The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 211 - Kebiasaan mengambil sesuatu



“Kotak ini terkunci juga…” Ucap Astrapi.


“Tunggu…”


“Ada apa kakak?” Astrapi lantas kebingungan ketika hendak mencoba membuka kotak yang terkunci sama seperti pintu sebelumnya, lantas ditahan oleh Illios.


“Kita buka pakai kekuatan otot saja…” Ucap Illios, sontak mengambil ancang-ancang mencengkram kotak tersebut dengan kedua tangannya, membuat Astrapi yang menyaksikannya memasang ekspresi kebingungan karena tidak yakin bahwa saudara mampu membukanya dengan hanya mengandalkan kekuatan fisik.


Tanpa diduga, tiba-tiba saja kunci dari kotak itu rusak hingga membuat kotak tersebut kini sedikit terbuka.


“Aku tidak tahu bahwa kau begitu kuat…” Ucap Astrapi terkejut melihat Illios mamp membuka kotak tersebut tanpa menggunakan sebuah teknik sihir, yang bahkan jika dilihat olehnya, kotak tampak sangat sulit untuk dibuka secara paksa oleh orang dewasa sekalipun.


Illios perlahan-lahan membuka kotak tersebut, hingga terlihat sebuah benda yang berada di dalamnya.


Illios dan Astrapi lantas memasang ekspresi wajah yang nampak kecewa ketika melihat benda yang berada di dalam kotak tersebut tidak sesuai ekspektasi mereka, dimana kotak itu ternyata merupakan sebuah tempat penyimpanan dari sebuah pedang berukuran sekitar satu meter.


“Apakah benda yang kita cari?” Tanya Illios.


“Tentu saja bukan,” jawab Astrapi.


“Haah… Kupikir kotak ini menyimpan bat kristal yang kita cari… Ternyata hanya sebuah pedang…” Lanjut Astrapi, nampak kecewa karena mereka harus kembali berusaha mencari benda yang disimpan oleh ketua clan Drown, karena hal itu setidaknya dapat menyelamatkan adik mereka dari sebuah incaran.


Astrapi yang kecewa sontak berjalan meninggalkan kotak yang menyimpan sebuah pedang di dalamnya, akan tetapi tidak degan Illios, dimana pria itu lantas merasa tertarik ketika melihat pedang yang berada di dalam kotak tersebut.


“Kakak… Tak usah macam-macam, ayo kita pergi dari sini…” Ucap Astrapi, melihat Illios terus menatap ke dalam kotak tersebut, serta memperingati Illios untuk tidak berniat mencuri pedang yang sedang diperhatikan oleh kakaknya tersebut.


“Astrapi… Ini adalah senjata suci… Dan aku merasa bahwa pedang ini sepertinya lebih kuat dari pedang-pedang milik kita yang dibuat oleh ayah…” Ucap Illios, memberitahukan kepada Astrapi bahwa pedang yang sementara diperhatikan olehnya merupakan sebuah senjata suci, karena mampu merasakan sebuah tekanan kekuatan yang cukup samar memancar dari pedang tersebut.


“Tentu saja kakak… Jika itu hanya pedang biasa, untuk apa menyimpannya di dalam tempat ini,” ucap Astrapi.


Tanpa pikir panjang, Illios yang sangat tertarik dengan pedang tersebut, lantas mengambil pedang tersebut dari dalam kotak, kemudian mengangkatnya sambil memasang ekspresi tersenyum.


“Kakak… Apa yang kau lakukan? Cepat kembalikan pedangnya.” Melihat Illios mengambil pedang tersebut, Astrapi langsung memperingatkan saudaranya tersebut.


“Jangan khawatir… Aku hanya ingin melihatnya saja…” Ucap Illios.


“Eh…” Akan tetapi, ucapan pria itu berbanding terbalik dengan apa yang dilakukannya, dimana Illios mengakses kekuatan miliknya, membuat pedang yang sedang dipegang olehnya seketika menghilang karena telah tersimpan ke dalam ruang spasial yang dapar diaksesnya.


“Kakak… Apa kau bodoh? Cepat munculkan kembali pedang itu…” Astrapi pun langsung menyuruh Illios untuk mengembalikan pedang yang sudah disimpan oleh Illios di dalam ruang spasial miliknya.


“Ayo kita pergi sekarang…” Illios kemudian mengajak adiknya tersebut untuk pergi dari ruangan tersebut bahkan meninggalkan museum tempat mereka berada karena kemungkinan benda yang mereka cari memang tidak tersimpan di dalam bangunan tersebut.


Astrapi pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakukan dari Illios yang memang diketahuinya sering mencuri barang-barang apapun yang diinginkan oleh pria itu, bahkan saat mereka sedang menjalankan misi di kota tersebut, hal itu sudah terjadi untuk kedua kalinya, setelah Illios mencuri sepasang belati di dalam kediaman clan Drown sebelumnya.


***


Berpindah pada saudara tertua dari Illios dan Astrapi, yaitu Kral, dimana pria tersebut kini sudah berada di depan sebuah kastil tua yang merupakan bangunan peninggalan dari ras Elfman ketika wilayah Fuegonia yang sekarang masih menjadi wilayah dari negeri Blueland.


Kastil tua tersebut diyakini oleh Kral sudah tidak pernah dipakai lagi sejak puluhan abad yang lalu, selain menjadi sebuah tempat penyimpanan karena melihat sebuah lambang salib dengan memiliki garis lingkaran berwarna merah, dan memiliki dua warna tepi, putih serta biru, yang merupakan lambang dari negeri Blueland, masih terpampang jelas di pintu depan kastil tersebut.



“Ternyata Fuegonia tidak menyingkirkan hal yang masih berhubungan dengan bangsa penindas mereka, walaupun bangsa itu yang membuat negeri Lightio bisa berdiri di masa lalu,” gumam Kral, sedikit bertanya-tanya mengapa bangunan tua peninggalan negeri Blueland itu masih tetap dipertahankan oleh negeri Fuegonia.


Tidak mau memikirkan hal yang tidak terlalu penting, Kral pun perlahan berjalan mendekati pintu gerbang tersebut, kemudian mencoba membukanya.


Tanpa pria itu sangka, ternyata pintu gerbang kastil tua tersebut terbuka dengan mudahnya, memperlihatkan sebuah ruangan yang luas di dalamnya, yang hampir sebagian besar sisinya tertutup sebuah tanaman merambat serta dilapisi debu yang tebal.


**


Kral berjalan menyusuri setiap sudut, ruangan-ruangan di dalam kastil tersebut, mencoba mencari sebuah tempat yang kemungkinan bersar merupakan sebuah tempat penyimpanan yang sebelumnya diinformasikan oleh Dierill.


Akan tetapi, setelah hampir semua sudut kastil tersebut telah dia lewati, pria itu tetap tidak menemukan sebuah hal yang mencurigakan, yang berhubungan dengan tempat penyimpanan.


Hingga ketika Kral kini berada di depan sebuah pintu terakhir, pria itu nampak ragu karena mengetahui bahwa dibalik pintu tersebut tidak ada sebuah ruangan, karena merupakan sebuah pintu keluar ke sisi belakang dari kastil tua itu.


Karena pintu tersebut merupakan sebuah pintu terakhir di dalam kastil yang luas tersebut, Kral pun tidak memiliki pilihan selain membukanya, sambil berharap bahwa dia akan mendapatkan benda yang dicari olehnya.


“Apa-apaan ini?” Gumam Kral, seketika terkejut ketika melihat sebuah taman yang indah tepat di belakang kastil tersebut, dimana nampak terlihat seirng dirawat, berbanding terbalik dengan kastil yang dimasukinya.


Kral pun memasang ekspresi senyuman tipis, ketika merasakan bahwa tempat yang dimaksud oleh Dierill merupakan taman tersebut, dan kemungkinan di sekitar tempat itu memiliki sebuah tempat penyimpanan rahasia.


Pria itu perlahan berjalan ke depan sambil melihat ke sekitar taman tersebut. Kral mengitari taman tersebut, namun tidak bisa mendapatkan sesuatu yang mencurigakan.


“Haah… Ini membuatku lelah saja…” Ketika berada di tengah taman, Kral lantas menyadari bahwa terdapat sebuah pola lingkaran-lingkaran pada lantai batu yang bisa diputar, tepat pada tempat pijakannya, dan nampak terlihat sedikit berantakan.


Melihat pola yang berantakan tersebut, Kral pun satu per satu memutarnya, dari bagian terbesar sampai ke bagian terkecil, hingga dapat dengan jelas melihat bentuk pola tersebut.