonton Lucia, dimana Rayvor lantas bertepuk tangan ketika melihat teknik yang dilancarkan oleh Vampireman perempuan itu nampak indah dinilainya.
*
“Aku harus mengatakan kepada Zchaira tentang perasaanku… Walaupun kita berdua adalah saudara, tapi aku tidak bisa terus berpura-pura seperti ini.”
Sedangkan Flogaz yang walaupun sedang melihat Lucia berlatih, namun di dalam benaknya nampak memikirkan tentang bagaimana menyatakan perasaannya kepada Zchaira, yang merupakan saudara sepupunya tersebut.
**
“Wah… Teknik yang bagus kakak,” ucap Rayvor, memberi pujian kepada Lucia.
“Terima kasih Rayvor… Apa kau memiliki saran tentang nama teknikku ini?” Respon Lucia, berterima kasih kepada pemuda itu kemudian bertanya saran mengenai nama dari teknik elemen api mlikiknya tersebut.
“Kurasa nama yang bagus adalah pusaran api biru…”
“Apakah itu tidak terlalu biasa?” Tanya Lucia, nampak ragu dengan saran nama yang diberikan oleh Rayvor.
“Bagaimana denganmu Flogaz? Apakah kau bisa memberikan nama tentang teknik elemen api dari kakak Lucia?” Rayvor pun lantas bertanya kepada adiknya karena tidak memiliki ide untuk nama teknik tersebut.
“Eh, iya… Kurasa itu bisa disebut sebagai pernyataan cinta…”
Rayvor serta Lucia seketika kebingungan hingga sejenak terdiam mendengar saran nama yang diberikan oleh Flogaz.
**
Ternyata di dalam ruangan tersebut tidak hanya Lucia satu-satunya murid Regional Venerate yang sedang berlatih.
“Aqua sillabare… Water tempest…”
“Ekh…” Terlihat Megathirio tiba-tiba melancarkan serangan pusaran elemen air yang cukup besar hingga pancaran air dari tekniknya tersebut langsung membasahi tubuh Lucia yang sedang berada di dekat pemuda itu.
“Hei sialan… Berapa kali aku harus selalu dibuat basah kuyub sepeti ini olehnmu.” Tidak terima dengan hal tersebut, Lucia pun menjadi kesal hingga datang menghampiri Megathirio dan langsung menarik kerah pemuda itu.
“Memangnya kenapa? Apa kau kurang senang dengan hal itu?” Tanya Megathirio dengan ekspresi wajah tanpa rasa bersalah, layaknya dengan sengaja melakukan hal tersebut kepada Vampireman perempuan itu.
“Tunggu dulu… Tolong jangan seperti ini, kita bisa membicarakan dengan baik-baik.” Melihat Lucia menjadi kesal serta Megathirio yang nampak tidak merasa salah sedikitpun, Rayvor pun lantas langsung datang menghampiri kedua orang itu dan langsung mencoba untuk memisahkan mereka.
“Jika kau tidak terima, kalau begitu ayo bertarung denganku…” Tidak mau berhenti, Megathirio pun langsung menantang Vampireman permepuan itu untuk bertarung.
“Baiklah… Siapa takut.” Tanpa pikir panjang, Lucia pun langsung menerima tantangan tersebut.
***
Tak berapa lama Megathirio dan Lucia kini bersiap untuk saling berhadapan, dimana Rayvor dan Flogaz hanya bisa terdiam dengan ekspresi khawatir memperhatikan mereka berdua.
“Kakak aku merasa rasa saling benci dari mereka berdua perlahan-lahan akan menjadi rasa saling menyukai satu sama lain,” ucap Flogaz, mengatakan hal yang tidak penting disaat keadaan seperti itu.
“Sudah kau diam saja… Lebih baik kita perhatikan kakak Megathirio, jika nantinya melakukan sesuatu yang aneh kepada kakak Lucia.” Rayvor pun lantas memarahi adiknya karena lebih baik fokus pada pertarungan yang akan dimulai oleh Megathirio dan Lucia.
**
Dengan cepat Lucia berlari ke depan kemudian melompat sembari Megathirio masih dengan santainya berdiri memperhatikan Vampireman perempuan itu.
“Fiamma sillabare…” Lucia seketika melancarkan serangan elemen api ke arah Megathrio.
“Difesa sillbare…” Melihat serangan Lucia, dengan sigap Megathirio menciptakan sebuah perisai proyeksi untuk menahan serangan tersebut.
“Aqua sillabare…” Dengan cepat Megathirio mengganti teknik menjadi serangan tebakan elemen air yang dengan cepat meluncur ke arah Lucia.
“Ukh…” Terlambat memasang pertahanan, Lucia seketika menerima serangan dari pemuda itu hingga membuatnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Anehnya Megathirio tiba-tiba berlari menghampiri Lucia dan dengan cepat memegang perempuan itu yang akan segera jatuh tersungkur.
Ketika wajah mereka berdua saling menatap, Lucia pun lantas hanya bisa terdiam tidak mengira bahwa pemuda itu akan menolongnya.
“Apa kau tidak apa-apa?” Tanya Megathirio mengenai keadaan dari perempuan itu.