The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 22 - Artemis meninggalkan wilayah utara



Artemis mengambil busur panah itu lalu memperhatikannya. Dia kemudian mencoba menarik tali busur tersebut, memperagakan layaknya membidik tanpa sebuah anak panah.


Setelah melakukan hal tersebut Artemis memperhatikan ke sekitaran ruangan tersebut. Perempuan itu ingat sekali bagaimana ruangan itu telah membuatnya berkembang menjadi seorang Venerate tingkat atas.


Hari-harinya sebelumnya diisi dengan terus membaca buku-buku yang berada di dalam ruangan itu, berlatih serta mempelajari bagaimana caranya menggunakan kekuatan sihir, yang pada umumnya digunakan oleh para Venerate Lightio.


*


“Suatu hari nanti kau juga harus melihat secara langsung bagaimana dunia luar…”


Perempuan itu tiba-tiba mengingat perkataan ayahnya yang mengatakan untuk jangan terus-terusan berdiam di daerah tempatnya. Sekali-kali dia juga melihat langsung bagaimana keadaan dunia luar yang belum pernah dilihatnya sejak dia lahir ke dunia.


**


“Apa yang harus kulakukan?” Gumam Artemis, merasa bingung tentang keputusan yang harus dilipihnya.


Dia berpikir untuk mengikuti amanat yang pernah dikatakan oleh ayahnya, namun Artemis tampak ragu untuk pergi karena merasa bingung bagaimana dirinya akan hidup nantinya setelah keluar dari daerah pedalaman utara, apakah nantinya dia akan menjadi seorang pengembara yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.


Disaat perempuan itu kebingungan memikirkan hal tersebut, tiba-tiba dia mengingat juga sesuatu yang ditawarkan oleh Hefaistos untuk merekrutnya menjadi seorang prajurit dan mengikuti sebuah perang melawan negeri dari para ras keturunan campuran.


Artemis sedikit mendapat solusi tentang hal tersebut hingga membuat seketika berlari keluar dari ruangan tersebut.


***


Tak lama kemudian, Artemis keluar dan mencari-cari Hefaistos sambil memegang busur panah milik ayahnya.


Artemis terus mencari Hefaistos sampai ke sudut-sudut desanya, namun tidak kunjung menemukan pria itu.


Saat perempuan itu tidak mendapatkan pemuda itu, dia akhirnya pergi menemui Timonar untuk bertanya apakah pria itu mengetahui sesuatu.


“Haah… Haah… Apa kau tahu pemuda yang berasal dari luar itu kemana?” Tanya Artemis dengan nafas terengah-engah akibat berlarian mencari Hefasistos dari tadi.


“Pemuda itu? Dia sudah berangkat… Dia sebelumnya berpamitan padaku karena pasukan mereka harus segera berangkat ke medan perang…”


“Kurasa dia sudah gagal untuk merekrutmu,” jawab Timonar.


“Apa? Dia sudah pergi…?” Artemis tampak terkejut mendengar bahwa Hefaistos telah pergi tanpa sepengetahuannya.


“Tunggu… Busur yang kau pegang itu kan milik ayahmu?” Tanya Timonar, melihat Artemis memeang busur yang sudah lama tidak pernah dilihatnya.


“Iya, ini milik ayahku…” jawab Artemis.


“Tuan Timonar, kemana dia pergi?”


“Pemuda itu sepertinya dijemput oleh prajurit Lightio dengan kapal di pinggiran danau Superior.”


Setelah mendapatkan informasi dari Timonar, Artemis tanpa pikir panjang langsung berlari untuk mengejar perginya Hefaistos.


“Artemis, kau mau kemana?”


“Kemana lagi… Aku mau pergi melihat dunia luar…” Ucap Artemis.


“Setelah semuanya selesai aku pasti akan kembali…”


Artemis dengan sekejap terbang ke langit dengan kecepatan penuh meninggalkan desa tempat tinggalnya.


Timonar pun tampak tidak percaya melihat perempuan itu tiba-tiba saja memutuskan untuk pergi mengikuti Hefaistos, setelah selama ini menolak tawaran dari pemuda itu.


***


Beberapa saat kemudian, kapal yang dinaiki oleh kapal Hefaistos sudah mulai berlayar. Hefaistos yang masih berada di bagian atas kapal tiba-tiba merasakan sesuatu dari langit mendekat ke arah mereka.


“Ada yang mendekat…” Dengan cepat pria itu memunculkan palu, senjata suci serta memperingati semuanya untuk bersiaga.


“Eh, itu kan?”


“Tunggu sebentar… Jangan ada yang menyerang.” Namun, setelah memperhatikan lebih jelas sesuatu yang mendekat itu, Hefaistos segera memerintahkan untuk menahan serangan.


**


Perempuan itu tampak kesusahan untuk menstabilkan dirinya untuk mendarat ke atas kapal akibat sudah lama tidak pernah menggunakan kemampuan terbangnya lagi.


Hefaistos pun melihat Artemis meluncur dengan cepat tanpa mengurangi kecepatannya. Dia mengetahui bahwa Artemis tampak kesusahan untuk mendaratkan dirinya di atas kapal.


Dengan sigap Hefaistos menangkap Artemis yang melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka berdua pun jatuh terlentang di atas kapal dengan saling bertatapan.


“Jadi kau akhirnya memutuskan untuk ikut…”


“Iya, aku berubah pikiran karena mengingat ucapan yang pernah dikatakan oleh ayahku sebelumnya.”


“Baguslah kalau begitu.” Hefaistos nampak senang, namun alasannya bukanlah karena perempuan itu akan ikut bersamanya ke medan perang, melainkan Hefaistos kini bisa terus melihatnya.


“Eh, sampai kapan kita harus seperti ini.”


Hefaistos sedikit canggung dengan posisi mereka berdua saat ini. pemuda itu tidak bisa berdiri karena Artemis berada di atasnya.


“Eh… Maafkan aku…”


Menyadari hal tersebut, Artemis seketika berdiri. Dia juga tidak lupa untuk membantu Hefaistos untuk berdiri juga.


“Jadi kapal ini akan berlayar kemana?” Tanya Artemis.


“Pertama-tama kita akan pergi ke daerah Workyen terlebih dahulu…”


“Tenang saja, mulai saat ini kau akan melihat dunia baru yang jauh berbeda dengan apa yang biasa kau lihat saat tinggal di wilayah utara…” Ucap Hefaistos.


–11 September 2999–


Keesokan harinya, kapal yang dinaiki oleh Hefaistos serta Artemis akhirnya berlabuh di sebuah kota kecil yang berada pinggiran danau Raioton, daerah Workyen.


Walaupun merupakan kota kecil, namun Artemis tampak terkejut melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Dimana bangunan-bangunan yang berada di kota tersebut tampak lebih terlihat modern dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang berada di desa wilayah utara.


“Apakah kota ini merupakan kota terbesar di daerah ini?” Tanya Artemis.


“Masih terlalu dini menganggap kota kecil ini sebagai kota terbesar… Masih ada kota di daerah ini yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kota ini,” jawab Hefaistos menjelaskannya pada Artemis.


“Benarkah…?” Namun, Artemis masih tetap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Tapi, kita sekarang bukan waktunya untuk pergi ke kota itu… Karena kita harus segera bertemu dengan kelompok kita.”


“Eh, baiklah…”


***


Setelah turun dari kapal, Hefaistos dan Artemis kemudian datang menemui beberapa orang, yang salah satunya merupakan Lucierence.


“Eh, nona… Kau datang kemari?” Lucierence terkejut melihat Artemis datang bersama Hefaistos menemui mereka.


“Pasti orang ini yang memaksamu…” Ucap Lucierence sambil menunjuk Hefaistos.


“Sudah hentikan… Aku tidak memaksanya, dia sendiri yang memutuskan untuk ikut bersama kita,” balas Hefaistos.


“Artemis, kalau begitu biar kuperkenalkan satu per satu anggota tim kita…”


“Kau sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya… Dia adalah adikku, Lucierence Silkbar…” Hefaistos kemudian satu per satu mulai memperkenalkan orang-orang yang berada di tempat itu.


“Sedangkan empat orang lainnya, adalah Flophia Silkbar, yang berasal dari daerah ini… Gahaelix Dirkcourt, dari daerah New Sylievania…”


“Galfred Frashunt, dari daerah Hoio… Dan Nor Stargaze dari daerah Vermossa…”


Keempat orang yang diperkenalkan oleh Hefaistos lalu menyapa Artemis dengan senyuman.


“Salam kenal dari Artemis Hairowl, dari daerah Wiaminnota…” Balas Artemis menyapa mereka dengan senyuman juga.


“Baiklah, perkenalan kita sampai disini… Tidak perlu membuang waktu lagi, ayo kita segera berangkat ke Xemico sekarang juga.”


Mendengar perintah dari Hefaistos kelima orang anggota timnya tersebut kemudian pergi menuju ke pesawat tempur yang akan dinaiki oleh mereka.