
“Hmph… Sedang apa kau berada di dalam pesawat ini?” Tanya Vahal, nampak penasaran melihat perempuan itu tiba-tiba berada di dalam pesawatnya.
Lucia pun tidak menjawab pertanyaan dari Vahal, dan hanya menatap pria itu dengan tatapan yang tajam.
Merasa risih melihat tatapan dari perempuan itu, Vahal pun mengangkat salah satu tangannya, memunculkan sebuah pancaran proyeksi energi, yang hendak akan dilancarkannya pada perempuan tersebut.
“Tunggu…” Tiba-tiba Anmaguel menahan tangan Vahal, mencoba untuk menghentikan apa yang akan dilakukan oleh pria Pavonas tersebut.
“Ada apa?”
“Lebih baik kau tidak perlu membunuh perempuan ini… Dia hanyalah Venerate yang lebih lemah dibandiingkan dengan Land Venerate… Akan lebih baik jika kita membawanya saja.”
Mendengar saran dari Anmaguel, Vahal pun langsung mengurungkan niatnya untuk menyerang perempuan yang menyelinap ke dalam pesawat dari pasukan Pavonas tersebut.
“Tekhnika ekzortsista…”
“Akh…” Vahal seketika melancarkan serangan proyeksi cahaya ke arah Lucia, hingga membuat Vampireman perempuan itu dalam sekejap langsung tak sadarkan diri.
***
Waktu pun berlalu, dimana pada malam harinya, terlihat Megathirio sedang duduk sendirian sambil menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang.
Tak berapa lama, kakak perempuan dari pemuda tersebut datang menghampirinya yang sedang sendirian itu.
“Megathirio, sedang apa kau sendirian di tempat ini?” Tanya Astrapi.
“Aku… Aku hanya sedang memikirkan bagaimana keadaan dari perempuan bernama Lucia itu… Aku hanya merasa bersalah saja, tidak sempat menghentikannya melakukan hal itu sebelumnya…” Jawab Megathirio.
“Haah… Entah kenapa dia harus melakukan itu? Padahal dia tahu sendiri bahwa Venerate yang berada di dalam pesawat itu jauh lebih kuat dibandingkan dengannya…”
“Dia bahkan dengan berlagak bahwa dirinya akan baik-baik saja,” ucap Megathirio.
“Hmph… Kupikir kau dan perempuan itu sempat terlibat sebuah pertengkaran?” Tanya Astrapi.
“Eh… Bagaimana kau bisa mengetahui itu kakak?” Tanya balik Megathirio.
“Aku sempat mendengar bahwa masalah mengapa kalian menjalani sebuah misi adalah karena awalnya kau mengajak perempuan bernama Lucia itu untuk bertarung, kemudian Andras datang dan akhirnya Toner pun juga ikut, lalu mengalahkanmu, dan saat itu juga Zchaira pun ikut salah paham karena melihat kau dikalahkan oleh Toner…” Jawab Astrapi, menjelaskannya kepada Megathirio.
“Tapi, apa mungkin kau sekarang sudah mulai menyukai Lucia? Karena terlihat kau nampak mengkhawatirkannya.”
“Apa yang kau katakan kakak? Aku hanya mengkhawatirkannya sebagai rekan yang sama-sama menjalankan sebuah misi…” Mendengar hal tersebut, Megathirio lantas langsung menyangga pertanyaan dari kakaknya tersebut.
“Lagipula aku sebenarnya hanya… Haah, sudahlah… Aku sedang tidak berminat untuk menggodamu sekarang.” Saat hendak ingin mencoba menggoda Astrapi, Megathirio lantas mengurungkan niatnya karena merasa menginginkan melakukan hal tersebut untuk sekarang.
Astrapi pun lantas sedikit menjauhi Megathirio, ketika mendengar bahwa adiknya tersebut sebenarnya hendak untuk menggodanya lagi.
“Kau suka sekali menggoda orang rupanya… Apa mungkin kau selalu melakukan ini kepada Zchaira juga?” Tanya Astrapi.
“Tentu saja tidak…” Jawab Megathirio.
“Kenapa?”
“Karena dia adalah saudaraku.”
“Lalu memangnya aku ini bukan saudaramu?” ucap Astrapi dengan nada sedikit tinggi pada pemuda tersebut.
“Tentu saja kau adalah saudaraku Astrapi, tapi karena kita selama ini tidak bersama, aku sedikit memandangmu sebagai seorang wanita dimataku,” ucap Megathirio sambil mengapai rambut kakak perempuannya tersebut, lalu menggulung-gulungnya pada jari-jarinya.
Melihat hal tersebut, Astrapi lantas merasa canggung, tidak menyangka bahwa dirnya secara tidak langsung sudah memancing adik laki-lakinya itu untuk menggodanya.
“Ekh… Menjauh dariku, dasar gila…” Astrapi pun menarik rambutnya, hingga terlepas dari tangan Megathirio, kemudian dengan sedikit kesal berjalan meninggalkan saudaranya tersebut.
“Aku tidak menyangka bisa memiliki saudara yang mesum seperti itu,” gumam Astrapi ketika meninggalkan Megathirio.
**
“Haah… Kau membuatku khawatir saja, dasar perempuan aneh,” gumam Megathirio, nampak mengkhawatirkan Lucia, karena mulai memiliki perasaan kepada Vampireman perempuan itu.
***
Kembali pada Astrapi, dimana dia kini menemui saudara-saudaranya, yang tidak lain adalah Zchaira, Illios, Rayvor serta Flogaz di dalam sebuah ruangan.
Astrapi pertama-tama mendekati Rayvor lalu mendekatkan wajahnya, yang membuat pemuda itu lantas merasa heran.
“Ada apa kakak?” Tanya Rayvor, penasaran.
“Katakan padaku, kau melihatku sebagai apa?” Tanya balik Astrapi.
“Tentu saja sebagai saudaramu, saudara sepupuku… Kakakku…” Jawab Rayvor.
“Bagus, itu baru adikku,” ucap Astrapi.
Setelah selesai bertanya kepada Rayvor, Astrapi kemudian melakukan hal yang sama kepada Flogaz yang membuat wajah pemuda itu tiba-tiba memerah, namun masih bersikap santai.
“Flogaz, bagaimana denganmu?” Tanya Astrapi pada pemuda itu.
“Kau can… Eh… Maksudku kau adalah kakakku,” ucap Flogaz, hampir saja mengatakan hal yang berbeda.
“Bagus, itu juga baru adikku.”
Astrapi kemudian menghampiri Illios, kemudian memegang kedua pundak pria itu dan menatapnya.
“Apa yang kau lakukan bodoh…” Illios pun merasa terganggu, hingga langsung menghentakan tubuhnya, membuat kedua tangan Astrapi terlepas dari pundaknya.
“Illios, bagaimana denganmu? Kau melihatku sebagai apa?” Tanya Astrapi.
“Perempuan gila…” Tanpa pikir panjang, Illios pun langsung mengumpati Astrapi, setelah melihat kelakuan adiknya tersebut yang dianggapnya aneh.
“Katakan yang sebenarnya... Kau melihatku sebagai apa?” Tidak mendapatkan jawaban yang pasti, Astrapi lantas kembali bertanya.
“Tentu saja aku melihatmu sebagai perempuan… Memangnya aku harus menganggapmu sebagai laki-laki,” jawab Illios.
“Ternyata dia juga sama…” Astrapi pun langsung bereaksi ketika mendengar jawaban dari Illios, yang sebenarnya perempuan itu telah salah paham dengan pernyataan dari kakaknya tersebut.
Astrapi pun langsung meninggalkan mereka semua yang berada di ruangan itu dengan ekspresi sedikit kesal.
“Kakak, kau tidak menanyaiku?” Ucap Zchaira, namun saudara perempuannya tersebut sudah terlanjut pergi.
“Apa-apaan dia?” Ucap Illios, tidak mengerti dengan kelakuan dari perempuan itu.
***
Sementara itu, tampak Andras juga sepertinya merasa khawatir sama seperti Megathirio ketika mengetahui bahwa Lucia sebelumnya pergi mengendap-ngendap ke dalam pesawat pasukan Pavonas sebelumnya.
“Kakak Toner, apakah kita harus menunggu esok hari untuk menyelamatkan Lucia?” Tanya Andras.
“Bersabarlah… Hari ini kita harus memulihkan keadaan terlebih dahulu. Aku yakin bahwa Lucia akan baik-baik saja,” jawab Toner, meyakinkan pemuda itu agar jangan terlalu merasa khawatir hingga membuatnya tidak bisa fokus memulihkan keadaannya.
Walaupun telah mendengar ucapan dari Toner, namun Andras tetap tidak merasa tenang dikarenakan terus memikirkan keadaan dari perempuan yang sebenarnya disukainya tersebut.
***
Di sisi lain, terlihat Anmaguel bersama dengan Winscarlo dan Perlex, serta para Venerate Pavonas akhirnya sampai di tempat persembunyian utama para Venerate pemberontak.
Bersama dengan Lucia yang ditahan oleh Anmaguel, mereka semua kemudian datang menghampiri Aiver yang sedang melakukan sebuah meditasi untuk memantau keadaan dari kelompok-kelompak para Venerate bawahannya yang tersebut di beberapa wilayah daerah Xetas.