
Setelah pembawa acara menginformasikan hal tersebut, tak berapa lama kemudian para penonton serta peserta satu per satu mulai meninggalkan arena turnamen.
***
Sementara kelima murid akademi sihir yang merupakan para anggota tim Lightio, nampak berjalan keluar dari arena turnamen sambil diperhatikan oleh Artemis dari kejauhan.
Artemis kemudian menatap ke arah lain, dimana terlihat lima Venerate tingkat atas Machora Tira, yaitu Aelacia, Alexei, Lovarge, Zenef, serta ibu kandungnya Lethis, yang ternyata sedang memperhatikan para anggota tim Lightio, khususnya Zchaira yang kini menjadi tujuan mereka.
**
Kelima Venerate tingkat atas Machora Tira itu lalu menatap Artemis yang berada di kejauhan. Aelacia tampak memasang ekspresi senyuman menyeringai ke arah Artemis, mengisyaratkan bahwa dirinya memang hendak melakukan sesuatu yang buruk kepada putri bungsu dari wanita itu.
Akan tetapi, untuk saat ini kelima Venerate tingkat atas tersebut enggan mengincar Zchaira disamping Venerate tingkat atas Fuegonia juga masih belum benar-benar meninggalkan arena turnamen tersebut, karena jika saja mereka hendak menyerang para anggota tim Lightio, dan langsung diketahui oleh dua Venerate tingkat atas Fuegonia, yang dalam hal ini merupakan Rox serta Achilles, maka itu akan berdampak pada tujuan utama mereka.
Sementara Lethis yang sedang menunjukkan ekspresi murung, nampak merasa dilema harus melakukan apa, dimana dia merasa ragu untuk mengincar putri dari Artemis, sedangkan dirinya yang merupakan Venerate Machora Tira harus berkewajiban untuk mengikuti misi yang sedang mereka jalankan.
***
Berpindah di sebuah bangunan yang merupakan sebuah museum, yang berada di dalam kota Novacurve, terlihat Illios dan Astrapi yang kini telah berada di dalamnya, nampak memeriksa semua sisi ruangan-ruangan yang ada dengan tujuan menemukan suatu tempat penyimpanan yang berkemungkinan merupakan tempat disimpannya batu kristal yang hendak mereka cari di tempat tersebut.
Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh salah satu anak dari pemimpin clan Drown yaitu Dierill, dimana tempat tersebut memang merupakan tempat penyimpanan dari benda-benda antik peninggalan bangsa Fuegonia pada jaman dahulu, serta para kaum bangsa penyihir Elfman yang pertama kali memang pernah menguasai daratan utara benua Aizolica.
Illios dan Astrapi terus mencari sebuah jalan rahasia di dalam museum yang luas tersebut, berharap agar bisa mendapatkan benda yang mereka cari.
Saat sedang memeriksa sebuah ruangan tempat mereka berada, tiba-tiba Illios serta Astrapi mendengarkan suara langkah kaki dari beberapa mendekat ke arah ruangan tersebut, yang lantas membuat secara refleks mencari sebuah tempat untuk bersembunyi.
Ketika menatap ke keluar pintu masuk ruangan tersebut, mereka berdua lantas melihat beberapa penjaga lewat dengan menggunakan sebuah penerang.
Pada saat para penjaga tersebut melewati ruangan tempat mereka berada, Illios serta Astrapi lantas menengok dari pintu keluar ruangan tersebut, untuk memperhatikan arah perginya para penjaga tersebut.
Tiba-tiba para penjaga tersebut menghentikan langkah mereka, yang ternyata hendak berpencar menuju ke arah yang berbeda.
“Kalian periksa tempat penyimpanan rahasia… Sebelumnya tuan Rox datang kemana dan mengeluh bahwa kunci pintu ruangan tersebut tidak berfungsi…”
Illios dan Astrapi pun mendengar ucapan dari salah satu penjaga yang hendak pergi arah lain, dimana mereka pun yakin bahwa ucapan dari penjaga tersebut kemungkinan berhubungan dengan benda yang mereka cari.
Tanpa pikir panjang, Illios dan Astrapi pun keluar dari ruangan tersebut untuk diam-diam mengikuti para penjaga yang sedang menuju ke arah lain.
**
Para penjaga berjalan menuruni sebuah tangga yang cukup panjang, dan kemudian sampai di depan sebuah lukisan yang berukuran besar.
Salah satu dari mereka pergi ke samping lukisan besar tersebut, dan mulai melakukan sesuatu hingga akhirnya lukisan yang besar itu terbuka layaknya sebuah pintu.
Ternyata dibalik lukisan tersebut, terdapat sebuah pintu brankas rahasia yang kemungkinan merupakan tempat penyimpanan rahasia, yang dibahas sebelumnya.
Salah satu dari penjaga mencoba membuka pintu brankas tersebut dengan menggunakan pola yang memang sudah diketahui olehnya, dan tak berapa lama kemudian, pintu brankas tersebut tiba-tiba mengeluarkan suara dentuman sekali, namun setelah hal tersebut suara dentuman tersebut lantas kembali.
“Sepertinya kuncinya memang sudah tidak berfungsi…” Gumam penjaga tersebut.
“Apakah dari kalian ada yang bisa memperbaikinya?” Lanjutnya, bertanya kepada para rekan-rekannya.
Mereka pun lantas menggelengkan kepala secara bersamaan, merespon bahwa tidak ada satupun dari mereka yang bisa memperbaiki kunci pintu brankas tersebut.
“Haah… Memang kita harus memanggil teknisi untuk memperbaikinya.” Ucap salah satu penjaga tersebut.
“Eh…”
Tiba-tiba para penjaga tersebut terkejut ketika melihat sebuah benda berbentuk layaknya sebuah bola berukuran kecil meluncur ke arah mereka.
Tanpa bisa merespon dangan cepat, bola kecil yang meluncur tersebut seketika meledak dan menciptakan sebuah efek kecil pancaran gelombang, namun langsung membuat penglihatan dari para penjaga tersebut sontak menjadi kabur, hingga secara bersamaan mereka pun jatuh tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.
**
Tak jauh dari tempat itu, tampak Astrapi terkejut melihat apa yang terjadi kepada para penjaga, dan langsung menatap Illios yang berada disampingnya, dimana saudaranya tersebut nampak memasang ekspresi menyeringai, yang membuat Astrapi pun percaya bahwa pria itulah yang telah membuat para penjaga tak sadarkan diri.
“Setidaknya aku tidak menyerang mereka dengan kasar…” Ucap Illios.
Astrapi pun menggelengkan kepalanya, melihat perbuatan saudaranya tersebut. Dia kemudian berjalan menghampiri para penjaga yang tidak sadarkan diri, lalu mencoba membuka pintu brankas tersebut, dimana Astrapi langsung menggunakan pola yang sama seperti penjaga sebelumnya setelah sekali melihatnya.
Astrapi pun berhasil hingga pintu brankas tersebut memunculkan suara dentuman, namun dengan cepat dentuman kedua pun terdengar, menandakan bahwa pintu brankas brankas tersebut kembali terkunci.
“Minggir adik…”
“Ekh…”
Tiba-tiba Illios mendorong Astrapi menyingkir dari depan pintu brankas tersebut, kemudian mengangkat salah satu tangannya.
“Kakak, tunggu dulu… Jangan lakukan itu…” Merasa bahwa Illios hendak melancarkan sebuah serangan untuk menghancurkan pintu brankas tersebut, Astrapi pun langsung menahan tangan Illios.
“Jangan khawatir… Aku juga berpikir hal yang sama sepertimu…” Ucap Illios, bermaksud tidak akan melakukan hal tersebut.
Mendengar penjalasan dari Illios, Astrapi lantas melepaskan tangan dari saudaranya tersebut.
Illios kemudian memunculkan sebuah diagram sihir tepat di depan pintu brankas tersebut dan kemudian menggunakannya sebagai sebuah portal demi bisa masuk ke dalam ruangan yang berada di dalamnya.
**
Setelah berada di dalam, Illios serta Astrapi sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa ruangan yang berada di dalamnya memiliki sebuah penerangan, berbeda dengan diluar yang nampak gelap akibat museum telah ditutup pada malam hari.
Pada saat bersamaan, mereka melihat sebuah kotak yang terletak tepat di depan mereka, dimana membuat Illios serta Astrapi yakin bahwa kotak tersebut berisi benda yang mereka cari.