The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 18 - Zchaira meninggalkan wilayah utara



“Ibu, apa ini penghalang yang kau katakan?” Tanya Megathirio.


“Bagaimana cara kami melewatinya?”


“Tenang, ini yang akan segera ibu tangani.” Setelah Artemis mengatakan hal tersebut, wanita dengan cepat terbang ke udara.


Artemis memunculkan sebuah diagram sihir yang cukup besar di atasnya dan kemudian berkonsentrasi.


“Difesa sillabare… Holy elritch barrier release…” Kedua mata Artemis memancarkan cahaya yang terang setelah menggunakan sebuah teknik sihir untuk menonaktifkan penghalang yang diciptakannya.


Penghalang yang menutupi seluruh bagian daerah utara negeri Lightio sejenak memancarkan cahaya, hingga kemudian perlahan-lahan mulai memudar.


Kini penghalang yang menutupi daerah pedalaman utara yang diisolasi oleh wanita seketika menghilang.


“Hei adik, kita tahu betul bahwa ibu selama ini adalah orang terkuat di daerah ini… Namun, baru kali ini aku melihat kemampuannya...”


“Apa kau tidak sadar bahwa selama ini kita sebenarnya bisa berkembang menjadi Venerate kuat karena memiliki dua orangtua yang mirip seperti monster…”


Megathirio tampak kagum melihat kemampuan Artemis dalam menciptakan serta meniadakan sebuah penghalang tak kasat mata yang hampir menutupi sebagian besar wilayah utara negeri mereka tersebut.


Pemuda itu yakin bahwa dia serta saudaranya tersebut bisa berpotensi menjadi Venerate tingkat atas sama seperti Ayah dan ibu mereka nantinya.


“Aku juga tahu itu… Tapi, aku seperti merasa bahwa nantinya akulah yang akan lebih kuat darimu kakak,” balas Zchaira.


“Lebih kuat dariku? Bagaimana bisa kau mengatakan itu?”


“Kau pasti belum tahu bahwa kekuatanku bahkan bisa mengembalikan jantung yang telah hancur menjadi utuh kembali…”


“Apa? Kau bisa melakukan hal seperti itu?”


Megathirio sontak terkejut mendengar pernyataan Zchaira yang menceritakan ketika adiknya tersebut mendapatkan serangan dari Vampireman bernama Joker sebelumnya. Gadis itu mendapatkan luka fatal yang bahkan sangat sulit untuk bisa diselamatkan, namun secara ajaib luka tersebut dapat disembuhkan hingga membuatnya terhindar dari maut.


*


“Ternyata kekuatan itu diluar ekspetasiku.” Megathirio sebelumnya mengira bahwa kekuatan makhluk suci yang berada di dalam diri Zchaira hanya sebatas untuk mencegah penyakit gadis itu kambuh.


**


Setelah pembicaraan mereka selesai, Artemis kembali turun menghampiri semuanya yang berada dibawah.


Hefaistos menatap Artemis, namun saat melihat tatapan pria itu, Artemis segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Jadi kau memutuskan untuk ikut juga?” Tanya Hefaistos.


“Tentu saja… Lagipula bukankah jabatan wakil pemimpin negeri masih kosong sejak aku mengundurkan diri…”


Hefaistos merespon ucapan Artemis dengan tersenyum, merasa senang melihat Artemis akhirnya ingin kembali memimpin negeri Lightio bersamanya.


“Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat… Dunia sudah menanti kalian…”


***


Berpindah ke wilayah barat Lightio, dimana pemuda bernama Kral, yang sebelumnya telah diketahui merupakan saudara dari Zchaira, tampak menemui seorang laki-laki serta seorang perempuan di sebuah ruangan.


“Kakak, Akhirnya kau datang juga,” ucap seorang laki-laki, menyambut pemuda bernama Kral tersebut.


“Memangnya apa yang kalian bicarakan?”


“Aku baru saja mendapatkan sebuah penglihatan bahwa keluarga kita akan kembali…” Ucap sang perempuan.


“Keluarga kita? Siapa?” Tanya pemuda bernama Kral, masih belum paham dengan penjelasan perempuan itu.


“Ibu dan adik-adik kita.”


“Benarkah?” Mendengar hal tersebut pemuda bernama Kral itu menjadi terkejut.


Ibu serta adik-adik yang dibicarakan oleh perempuan tersebut merupakan Artemis, Megathirio serta Zchaira, dimana dua orang yang berada di ruangan tersebut merupakan anak dari Artemis dan Hefaistos juga.


Entah apa yang terjadi setelah Artemis meninggalkan kota Hawkngson beberapa tahun yang lalu, ketiga anaknya itu bisa berada di wilayah barat Lightio, diamana menjadi tempat para Venerate yang mempunyai pandangan berbeda dengan para pemimpin negeri Lightio.


“Ternyata setelah kejadian barusan membuat kita bisa bertemu dengan mereka lagi,” ucap Kral sambil memasang ekspresi bahagia di wajahnya.


“Tapi, bagaimana jika ibu nantinya mengetahui bahwa kita tidak berada disana?” Tanya saudara laki-laki Kral.


“Tenang saja, karena kita akan pergi menyambut mereka,” jawab Kral.


Mendengar hal tersebut, kedua saudara pemuda itu lantas terkejut.


“Bukan seperti itu… Kita kesana hanya untuk berkunjung saja…”


***


Pada malam harinya, kapal yang dinaiki oleh Zchaira dan lainnya tengah berlayar melewati kawasan danau raksasa menuju ke wilayah Workyen.


Di atas kapal tersebut terlihat Artemis serta kedua anaknya sedang memperhatikan langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang bergemerlap.


“Setelah hampir enam belas tahun tinggal menetap di Wiaminnota, akhirnya kita kembali ke tempat tinggal kita yang sebenarnya,” ucap Artemis.


“Ibu, kau bilang kembali ke tempat tinggal kita? Apakah saat itu aku telah lahir?” Tanya Zchaira, penasaran.


“Iya, enam belas tahun yang lalu, saat kau masih berusia beberapa bulan, kau telah menunjukkan gelaja kelainan yang sering diderita oleh Venerate ketika mereka lahir…”


“Karena itu kita pergi ke wilayah utara untuk menemui naga kesuburan… Dengan memiliki kekuatannya membuat kau bisa terhindar dari kelainan itu…”


“Tetapi itu juga membuat kau sering diincar oleh yang lain… Karena itu tanpa berpikir panjang ibu terpaksa menetap di wilayah tersebut, dengan membawa kau dan Megathirio.”


Setelah Artemis menceritakan hal tersebut, Hefaistos pun datang menemui mereka bertiga.


“Kalian masih belum tidur?” Tanya pria itu.


“Tidur diatas kapal yang sedang berjalan membuatku tidak terlalu nyaman,” jawab Artemis.


“Daripada terus menceritakan sesuatu yang berhubungan denganku, lebih baik kalian menceritakan bagaimana caranya kalian berdua bertemu… Ibu, kau dan tuan Hefaistos bukan berasal dari clan yang sama.” Tiba-tiba Zchaira meminta diantara Artemis ataupun Hefaistos untuk menceritakan kisah pertemuan pertama mereka.


Mendengar hal tersebut, baik Artemis dan Hefaistos tampak tersipu malu.


“Ayolah… Aku ingin mendengarkannya…”


“Baiklah, akan ibu ceritakan…” Namun, karena permohonan dari putri mereka, Artemis sontak menyetujuinya.


“Kisah ini dimulai tepatnya dua puluh lima tahun yang lalu… Di tempat tinggal kita daerah Wiaminnota… Ibu pertama kali bertemu dengan Hefaistos, ayah kalian…”


–1 September 2999–


Dua puluh lima tahun yang lalu, di daerah Wiaminnota, wilayah pedalaman utara negeri Lightio tampak Artemis yang masih berusia sembilan belas tahun sedang berada di tengah hutan sambil membidikan anak panahnya pada seekor rusa.


Dirasa bidikan tersebut akan tepat pada sasaran, perempuan itu langsung melepas anak panahnya hingga meluncur menancap tepat ke organ vital hewan tersebut.


Rusa itu sejenak meronta-ronta sampai tak berapa lama mulai melemah dan tak sadarkan diri.


Disaat itu Artemis pun mendekati hewan tersebut dan kemudian mulai mengambil bagian-bagian tubuh yang dperlukan pada hewan tersebut.


Artemis tiba-tiba bersiul, dan sontak seekor kuda pun datang menghampirinya. Perempuan itu mengangkut potongan daging rusa tersebut ke atas kuda, lalu menungganginya dan pergi meninggalkan tempat itu.


***


Beberapa kilometer menunggangi seekor kuda, perempuan itu akhirnya tiba diperkampungan tempat tinggalnya.


Setelah sampai disana, Artemis segera menurunkan hasil buruannya dari atas kuda.


Disaat yang sama perempuan itu terheran-heran melihat para warga sedang berkumpul di sau tempat.


Dengan penasaran tanpa memperdulikan lagi hasil buruannya, Artemis pergi menghampiri para warga yang sedang berkumpul.


“Ada apa?” Tanya Artemis, pada salah satu warga.


“Eh, kau sudah sampai… Para prajurit dari wilayah ibukota datang kemari menemui tetua desa,” jawab salah satu warga.


Kemudian pandangan Artemis tertuju pada dua orang prajurit yang sedang menunggu di depan tempat tetua desa.


Perempuan itu menghampiri dua orang tersebut, yang tidak lain merupakan Hefaistos dan Lucierence.


Pandangan Artemis menjadi serius ketika merasakan tekanan kekuatan dari dua orang tersebut.


*


“Mereka sepertinya bukan prajurit biasa,” ucap Artemis dalam hati.


**


“Maaf mengganggu kalian… Tapi, ada keperluan apa kalian kemari?” Tanya Artemis.


“Keperluan kami kemari? Memangnya siapa kau?” Tanya balik Hefaistos dengan ekspresi sinis.