
“Baiklah para murid-murid baru… Perkenalkan namaku adalah Raumian dari clan Villavez daerah Enoel Nova. Aku disini sebagai guru yang akan melatih kekuatan fisik kalian…”
**
“Ah sial… Sudah kuduga ini akan terjadi,” ucap Megathirio, nampak sudah memperkirakan hal itu.
**
“Selain datang kemari untuk mempelajari tentang sihir… Sebagai Venerate, melatih kekuatan fisik adalah salah satu faktor yang dapat membuat kalian bisa berkembang ke tingkatan yang lebih tinggi,” ucap pria itu, menjelaskan kepada semua murid baru yang berada di dalam ruangan.
“Sebelum kita mulai… Aku ingin kalian semua bediri.”
Mendengar perintah dari guru tersebut, para murid baru pun dengan serentak langsung secara berdiri bersamaan.
“Libera sillabare…” Guru itu mengakses kekuatan sihirnya dan dalam sekejap menciptakan diagram-diagram yang berjumlah banyak, muncul di bawah kaki para murid-murid.
***
Dalam sekejap diagram-diagram sihir tersebut menciptakan pancaran cahaya yang sangat terang membuat semua murid baru langsung berpindah tempat.
Para murid-murid pun terkejut serta panik tiba-tiba telah berada di tengah hutan, dimana sepanjang mata memandang hanya terlihat barisan pepohonan.
“Baik-baik, jangan panik dulu… Ini adalah pelajaran pertama untuk kalian semua.” Guru tersebut tiba-tiba muncul, kini telah kembali melayang di udara dengan menggunakan sayap proyeksi dari energi sihirnya.
“Kalian semua berlarilah terus ke arah utara sampai ke akademi sihir yang berada puluhan kilometer dari tempat ini,” ucap guru tersebut.
**
“Kau menyuruh kami berlari sejauh puluhan kilometer… Apa kau masih waras?” Ucap Megathirio dengan nada suara tinggi, terkejut mendengar ucapan dari guru tersebut.
**
“Ini juga menjadi sebuah tantangan untuk kalian… Jika ada yang melawan ada hukuman untuk itu,” ucap sang guru.
“Dan ingat untuk menuju ke akademi jangan sekalipun menggunakan kekuatan sihir kalian… Aku akan tetap mengawasi kalian semua, jika ada yang berubah bermain curang, maka saat itu mereka akan mendapatkan hukuman,” lanjutnya, memberikan sebuah sebuah larangan untuk hal tersebut.
“Baiklah, waktunya kalian berlari sekarang…”
Setelah mendengar arahan dari guru tersebut, para murid-murid pun dengan serentak berlari ke arah utara layaknya sedang berlompat menuju ke akademi sihir.
“Dasar anak-anak bodoh, mau saja kalian dibodohi oleh orang itu… Aku tidak mau berlomba, lagipula belum lama ini aku sudah tahu cara menggunakan sayap proyeksi.” Megathirio yang kesal mendengar pernyataan dari guru tersebut, lantas memiliki cara licik untuk bisa lebih cepat sampai ke akademi sihir.
Pemuda itu dalam sekejap mengakses kekuatan sihirnya menciptakan sebuah sayap proyeksi di punggungnya.
“Zchaira, kau mau ikut denganku?” Tanya Megathirio, menawarkan adiknya untuk pergi bersamanya.
“Tidak… Guru itu sudah mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan kekuatan sihir kita.” Namun, Zchaira menolak tawaran dari saudaranya karena lebih memilih untuk mematuhi aturan yang dikatakan oleh guru tersebut.
“Baiklah… Kalau begitu semangat…”
“Uakh…!” Belum saja beberapa meter Megathirio meluncur, tiba-tiba sebuah sambaran petir yang berasal dari diterimanya hingga membuat pemuda itu terkapar di tanah.
“Kakak!” Melihat hal tersebut, Zchaira sontak khawatir dan menghampirinya bersama dengan Lucia.
“Kakak kau tidak apa-apa?” Tanya Zchaira.
Megathirio tidak bisa menjawab Zchaira dan hanya bisa mengangah setelah mendapatkan serangan sambaran petir secara tiba-tiba.
“Sudah kukatakan sebelumnya kan…” Guru tersebut datang menghampiri mereka dan kembali memperingati tentang larangan yang dikatakan olehnya.
“Kalian berdua cepat lari sana… Jangan pedulikan dia. Biar aku yang menanganinya,” ucap guru itu.
**
Selama beberapa jam, para murid-murid berlari, berhenti sejenak untuk mengambil nafas, namun mereka belum kunjung sampai ke akademi sihir.
Disaat para murid-murid sedang beristirahat, terlihat Zchaira dan Lucia dengan semangatnya masih terus berlari hingga dapat melewati semua murid-murid baru yang ada.
“Zchaira, apa mungkin kau sudah terbiasa dengan hal seperti ini?” Tanya Lucia kepada Zchaira sembari mereka terus berlari.
“Tidak juga… Yah, walaupun aku sedang berlari… Di tengah hutan sendirian… Tapi… Tapi, tidak pernah sejauh ini,” jawab Zchaira dengan nafas terengah-engah karena sudah mulai kelelahan.
***
Beberapa jam pun kembali berlalu, dimana Zchaira dan Lucia masih tetap berlari tanpa berhenti sekalipun.
“Kira-kira kakakku baik-baik saja atau tidak yah…” Ucap Zchaira, masih mengkhawatirkan Megathirio, setelah saudaranya itu menerima serangan elemen petir sebelumnya.
“Tapi… Bukankah tadi… Kau sudah kelelahan?” Lucia pun menjadi bingung dengan Zchaira, yang padahal sebelumnya gadis itu sudah mulai kelelahan, namun tiba-tiba dia kembali normal layaknya baru saja berlari beberapa meter.
“Eh, benar juga… Aku juga sedikit bingung, rasanya energiku kembali seperti normal,” ucap Zchaira sambil memperlihatkan bahwa energinya telah kembali pulih dengan melompat-lompat sembari dia berlari.
Lucia pun nampak heran, tidak menyangka bahwa manusia biasa seperti gadis itu memiliki kekuatan fisik serta tenaga yang lebih besar dibandingkan dengannya sebagai ras keturunan campuran.
Tanpa diketahui oleh Zchaira, sebenarnya hal yang membuat tenaganya kembali pulih adalah karena kekuatan kesuburan abadi dari makhluk suci yang berada di dalam dirinya mampu menyerap energi alam secara otomatis hingga dapat membuat energi gadis itu kembali penuh tanpa bisa diketahui oleh guru yang sedang mengawasi mereka semua.
***
Beberapa saat kemudian, Zchaira dan Lucia akhirnya berhasil keluar dari hutan dan tiba di sebuah lembah yang cukup luas.
Zchaira pun terkejut akhirnya dapat melihat akademi sihir kini berada di depan tepat mereka.
Dengan masih semangat, gadis itu berlari menambah kecepatannya, tidak sabar untuk sampai ke akademi tersebut.
Lucia yang dengan tenaga yang tersisa sedikit hanya bisa keheranan melihat gadis ternyata ternyata masih dapat berlari sekencang itu setelah tidak beristirahat dari berjam-jam yang lalu.
**
Zchaira berhenti sebagai murid yang pertama di depan sang guru bernama Raumian tersebut, yang sudah berada lebih dulu dibandingkan denganya.
“Zchaira… Di urutan pertama,” ucap sang guru, mengumumkan bahwa Zchaira menjadi murid yang paling pertama sampai ke akademi sihir tersebut.
Setelah itu, kini Lucia dengan sisa tenaganya berjalan menghampiri sang guru dan Zchaira di depan akademi, kemudian jatuh berbaring di tanah karena sudah sangat kelelahan.
“Lucia… Di urutan kedua,” ucap sang guru lagi, mengumumkan murid yang sampai setelah Zchaira.
***
Beberapa saat pun berlalu, tampak satu per satu murid-murid baru mulai sampai dengan sisa tenaga mereka langsung terbaring di tanah guru bernama Raumian itu mengumumkan urutan mereka masing-masing.
“Haniwa… Di urutan kedua ratus tujuh puluh delapan,” ucap sang guru, mengumumkan anak laki-laki bernama Haniwa itu sebagai murid yang sampai di urutan yang kesekian.
Anak itu lantas tanpa permisi langsung menaruh kepalanya di atas kedua kaki Zchaira yang sedang direntangkannya.
“Eh, apa yang kau lakukan bocah?” Melihat kelakukan anak laki-laki itu, Zchaira pun lantas menjadi kurang nyaman.
“Maaf kakak, tapi apa boleh aku berbaring begini untuk sementara?” Tanya anak bernama Haniwa itu.
Melihat keadaan dari anak itu yang nampak kelelahan setelah berlari puluhan kilometer jauhnya, Zchaira pun merasa kasihan dan lantas membiarkannya berbaring di atas kedua kakinya.