
Rasa perih itu kembali menjalar, juga terasa luar biasa ngilu menyerbu di jiwa raga Bima ketika dianggap orang asing oleh darah dagingnya sendiri.
Namun, semua ini adalah harga yang harus dibayarnya, lantaran pernah kalah oleh si barang laknat sehingga di bawah pengaruh buruk itu dengan mudahnya menyemburkan kata terlarang dalam ikatan suci pernikahan, dan setelah kesadarannya kembali menguasai semua itu teramat disesalinya.
Bima tersenyum getir, sorot matanya sarat akan rindu yang menggunung pada si buah hati, ingin memeluknya, menggendongnya, menciumnya dan juga ingin dipanggil ayah.
“Bagaimana kalau kita kenalan dulu, supaya saling kenal, jadi Nara bisa terima bonekanya.” Bima mengulurkan tangan kepada anaknya.
Bola mata indah Nara begulir kembali menatap secara bergantian pada Viona dan Bima. “Boleh nggak Bunda?” ucap bocah itu takut-takut pada Viona dengan nada memohon. Nara tak sabar ingin segera menerima uluran tangan Bima, akan tetapi ia dididik untuk selalu meminta izin pada bundanya mengenai segala hal.
Menyaksikan ini membuat Bima semakin tersenyum lebar, raut wajahnya penuh syukur mengetahui kenyataan Viona mendidik putri mereka dengan sangat baik. Tusukan kerinduan pun semakin menghujam dalam di kalbunya pada wanita cantik yang sejak tadi tak tersenyum itu.
Viona menelan ludahnya bimbang. Bima tampak memohon dan Nara terlihat mengharap. Ini adalah pertama kalinya Nara tampak begitu berharap Viona mengiyakan keinginannya. Ia menarik napas pendek lalau mengangguk kemudian. “Boleh,” jawabnya singkat.
“Yeeayyy.” Nara berjingkrak senang sambil bertepuk tangan. “Ayo kenalan Om, aku Nara. Nama Om siapa?” Bocah itu menerima uluran tangan Bima.
Seketika rasa hangat membanjiri seluruh relung hati Bima kala tangan mungil sang anak menyambutnya bersentuhan di genggamannya. Inginnya ia menjawab bahwa dirinya adalah ayahnya, tetapi bisa berinteraksi seperti ini pun Bima sudah amat bersyukur dan tak ingin merusak suasana dengan menyulut emosi Viona yang terus menatapnya tajam seolah memperingatkan.
“Halo Nara, panggil saja Om Beruang.”
“Nah, sekarang kan udah kenal, jadi Nara boleh terima hadiahnya kan Bunda?” tanyanya penuh harap.
Viona mengulas senyum tipis dan mengusap lembut kepala sang anak. “Boleh,” ujarnya yang lagi-lagi hanya menjawab singkat.
“Horeeee… tapi gimana bawanya Om, Nara kayaknya gak bisa bawa sendiri,” ucap bocah kecil itu kebingungan melihat bungkusan besar yang berisi tiga boneka beruang.
“Om anterin ke rumah Nara deh, gimana?” Nyeri ulu hati Bima saat harus memanggil dirinya sendiri Om di hadapan anaknya darah dagingnya, tetapi demi Nara ia akan melakukan apapun sekarang. Viona mengijinkan Nara menerima hadiahnya saja dia sudah sangat bersyukur.
Viona ingin melayangkan protes pada Bima namun mengurungkannya saat melihat Nara tampak luar biasa gembira, ia tak sampai hati merusak suasana hati putrinya. Lagipula bagaimanapun juga Bima tetaplah ayah Nara.
Nara meronta ingin turun dari gendongan sang Bunda. Viona menurunkannya dan bocah itu melangkah mendekat ingin menyentuh boneka beruang di pangkuan Bima. Bima langsung paham dan segera berjongkok dengan satu lutut bertumpu di lantai agar sejajar dengan Nara.
“Keluarga beruang, Nara tunggu di rumah ya.” Bocah kecil itu menepuk-nepuk bungkusan boneka dengan gembira. “Tapi, memangnya Om tahu rumah Nara?” tanyanya penasaran.
“Tahu dong, kalau rumahnya anak cantik dan pintar semua orang pasti tahu,” sahut Bima.
“Makasih Om Beruang.” Nara melompat-lompat senang, lalu tak disangka kemudian langsung memeluk Bima tanpa ragu.
Bima terkesiap, tubuhnya dilanda gelenyar haru hingga ingin menangis rasanya saat buah hatinya memeluknya kini. Dengan cepat Bima menaruh bungkusan ke lantai dan balas merengkuh putri kecilnya, merasakan detak jantung Nara memukul rongga dadanya, terdengar mengalun indah melebihi irama apapun yang ada di dunia.
“Sama-sama, Anakku,” sahutnya yang kata-kata terakhir itu hanya bisa terucap di hatinya.
*****
Halo my beloved readers.
Kali ini author akan mengadakan giveaway. Dua komentar yang menarik dan unik akan mendapatkan pulsa senilai 25rb per orang.
Periode giveaway terhitung sejak tanggal 15 Januari. Pengumuman pemenang tanggal 15 Februari 2021
dalam kurun waktu itu nanti akan dipilih dua komentar terbaik sebagai pemenang. Ayo tuliskan komentar terbaikmu sebanyak-banyaknya.
Regards
Senjahari_ID24