The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 17 - Memutuskan sebuah pilihan



“Kurasa ada satu hal lagi yang harus kalian lakukan selain memberitahukan pada ibu kalian…”


“Berusahalah membujuk ibu kalian agar bisa ikut juga,” ucap Hefaistos.


“Membujuk ibu kami?” Tanya Zchaira.


“Iya benar, bagaimana mungkin dia ingin tinggal di tempat ini tanpa kalian… Dia juga harus ikut.”


“Kuharap kalian jangan terlambat, karena kami akan berangkat sore ini… Aku akan menunggu kalian dipinggiran danau arah timur laut.”


Setelah Hefaistos mengatakan hal tersebut, pria itu pun pergi meninggalkan mereka.


***


Beberapa saat kemudian, Zchaira dan Megathirio kini telah berada di depan rumah mereka. Kedua tampak bingung bagaimana cara mengatakan kepada ibu mereka.


“Kakak, kau yang lebih tua, coba kau yang katakan, pasti ibu akan mendengarkanmu,” ucap Zchaira membujuk Megathirio untuk berbicara pada ibu mereka.


“Entah siapa yang lebih tua diantara kita, aku yakin ibu tidak akan menyetujuinya.” Namun, Megathirio juga tidak percaya diri untuk berbicara tentang hal tersebut pada ibunya.


Sejenak Zchaira berdiam diri untuk mengumpulkan kepercayaan dirinya. Dan setelah semua selesai, gadis itu akhirnya masuk ke dalam rumah mereka bersama dengan Megathirio.


**


Di dalam terlihat Artemis sedang duduk di dekat jendela sambil membaca sebuah buku.


“Ibu…” Panggil Zchaira.


“Iya, ada apa?” Artemis menjawab panggilan putrinya kemudian bertanya.


Entah kenapa kepercayaan diri Zchaira kembali hilang setelah melihat tatapan ibunya, yang sebenarnya bukanlah tatapan seseorang yang akan mengintimidasi.


“Hei, ada apa? Katakan sesuatu…” Tanya Artemis melihat kedua anaknya diam.


“Ada… Ada yang kukatakan padamu… Tapi, kumohon kau jangan marah…” Ucap Zchaira dengan sedikit memaksakan dirinya.


“Aku ingin mengetahui dunia luar dengan mata kepalaku sendiri…”


Mendengar ucapan Zchaira, Artemis menjadi kebingungan. Dia terlihat kurang paham dengan penjelasan yang dikatakan oleh putrinya tersebut.


“Ibu, lebih baik kita ikut bersama tuan Hefaistos dan lainnya…” Disaat itu, Megathirio langsung mengatakan inti dari tujuan mereka yang sebenarnya pada Artemis.


“Apa kau bilang?” Betapa terkejutnya Artemis mendengar ucapan Megathirio.


“Apa sebenarnya yang kalian pikirkan?”


“Ibu, aku memiliki keinginan kuat untuk menjadi lebih kuat… Begitu juga dengan Zchaira, aku tahu banyak yang menginginkan kekuatannya, karena itu dia harus berlatih agar bisa juga melindungi dirinya sendiri,” ucap Megathirio, menjelaskan pada Artemis.


“Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa berpikir seperti itu… Untuk hal yang kau katakan itu jangan khawatir karena ibu bisa mewujudkannya… Kalian lebih baik tetap disini, karena ini satu-satunya tempat yang aman.” Akan tetapi, Artemis tetap pada pendiriannya, tidak mau menyetujui keinginan kedua anaknya.


“Ibu, aku mohon…”


“Sudahlah, apapun yang kau katakan ibu tetap tidak mau menyetujuinya…”


Artemis menutup buku yang sedang dibacanya. Dia kemudian pergi keluar meninggalkan kedua anaknya.


Tampak raut wajah kecewa dari Megathirio dan Zchaira karena tidak mendapatkan persetujuan dari ibu mereka itu.


***


Diluar, karena memikirkan tentang ucapan Megathirio sebelumnya, wanita itu pergi menemui tetua desa mereka, Timonar.


“Ada apa Artemis?” Tanya Timonar.


“Tuan Timonar, baru saja Megathirio dan Zchaira mengatakan bahwa mereka ingin pergi bersama dengan ayah mereka… Itu membuatku khawatir,” jawab Artemis.


“Mereka mengatakan itu?”


Timonar sejenak berpikir tentang pekataan Artemis. Dia merasa bahwa keputusan Megathirio dan Zchaira sebenarnya tidak salah sepenuhnya. Kedua anak Artemis tersebut memang tidak akan bisa berkembang lebih dan mengetahui dunia luar jika masih berada di tempat tersebut.


“Artemis, jika pendapatku lebih baik kalian pergi saja bersama tuan Hefaistos,” ucap Timonar.


“Tapi tuan Timonar jika seperti itu maka Zchaira sudah tidak akan aman lagi…”


“Aku juga berpikir seperti itu, namun Zchaira juga harus berusaha menjadi lebih kuat agar nantinya dia juga melindungi dirinya sendiri.”


Artemis sedikit memikirkan pendapat dari Timonar. Mencoba memikirkan hal yang tepat yang harus dipilihnya.


Artemis terdiam mencoba memutuskan pilihannya, entah bagaimana dia harus menyetujuinya atau tidak.


***


Waktu pun berlalu, dimana matahari akan segara tenggelam berganti ke malam hari. Di pinggiran danau, terlihat kapal para prajurit Lightio yang sebelumnya berasal dari daerah Workyen kini akan bersiap untuk berangkat.


Tampak Hefaistos masih berada di bawah, sedang memperhatikan ke dalam hutan. Pria itu masih berharap keluarganya akan datang dan pergi bersamanya.


Akan tetapi, setelah menunggu lebih lama lagi, tidak ada satupun orang yang keluar dari dalam hutan.


Tak lama kemudian, karena kapal mereka akan segera berangkat, Lucierence bersama dengan Rayvor datang menghampiri pemimpin negeri Lightio itu.


“Kurasa mereka tidak akan datang,” ucap Lucierence.


“Kau benar, mungkin Artemis tetap tidak akan menyetujuinya.”


“Mungkin lain kali, kita mencobanya lagi…”


Hefaistos berjalan menaiki kapal dengan raut wajah yang sedikit kecewa karena keinginannya ternyata masih belum dapat terkabulkan.


Dibelakang pria itu, Lucierence pun juga ikut naik ke atas kapal, namun kini yang tersisa di bawah hanyalah Rayvor.


“Rayvor, ayo…” Panggil Lucierence.


Pemuda itu menatap tajam ke arah hutan karena seperti mendengar sesuatu yang datang.


“Hei, pak-pak tua, coba kalian dengar… Sepertinya ada yang datang,” panggil Rayvor pada Lucierence dan Hefaistos untuk memastikan sesuatu yang didengarnya.


**


“Zchaira…! Tunggu dulu…! Ibu sudah tertinggal jauh dibelakang!”


Ternyata suara tersebut berasal dari Megathirio dan Zchaira yang berlarian di tengah hutan untuk mencapai dipinggiran danau.


“Kakak…! Ayo cepat, kita akan terlambat… Jangan khawatir ibu pasti bisa menyusul kita…”


Tampak Zchaira dan Megathirio kini sudah siap dengan perlengkapan mereka untuk berangkat mengikuti Hefaistos.


Ternyata sebelumnya Artemis memutuskan pilihannya untuk menyetujui keinginan dari kedua anaknya.


Kedua saudara itu berlari dan hampir sampai ke tampat tujuan mereka.


“Zchaira…! Tunggu, berhenti…!” Tiba-tiba Megathirio meresakan sesuatu dan lantas memperigati adiknya tersebut.


“Eh… Apa?”


“Ah…!” Seketika Zchaira menabrak penghalang tak kasat mata yang berada di depannya, hingga membuat gadis itu tersungkur.


“Uh… Apa yang sebenarnya yang kutabrak? Dinding rumahku bahkan tidak sekeras ini…” Keluh gadis itu.


“Aahh…!” Baru saja sadar, ternyata kepalanya kini mengeluarkan darah, hingga membuatnya berteriak.


“Zchaira…!” Megatirio pun menjadi khawatir dan menghampiri Zchara untuk melihat keadaan adiknya tersebut.


Begitu juga dengan Rayvor, Lucierence serta Hefaistos yang langsung datang mendekat ketika mendengar Zchaira berteriak.


“Apa kau tidak apa-apa?” Tanya Rayvor mengkhawatirkan Zchaira dari balik penghalang.


“Tidak, aku hanya terkejut melihat darah saja,” jawab Zchaira.


Disaat Zchaira terluka, disitulah kekuatan makhluk suci yang berada di dalam dirinya aktif hingga menyembuhkan luka gadis itu.


Semua orang pun akhirnya legah karena tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan dari gadis itu.


“Penghalangnya… Kalian harus menggunakan sihir penembus…” Ucap Rayvor.


Namun, kini masalahnya Megathirio dan Zchaira harus mencoba untuk melewati penghalang tersebut dengan menggunakan kekuatan sihir mereka.


“Sihir apa katamu?” Tapi, Zchaira yang belum mengetahui tentang teknik apapun lantas tidak mengerti dengan maksud dari Rayvor.


Semua orang panik mencari cara untuk mengatasi agar Zchaira dan Megathirio bisa melewati pengahalang tersebut. Bahkan Lucierence dan Hefaistos pun yang merupakan Venerate tingkat atas tidak memiliki teknik untuk bisa mengeluarkan kedua anak itu di dalam penghalang.


“Baik, semua… Tolong tenang dulu.” Akhirnya tak lama kemudian Artemis, pencipta penghalang tak kasat mata tersebut datang menemui mereka.