
“Enyah saja kau…” Ucap Lucia, menyuruh anak laki-laki itu pergi dari hadapannya, namun malah dirinya yang pergi meninggalkan Haniwa.
“Manis sekali sikapnya…” Ucap Haniwa, menanggapi ucapan dari Lucia.
***
“Zchaira… Jangan lari kau!” Teriak Megathirio sambil mengejar Zchaira yang terus berlari dari satu bangunan ke bangunan yang lain di dalam akademi sihir tersebut.
***
“Ekh…” Karena berlari dari kejaran Megathirio, Zchaira tiba-tiba menabrak seseorang yang membuatnya langsung terdorong dan kemudian terjatuh.
Zchaira yang terduduk di lantai kemudian menatap ke atas, melihat tiga orang pemuda kini berada di depannya.
Tak berapa Megathirio datang menghampiri saudaranya untuk membantu gadis itu berdiri kembali.
“Hei, setidaknya lihatlah ke depan disaat kau sedang berlari,” Ucap salah satu pemuda yang berada di tengah.
“Maafkan aku…” Ucap Zchaira, sambil sedikit terkejut menatap pemuda yang memiliki tinggi badan sekitar seratus sembilan puluh sentimeter di depannya itu.
“Kau pikir ini adalah tempat bermain… Lagipula kau tidak bisa berada disini,” ucap pemuda yang berada di tengah, sedikit membentak Zchaira hingga gadis itu pun langsung tertunduk.
Mendengar ucapan dari pemuda tersebut, Megathirio pun langsung beraksi. Dia langsung menyingkirkan Zchaira ke belakang kemudian maju menatap pemuda itu ekspresi serius.
“Tunggu dulu… Kau tak perlu sampai berbicara seperti itu, lagipula adikku sudah meinta maaf kan…” Ucap Megathirio.
Mendengar ucapan dari Megathirio, salah satu dari ketiga pemuda itu lantas maju dan langsung menarik kerah Megathirio karena merasa kurang senang dengan pernyataan tersebut.
“Beraninya kau berbicara seperti itu kepada kami… Kau pikir kau siapa?” Ucap salah satu dari tiga pemuda tersebut, sambil menatap tajam Megathirio.
“Memangnya siapa aku sampai tidak boleh berkomentar tentang itu,” balas Megathirio, nampak takut sambil balik menatap tajam pemuda yang menarik kerahnya.
“Apa kau bilang?” Merasa kurang senang kembali, pemuda itu lantas mengangkat tangannya hendak memukul Megathirio.
“Hei, hentikan…” Akan tetapi, tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang Megathirio dan Zchaira, hingga membuat pemuda yang akan menyerang Megathirio langsung mengurungkan niatnya ketika melihat orang tersebut.
Zchaira menoleh ke arah belakang, membuatnya tiba-tiba tersenyum melihat orang tersebut yang merupakan Illios, saudaranya datang bersama dengan Astrapi, saudara perempuannya juga.
Illios menghampiri mereka bersama dengan Astrapi kemudian menepis tangan pemuda yang akan menyerang Megathirio.
“Apa ada masalah?” Tanya Illios.
“Anak ini mencoba untuk menantang kami,” ucap salah satu dari tiga pemuda.
“Kalau begitu, biar aku saja yang menanganinya,” ucap Illios.
“Tidak semua masalah bisa kau ikut campur…” Lantas pemuda yang memiliki tubuh paling tinggi langsung menolak pernyataan dari Illios.
“Apa kau bilang?” Tanya Illios, tiba-tiba memasang ekspresi serius ketika mendengar ucapan pemuda bertubuh tinggi itu.
“Ini bukan urusanmu. Lebih baik kau yang pergi dari sini, dan jangan menghalangi kami,” ucap pemuda tersebut.
“Hei, Toner… Tentu saja ini urusanku, karena dua orang yang kalian sedang kalian tahan ini adalah saudaraku,” balas Illios, menatap tajam pemuda itu.
Pemuda bernama Toner itu sedikit terkejut mendengar pernyataan dari Illios, namun dia tetap pada pendiriannya tidak mau pergi dari tempat itu.
“Toner, ayo kita pergi saja dari sini,” ucap salah satu pemuda.
Dua pemuda yang bersamanya setuju bahwa lebih baik mereka tidak mencari masalah dengan kedua orang yang barusan datang tersebut akibat segan karena Illios maupun Astrapi merupakan dua dari dari tiga murid terkuat dengan tingkatan Continent Venerate di akademi itu.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Astrapi pada Zchaira.
“Aku tidak apa-apa… Tapi, sepertinya aku harus meminta maaf sekali lagi pada orang itu,” jawab Zchaira.
“Tidak perlu melakukannya lagi, lagipula kau memang tidak sengaja menabraknya…” ucap Megathirio.
“Dan karena hal sebelumnya akhirnya aku bisa mengejarmu,” lanjut Megathirio sambil memegang erat kedua tangan Zchaira, karena masih merasa kesal akibat perbuatan gadis itu sebelumnya.
“Kakak, tolong aku…”
“Hei, memangnya apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Astrapi kebingungan melihat kedua saudaranya tersebut.
“Dia tiba-tiba menyerangku dengan teknik rahasia,” ucap Megathirio.
“Eh… Kau bisa melakukan teknik itu…” Disaat yang bersamaan, Megathirio pun langsung menyadari serangan yang diterimanya dari Zchaira.
“Teknik rahasia, maksudmu Incantesimo segreto?” Tanya Astrapi.
“Tentu saja itu yang kumaksud,” jawab Megathirio.
Mendengar hal tersebut Astrapi dan Illios pun terkejut, mereka sangat mengetahui bahwa teknik tersebut minimal hanya bisa dilakukan oleh Venerate yang berada pada tingkatan Regional Venerate karena telah memiliki pasokan Mana yang cukup.
“Zchaira, memangnya kau sekarang berada di tingkatan mana?” Tanya Illios.
“Division Venerate…” Jawab Zchaira.
Walau terkejut hingga memasang ekspresi kebingungan mendengar jawaban dari Zchaira, ketiga saudara dari gadis itu memikirkan bahwa hal tersebut bisa saja terjadi karena bagaimanapun juga Zchaira memiliki kekuatan makhluk suci yang berada di dalam dirinya.
“Ngomong-ngomong kenapa kalian berada di tempat ini, kakak-kakak?” Tanya Zchaira.
“Memangnya tidak boleh… Kami kan masih menjadi salah satu murid di akademi ini,” jawab Astrapi.
Walaupun masih terhitung sebagai murid akademi sihir tersebut sampai mereka berumur setidaknya dua puluh empat tahun, namun karena telah menjadi murid kelas Continent Venerate, Illios, Astrapi, dan bahkan Kral telah memiliki sebuah hak khusus untuk bisa kemanapun yang mereka inginkan tanpa harus terus berada di akademi sihir tersebut.
“Aku dan Illios kemari karena ada sebuah keperluan…” Lanjut Astrapi.
“Tapi, karena melihat kalian berdua, aku lebih baik mengesampingkan hal itu dulu… Ayo, untuk hari ini aku akan menjadi pemandu kalian berkeliling di tempat ini.” Astrapi kemudian mendorong Megathirio dan Zchaira beranjak dari tempat itu.
“Kakak, kau tidak ikut?” Namun, karena Illios masih saja berdiam, Astrapi lantas berhenti kemudian bertanya kepadanya.
“Kau saja yang menjadi pemandu mereka, aku mau menemui tetua terlebih dahulu,” jawab Illios.
Mendengar hal tersebut, Astrapi kemudian lanjut beranjak dari tempat itu untuk memandu Megathirio dan Zchaira.
“Memangnya kenapa kakak Illios ingin menemui tetua di tempat ini?” Tanya Zchaira, penasaran.
“Itu adalah urusan penting yang masih belum bisa diketahui oleh kalian,” jawab Astrapi, tanpa menjelaskan mengapa Illios ingin menemui tetua akademi sihir tersebut.
**
Disaat Astrapi, Megathirio dan Zchaira berjalan diluar bangunan akademi sihir, mereka tiba-tiba berpapasan dengan Rayvor dan Flogaz.
“Eh, kalian keluar dari bangunan para murid Land Venerate?” Ucap Rayvor, sedikit terkejut melihat tiga orang itu, khususnya Megathirio dan Zchaira yang keluar dari bangunan yang ternyata digunakan murid-murid di kelas Land Venerate.
“Kebetulan sekali kita bertemu dengan murid-murid dari clan Slikbar,” ucap Astrapi melihat Rayvor dan Flogaz.
“Kakak Rayvor, padahal sudah beberapa bulan disini, tapi aku baru pertama kali melihatmu,” ucap Zchaira.