
“Boleh juga kecepatanmu bocah Silkbar…” Ucap sosok misterius itu.
Dari balik kegelapan, sosok misterius yang merupakan seorang perempuan ataupun wanita tersebut, tampak memegang pipinya yang tergores akibat acungan tombak dari Rayvor.
“Aku bertaruh, mungkin saja aku akan langsung menerima seranganmu itu jika tidak menghindar dengan tepat waktu,” ucap wanita misterius itu sambil perlahan-lahan berjalan mendekati Rayvor.
Sementara Rayvor tampak merasa tegang ketika merasakan tekanan kekuatan dari wanita misterius itu yang nampak jauh lebih besar dibandingkan dengannya, namun pemuda itu tetap tidak mau memperlihatkan ekspresi tegangnya dengan langsung mengacungkan tombaknya yang memancarkan proyeksi elemen petir ke arah wanita misterius yang sedang mendekat tersebut.
Ketika wanita misterius itu berada dibawah cahaya, ternyata merupakan World Venerate dari negeri Machora Tira yang tidak lain merupakan Aelacia, salah satu dari ras Lamiaman.
Ketika melihat wanita itu dengan jelas, Rayvor seketika langsung meluncur sambil mengacungkan tombaknya ke depan untuk menyerang wanita tersebut.
Akan tetapi, hal yang terjadi nampak berbeda, dimana wanita bernama Aelacia tersebut dengan mudah langsung menggenggam tombak milik Rayvor tanpa merasakan tegangan listrik yang mengalir dari senjata suci tersebut.
Rayvor mengakses kekuatan yang lebih, hingga membuat tombaknya memancar elemen petir yang lebih besar lagi, namun hal tersebut tetap percuma, karena Aelacia tidak berpengaruh dengan pancaran petir tersebut.
Rayvor pun terkejut ketika Aelacia dengan mudah mengangkat dirinya melalui tombak yang ditahan oleh wanita itu.
“Akh…” Disaat yang bersamaan, Aelacia langsung membanting Rayvor ke tanah dengan kerasnya.
“Sayang sekali anak muda… Kau bukanlah tandinganku,” bisik Aelacia dengan mendekatkan wajahnya pada telinga pemuda itu.
“Fiamma sillabare…” Rayvor yang terkapar dengan cepat mengangkat salah satu tangannya kemudian melancarkan serangan proyeksi elemen api ke arah Aelacia, membuat wanita itu sontak terhempas.
Ketika Aelacia terhempas, Rayvor pun dengan sigap kembali berdiri, sambil memegang tombaknya dengan erat, pemuda itu nampak bersiap untuk mencoba menyerang wanita itu sekali lagi, namun Rayvor sontak terkejut melihat wanita yang berhadapan dengannya tiba-tiba telah menghilang, padahal setahunya wanita tersebut terhempas ke depan ketika menerima serangan darinya.
Rayvor pun mengakses kekuatan sihir observasinya sambil melihat ke sekitaran untuk mencari keberadaan dari wanita itu.
“Ukh…” Tiba-tiba Rayvor terhentak ketika mendapatkan sebuah tusukan dari cakar Aelacia.
“Sudah kubilang bahwa kau bukanlah tandinganku… Ini hanyalah sebuah peringatan untukmu, bahwa kalian harus menyerahkan gadis berambut hitam yang memiliki kekuatan dari makhluk suci itu.”
Mendengar ucapan dari Aelacia, Rayvor pun terkejut karena mengetahui bahwa gadis berambut hitam yang dibicarakan oleh wanita itu, tidak lain merupakan Zchaira.
***
Berpindah pada Zchaira dengan tiga murid akademi lainnya yang kini sudah berada di depan bangunan penginapan mereka.
“Zchaira…”
Ketika hendak masuk ke dalam penginapan, Flogaz tiba-tiba memegang menahan Zchaira dengan memegang tangannya, membuat gadis itu lantas menghentikan langkahnya, sementara dua murid akademi sihir lainnya masuk ke dalam.
“Ada apa Flogaz?” Tanya Zchaira.
“Ini mengenai hal yang tadi…” Jawab Flogaz.
Mendengar jawaban Flogaz, Zchaira kemudian berpikir mengenai hal yang hendak dikatakan oleh Flogaz, dimana dia berjanji akan mengatakan hal itu setelah pertandingan dari pemuda itu usai.
“Baiklah… Apa yang ingin kau katakan?” Karena penasaran, Zchaira pun bertanya mengenai hal yang ingin dikatakan oleh pemuda itu.
*
“Ah sial… Bagaimana caraku mengatakannya?”
Sementara itu, Flogaz nampak gugup, dimana dirinya tidak tahu bagaimana caranya untuk menyatakan perasaan pada gadis tersebut.
**
“Maksudmu… Kalau begitu melihatku sebagai apa?” Tanya Zchaira, nampak penasaran, namun gadis itu sontak merasakan sesuatu yang aneh ketika sedikit demi sedikit mencoba mengerti dengan ucapan pemuda tersebut.
“Tunggu dulu… Apa mungkin kau melihatku sebagai perempuan?” Tanya Zchaira sekali lagi ketika telah mengerti dengan maksud dari ucapan Flogaz.
“Iya… Aku selama ini memiliki perasaan kepadamu… Aku tidak bisa melihatmu sebagai saudara, melainkan sebagai seorang laki-laki yang menyukai perempuan,” jawab Flogaz sambil menatap ke arah lain.
“Flogaz… Apa kau benar-benar mengatakan hal itu, tanpa melihat bahwa kita adalah saudara sepupu?” Disamping itu, Zchaira sontak terkejut mendengar pernyataan dari Flogaz.
“Kau mungkin saja hanya merasa kagum kepadaku, bahkan kakak Megthirio saja pernah beberapa kali menggodaku, namun hal itu hanya sebatas gurauan dari seorang saudara.” Namun Zchaira tetap mencoba untuk tenang agar mampu memberikan saran yang tepat pada saudara sepupunya itu.
“Aku tidak bergurau… Aku benar-benar memiliki perasaan padamu…” Ucap Flogaz sambil menatap Zchaira dan memegang kedua pundak gadis itu.
“Ini tidak benar…” Zchaira sontak menjadi tegang hingga langsung melepaskan pengangan tangan Flogaz dari kedua pundaknya, kemudian perlahan-lahan mundur menjauhi pemuda itu.
“Zchaira aku tahu kau akan menolaknya…” Ucap Flogaz sambil perlahan mendekati Zchaira.
“Jangan mendekat… Tentu saja aku tidak bisa menerima itu…” Zchaira sontak memperingati Flogaz ketika melihatnya perlahan-lahan mendekat.
“Aku tidak peduli akan ditolak, namun perasaanku tetap tidak akan berubah kepadamu…” Ucap Flogaz dengan percaya diri.
“Maaf mengganggu pembicaraan kalian…”
Tiba-tiba terdengar suara orang berbicara, yang membuat Zchaira serta Flogaz langsung menoleh.
Keduanya sontak terkejut ketika melihat Rayvor dengan keadaan yang buruk, sambil berjalan menggunakan bantuan tombaknya mendekati mereka.
“Kakak…”
Zchaira serta Flogaz sontak datang meghampiri Rayvor, dan langsung menggapai pemuda itu ketika hendak jatuh terkapar.
“Apa yang terjadi padamu kakak?” Tanya Flogaz dengan perasaan khawatir melihat saudaranya tersebut.
“Ada musuh yang kuat mengincar Zchaira… Sebelumnya aku sempat bertarung dengannya, namun ternyata dia jauh lebih kuat dibandingkan denganku…” Jawab Rayvor.
Setelah menjawab pertanyaan tersebut, Rayvor seketika langsung tidak sadarkan diri, membuat Flogaz langsung mengangkat saudaranya tersebut masuk ke dalam penginapan.
***
“Kakak Aphrodia…”
Di dalam penginapan, Flogaz sontak memanggil Aphrodia, yang sontak membuat perempuan tersebut datang menghampiri mereka, dan seketika terkejut melihat Rayvor tidak sadarkan diri.
“Ada apa dengannya?” Tanya Aphrodia dengan ekspresi kebingungan.
“Entahlah… Rayvor tiba-tiba datang menghampiri kami dengan keadaan buruk,” jawab Flogaz secara singkat.
Mendengar hal tersebut, Aphrodia dengan sigap mengakses kekuatan sihir penyembuhan sambil mengecek keadaan dari pemuda itu.
“Dia seperti tersengat gigitan ular…” Ucap Aphrodia, nampak terkejut ketika melihat keadaan dari Rayvor.
“Gigitan ular… Bagaimana bisa?” Tanya Flogaz, tidak mengerti mengapa saudaranya bisa tersengat bisa ular, padahal Rayvor dengan mudah dapat menetralisirnya dengan menggunakan sihir penyembuhan miliknya.
“Aku juga tidak paham, tapi yang pasti aku tidak bisa menyembuhkannya karena ini bukanlah bisa ular biasa…”
“Kita harus memanggil para murid Continent Venerate atau nyonya Artemis untuk menolongnya,” ucap Ahrodia.