The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 201 - Salah satu anak menghilang



Saat Astrapi seketika mengayunkan pedangnya, melancarkan serangan proyeksi elemen api berwarna biru, tiba-tiba Lovarge langsung mengibaskan sayapnya, hingga menciptakan hempasan angin yang kuat, membuat serangan elemen api biru dari Astrapi lenyap.


Disaat bersamaan, karena hempasan angin tersebut sangat kuat, membuat Astrapi pun langsung terhempas.


“Akh…” Belum sampai disitu, seketika Alexei dalam wujud Lamiaman bergerak dalam kecepatan yang tinggi, kemudian melompat ke bagian atas Astrapi saat sedang terhempas, lalu dengan sigap menghantamkan ekornya dengan kuat pada tubuh Astrapi, sampai membuat perempuan itu terhentak dengan kerasnya ke tanah.


Alexei kemudian mencengkram leher Astrapi, mengangkat perempuan itu sampai pada ketinggian diatas dua meter, berpatokan pada tinggi dari Lamiaman tersebut yang kini telah tinggi sekitar dua meter ketika berdiri menggunakan ekor ularnya.


Akibat lehernya dicengkram dengan erat oleh Lamiaman tersebut, Astrapi sontak kesulitan untuk bernafas, namun setidaknya perempuan itu masih memikirkan sebuah cara untuk bisa keluar dari situasi tersebut. Walaupun dalam kekuatan fisik serta kecepatan, Astrapi memang jauh lebih lemah dibandingkan dua ras campuran yang berhadapan dengannya, namun perempuan itu masih bisa mengunakan kecerdasannya. Dalam keadaan tercekik, Astrapi memperhatikan sekitaran, mencari sebuah cara untuk bisa terlebih dahulu melepaskan cengkraman tangan Alexei, yang memang tidak bisa dilakukan olehnya sendiri.


Tiba-tiba Astrapi melihat sebuah tiang besi yang cukup tinggi di dalam lorong perkotaan itu, membuatnya sontak memiliki sebuah ide.


Dengan sigap, Astrapi meluncurkan serangan proyeksi energi dari mulutnya ke arah Alexei, namun dengan cepat Lamiaman tersebut langsung menghindarinya.


“Usaha yang bagus gadis cantik…” Ucap Alexei, mengira bahwa serangan yang dilancarkan tersebut akan dilancarkan padanya.


Seketika serangan proyeksi energi yang diluncurkan oleh Astrapi menghantam bagian tengah dari tiang besi tersebut, hingga dalam sekejap roboh ke arah Alexei.


“Uakh…!” Dengan perhitungan yang matang, pada sudut serangan yang dilancarkannya pada tiang itu, Alexei pun tidak bisa menahan beban dari tiang tersebut dan lantas jatuh tersungkur ke tanah, ditimpa oleh tiang itu.


“Haah…” Sementara itu, Astrapi yang dengan mudah bisa melepaskan diri setelah cengkraman tangan Alexei bisa terlepas akibat menimpa sebuah tiang, nampak merasa lega ketika bisa bernafas dengan normal lagi.


“Urgh…!”


Alexei pun berusaha keras menimpa dirinya, sementara Lovarge dengan sigap meluncur ke arah Astrapi untuk menyerangnya.


Karena saking terkejutnya bahwa perempuan itu dapat memanfaatkan keadaan sekitar untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan rekannya, Lovarge yang meluncur ke arah Astrapi nampak gegabah dengan bergerak dalam kecepatan yang mampu diperhitungkan oleh perempuan itu.


Ketika Lovarge telah berada satu titik dihadapan Lovarge, Astrapi dengan sigap melompat melewati Harphyman tersebut sambil mengakses kekuatan dari pedang senjata sucinya untuk melancarkan sebuah serangan.


“Fiamma sillabare… Holy flame saber…”


“Uakh…!” Lovarge pun langsung menerima serangan tebasan proyeksi elemen api biru dari arah atas dari Astrapi, hingga terhentak dengan keras ke tanah.


**


Aelacia sontak terkejut karena sebelumnya mengira bahwa Astrapi yang sedang berada dalam kesulitan mampu membalikkan keadaan hingga membuat dua bawahannya menjadi tersudut.


Tanpa pikir panjang, Aelacia pun langsung meluncur sambil memproyeksikan energi berwarna merah pada salah satu tangannya.


“Difesa sillabare…”


“Akh…” Melihat Aelacia meluncur sambil mengayunkan tangannya yang memancarkan proyeksi energi berwarna merah, Astrapi dengan refleks langsung menciptakan sebuah perisai proyeksi, namun dalam sekejap hancur dan membuatnya terhempas di dekat anak laki-laki dari clan Drown yang berada di tempat itu.


Dengan cepat Astrapi pun langsung berdiri, namun tidak berusaha untuk mengantisipasi pergerakkan Aelacia, melainkan mendekati anak laki-laki yang berasal dari clan Drown.


“Ayo pegangan padaku… Kita harus lari dari sini…” Ucap Astrapi, menyuruh anak laki-laki tersebut.


Karena percaya dengan perempuan itu, anak laki-laki tersebut lantas memeluk erat Astrapi, hingga membuat Astrapi lantas jatuh terduduk ke tanah karena tidak bisa menyeimbangkan dirinya.


“Sial…” Umpat Alexei, merasa kesal ketika Astrapi menggunakan sihir ruang untuk kabur bersama dengan anak laki-laki dari clan Drown tersebut.


“Heh, boleh juga gadis itu ternyata…” Sambil membantu Lovarge berdiri, Aelacia nampak tersenyum ketika sebelumnya melihat mampu menyudutkan kedua bawahannya.


“Ayo kembali…” Ucap Aelacia, mengajak Alexei dan Lovarge untuk pergi dari tempat itu, kemungkinan untuk kembali ke kapal negeri Machora Tira yang berada di pelabuhan.


Alexei dan Lovarge lantas mengikuti Aelacia yang telah berjalan terlebih dahulu sambil mengakses kekuatan mereka untuk berubah wujud menjadi wujud dari manusia murni kembali.


***


Berpindah pada Rox yang sedang berjalan bersama dengan keluarganya dalam keramaian di tengah kota.


“Tunggu dulu…” Sontak ketua clan Drown itu merasakan sesuatu yang aneh, dimana anggota keluarganya nampak berkurang setelah diperhatikannya lagi.


Karena merasa penasaran, Rox seketika menarik satu per satu anak-anaknya, membariskan mereka tepat di depannya untuk melihat siapa yang kurang diantara mereka.


“Hei, apa-apaan kau pak tua?” Anggota tim Fuegonia yang bernama Rourke sontak mengeluh ketika dirinya dipaksa berbaris oleh ayah tersebut.


“Lihat baik-baik siapa yang kurang diantara kalian…”


“Neyndra… Ailene… Rourke… Afucco… Nizale…” Ucap Rox menunjuk satu per satu anak-anaknya.


“Karena memiliki banyak anak, aku bahkan lupa siapa yang kurang diantara kalian…”


“Rox…” Tiba-tiba istri dari Rox terkejut ketika mengetahui bahwa salah satu anaknya memang menghilang.


“Roudra siapa menghilang?” Tanya Rox.


“Dierill tidak ada dasar bodoh…” Jawab istri Rox dengan ekspresi panik.


“Apa?” Respon Rox terkejut ternyata perasaan yang sebelumnya ternyata memang benar.


“Neyndra, Ailene, Rourke… Kalian berpencar cari Dierill di sekitar sini… Ayah dan ibu akan mencari di tempat lain bersama dengan adik-adik kalian.” Dengan tenang, Rox memerintahkan ketiga anak tertuanya untuk mencari adik mereka yang hilang.


Setelah mendengar perintah tersebut, ketiga anggota tim Fuegonia lantas berpencar, sementara Rox bersama dengan istrinya Roudra, serta dua anak termuda ikut menuju ke arah lain.


“Bagaimana bisa anak itu terpisah dari kita?” Gumam Rox dengan ekspresi wajah khawatir, yang tidak diketahuinya sudah kabur entah kemana bersama Astrapi.


***


Kemudian di pegunungan tempat berdiamannya sang naga merak, tiba-tiba saja Astrapi bersama dengan anak laki-laki yang bernama Dierill tersebut muncul.


“Karena panik aku malah memikirkan tempat ini untuk kabur…” Gumam Astrapi, tidak menyangka bahwa sihir ruang yang diaksesnya akan membawa dirinya bersama dengan anak laki-laki dari clan Drown itu di pegunungan tersebut.


“Ekh…” Wajah Astrapi tiba-tiba memerah ketika menyadari bahwa anak laki-laki yang bernama Dierill tersebut masih memeluk dirinya dengan erat sambil memejamkan mata dan menunjukkan ekspresi ketakutan.


“Hei… Disini sudah aman, kau boleh membuka matamu…” Karena merasa canggung dipeluk oleh seorang laki-laki walau jauh lebih muda dibandingkan dengannya, Astrapi lantas perlahan menepuk pundak anak laki-laki itu sambil menenangkannya.